
Raina menatap ketiga pria yang sejak tadi mengikuti gerak geriknya. Sejak Raina mengemasi barang barang nya hingga Raina duduk di meja barunya.
"Huh.. " Raina menghela nafas, ketiga pria ini benar-benar membuatnya merasa kesal.
"Sebenarnya kalian sedang apa? " tanya Raina mulai jengah.
"Ekhem... " dehem Ega.
"Raina, apa sebenarnya hubungan mh dengan Alex? "
ck. Raina tercekat, mengapa tiba-tiba ketiga pria ini terlihat sangat penasaran.
"Tentu saja hubungan kami adalah saudara" jawab Raina tegas.
"Huhh... kenapa aku berharap kalian tidak saudara" keluh Jiandi, membuat Raina melirik kearahnya.
"Raina!!!! " panggil Alex dari pintu ruangannya. (Jelasin sedikit yah, ruangan Alex tu seperti ruangan dalam ruangan. Jadi hanya team Alex saja yang ada di dalam ruangan besar, tepatnya di luar ruangan Alex.Semuanya itu di tutupi dengan kaca saja.Berbeda dengan ruangan Alex dan Kian.Ruangan mereka memiliki kelebihan khusus.)
"Maaf kak, aku harus pergi" pamit Raina menunduk pada ketiga pria itu, lalu berlari masuk ke ruangan Alex.
"Ada apa memanggil ku" ketus Raina tanpa menatap ke arah Alex.
"Yang sopan sedikit" tegur Alex.
"Cepat katakan, apa yang bos inginkan" balas Raina.
Alex tampak berpikir sejenak, sebenarnya ia tidak memiliki, kepentingan apapun ketika memanggil Raina. Entah mengapa ia tidak suka melihat Raina bergaul dengan pria mana pun.
"Tolong cetak ini menjadi seperti buku" titah Alex mengambil setumpuk dokumen. Raina mengambil dokumen itu, tugas ini sangat mudah baginya.
"Kerjakan dalam waktu 20 menit. copy menjadi 30 buku" tambah Alex. Hal itu sukses membuat Raina melebarkan matanya. Bagaimana mungkin ia bisa mengerjakan semua ini dalam waktu yang sangat singkat.
"Udah sana..sana... " usir Alex.
Dengan hati kesal, Raina membawa semua dokumen itu keluar dari ruangan Alex. Entah apa yang pria itu pikirkan, sehingga menyuruh Raina melakukan semua ini.
"Bos menyuruh mu apa? " tanya Jiandi penasaran, mereka sejak tadi menunggu Raina keluar dari ruangan Alex.
"Bos gila kalian itu menyuruhku mengcopy dan menjadikannya buku" jawab Raina kesal sembari menunjukkan dokumen dokumen yang ada di pelukannya.
"Astaga!! " pekik Justin.
"Gilaaa" sahut Jiandi.
"Ya sudah, aku mau selesaikan ini dulu"ucap Raina berlalu dari hadapan mereka. Raina langsung menuju ke tempat percetakan.
Brak~
__ADS_1
Karena ingin cepat cepat, Raina tidak fokus melihat jalan.
" Maafkan saya" ucap Raina sembari memunguti berkas berkas yang ia bawa. Kian berdiam diri, ia menatap Raina yang sibuk memunguti kertas kertas tak jelas.
"Maaf ka-" kalimat Raina terhenti ketika matanya menatap wajah kepala devisi keuangan. Ia tidak tahu jika Kian yang telah ia tabrak.
"Maaf boss!! " hormat Raina menunduk.
"Tidak masalah, apa yang sedang kamu bawa itu.Kamu terlihat buru buru? " tanya Kian.
Raina tercengir, melirik berkas berkas yang ada di tangannya. "Aku ada tugas dari boss Alex"
"Permisi bos" pamit Raina pergi dari hadapan Kian, namun pria itu tidak membiarkan Raina pergi. Kian malah menarik Raina ikut bersamanya.
"Ehh... boss... saya harus menyelesaikan ibu" ucap Raina menyeimbangi langkah nya dengan cepatnya tarikan Kian. Pria itu tidak peduli, ia terus menarik tangan Raina.
Tiba di depan ruangannya, Kian mengambil alih dokumen dokumen itu, lalu memberikannya pada Gio.
"Ini, copy semuanya. Lalu jadikan buku" titah Kian.
"Eh boss. Itu tugas saya" sela Raina.
"Biarkan Gio yang melakukannya" tolak Kian, Raina menatap tak enak pada Gio.
"Gak papa Raina, ini sangat mudah" balas Gio tersenyum pada Raina.
"Ini semua harus selesai dalam waktu 15 menit mendatang" ujar Raina lagi.
"Ikut, aku" ucap Kian. Raina kembali di seret pelam oleh Kian, mereka masuk ke dalam ruangan Kian dengan kaca ruangan Kian sudah menggelap. Jadi tidak ada yang bisa melihat mereka dari luar.
Raina duduk di sofa, ia merasa sangat canggung hanya berdua saja dengan Kian di dalam ruangan. Kian terus menatap kearah Raina, ia berharap Raina mengingat dirinya.
"Apa kamu tidak mengingat, aku? " tanya Kian.
Raina menggeleng, bagaimana mungkin ia mengenal Kian. Mereka bertemu pertama kali di kantor ini.
"Huh.. padahal aku sangat berharap kamu mengingatku" desah Kian bersender di senderan sofa.
"Maaf boss, memang nya kita pernah bertemu dimana? " tanya Raina. Ia menjadi penasaran mengapa Kian begitu kukuh ingin ia ingat.
"Huh... Kita pernah bertemu di pinggir jalan, Kamu hampir tertabrak mobil ku" jelas Kian.
Raina memutar otaknya, ia mencoba mengingat ingat kejadian yang mungkin belum terlalu lama berlalu.
"Huhhhh, jadi boss pria menyebalkan yang membentak ku!! " Maki Raina melotot pada Kian.
"Hehehe... akhirnya kau ingat juga" kekeh Alex.
__ADS_1
"Aku minta maaf untuk hal itu Raina, aku sedang buru buru dan kamu melamun di jalanan" ujar Kian dengan nada menyesal. Ini juga bukan salahnya, Raina juga bersalah disini.
"Gak papa boss, itu juga sudah lama. Aku juga bersalah di sini" jawab Raina tersenyum Rama.
'Dia sangat manis' gumam Kian di dalam hati, ia menatap Raina tak berkedip.
"Boss... " panggil Raina pelan. Kian menatap nya dan tersenyum sendiri.
"Boss... " Panggil Raina lagu sembari melambaikan tangannya di depan wajah Kian.
"Eh iya, ada apa?? " ujar Kian tersentak. Raina menggeleng pelan, Pria di depannya ini terlihat sangat aneh.
"Kenapa boss membawa saya kesini?? " tanya Raina polos.
"Aku.... Ehmm... " Kian tidak tahu mengapa ia membawa Raina ke ruangannya. Ia memutar, otaknya mencari alasan apa yang harus ia katakan. Mata Kian menatap kota makanan, ia langsung, menyambar kotak makanan itu dan membawanya ke hadapan Raina.
"Apa ini boss? " tanya Raina mengerut bingung.
"Ini kotak makanan" jawab Kian lugu. Raina mencebik di buatnya, tentu saja ia tahu itu kotak makanan.
"Maksud ku, mengapa boss membawa ini ke hadapan ku? "
"Emm... bantu aku untuk memila tulang ikan" jawab Kian sembari membuka kotak makan itu, Ketika ia membuka penutup lauknya, ternyata isinya bukan ikan. Raina menatap Kian dengan tatapan malas.
"heh.. maksud ku tulang ayam" ralat Kian. Ia lupa menanyakan pada mamanya tentang isi kotak makan ini.
"Huh. jangan bercanda boss" tegur Raina, ia merasa Kian terlalu santai, Raina lebih memilih, melanjutkan pekerjaan nya ketimbang bergurau seperti ini dengan Kian.
"Boss... Semua nya sudah siap! " ucap Gio, ia memasuki ruangan Kian. Lalu menyerahkan pada Raina semua dokumen yang sudah menyatu dalam bentuk buku.
Kian memaki Gio di dalam hatinya, bisa bisanya Gio datang terlalu cepat.
"Ini belum 15 menit Gio" kesal Kian.
"Oh benar boss, tapi lebih cepat lebih baik" balas Gio tersenyum senang, karena tugas tugasnya di lakukan lebih cepat.
"Tidak masalah, terimakasih Gio. Boss" Raina mengambil semua buku buku itu dari tangan Gio lalu membawanya keluar ruangan Kian dan berlari menuju ruangan Alex. Masih ada waktu 5 menit lagi.
"Gio!!!!!!! " geram Kian menatap asistennya dengan tatapan mematikan.
"A-A apa Sala-h ku B-Oss. " gagu Gio melihat tatapan maut Kian.
"Apa salah mu????.... " Tanya Kian mengulang pertanyaan Gio, pria itu mengangguk takut.
"Kau sudah mengganggu waktu ku dan Raina. Dan sekaya kau menanyakan salah mu????? " teriak Kian garang.
"Ma.. ma-af boss, aku tidak tahuuuuuuu" Gio berhamburan keluar dari ruangan Kian.
__ADS_1
"Dasar, asisten tidak berguna! " maki Kian mengatur nafasnya yang menggebu gebuh.
...----------------...