
Di ruangan VVIP, Raina terbaring lemah di atas kasur empuk pasien. Wajah Raina terlihat sangat pucat. Sejak masuk ke rumah sakit, hingga saat ini seminggu lamanya Raina belum membuka matanya.
Siren masuk dan menutup kembali pintu ruangan Raina, lalu berjalan mendekati Alex.
"Apa masih belum ada perkembangan? " tanya Siren. Alex menjawab dengan gelengan pelan, Raina tak kunjung bangun dari koma nya. Dokter sudah memastikan jika kondisi Raina sudah membaik, hanya saja pasien belum ingin bangun.
Siren menatap wajah Raina yang masih pucat, lalu menyapukan tisu basah untuk membersihkan wajah Raina.
"Hari ini wajah kamu sedikit berminyak yah, tapi tetap terlihat sangat cantik" puji Siren mengajak menantunya berbicara. Sementara Alex memalingkan wajahnya, tak tahan melihat mamanya menahan tangis.
"Dia gadis yang baik, mempertaruhkan nyawa demi kamu. Ini yang kedua kali nya" ucap Siren. Alex menoleh pada mamanya, kening nya mengerut mencerna ucapan mamanya barusan.
"Apa maksud mama? "
Siren menghela nafas berat, lalu menoleh pada putranya. "Kamu ingatkan, ketika kamu hampir mati tenggelam di dasar laut? "
"Iya ma, Alex ingat" jawab Alex tegang.
"Gadis inilah yang menyelamatkan kamu. Setelah berhasil menyerahkan kamu ke tim SAR, Raina pun hilang terbawa arus." jeda Siren. Alex masih fokus mendengarkan cerita mamanya.
"Sempat putus asah, gadis itu terbawa Arus cukup jauh, hingga membutuhkan beberapa jam untuk menemukannya. Tubuh Raina terlalu kuat sehingga gadis ini bisa bertahan hingga sekarang. Tapi... Maut kembali menghampirinya. "
Alex menunduk, tanpa ia sadari air matanya nya jatuh begitu saja.
"Dan lagi lagi, Maut itu menghampiri nya karena Alex" lirih Alex penuh amarah, amarah pada dirinya sendiri.
"Makanya mama sangat marah ketika kamu ingin bercerai dengan Raina, karena gadis ini sangat mencintai mu. Tidak ada cinta yang lebih besar, dibandingkan cinta Raina terhadap mu. " Balas Siren.
"Maaf ma, tapi... Alex benar benar tidak tau diri, Alex benar-benar sudah menyia nyiakan Raina"
"Maka dari itu, berjanjilah untuk selalu menjaganya" ucap Siren menyemangati putranya, mengusap bahu Alex pelan lalu beranjak keluar dari sana.
Kini tinggallah Alex dan Raina di dalam ruangan rawat Raina. Alex menatap wajah pucat Raina dalam.
__ADS_1
"Maafin aku Raina" lirih Alex pelan, pria itu menempelkan keningnya ke lengan Raina.
...----------------...
"Bagaimana Arya? apa pria itu sudah di tangani? " tanya Siren menatap putranya yang menghadap pada nya di ruang kerja. Setelah mengunjungi Raina Siren langsung, menuju ke kantor nya.
"Mama tenang aja, Bajingan itu pasti sudah lenyap oleh serigala kesayangan Arya" jawab Arya tersenyum puas.
"Bagus, mama harap pria itu sadar dan memohon ampun atas ke salahannya" balas Siren.
"Baiklah ma, Arya harus kembali ke kantor. Besok pembangunan hotel kita harus di mulai, jadi banyak yang harus di kerjakan"
"Baiklah, semoga segera terselesaikan" ujar Siren tersenyum. Arya pun pamit undur diri, lalu keluar dari ruangan mamanya.
"Semoga semua nya akan cepat berlalu dan semua masalah terselesaikan. Setidaknya anak anak ku bahagia sebelum aku pergi" lirih Siren menghela nafas berat.
...----------------...
"Masuk!! " sahut Alex di dalam kamar inap Raina.
Ceklek. Suara pintu terbuka, lalu kembali tertutup. Alex tak berniat melihat siapa yang masuk, ia hanya fokus menatap wajah Raina.
"Maaf Alex... " lirih Cia. Mendengar suara Cia di dalam ruangan Raina,Alex langsung berbalik dan menatap tajam pada wanita itu.
"Ada apa lagi kamu ke sini? Apa belum puas melihat penderitaan ku?? " bentak Alex menggebu gebuh. Cia yang mendengarnya hanya menunduk takut sekaligus merasa bersalah.
"Maaf Alex, alu kesini hanya ingin menjenguk Raina. Aku tidak ada bermaksud untuk berbuat jahat" jelas Cia.
"Aku tidak peduli. Sekarang kau pergi dari sini!! jangan pernah kembali lagi!! " usir Alex. Tanpa berkata kata lagi, Cia pun keluar dari ruangan Raina.
"Maaf" lirih Cia untuk terakhir kalinya.
Alex tersengal, entah mengapa nafas nga mendadak sesak sekarang. Mungkin karena efek menahan emosi.
__ADS_1
Di lorong rumah sakit, Cia berpapasan dengan Dewi. Cia dengan sengaja menghalangi jalan Dewi.
"Apa apaan sih kamu!! halangin jalan orang! " bentak Dewi menatap Cia kesal.
"Maaf Dewi, aku hanya ingin memberikan ini"
Dewi menatap kantong plastik yang Cia berikan padanya, mata Dewi meneliti isi dari kantong itu. Walau bagaimana pun, Dewi harus berhati-hati. Apalagi Cia adalah mantan rival Raina.
"Itu hanya buah, kamu tidak perlu khawatir. Aku udah gak sejahat dulu" ujar Cia menjawab pemikiran Dewi.
"Hmm.Buat apa buah ini? " tanya Dewi Ketus.
"Aku tadinya bawain buat jenguk Raina, tapi Alex tidak ijinin aku buat lihat Raina" jelas Cia lagi. Dewi mengangguk pelan.
"Baiklah" jawab Dewi, ia membawakan buah itu untuk menjenguk Raina.
"Terimakasih Dewi, aku sangat berhutang budi sama kamu. Kalau begitu aku pergi dulu yah"
Dewi berlaku masuk ke dalam ruangan Raina, ia melihat Alex masih duduk di posisi yang sama seperti terakhir kali Dewi berkunjung.
"Kak Alex... Kamu harus istirahat. Raina tidak akan senang melihat Kak Alex seperti ini" ucap Dewi. Namun Alex tidak mendengarnya, ia tetap duduk sembari menatap Raina.
"Aku tidak akan kemana mana" balas Alex.
"Kak, kakak tu harus rawat diri. Perhatikan kesehatan! gimana Raina akan cepat bangun, lihat diri kakak. Sangat tidak terurus. " Dewi mulai kesal, Alex terlihat seperti orang tuli.
"Jika Raina bangun nanti, aku ingin menjadi orang yang pertama ia lihat" tegas Alex.
"Huhhh susah ngomong sama es batu seperti kak Alex" dengus Dewi kesala, lalu kembali keluar dari ruangan rawat Raina setelah menatap buah yang Cia titipkan ke atas meja.
Alex tak perdulikan wanita itu, yang terpenting baginya hanya menunggu Raina sadar.
...----------------...
__ADS_1