Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(23) Perjuangan Raina


__ADS_3

Alex mempersiapkan berkas berkas untuk pertemuan penting dengan direksi direksi proyek bangunan pencakar langit ya g sedang ia garap.


"Sudah semua? " tanya Alex pada ketiga teman nya. Justin, Ega dan Jiandi mengangguk. Mereka sudah mempersiapkan semuanya, ini adalah pertemuan terakhir dengan mereka sebelum proyek ini benar-benar akan di kerjakan.


"Bagus, kita berangkat sekarang" ucapan Alex.


Keempat pria itu berangkat menuju sebuah hotel yang menjadi tempat meeting mereka.


Tiba di hotel itu, Alex dan ketiga temannya langsung menuju ke ruangan meeting. Di dalam sudah ada tamu meeting yang menunggu kedatangan mereka.


Setelah memaparkan semua hasil rancangannya pada kolega proyek Alex mencari kontrak yang akan kolega tanda tangan dan sebuah rancangan khusus yang menjadi daya tarik dari rancangan yang telah ia buat.


'Di mana rancangan itu?? 'Gumam Alex.


"Kenapa lex? " tanya Ega.


"Hm.. tidak ada, tolong berbincang lah dengan mereka terlebih dahulu, aku akan keluar sebentar" ujar Alex sembari beranjak keluar.


Sementara di ruang kerja, Ratna dan Dewi tengah membincang bincangkan tentang interior ruangan yang cocok untuk sebuah hotel modern.


Drttt... Drrttt...


Raina melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja, ia langsung menyambar nya ketika nama Alex terpapar di sana.


"Iya, ada apa kak? " tanya Raina setelah menekan tombol hijau.


"Di mana kamu? " tanya Alex dari seberang sana. Raina melirik sekelilingnya.


"Aku di kantor kak. "


"Masuk ke dalam ruangan ku, carilah map berwarna coklat dan segera antar ke sini" titah Alex.


"Map?? "


"Iya Raina, cepat masuk ke dalam ruangan ku sekarang. Aku tidak punya waktu lagi, hanya 30 menit Raina" Seketika mata Raina melebar mendengar waktu yang Alex sebutkan. Raina berlari, ia menaiki tangga dengan cepat.


'Di mana berkas itu? ' Gumam Raina mencari cari berkas yang Alex maksud. Ia tidak menemukan di mana pun. Raina kembali menghubungi Alex.


"Halo Raina, apa sudah ke temu? " tanya Alex di seberang sana.


"Belum kak, di mana berkas itu? " tanya Raina bingung.

__ADS_1


"Ada di atas meja, cepat kamu cari di siapa. Tidak ada waktu lagi Raina" desak Alex. Raina tergesa-gesa mencari di seluruh tempat, Alex sudah memutuskan sambungan telfonnya.


"Aduhh, kemana sih aku harus mencarinya. Berkas itu benar-benar tidak ada di atas meja dan seluruh ruangan ini!! " erang Raina frustasi. Gadis itu terus mencoba mencari di seluruh tempat yang mungkin kertas itu terselip. Raina melirik jam, tersisa 20 menit lagi.


"Huh.. ini dia" gumam Raina menemukan lembaran hasil rancangan Alex terjatuh di belakang mesin printer. Raina melirik jam, tersisa 15 menit lagi.


"Astaga!! aku harus cepat" Raina memasukan kertas itu ke dalam map coklat, lalu berlari keluar kantor. Raina menyetop satu taxi dan masuk dengan terburu-buru.


"Jalan pak, ngebut yah pak" ujar Raina.


"Siap neng" sahut supir.


Raina terus bergerak gelisah di belakang, jam terus berjalan. Dirinya semakin panik ketika terdapat macet di lampu merah.


"Aduh pak, apa tidak ada jalan lain?? "


"Tidak ada neng, ini juga gak bisa keluar. " jawab pak supir. Mobil taxi itu berada di tengah tengah jalur, mereka tidak bisa mundur ataupun pindah jalur.


Raina menggigit bibirnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Jika ia terlambat Alex pasti akan marah besar padanya karena berkas ini sangat penting.


"Ini pak ongkos nya, saya turun di sini saja" ucap Raina memberikan uang tukaran seratus satu kembar.


"Loh gak apa apa ni neng? " tanya pak supir tak enak,Ia berbalik melihat Raina, tapi gadis itu sudah lebih dulu keluar.


Raina memilih jalan tikus, tiba di tikungan seorang pengendara motor tanpa sengaja menyerempet Raina. Gadis itu terjungkal ke trotoar.


"Awh... sakit sekali" rintih Raina memegangi lutut dan siku nya.


Pengendara motor itu menghampiri Raina, ia menolong Raina untuk berdiri.


"Maaf nona, saya tadi tidak melihat anda berlari. Saya sedang buru buru, anak saya sedang sakit" ucap pria itu dengan nada menyesal. Raina melirik seorang anak kecil meringkuk menahan sakit di atas motor yang memang tidak jatuh tadi.


"Tidak apa pak, silakan lanjutkan perjalanan anda, anak bapak butuh pertolongan cepat" ujar Raina menatap iba.


"Tapi nona, saya juga harus bertanggungjawab pada anda. "


"Tidak masalah pak, oh iya. Ini saya ada sedikit rezeki, bisa bantu bapak untuk pengobatan anak bapak" ucap Raina memberikan 4 lembar uang tukaran seratus.


"Gak usah nona, seharusnya saya yang melakukan ini untuk anda" tolak bapak itu tidak mau menerima bantuan Raina karena merasa bersalah dan tidak pantas menerima nya.


"Tidak masalah pak, saya ikhlas. Ini untuk anak bapak, anggap saja bapak menerima uang ini atas rasa bersalah bapak" ucap Raina tersenyum tulis, lalu ia kembali melirik jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Astaga, saya harus pergi pak" pekik Raina kembali berlari meskipun rasa sakit di lututnya masih sangat perih.


"Semoga engkau selalu bahagia nona baik" Gumam bapak itu berdoa menatap kepergian Raina.


"Aduh.. pak, sakit pak" teriak anak gadis kecil memeluk perutnya. Bapak itu segera mendekati anaknya dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.


Raina tiba di sebuah hotel sesuai yang Alex katakan. Raina menghampiri resepsionis.


"Maaf bak, saya ingin bertemu dengan tuan Alex Admudiano" ucap Raina.


"Maaf nona, tuan Admu baru saja pergi" jawab resepsionis itu rama.


"Huh?? jadi meetingnya sudah selesai? " tanya Raina kaget. Resepsionis itu kembali mengangguk.


'Mati aku' gumam Raina dalam hati.


"Makasih yah mbak" Raina menunduk sopan, lalu pergi dari sana.


Raina kembali berlari keluar dari hotel, ia harus cepat kembali ke kantor. Untung di depan hotel ada taxi lewat, jadi Raina bisa cepat tiba di kantor.


selama 15 menit menempuh perjalanan yang memang tidak ada macet, akhirnya Raina tiba di Kantor nya. Gadis itu kembali berlari masuk, menggunakan lift hingga ke lantai ruangan Alex.


"Kak Alex" Gumam Raina ketika melihat Alex duduk di salah satu meja di dalam ruangan kerjanya. Semua pegawai terlihat tegang dan menunduk takut. 'Apa kak Alex batu saja memarahi semua pegawai ini? '


"Boss.. " lirih Raina mendekati Alex, lalu memberikan map yang terlihat sedikit kotor karena terjatuh tadi.


Alex mengambil map itu, lalu menyobek nya di hadapan Raina.


"Boss, apa yang kau lakukan" kaget Raina.


"Apa kau benar-benar tidak berguna??? mencari selembar kertas saja kau tidak bisa!!! " bentak Alex tepat di wajah Raina.


"Maaf boss... tadi.. " ucap Raina hendak membela diri.


"Tidak usah banyak alasan!!!! kau memang tidak bisa di andalkan! " potong Alex dingin.


Semua pegawai menatap iba pada Raina, mereka hanya bisa menunduk mendengar Raina di marahi di depan umum. Dewi dan Linda hanya bisa menutup mulutnya menahan diri karena sahabat mereka di bentak.


Raina meremas ujung bajunya, ia sekuat tenaga menahan air mata agar tidak terlihat lemah di hadapan Alex.


"Maaf" lirih Raina menunduk hormat. Alex tidak berkata kata lagi, ia pergi begitu saja dari sana.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2