Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(47) Suami Raina???


__ADS_3

Alex berangkat ke kantor, sudah seminggu ia mencari keberadaan Raina. Kondisi nya benar-benar terlihat sangat berantakan. Banyak pegawai berbisik bisik setiap kali melihat Alex.


"Kenapa sih boss Alex? "


"Gak tahu, seperti nya dia galau"


"Kemarin marah marah, sekarang malah kek orang tanpa tujuan hidup"


"Iya, aneh banget. Memang lah yah, orang tampan gak selalu mulus hidupnya"


"Stttt.... Ada sekertaris Erjo" bisik salah satu dari mereka ketika melihat Erjo. Mereka berbaris dan melempar senyum sembari menunduk hormat pada Erjo.


Erjo tersenyum ramah, lalu berhenti di hadapan mereka.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? " tanya Erjo ramah. Pria itu selalu melakukan hal ini, ia sangat di idolakan oleh pegawai perempuan. Bukan hanya karena dia tampan, tetapi juga karena keramahan tamaannya.


"Umh.. kami sedang membicarakan boss Alex" jawab salah satu pegawai wanita.


"Benarkah? ada apa dengan boss Alex? " sahut Erjo pura-pura tidak tahu.


"Alahhh... Sekertaris, jangan pura-pura bodoh begitu, kami tahu kau pasti tahu sesuatu" decak mereka menatap Erjo, Membuat pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hehe, kalau begitu. Aku harus pergi" Erjo beranjak dari hadapan para wanita itu, namun salah satu dari mereka menahan lengan Erjo.


"Apa lagi?? " ujar Erjo menatap mereka.


"Raina juga sudah resign, bos Alex kacau. Apa semua ini berhubungan? " tanya seseorang serius.


"Tentu saja, kan mereka suami istr.. ups" Erjo menutup mulut nya yang keceplosan. Pria itu menjadi panik, ia segera melepaskan diri dari para wanita itu, sebelum ia membongkar semuanya.


"Aku harus pergi!! " Erjo berlari secepat mungkin dari sana.


"Eh, sekertaris!!! " panggil mereka mendesah penasaran.


"What?? Raina adalah istri boss Alex?? "


"Huhhh, pantes saja gadis itu bisa sedekat itu dengan para atasan"


"Eh tapi kan, ini belum tentu benar" sela salah satu dari mereka yang merasa ragu. Karena menurutnya Raina tidak pernah terlihat, mesra dengan Alex.


"Iya juga, aku belum pernah lihat mereka bersama, atau memergoki mereka sedang bermesraan. " sahut satu nya lagi.


"Hei.. kalian Lupa?. Raina pernah melempar bu Cia ke luar dari ruangan boss Alex tempo hari"


"Oh iyaaaa.... Astaga,, siapa yang ingin jadi pelakor nya pak Alex, jika istri nya sekuat Raina" ucapan mereka bergidik ngeri mengingat kacaunya penampilan Cia ketika keluar dari ruangan Alex.


"Sudah sudah, tidak usah bergosip terus. Sekarang lebih baik kita kembali bekerja" ucap salah satu dari mereka yang membubarkan perkumpulan wanita wanita itu.


Dewi yang sejak tadi lebih dan kusut merebahkan Kepala nya ke atas meja kerjanya. Bukan hanya Alex saja yang di buat kacau. Dewi juga merasakan hal yang sama, ia merasa takut dan khawatir jika Raina kenapa kenapa. Dewi hafal betul, sahabat nya itu sangat, mencintai suaminya. Dewi takut Raina melakukan sesuatu yang konyol, apa lagi kemarin Alex mencari Raina ke rumah nya dan menunjukkan surat yang Raina tinggalkan.


Brak~

__ADS_1


"Heh Dewi!!! " bentak seseorang, membuat Dewi yang sedang melamun terperanjat. Ia mendengus kesal ketika melihat siapa yang telah mengganggunya.


"Ada apa sih! kalian membuat rusuh di ruangan ku" ketus Dewi malas.


"Kamu harus bertanggung jawab! " ucap Ega.


"Tanggung jawab apa? gak usah ngaco deh"


"Ayo ikut kami!! " Jiandi dan Justin memegangi kedua tangan Dewi, lalu membawanya ke ruangan kerja mereka.


"Aduhhh kalian ini apa apaan sih!! " densus Dewi kesal, ia sedang malas di ganggu sekarang. Dewi menatap ketiga pria itu dengan malas.


"Katakan pada kami yang sejujurnya, siapa Raina itu?? " tanya Ega


"Yaelah!! Raina ya Raina lah. Masih Raina adalah Cia. Gak mungkin kan" jawab Dewi asal.


"Kamu yang serius dong!! kita lagi menyelidiki sesuatu nih. " decak Justin.


Brakk~


"Akhh!!!!! "


Prang!!!


Dewi dan ketiga pria itu menoleh ke dalam ruangan Alex. Terlihat di dalam sana Alex tengah mengamuk, melempar semua nya ke segala arah.


"Kasiannya Alex" gumam Jastin. Dewi hanya menghela nafas berat, ia juga iba melihatnya.


"Ini semua karena ulah dirinya sendiri! " ucap Dewi dingin, rasa iba nya kembali hilang mengingat betapa kejamnya Alex tidak menghargai jerih payah Raina.


"Maksud kamu? " tanya Jiandi.


"Raina itu adalah istri Alex, namun pria itu tidak menghargai nya! "


"Sekarang, Raina sudah pergi barulah dia merasakan penyesalan" gumam Dewi lagi.


"Jadi... Mereka bukan saudara?? "


"Huh. Kau lupa?? Alex anak bungsu, mana ada saudaranya. Sepupu nya mana yang di negara ini. Dasar bodoh" cibir Dewi pada Ega.


"Aku seperti pernah melihat mu" pikir Ega.


"Jangan menatap ku seperti itu"


"Kau adik kelas kami? " tanya Ega memastikan.


Hufff....


"Kau baru sadar, dan Raina adalah Ina. Gadis yang memberikan kak Alex makanan" Jelas Dewi lagi. Ega dan ketiga temannya menutup mulut tak percaya Pantas saja Alex se frustasi itu.


****

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Raina termenung di sebuah cafe. Untuk sementara Raina ingin menghabiskan waktu sendiri dulu, setelah itu barulah ia akan mencari pekerjaan. Sebenarnya, Bos besar sudah menawarkan Raina pekerjaan di anak cabang perusahaan nya, namun Raina belum menjawabnya.


"Hei... " Sapa seseorang. Raina tersentak kaget.


"Kak Kian? " gumam Raina tak percaya, bagaimana mungkin pria itu bisa menemukan nya.


"Kenapa?? apa kau kaget aku bisa menemukan mu? " kekek Kian. Raina mencebik kesal.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini? " tanya Raina judes.


"Hei.. aku lebih suka kau panggil Kak Kian" tegur Kian merajuk.


"Terserah aku lah, mau manggil kamu seperti apa"


"Dasar! " dengus Kian. Tanpa malu pria itu merebut minuman Raina dan langsung meminumnya.


"Hei.. itu minuman ku!! " protes Raina melotot pada Kian. Sementara pria itu terlihat acuh dan meletakkan kembali gelas minuman Raina setelah meminum beberapa tegukan.


Mereka terdiam dalam lamunan masing-masing. Raina menghela nafas berat, sementara Kian hanya menatap dalam kearahnya.


"Apa kau tidak kesepian? " tanya Kian.


"Huhmm, kau tidak tahu apa apa" balas Raina sembari mengaduk aduk minumannya, sesekali terdengar helaan nafas berat Raina.


"Jika kau tidak sanggup melakukannya, mengapa kau memutuskan untuk pergi"


Raina tidak langsung menjawab ucapan Kian, ia menghela nafas pelan. Lalu, Raina menatap kian dengan senyuman palsu.


'Masih bisa tersenyum? 'pikir Kian.


"Entahlah, aku hanya tidak pantas berada di posisi yang seharusnya bukan milik ku"


"Bagaimana kau tahu itu bukan posisi mu? Kau bisa saja salah" sela Kian, Raina menggeleng pelan.


"Tidak kak, aku tidak mau membuat nya susah lagi. Aku tidak mau menjadi benalu yang membuat hidup kak Alex kembali berantakan. "


"Raina,,,, Kau sudah banyak berkorban. Jangan biarkan pengorbanan mu terbuang sia sia"


"Tidak masalah, setidaknya aku pernah hidup dengan nya" kekeh Raina pelan.


"Setidaknya dia bekas ku" bisik Raina dengan nada bercanda.


"Memang nya, kau pernah mencobanya? " tanya Kian iseng.


"Yah belum, tapi orang lain mana tahu" balas Raina lagi.


"Tapi aku tahu" tukas Kian membalas candaan Raina.


"Kau kan bukan orang" kekeh Raina lagi.


"Kau ini" dengus Kian kesal, ia sedang serius, Raina malah membakasnya dengan candaan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2