Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(22) Apa aku berlebihan??


__ADS_3

Raina menatap ruangan kerjanya yang masih terlihat kosong, tidak ada seorang pun di sini selain dirinya. Tidak heran, karena sekarang masih sangat pagi sekali. Pukul 7.30 Raina sudah tiba di kantor, padahal ada 1 jam lagi barulah terhitung jam kerja.


"Huh.." Raina menghembuskan nafas gusar, lalu berjalan menuju mejanya, lalu mulai melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda kemarin.


Jarum jam bergerak cepat, satu persatu pegawai lainnya mulai berdatangan. Mereka sangat kaget melihat Raina sudah duduk sembari sibuk dengan komputernya.


"Eh Ina, kamu datang pagi sekali? " Dewi berjalan cepat menghampiri Raina.


"Bekerja kah yang rajin Dewi" ujar Raina malas.


"Baby ku... apa sesuatu terjadi pada mu?? "


"Huhhh Dewi.... Please mood ku lagi buruk" rengek Raina menatap Dewi dengan tatapan memelas.


"Huh... baik lah" Dewi beranjak ke meja nya.


Untuk sementara ini ruang kerja Raina masih terlihat sibuk, mereka duduk di meja masing-masing tanpa ada yang berniat untuk berkumpul sekedar bergosip.


Setibanya di kantor, alek melirik Raina yang sedang sibuk dengan komputer nya. Ia tersenyum miring, lalu melangkah menuju ruangan nya.


"Alex" panggil Erjo ketika Alex hampir masuk ke dalam ruangan. Alex berbalik, ia tidak jadi masuk ke dalam ruangannya, melangkah mendekati Erjo.


"Ada apa Erjo? " tanya Alex mengerut, tidak biasanya Erjo mencarinya sepagi ini.


"Tuan Dion memanggil mu" ucap Erjo.


"Ada apa? "


"Aku tidak tahu, sebaiknya kamu bertemu saja dengan nya" jawab Erjo sopan. Pria itu menunduk sopan lalu berbalik berjalan lebih dulu dari Alex.


"Ada apa? " gumam Alex bingung, namun ia tetap melangkah mengikuti Erjo.


"Selamat pagi Alex" sapa Dion ketika Alex dan Erjo memasuki ruangannya.


"Iya Pak, ada apa tuan memanggil saya? " tanya Alex, ia duduk di depan Dion ketika pria itu mempersilahkan nya duduk.


"Alex, kamu tahu kan sekarang Ayah Cia yang menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan kita" ucap Dion. Alex mengangguk pelan, tentu saja ia tahu karena Cia yang sudah merancang semua ini.


"Bagus kalau kamu sudah tahu" ucap Dion lagi, ia menatap Ale serius.


"Kami tahu bagaimana hubungan mu dengan Cia, dan kami takut jika... " ucap Dion terhenti, ia melirik Erjo agar melanjutkan penjelasan nya.


Erjo mengerti, ia menatap Alex serius.


"Kami tahu hubungan mu dengan Cia sedang tidak baik baik saja. Walaupun dirinya akan bercerai dengan suaminya"

__ADS_1


"Tunggu dulu Erjo, tuan Dion" Selamat Alex menatap keduanya bergantian.


"Aku tidak ada hubungan dengan dirinya lagi. " ucap Alex tegas.


"Kami tahu, tapi pemikiran kami lebih mengarah ke tujuan nona Cia adalah dirimu" ucap Dion.


"Sebaiknya kamu menjauhi dia untuk sementara" saran Dion.


"Huh.. aku sudah menghindarinya. Dia selalu saja mencari cari ku" ujar Alex menghela nafas.


"Kami merasa ayah dan anak ini memiliki tujuan yang berbeda" gumam Erjo.


"Kita perhatikan saja dulu" Gumam Dion. Ia menutup pertemuan itu.


Alex keluar dari ruangan Dion, pembicaraan mereka tadi masih melekat di pikiran nya.


"Dari mana kamu? " tanya Ega.


Alex tak menjawab, ia berjalan lurus ke mejanya. Alex masih berkelana di pikiran nya.


"Ada apa dengan dirinya? " ujar Jiandi mendekati Ega.


"Akhir akhir ini dia terlihat sangat aneh" sahut Justin. Ketiga pria itu mengamati Alex yang termenung duduk di kursinya. Lalu tiba-tiba Alex menatap ke arah mereka dan berjalan cepat mendekat pada mereka.


"Ega, Justin, Jiandi" ujar Alex.


"Jika Cia datang lagi mencariku. Katakan padanya kalau aku tidak ada"


"Huh? " kaget Mereka saling menatap.Lalu mengangguk cepat ketika Alex mengibas ngibaskan beberapa lembar uang.


"Siap bos!!! kalau seperti ini aku suka" kekeh Ega.


"Oke, pastikan semua nya berkata serGam" peringat Alex lagi, ia tidak mau pegawai yang lain malah mengatakan hal yang berbeda dengan ketiga curut itu.


"Siap!! " sahut Ega, Justin dan Jiandi serempak.


Alex tersenyum menyeringai, satu masalahnya teratasi. Cia tidak akan menemuinya lagi, dan dirinya akan terbebas dari wanita pembohong itu.


Alex beranjak keluar dari ruangannya, ia berjalan menuju ke lantai bawah memantau bawahannya.


"Selama siang Pak" sapa mereka bersamaan ketika Alex memasuki ruangan kaca itu.


"Hm.. " balas Alex dingin. Matanya mengedar mencari sosok yang menjadi tujuan sampingannya ke sini.


"Raina! " panggil Alex.

__ADS_1


"Huh, saya? " sahut Raina kaget, tanpa sadar Raina malah ketiduran di atas meja kerjanya.


"Kau tidur? " bisik Dewi. Raina hanya bisa nyengir.


"Apa kantor ini kamar mu??? " tanya Alex dingin, matanya menatap tajam ke arah Raina.


'Apa salah ku, kenapa suami bodoh ku ini malah memarahiku' gerutu Raina dalam hati.


"Maafkan aku bos" cicit Raina menunduk hormat.


"Untuk kalian semuanya.Ini merupakan contoh yang tidak baik!! kantor adalah tempat bekerja. Bukan tempat tidur. Kalau mau tidur silahkan tidur di rumah, dan ambil serahkan surat pengunduran diri kalian!! " tegas Alex. Semua pegawai menahan nafas, Alex benar-benar terlihat sangat kejam.


"Astaga Raina" lirih mereka prihatin dengan gadis periang itu.


"Maafkan saya bos, saya jamin hal ini tidak akan terulang lagi" ucap Raina menunduk, sejujurnya ia merasa sangat malu. Namun, Raina cukup tahu diri apa yang Alex katakan memang benar.


"Kembali bekerja, saya harap kau bisa profesional"


Alex pergi dari sana, ia kembali ke ruangannya. Justin yang memperhatikan kemarahan Alex merasa bingung, ia menghampiri Alex ketika pria itu masuk kembali ke ruangan mereka.


"Kenapa kau malah marah marah pada Raina? " tanya Justin.


"Kenapa? apa kau ingin membelanya🙄? "


"Bukan begitu Alex, tapi kau keterlaluan. Raina pasti merasa malu atas tindakan mu" ujar Justin. Alex sedikit terenyuh, ia mulai berpikir apa dia terlalu berlebihan. Tidak, egoh Alex lebih tinggi dari hati nuraninya.


"Dia memang salah, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. " bantah Alex.


"Tapi kau berlebihan Alex"


"Sudahlah, kau kembali lah bekerja" putus Alex melangkah menuju meja kerjanya.


"Huh.. dasar keras kepala! "maki Justin, ia menoleh pada Raina yang terlihat dari atas sedang menunduk di atas mejanya.


" Dia pasti sangat malu" gumam Justin.


"Ada apa? " tanya Ega.


Justin menggeleng pelan, ia kembali ke meja kerjanya meninggalkan Ega yang mengerut bingung.


"Justin mulai tertular aneh" Gumam Ega menggeleng pelan.


Di bawah sana, Raina menatap komputernya dengan mata berkaca kaca. Entah mengapa kemarahan Alex tadi membuat dirinya merasa sangat sedih.


"Huh.. padahal aku sudah sering di marahi oleh atasan ku" Gumam Raina pelan. Berkali kali Raina menarik nafasnya untuk meredakan sesak di hatinya.

__ADS_1


...----------------...


Hai Hai..... yuk bantu suport author. Cara nya mudah. Like, komen, vote dan jadikan pavorit. Supaya kalian mendapatkan notifikasi ketika ceritanya sudah update. Terimakasih 😘


__ADS_2