Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(27) Liburan yang tak seindah mereka


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu, Raina bangun sedikit lebih lambat. Sudah pukul 8 pagi, gadis itu masih nyenyak dalam tidurnya.


Drrtt!!!!!! Drrttt!!!!!


Ponsel Raina terus berdering, ia lupa jika hari ini ada janji joging dan berlibur bersama dengan Dewi. Sudah lama mereka tidak keluar bersama, mereka hanya bertemu di kantor saja.


Ponsel Raina terus berbunyi hingga si empunya mulai terganggu. "Aduhh, siapa sih yang ganggu waktu libur ku!! " lenguh Raina menggeliat, ia seperti tidak rela membuka matanya. Namun Raina tetap membuka matanya walau pun hanya sedikit untuk melihat layar ponselnya.


"Dewi?? " gumam Raina menyipit. Awalnya gadis itu acuh saja, ia melempar ponselnya ke sembarang arah, lalu kembali melanjutkan tidur nya. Baru beberapa detik menutup mata, Raina kembali membuka matanya lebar. Bayangan Dewi mengamuk melintas di benaknya.


"Astaga, joging!!!! Nonton!!!!! " teriak Raina lompat dari tempat tidurnya, ia segera masuk ke kamar mandi dan segara membersihkan dirinya.


Setelah 20 menit bersiap, akhirnya Raina keluar dari kamar. Raina sedikit mengendap endap melirik kiri kanan mencari keberadaan Alex.


"Huhh... Syukur lah" Raina bernafas lega, seperti nya Alex belum bangun dari tidurnya.


Raina bergegas berlari dari rumah menuju lapangan yang letaknya tak jauh dari rumah nya.


Seorang gadis dengan wajah menekuk duduk di sebuah bangku di pinggir lapangan. Sudah hampir 1 jam dirinya menunggu Raina.


"Dewi!!!! " Teriak Raina, ia berlari menghampiri Dewi yang hanya melirik nya malas.


"Maafkan aku" lirih Raina ngos-ngosan.


"Aku sudah menunggu mu selama 1 jam Raina" ketus Dewi.


"Maafkan aku, tadi malam aku lelah sekali. Jadi aku terlambat bangun" jelas Raina sembari mengatur nafasnya.


"Hmm... baiklah, kau di maafkan" sahut Dewi dengan suara pelan, ia sedikit kasihan dengan sahabatnya itu.


Raina mengatur nafasnya agar tidak terasa sesak lagi, lalu ia menatap sahabatnya dengan tatapan menyesal.


"Maafkan aku Dewi... "


"Tidak masalah, sekarang kita akan kemana? " tanya Dewi tersenyum.


"Hemm... joging? " tanya Raina, tujuan merekakan joging di awal pertemuan.


Peletak!


"Aww" Raina mengusap keningnya.


"Kenapa kau malah memukul kepala ku?? kalau otak ku bergeser dan lupa pada mu bagaimana?? " sungut Raina.

__ADS_1


"Kamu sih, lihat noh jam berapa sekarang?? " Dewi memperlihatkan arlojinya pada Raina, jam sudah menunjukkan pukul 9.40,buat apa joging lagi sudah hampir tengah hari.


"Hehehe... Sorry, sory" kekeh Raina nyengir.


"Kita ke cafe saja yu" ajak Dewi menggandeng lengan Raina.


"Baiklah, jika itu permintaan tuan putri" sahut Raina tersenyum lebar.


Mereka berdua berjalan menuju cafe favorit mereka, letak cafe itu tidak terlalu jauh dari lapangan itu.


Ketika di depan cafe, sebuah mobil melesat cepat dan terhenti di depan Raina dan Dewi. Kedua gadis itu sempat terlonjak kaget dan berteriak.


Dari dalam mobil, seorang wanita turun dari sana. Ia menatap Raina sengit, entah apa salahnya Raina tidak tahu.


"Heh.. bisa bawa mobil gak!! " teriak Dewi, mereka hampir saja di tabrak mobil itu tadi.


Cia menatap Dewi sebentar, lalu beralih menatap gadis yang beberapa hari yang lalu tercetak di dalam lembaran foto anak buahnya.


"Kau Raina?? " tuding Cia sinis. Raina melirik Dewi yang juga melirik ke arahnya. Lalu kembali menatap pada Cia.


"Siapa kau? " tanya Raina datar.


"Tidak penting, Jawab saja pertanyaan ku!! " tegas Cia.


"Kau!!! " geram Cia menunjuk kearah Raina.


"Maaf nona, jangan mengganggu kami. Ini hari libur, kami ingin waktu tenang dan damai" potong Raina sembari tersenyum miring, lalu menarik Dewi masuk ke dalam cafe.


"Sial!! " umpat Cia kesal. Ia kembali masuk kedalam mobilnya dan pergi dari sana. Cia akan menyusun rencana untuk gadis sombong itu.


Di dalam cafe, Raina dan Dewi duduk di sudut ruangan Cafe. Meja ini adah meja favorit mereka, bahkan sudah ada nama mereka di kursinya.


"Siapa sih wanita itu? " gumam Dewi penasaran.


"Aku tidak tahu" jawab Raina, ia fokus pada, minumannya, mengaduk aduk minuman yang sebenarnya terlihat tidak menarik di mata Raina. Bukan dia tidak tahu, Raina sangat tahu siapa wanita itu.


Dewi menghela nafas gusar, waktu liburnya malah terganggu. "Kenapa waktu libur ku tak seindah mereka" tunjuk Dewi pada sekelompok anak remaja yang tertawa bersama.


"Maafkan aku, mari kita ulang" ujar Raina merubah ekspresi nya menjadi riang. Gadis ini memang pintar menyembunyikan kesedihannya, ekspresi wajahnya sangat mudah berubah.


"Emm baikla!! " sorak Dewi yang sebenarnya di buat buat, ia tahu Raina dalam kondisi tidak enak.


Raina mengambil buku menu, melihat lihat makanan apa yang paling enak menjadi sarapan mereka hari ini.

__ADS_1


"Apa kita akan makan banyak??? " ujar Raina pada Dewi.


"Hmm... boleh kah?? "


"Tentu... kan kau yang bayar" celetuk Raina, membuat Dewi cemberut seketika.


"Baiklah,,, kalau begitu kita makan besar hari ini... " Sorak Dewi girang, mereka benar-benar gaduh sekarang. Pelanggan di meja lain melirik kearah mereka saking berisiknya mereka.


Salah satu pelanggan di meja tengah, menarik ujung bibir sehingga membentuk lengkungan.


"Boss, kamu tersenyum?? " tanya asistennya. Kian kembali menormalkan bentuk bibirnya seperti semula.


"Boss, kamu beneran tersenyum?? wahhh mengapa aku tidak mengabadikannya" sesal asisten Kian. Sudah lama ia bekerja untuk Kian, tidak pernah sebelum nha ia melihat Kian tersenyum oleh seorang gadis, atau bahkan tersenyum secara percuma.


"Diam atau kopi panas ini akan menutup mulut mu" ancam Kian, membuat Gio langsung menutup mulutnya. Mata Kian kembali menatap kearah meja sudut. Tingkah kedua gadis yang duduk di sana menarik perhatiannya, terutama Raina. Gadis yang baru baru ini mengganggu pikiran nya.


"Aahhh... aku kenyang!!! " teriak Raina dan Dewi bersamaan. Mereka menghabiskan 3 mangkok mie masing-masing.


"Aku gak kuat untuk bernafas" kelu Raina karena perutnya terasa sesak.


"Aku juga" sahut Dewi. Mereka terkapar menyenderkan tubuhnya di senderan kursi. Sementara dari meja tengah terdengar kekehan pelan dari bibir Kian. Hal ini tentu saja sangat asing bagi asisten nya.


"Boss.... " lirih Gio lagi, namun cepat cepat ia kembali menutup mulutnya karena Kian menatap tajam kearahnya.


Kian terus memperhatikan tingkah lucu Raina, baru kali ini ia merasa tenang melihat seorang gadis. 'Apa aku harus mendekati nya? 'batin Kian.


Sementara di lapangan basket, Alex tengah bermain dengan teman temannya. Berkali kali Alex melakukan shoot.


"Wahh.... kamu memang hebat Alex" puji seseorang membuat kegiatan mereka terhenti. Alex menatap tajam pada Cia, wanita yang berjalan dengan senyum manis masuk ke dalam lapangan menghampiri mereka.


"Kenapa kamu kesini!! " ketus Alex.


"Aiss... kamu ini selalu saja tajam padaku. Padahal dulu di ranjang sangat lembut" ucap Cia setengah berbisik, membuat ketiga teman Akan melebarkan matanya mendengar ucapan Cia.


"Tutup mulut mu dan pergi dari sini!! " usir Alex, pria itu pergi begitu saja menuju tas nya, lalu membawa nya pergi bersamanya.


"Alex!!! Alex!!!! " teriak Cia memanggil Alex kuat, Cia menghentakkan kakinya. Ia melirik ketiga sahabat Alex yang memperhatikannya.


"Seperti nya mereka bertengkar hebat" gumam Jiandi.


"Hemm.. seperti nya begitu" sahut Ega.


Mereka membereskan barang barang mereka, lalu menyusul Alex yang entah kemana. Cia sudah pergi dari lapangan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2