
Di sebuah ruang kaca, Justin, Ega, Jiandi sedang gelisah duduk di kursi mereka. Pihak peninjauan tengah memeriksa hasil rancangan bangunan pencakar langit, gedung tertinggi yang akan di bangun di negara E.
"Aduh.. Alex kenapa belum datang sih" gumam Jastin, Ega dan Jiandi ikut gelisah.
"Saya rasa bagian ini tidak di perlukan, kita butuh lantai yang terdapat kolam renang dan juga tong Air besar untuk gedung nya nanti"
"Maaf tuan, kita tunggu Alex datang dulu. Dia akan menjelaskan semuanya" ucap Jiandi.
"Tidak perlu, kita bisa menyelesaikan nya" balas Tuan Kian, lalu memperhatikan rancangan yang sudah di rancang khusus oleh Alex.
****
Raina berlari kesana kemari merapikan rumah yang berantakan karena anjing peliharaan Alex.
"Aduh... kenapa semuanya jadi berantakan begini" Raina memunguti buku buku yang berserakan di lantai. Matanya menangkap Alex yang baru saja keluar dari kamarnya. Alex terlihat sudah sangat rapi.
"Kak Alex, tunggu aku sebentar" ucap Raina sembari meletakkan buku buku itu kembali ke atas meja. Ia berniat ingin menumpang dengan Alex menuju kantor.
"Kak Alex.... tunggu aku sebentar!! " teriak Raina mengikuti Alex menuju pintu. Pria itu tidak menjawabnya, Raina benar-benar kesal melihatnya.
"Kak Alex!!! " teriak Raina lagi.
"Aku tidak mau membuang buang waktu berharga ku hanya karena dirimu" jawab Alex datar lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Kak Alex!!!! " teriak Raina mencak mencak melihat Alex sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
"Dasar Pria dingin seperti kulkas!!!! " teriak Raina melempar buku yang ada di tangannya, lalu Raina kembali memunguti buku itu.
Setelah menyelesaikan kerjanya, Raina langsung bergegas menuju kantor. Sisa 30 menit lagi, Raina akan terlambat.
"Huh... untung tidak terlalu macet" Gumam Raina bernafas lega, ia tiba di kantor nya tepat waktu.
"Hai Raina" sapa Dewi. Kening nya mengerut melihat Raina lesu tak bersemangat. Dewi menghampiri meja Raina, ia sangat penasaran mengapa gadis ini terlihat tidak semangat. Dan lagi, Dewi juga ingin melabrak Raina karena tidak memberitahu nya alasan Raina cuti selama 3 hari.
"Hei... ada apa dengan mu?? " tanya Dewi.
"Aku tidak apa apa" jawab Raina lemas. Dewi memicingkan matanya, menyelidiki apa yang sedang Raina sembunyikan darinya.
"Aku mencium aroma ketidak jujuran disini" ucap Dewi sembari mengendus ngerdus Raina. Gadis itu terkekeh pelan, Dewi memang selalu tahu jika Raina dalam masalah atau dalam hal apapun.
"Baiklah baiklah, nanti aku akan menceritakan padamu" pasrah Raina tersenyum pada Dewi.
"Akan ku tunggu " balas Dewi, ia kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
***
Alex melangkah lebar, ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. 5 menit lagi, ia masih memiliki waktu untuk melakukannya.
Ceklek.
Alex memasuki ruang rapat, di mana Jiandi Ega dan Justin bernafas lega melihat kehadiran Alex.
"Akhirnya kamu datang" sahut Justin.
"Semuanya pasti akan selesai" tambah Ega.
Alex hanya melirik ketiga temannya sebentar, lalu menatap kedua rekan bisnis kerjanya. Mereka menatap Alex menahan nafas.
"Sudah melihat rancangannya? " tanya Alex.
"Sudah" jawab mereka.
"Apa ada yang perlu di komplain? " tanya Alex lagi.
Kedua pria setengah tua itu saling menatap, mereka pura pura tegas dan tidak terlihat takut pada Alex.
"Kami ingin menambahkan lantai yang ada kolam berenang nya dan beberapa tempat bersantai"
"Tentu saja mereka tidak akan mau" Gumam Ega.
"Mereka kan pelit" timpal Jiandi.
"Kemungkinan al besar anggaran yang akan di perlukan lebih besar lagi" imbuh Alex.
"Tidak bisa, anggaran sudah di tetapkan" tolak pria itu. Ia berdiri dan mendekat pada layar lebar dimana rancangan itu terpapar.
"Kalau begitu kita buang bagian atas ini" tunjuk nya.
"Tidak bisa, itu sangat berguna untuk bangunan tinggi seperti ini. Ketika terjadi kebakaran, kepungan asap akan keluar dari atas sini, dan orang orang yang terjebak di dalamnya akan mampu bertahan lebih dari 2 jam. Karena bagian atas ini berfungsi sebagai pergantian udara dan lebih cepat mengeluarkan asap dari ke bakat itu" jelas Alex panjang lebar. Kedua pria tua itu tidak berkutik lagi, mereka bungkam seribu bahasa.
"Pokoknya buat saja kolam di pertengahan gedung. Walaupun kecil tidak masalah, yang penting ada. " putus salah satunya.
"Aku bisa saja melakukannya, asalkan kalian menyanggupi dana tambahan" balas Alex tersenyum miring. Kedua pria setengah tua itu menghela nafas, lalu bangkit dari duduknya.
"Rancang kembali sesuai yang di inginkan" ucap mereka sebelum keluar dari ruangan rapat.
Ega, Jiandi dan Justin bertos riah. Semuanya clear, pria tua itu tidak berkelit dan mengoceh seenaknya lagi.
__ADS_1
"Apa yang aku bilang, jika Alex sudah ada di sini, semuanya akan beres" ujar Ega merangkul Alex, ia tersenyum bangga pada Alex.
"Tentu saja, siapa yang berani melawan tuan muda Alex" sahut Justin. Mereka tertawa bersama.
****
"Apa!!! kau menikah dengan kak Diano???? " pekik Dewi kaget, matanya melebar besar. Raina langsung membekap mulut Dewi sembari melirik daerah sekitar, takut ada yang mendengar nya.
"Kamu ini, sudah aku katakan jangan berteriak" dengus Raina.
"Bagaimana aku tidak berteriak, informasi mu membuat hatiku terasa ingin pecah. Otak ku seperti berhenti berpikir" balas Dewi. Ia benar-benar tidak menyangka jika Raina akan menikah dengan pujaan hatinya yang dingin seperti es di dalam kulkas.
"Huh... Aku juga tidak bisa mempercayainya Dewi. Semuanya tiba-tiba dan terjadi begitu saja" ucap Raina menggigit bibirnya geram. Hatinya seperti ada letusan kembang api saking merasa bahagianya. Raina menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan tersenyum lebar memikirkan Alex yang menjadi suaminya.
"Eh tunggu, bukannya kamu di jodohkan? "
"Memang benar, Diano itu adalah Alex, senior kita" jawab Raina.
"Wahhhh Selamat yah Raina, akhirnya kamu mendapatkan pria idaman mu" Dewi memeluk Raina, mendadak Raina menjadi muram. Meskipun sekarang Alex sudah menjadi suaminya, namun hati Alex tidak miliknya. Suatu hari nanti Alex akan menceraikannya.
"Ada apa? " tanya Dewi bingung, mengapa Raina tiba-tiba menjadi sedih, seharusnya gadis itu merasa sangat bahagia. Raina menghela nafas berat.
"Aku hanya sebuah perisai"lirih Raina.
" Maksudnya? "
"Aku menikah dengan kak Alex agar seseorang jahat tidak mengganggunya lagi"
"Hemm tapi kan tetap saja, kamu menjadi Nyonya Alex sekarang" ucap Dewi memeluk Raina lagi. Gadis itu tersenyum senang.
"Memang benar" sahut Raina senang, ia akan melupakan kesedihannya untuk sementara waktu.
"Ngomong ngomong, apa kalian sudah malam pertama? " goda Dewi, gadis itu semakin penasaran ketika melihat Raina tersenyum malu.
"Tentu saja" jawab Raina malu.
"Benarkah???? bagaimana bagaimana?? " detak Dewi penasaran.
"Di dalam mimpi ku" kekeh Raina, mana mungkin dirinya malam pertama dengan Alex, tidur saja beda kamar.
"Yahh.... Aku kira beneran" kesal Dewi kecewa. Raina merangkul sahabat nya, mereka kembali masuk ke ruang kerja mereka.
...----------------...
__ADS_1