
Masalah kebocoran data sudah mulai tersebar di seluruh penjuru perusahaan AMD group. Berita tentang seseorang yang berkhianat sudah tersebar. Banyak yang bertanya tanya dan bahkan saling mencurigai, karena mereka harus berhati hati dalam memberikan informasi dan data. Jika pengkhianat masih belum di ketahui, maka mereka harus tetap waspada.
"Siapa yah kira kira yang berkhianat" gumam Dewi. Semua pegawai heboh membicarakan si pengkhianat itu.
"Entahlah, aku juga gak tahu" ucap Raina gugup, ia pergi begitu saja. Dewi merasa ada keganjilan pada sahabatnya.
"Dew... ada apa dengan Raina? " tanya Linda, ia juga menangkap sesuatu yang aneh pada Raina.
Tiba di ruangan, Raina menatap Alex yang sibuk di dalam ruangan pribadinya. Ia menghela nafas berat, mau tidak mau Raina harus melakukan nya.
Tuk!!! Tuk!!!
"Masuk!! " sahut Alex dari dalam, tanpa melihat siapa uang mengetuk pintu ruangannya.
"Kak Alex.. " panggil Raina. Alex mengangkat pandangannya, ia menatap Raina yang tercengir di depannya.
"Ada apa? aku lagi sibuk, jika tidak penting maka lain kali saja" ucap Alex ketus, lalu kembali fokus pada tumpukan dokumen yang sedang ia lihat.
"Besok aku akan dinas luar, apa kak Alex tidak mau makan siang bersama ku? " ucap Raina pelan.
"Dinas kemana? kenapa tiba-tiba? "
"Ke anak cabang, yang berada di luar negara kita" jawab Raina. Ia menelan Salivanya susah payah, menatap Alex penuh keyakinan. "Karena penolakan ku tentang misi itu, jadi boss besar, menyuruhku untuk memantau anak cabang perusahaan"
Alex terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya. Ia terlihat tidak peduli kemana Raina akan pergi.
"Ayolah kak... sekali saja... " mohon Raina. Alex menghembuskan nafas gusar.
"Kau itu pergi hanya sebentar, bukan pergi untuk selamanya! " gerutunya.
__ADS_1
"Yah memang, tapi apa salahnya makan siang tanda perpisahan, kita tidak akan bertemu dalam waktu lama" rengek Raina lagi.
Alex kembali mendengus, "Baiklah.aku akan menerima ajakan mu"
"Yeayy!!!!! " sorak Raina kegirangan. Ia akan menggunakan kesempatan ini sebaik baiknya, karena Raina tidak yakin setelah misi ini selesai Alex akan mau melihat wajahnya.
Di luar sana seseorang menatap moment itu dengan sorot mata sendu. Ia memang tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana, namun dari gerak gerik mereka, Kian yakin mereka dalam moment bahagia.
"Apa kamu menyukai gadis itu?? "
"Paman" gumam Kian kaget.
"Ikutlah dengan ku" Dion berjalan meninggalkan Kian, lalu kian pun menyusulnya.
Di dalam ruangan Dion, Kian duduk di sofa dan Dion duduk di sofa seberangnya. Beberapa kali terdengar hembusan nafas berat dari Kian.
"Apa seberat itu cobaan hidup mu? " cibir Dion, Kian seperti orang galau yang tidak memiliki jalan hidup yang lurus.
"Mengapa aku tidak tahu. kau pikir aku tidak pernah muda? " tukasnya.
"Yahh pria dengan kehidupan datar dan memilih tetap lajang setelah istri nya meninggal" ucap Kian dengan wajah kesal.
"Itu.. karena aku pria setia" sahut Dion.
"Huhh paman... dia itu wanita yang lucu, imut. Sederhana, polos... ahh aku yakin hanya dia satu satunya wanita yang seperti itu" ucap Kian mengagungkan ciri ciri Raina, gadis itu benar-benar wanita idamannya.
"Apa kamu tahu tentang gadis itu.? " Dion sedikit meragu pada Kian.
"Tentu saja aku tahu, karena itu aku membatasi diriku padanya" kelu Kian.
__ADS_1
"Huhh... jangan sampai kamu seperti paman mu ini" sahut Dion pelan, ia tidak mau jika Kian tetap memilih sendiri tanpa pendamping karena perasaannya pada Raina.
"Huh paman, semua ini karena mu" ucap Kian melirik pamannya.
"Kenapa salah ku?? kau saja yang tidak mengontrol hati mu! "
"Salah paman, karena menjadi pamanku yang tidak bisa move on" cibir Kian lagi, dan hal itu sukses membuat Dion tidak bisa berbicara apa apa.
"Aku sangat iri pada Alex, ia mendapatkan wanita secantik dan selugu Raina. "
"Yahh memang" sahut Dion, dan lagi lagi membuat Kian kesal, karena Dion malah menyetujui ucapannya.
"Huh.. memang susah ngobrol sama orang galau" pikir Dion.
"Tapi... Aku masih punya kesempatan paman, mereka menikah bukan karena cinta, hanya untuk melindungi Alex" Kian menegakkan tubuhnya, semangat nya kembali muncul.
"Maksud kamu? "
"Alex akan menceraikan Raina setelah semuanya selesai, maka aku akan mendapatkan wanita pujaan ku" lanjut Kian. Dion melongo, ia merasa keponakan nya ini sudah tidak waras.
"Kau sudah gila?? gadis itu sangat mencintai suaminya. Hanya saja suaminya tidak menyadari nya" ucap Dion meyakinkan Kian.
"Aku tahu pamam, tetapi hati tidak akan lama bertahan jika lawannya terus menolak nya" sahut Kian tersenyum menyeringai, ia akan berusaha mendapatkan hati Raina nanti.
"Terserah kamu saja, paman hanya berharap kamu tidak jatuh dan menderita. Karena paman tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu mu. Ini urusan hati, kehidupan, jadi kamu harus melakukannya dengan cara bersih." Jelas Dion panjang lebar. Kian mengangguk paham.
"Sesuatu yang kotor akan berakhir kotor pula" lanjut Dion lagi.
"Iya iya bawel!! " gerutunya.
__ADS_1
...----------------...