Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(12) Bukan wanita yang Aku inginkan.


__ADS_3

Setelah pulang dari pantai, Alex pergi kerumah mamanya. Jarak rumah mamanya dan rumah ibu Susi tidak terlalu jauh.


"Hem... Sudah hampir hujan, kak Alex tidak bawa payung" gumam Raina menatap langit yang terlihat samar samar mendung.


"Raina, ayo masuk cuaca mulai buruk" ucap Susi dari dalam.


"Iya bu" sahut Raina, ia berlari masuk ke dalam rumah, lalu mengambil payung di tempat penyimpanan peralatan.


"Mau kemana? " tanya Susi, keningnya mengerut, melihat putrinya membawa dua payung keluar ke rumah.


"Kak Alex keluar tanpa membawa Payung, aku takut jika kak Alex terkena hujan nanti" ucap Raina menoleh pada ibunya.


"Yasudah, hati hati yah sayang" ucap Susi, ia tidak bisa menahan Raina, ataupun melarang nya.


"Baiklah ibu" Raina pamit pada ibunya, lalu bergegas menuju rumah mertuanya.


****


Di rumah besar Alex.


"Ada apa mama memanggil Alex? " tanya Alex menatap sang mama yang duduk di sofa seberang nya.


"Mama dapat kabar, jika kamu menanyakan soal perceraian pada pengacara kita? "


"Benar ma, Alex memang sudah menanyakan hal ini pada pengacara kita"


"Pengacara bilang, ada cara perceraian yang tidak membuat Raina mendapatkan kerugian karena hal ini. Dan semuanya akan baik baik saja, Raina akan hidup dengan baik setelah perceraian ini. " jelas Alex panjang lebar.


"Alex, mama menyuruh mu menikah dengan Raina bukan untuk bercerai Alex!! " ucap Siren. Ia tidak ingin putranya menceraikan Raina, gadis itu sangat baik, dan Siren yakin jika Raina sangat mencintai Alex. Ingin rasanya Siren mengatakan jika Raina lah yang menyelamatkan nya, namun Siren sudah berjanji pada Raina untuk merahasiakan dari Alex.


"Tapi ma, Alex tidak ingin Raina terbebani oleh permasalahan Alex. "


"Tidak Alex, mama yakin lambat laun kalian akan saling mencintai! " balas Siren berusaha meyakinkan Alex, namun Putra nya terus menolak dan menyangkalnya.


"Raina bukan wanita yang ingin Alex nikahi ma! " jawab Alex tegas. Tanpa ia sadari Raina mendengar semua perkataan Alex, hati gadis itu teriris. Air mata Raina berkumpul di pelupuk matanya, ia berusaha agar tidak meneteskan nya.


"Kenapa??? Raina itu cantik, baik, patuh. Apa lagi yang kamu cari Alex. " ucap Siren.


Alex bangkit dari duduknya, ia melangkah menghadap ke luar pintu, dimana di sana ada Raina yang berdiri memaksakan tersenyum ketika mata suaminya menatap kearahnya.


Siren mengikuti arah pandang Alex, matanya melebar ketika melihat ada Raina di sana.


"Heh, " cengir Raina "Aku hanya membawakan payung untuk kak Alex, karena langit sudah mulai mendung berat"


"Hem.. Sayang, kamu kena hujan? " tanya Siren berjalan mendekat pada Raina yang sedang menahan tangisnya.

__ADS_1


"Tidak tante, aku tidak terkena hujan. Di luar hanya gerimis kecil" jawab Raina. Siren mengangguk pelan, ia mencubit pipi Raina pelan.


"Jangan panggil aku tante lagi, panggil aku mama. Oke? "


Raina kembali nyengir, lalu mengangguk pelan. "Baiklah ma"


"Pinter.. "


Alex menghela nafas, menatap Raina datar tanpa ekspresi.


Hujan sudah mulai turun, berawal dari rintik rintik hingga hujan lebat. Alex dan Raina berjalan beriringan di bawah guyuran hujan di bawah lindungan payung.


Alex melirik Raina, sejak keluar dari rumah mamanya tadi Raina tidak mengeluarkan suara.


"Apa kamu kedinginan? " tanya Alex. Raina melirik sebentar, ia tidak berani menatap Alex lama, takut alek melihat matanya yang mulai mengeluarkan cairan bening.


"Aku sudah terbiasa dengan semua ini kak" jawab Raina pelan.


"Hmm.. "


Raina masih bersembunyi di balik senyumnya, meski air matanya sudah mengalir perlahan. Untung suara hujan dan gelapnya malam menutupi semuanya. Sehingga Raina tidak perlu takut Alex melihat air mata mengalir di pipinya


Alex curi curi pandang melihat Raina, ia tidak mengerti mengapa gadis ini masih tersenyum. Alex yakin, jika Raina mendengar pembicaraan nya dan mamanya tadi.


Raina berjalan sedikit lebih cepat dari Alex, ia sudah tidak bisa menahan tangisnya yang semakin meledak. Tangan Raina terangkat untuk menghapus air matanya.


Payung yang Raina pegang jatuh ke tanah, tubuh nya tergoyang dan tumbang ke belakang. Untung Alex dengan sigap menyambut tubuh Raina sehingga tidak jatuh ke tanah.


"Kamu tidak apa apa? " tanya Alex khawatir, ia menatap wajah Raina yang langsung cepat cepat di alihkan oleh Raina.


"Aku tidak apa apa" jawab Raina mendorong tubuh Alex dan berusaha berdiri sendiri.


"Terimakasih " lanjut Raina lagi.


"Hmm.. " balas Alex, ia kembali mengambil payungnya yang sempat terjatuh karena langsung melempar payung dan menangkap Raina.


Alex berjalan lebih dulu, Raina menatap kakinya yang terasa ngilu. Merasa tidak ada pergerakan dari Raina, Alex kembali menoleh ke belakang.


"Ada apa? " tanya Alex.


"Tidak apa apa kak, aku akan segera menyusul" sahut Raina berusaha melangkah menyusul Alex.


"Akkhh!!!! " pekik Raina, seperti nya kaki Raina terkilir karena tergelincir tadi. Alex berlari mendekati Raina, raut khawatir tersirat di wajahnya.


"Kamu tidak apa apa? " tanya Alex.

__ADS_1


"Hemm... Seperti nya kaki ku terkilir" jawab Raina setengah meringis.


Alex jongkok di depan Raina, membuat gadis itu mengerut bingung.


"Kak Alex ngapain? " tanya Raina polos.


"Naiklah, aku akan menggendong mu pulang" jawab Alex menunjuk punggung nya. Ragu ragu Raina mulai naik dan memeluk leher Alex. Pria itu langsung mengangkat tubuh ramping Raina, tubuh gadis ini seperti kapas saja, tidak terasa membebankan bagi Alex.


"Apa kamu tidak makan nasi? " gumam Alex.


"Tentu saja aku makan nasi" sahut Raina pelan.


"Kamu lebih ringan dari kapas" kekeh Alex pelan. Raina tidak menjawab, ia menatap Alex dari belakang. Air mata Raina kembali menetes, meskipun ia mencoba untuk tetap tersenyum, tetap saja hatinya dan matanya memerintahkannya untuk menangis.


'Mengapa hati ku selalu berharap menjadi wanita yang akan kamu nikahi? '


'Apa tidak boleh aku berharap seperti itu? '


'Siapakah wanita itu? siapa yang menempati ruang istimewa itu? '


Raina memejamkan matanya, menahan sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara isakan.


"Ehh Raina, apa yang kamu lakukan?? " teriak Alex ketika Raina menjauhkan payung dari tubuh mereka, sehingga air hujan langit jatuh membasahi tubuh mereka.


"Aku ingin bermain hujan bersama kak Alex" teriak Raina sperti anak kecil.


"Raina, jangan jauhkan payung itu. nanti kita bisa demam" ucap Alex membujuk Raina.


"Akhhhh!!!!!! Aku mandi hujan bersama kak Alex!!!!!!! " teriak Raina kuat, derasnya air hujan menutupi tangisnya, Alex tidak akan tahu jika Raina sedang menangis dalam senyuman.


Setibanya di rumah Alex langsung membasuh tubuhnya dengan air hangat, begitu juga dengan Raina.


"Kak Alex bisa tidur di kamar ini sendiri" ucap Raina, ia mengambil bantal dan boneka pandanya.


"Kamu akan tidur dimana? " tanya Alex.


"Aku akan tidur bersama ibu, malam ini adalah malam terakhir kita libur. Besok kita akan ke kota, aku ingin melepas rindu bersama ibu ku" jelas Raina.


"Hemm baiklah" sahut Alex mengangguk pelan.


Sebenarnya Alex merasa tidak enak pada Raina, bukan tidak tahu jika Raina memeiliki rasa pada Alex, karena gadis itu secara terang terangan menunjukkan ketertarikannya pada Alex.


Raina keluar dari kamarnya, berdiri lama di depan pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Hati Raina masih sangat sakit, ia tidak menyalahkan siapa pun, karena memang ini bukan salah siapa siapa, hanya saja Raina masih belum siap untuk mendengar hal itu. Kenyataan yang harus Raina terima adalah kenyataan bahwa mereka akan bercerai setelah masalah ini selesai nanti.


...----------------...

__ADS_1


Halo teman teman semua nya, jangan lupa dukung terus cerita nya yah. Ikutin terus, kasih penilaian dan jangan lupa like, komen, vote, dan favorit kan. Agar kalian mendapat notif ketika aku update episode nya.


Cerita ini masih on going, jadi pantau terus yah. Akan author up minimal 2 episode setiap hari. 😘


__ADS_2