Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(13) Keluarlah jika itu bukan tempat mu


__ADS_3

Raina masuk ke dalam kamar ibunya, ia menaiki ranjang dan langsung memeluk Susi dari belakang.


"Apa itu kamu Raina? " tanya Susi tanpa menoleh.


"Iya ibu, ini aku" jawab Raina pelan, ia menelusupkan wajahnya di ceruk leher Susi.


"Ibu... " lirih Raina, air matanya mulai mengalir di pelupuk matanya.


"Kenapa ibu menerima perjodohan itu? membiarkan aku menikah dengan kak Dian? " tanya Raina tanpa menunggu balasan dari ibunya.


"Apa kamu mah tahu? " tanya Susi meyakinkan Raina.


"Hem... " sahut Raina.


"Ibu sangat tahu, kamu mencintai Alex. Sejak kamu masuk sekolah dasar. Ibu berpikir jika ini mungkin jalan ke bahagiaan mu. Dan ibu juga berpikir untuk memberimu suatu pengajaran jika takdir tidak bisa di paksakan. "


Raina tidak menjawab, ia hanya terisak di belakang ibunya.


"Nak, ibu tidak ingin membuat mu merasa sedih dan berharap pada sesuatu yang mungkin bukan milik mu" tambah Susi, tangannya tergerak mengelus tangan Raina yang melingkar di pinggang nya.


"Jika tiba saatnya, dan kamu tahu itu bukanlah jalur mu. Maka keluar lah dari sana" Susi bergerak membalikkan tubuhnya menjadi menghadap ke Raina, lalu merengkuh tubuh putrinya semakin masuk kedalam pelukannya. Mereka menangis bersama meratapi nasib yang tengah mempermainkan kehidupan Raina.


Keesokan harinya, Raina dan Alex kembali ke kota. Biasanya Raina akan tinggal sendiri dan pulang setiap akhir pekan. Namun dalam bulan ini Raina bekerja di kantor cabang dekat kampung halaman nya, jadi Raina bisa balek hari ke rumah ibunya.


"Hati-hati di sana yah sayang" ucap Susi melepas kepergian putrinya. Meskipun masih belum rela, Susi tetap harus melakukan hal ini.


"Ibu juga hati hati, jangan bekerja terlalu keras" balas Raina memeluk ibunya. Susi beralih menatap Alex, ia mengusap bahu Alex pelan.


"Tolong jaga putri ku"


"Iya ibu" jawab Alex singkat.


"Tenang saja Susi, jika Alex tidak mejaga menantuku. Maka dirinya akan aku hapus dari daftar warisan ku" ucap siren mengundang tawa dari anaknya dan juga besannya.


Alex cemberut, bisa bisanya mamanya berkata seperti itu di depan orang lain.


Di kota C.


Raina menarik kopernya masuk kedalam rumah besar Alex, Raina menatap heran pada rumah sebesar ini dan hanya di huni oleh Alex seorang.

__ADS_1


Raina mengikuti Alex menuju kamarnya.


"Mau kemana? " tanya Alex berbalik menatap Raina dingin.


Raina memutar bola matanya malas, pertanyaan macam apa ini? sudah sangat jelas jika Raina menuju kamar bersama Alex, kan mereka sudah suami istri.


"Terkenal pintar, ternyata ada bodoh bodoh nya" gumam Raina pelan.


"Apa kata mu?? " bengis Alex membuat Raina menggeleng pelan sembari nyengir.


"Kamar mu di sana" tunjuk Alex pada kamar di ujung ruang tamu. Raina mengerut, jika itu kamar nya, lalu di mana kamar Alex?.


"Kamar kak Alex di mana? " tanya Raina.


"Kamar ku di sini" jawab Alex singkat. Raina mengangguk, ia hendak melangkah menuju kamar Alex, namun ucapan Alex menghentikan nya.


"Jangan berpikir aku akan berbagi kamar dengan mu! " ujar Alex.


"Huh, bukankah kita sudah menikah?. Orang yang sudah menikah harus satu kamar kak Alex." ucap Raina lalu menutup mulutnya cepat, ia lupa jika dirinya dan Alex hanya menikah karena keselamatan Alex dan perjodohan.


"Maaf kak Alex " cicit Raina. Alex menggeleng pelan, lalu berbalik masuk ke kamar nya. Belum sempat Alex menutup pintu kembali Alex mendengar suara Raina.


Alex menarik nafas dalam, lalu menatap Raina dengan rahang mengeras menahan emosi menghadapi wanita super cerewet ini.


"Raina, mereka itu bukan hewan pelacak. Mereka tidak akan menyelidiki hal hal kecil seperti ini"


"Ohh baiklah kak"


Alex menutup pintunya dan langsung menguncinya. Alex butuh istirahat sejenak sebelum kembali memikirkan tentang proyek di perusahaan nya.


Raina juga melakukan hal yang sama, setelah menyusun pakaiannya ke dalam lemari yang sudah tersedia di kamarnya. Raina membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, baru setelah nya Raina memutuskan untuk tidur.


Posisi letak rumah Alex dan Raina saat ini tidak terlalu jauh dari kantor tempat Raina bekerja maupun tempat Alex bekerja.


Sudah pukul 3 sore, Alex masih belum menampakkan diri keluar dari kamar. Mungkin pria itu merasa sangat lelah .


Raina selesai memasak makan malam, membutuhkan waktu 1 jam bagi Raina memasak semua ini. Ada sayur kangkung, ayam goreng tepung, goreng ikan sungai, tidak ada makanan laut di sini. Raina tahu jika Alex tidak bisa makan makanan laut.


"Apa kak Alex sudah bangun? " Gumam Raina menatap kamar Alex yang masih tertutup rapat. Raina melangkah mendekat pada kamar Alex, menempelkan telinganya pada daun pintu kamar Alex.

__ADS_1


"Tidak ada suara, apa kak Alex sudah keluar? " Raina mencoba menajamkan pendengaran nya.


Klik.


Brak~


Raina terhuyung masuk ke dalam kamar Alex dan menabrak tubuh Alex. Mereka jatuh ke lantai dengan Raina berada di atas tubuh Alex.


"Ohw... "


"Maaf kak Alex" Raina bangkit dari tubuh Alex, ia memukul kepalanya menyesali perbuatan bodohnya.


"Sebenarnya apa sih yang kamu lakukan! " dengus Alex mengusap bokongnya.


"Aku hanya ingin memastikan kak Alex sudah bangun atau belum"


Alex mengabaikan penjelasan Raina, ia melangkah cepat menuju dapur. Aroma masakan Raina menggugah selera Alex.


"Hmm apa kak Alex sudah lapar? " tanya Raina mengikuti Alex yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Apa semua ini kamu yang masak? " tanya Alex menatap semua makanan.


"Tentu saja, semua masakan ini aku yang buat. Tidak ada seafood" kekeh Raina.


"Cepat ambilkan aku" titah Alex tidak sabaran.


Raina mengangguk senang, ia langsung mengambilkan beberapa lauk pauk yang sudah ia masak itu ke dalam piring, lalu menambahkan sedikit nasi ke dalam piring Alex.


"Nah, semoga masakan ku sesuai di lidah kak Alex" ucap Raina menyodorkan piring yang sudah terisi penuh.


Alex menerima dengan senang hati, meskipun tidak ada ekspresi yang tergambar di wajahnya. namun di dalam hati Alex memuji aroma masakan Raina.


'Astaga.... masakan apa ini, kenapa rasanya enak sekali' batin Alex, ia sudah lama tidak merasakan makanan enak khas rumahan seperti ini.


Alex melahap habis nasi nya, Raina yang menatap tak percaya. Masih sama seperti dulu, Alex selalu memakan makanan yang Raina berikan secara diam diam pada Alex ketika masih SMA. Menitipkan kotak makanan pada salah satu teman Alex dan memberikan sepucuk surat. Lalu Raina menguntit Alex ketika jam istirahat tiba. Raina akan memperhatikan Alex tengah makan masakannya.


"Kak Alex tidak berubah" gumam Raina pelan, terdengar samar oleh Alex, tapi tidak terlalu di hiraukan nya karena makanan ini lebih menarik perhatiannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2