
Pukul 5 Sore, Raina kembali ke rumah. Seperti biasa gadis itu berjalan kaki dari gang hingga tiba di rumah besar dengan halaman yang luas.
"Ternyata melelahkan juga" gumam Raina. Gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah besar Alex. Tiba di ruang tengah, Raina mempercepat langkahnya ketika melihat Alex duduk di sofa dengan tatapan lurus padanya.
"Stop!! " ujar Alex. Raina berhenti, berbalik menatap Alex dengan cengiran.
"Ada apa kak? " tanya Raina.
"Ikut aku, mama memanggil kita untuk makan malam" ujar Alex sembari bangkit dari duduknya. Lalu Alex berjalan mendekati Raina yang mulai terlihat gugup karena posisi mereka sangat dekat.
"Hemm kak, tolong berhenti" cicit Raina. Alex menghentikan langkahnya, ia tersadar jika dirinya sudah menyudutkan Raina ke dinding.
"Ekhem.. " Dehem Alex melangkah mundur.
"Bersiap lah!!, Aku tunggu di mobil" ujar Alex salah tingkah, kemudian berlalu dari hadapan Raina.
"Huh.. dasar pria kulkas!! " cibir Raina menjulurkan lidahnya. Lalu Raina bergegas masuk ke dalam kamar nya dan bersiap untuk pergi ke rumah mertua.
Setelah setengah jam bersiap, akhir Raina turun menghampiri Alex yang sudah menunggu nya di dalam mobil.
"Yuk jalan" ucap Raina duduk rapi di samping Alex. Bukannya menjalankan mobil, Alex malah mencondongkan tubuh nya kearah Raina.
"Apa yang kakak lakukan?? " keluh Raina gugup. Alex tidak mendengarkannya, tatapan matanya lurus ke manik mata Raina.
Dag... Dig... Dug....
Jantung Raina berdegup kencang, jarak mereka semakin terkikis. Tatapan mata Raina jatuh ke bibir Alex yang semakin dekat dengannya. Hanya tinggal beberapa senti lagi.
"Belt nya harus di pake" omel Alex memasangkan sabuk pengaman untuk Raina, ternyata Alex mendekatkan tubuhnya hanya untuk meraih sabuk pengaman kursi Raina yang terjatuh ke bawah, karena itu ia sedikit mencondongkan tubuhnya.
Raina mengerjap ngerjapkan matanya, pikirannya sudah berkelana jauh, tapi kenyataan menghempas dirinya kembali ke dasar lautan, lalu di tenggelamkan oleh rasa malu.
Pletak~
"Jangan Memikirkan sesuatu yang jorok! " tegur Alex, lalu mulai menjalankan mobil meninggalkan perkarangan rumah.
__ADS_1
Raina mengusap kepalanya bekas jitakan Alex, seperti nya ia butuh pengobatan khusus untuk otak dan jantung. Semenjak menikah dengan Alex otak dan jantung Raina tidak bekerja sebagai mesti.
Di dalam mobil, tidak ada satupun di antara mereka yang membuka mulut. Keduanya larut dalam pemikiran masing-masing. Hingga mobil Alex memasuki perkarangan rumah Sire, rumah mewah yang 4x lipat lebih besar dari rumah Alex dan Raina tempati.
Raina turun dari mobil, menyusul Alex yang turun lebih dulu darinya. Raina memasuki rumah mertuanya, matanya berbinar ketika melihat ibunya juga ada di sana.
"Ibu!! " panggil Raina, lalu berlari menghampiri Susi dan langsung memeluk nya.
"Raina" balas Susi memeluk putrinya.
"Apa kabar kamu tampan" ujar Sandra istri Satria menyapa adik ipar nya.
"Hmm seperti yang terlihat" jawab Alex acuh.
"Dasar kulkas" ledek Sandra, membuat semua orang terkekeh mendengarnya. Sandra sangat suka mengganggu adik iparnya, apalagi jika ia dan suaminya berkomplot untuk menjahili Alex. Menurut mereka, melihat Alex merengut kesal adalah sebuah keindahan tersendiri.
"Ibu maaf yah, Raina belum sempat mengunjungi Ibu. Tante juga" ucap Raina menatap ibunya dan juga mertuanya secara bergantian.
"Tidak masalah sayang, Ibu mengerti kok" balas Susi tersenyum lembut.
'Jangan kan buat cucu, nyentuh sikit saja gak pernah' dumel Raina dalam hati, ia harus bersikap malu supaya mereka mengira Alex dan Raina sudah melakukan nya.
"Ma, katanya ngundang makan. kok malah ngobrol" gerutu Alex.
"Dasar anak nakal, tahu nya cuma makan" sahut Siren mendelik kesal pada putranya. Padahal mereka ingin mengobrol dulu, baru makan bersama.
Mereka sudah duduk di meja makan, posisi duduk Alex tepat di samping Raina. Seperti Sandra, Raina juga mengambilkan Alex makanan agar, terlihat seperti suami istri sungguhan. Hal ini Raina lakukan tidak atas dasar kesepakatan mereka, namun hasil inisiatif Raina agar Alex tidak di omelin.
"Selamat makan suami ku... " ujar Raina sok manis. Alex sebenarnya terkejut, tumben sekali Raina bersikap seperti ini, biasanya ia hanya menyediakan dan membiarkan Alex makan sendiri.
"Wahh mereka sangat manis yah" celetuk Sandra melirik suaminya.
" Namanya pengantin baru" kekeh Siren.
"Lagi manis manisnya" sahut Susi terkekeh bersama Siren. Raina dan Alex hanya saling menatap.
__ADS_1
Setelah makan malam itu berakhir, Raina duduk di ruang TV. Susi yang melihat Raina duduk sendiri tanpa menghidupkan TV.
"Raina... " panggil Susi pelan. Wanita paruh baya itu duduk di samping putrinya, mengusap pipi Raina lembut.
"Ibu.. " sahut Raina tersenyum, ia memegangi tangan Susi yang mengusap pipinya pelan. Ini yang Raina rindukan, bermanja manja dengan sang ibu. Susi menatap Raina lama, ia yakin putrinya menyimpan sejuta masalah tentang rumah tangga nya.
"Apa kamu bahagia? " tanya Susi.
Raina semakin menarik garis bibirnya. "Tentu saja aku bahagia bu, aku bahagia hidup serumah dengan pria impian ku" jawab Raina.
"Meskipun ini akan berakhir, cepat atau lambat. Yang penting aku akan menikmatinya dan menjadikannya bonus karena sudah mencintai nya sejak lama" kekeh Raina di akhir kalimatnya, ia tidak menyangka bisa mencintai Alex sejak lama, dan rasa itu tetap sama tanpa berubah sedikitpun. Malah rasa itu semakin besar ketika Raina melihatnya memakan masakannya.
"Sayang... " lirih Susi, ia tahu semua ini tidak mudah bagi Raina.
"Tidak Ibu" Raina menggeleng sembari tersenyum lebar.
"Aku akan bertahan semampu ku, hingga bila waktu nya tiba aku akan pergi dengan hati yang tenang Ibu" lirih Raina. Hal itu merenyuh hati Susi, Raina terlalu tulus mencintai Alex.
"Jika kamu sudah tidak mampu, maka katakan saja. Ibu akan selalu mendukung mu" Susi merengkuh Raina masuk kedalam pelukannya.
"Terimakasih ibu" lirih Raina membalas pelukan sangat ibu.
"Lohhh, kok pelukan gak ajak ajak" ujar Siren, wanita satu ini malah dengan manja duduk di samping Raina dan ikut memeluk Raina.
"Uuuu menantu mama" gumam Siren mengecup pucuk kepala Raina.
"Tante... aku malu tahu" ujar Raina, ia merasa bukan anak kecil lagi di manja begini.
Sementara di balik tembok Alex terdiam, ia sejak tadi mendengarkan pembicaraan Raina dan ibunya. Ucapan Raina di ruangannya siang tadi membuatnya kembali penasaran. Kali ini Alex harus cari tahu, siapa sebenarnya gadis ini?.
Alex beranjak dari posisinya sebelum ada yang melihatnya. Pria itu naik ke kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Huh... Mengapa semua ini semakin rumit?? " Gumam Alex menatap langit langit kamarnya. Semakin buram, Alex malah merasa matanya sangat berat dan tertidur.
...----------------...
__ADS_1