
Dave memasuki rumah besarnya, mencari keberadaan istri nya. Mata Dave meneliti setiap ruangan. Ia mendapati Cia sedang duduk santai di balkon kamar.
"Huh.. disini kamu ternyata"
"Ada apa? apa kau ingin menyiksa ku lagi? " balas Cia sinis, ia meneguk wine yang hanya tersisa satu tegukan.
Dave melangkah lebih dekat pada Cia, ia berdiri tepat di belakang Cia. Dave membuka 2 kancing paling atas bajunya.
"Huh.. aku hanya ingin memberitahu mu, Jika selingkuhan mu itu sudah aku bereskan! " ucap Dave santai dengan nada mengejek.
Tubuh Cia seketika menegang, telinganya memanas ketika nama Alex di sebut Dave. Apa yang telah Dave lakukan pada Alex.
"Apa yang telah kamu lakukan padanya? " tanya Cia berdiri di depan Dave dengan mata melotot tajam.
"Apa itu penting? " kekeh Dave mengejek.
"Dave, kamu itu sangat kejam!!!! kamu tidak boleh melakukan apapun pada Alex!!! " Cia memukul mukul tubuh Dave. Membuat pria itu geram dan menahan tangan Cia. Lalu mengayunkan tangannya kearah pipi Cia.
Plak!!!!
"Kenapa aku tidak boleh melakukannya huh?? "bentak Dave, ia kembali mendekati Cia dan mencengkram dagunya.
"Karena aku mencintainya!! " teriak Cia membuat Dave tertawa keras. Bisa bisanya istri cantik nya ini mengatakan hal lucu seperti ini di depan nya. Saking lucunya Dave merasa pperutnya tergelitik.
"Cinta? " air muka Dave seketika berubah.
Plak!!!!!
Brak!!
Tubuh Cia seketika terjatuh ke lantai, pukulan Dave menyisakan bekas merah di sana.
"Jangan pernah katakan hal itu lagi di depan ku!!! " tekan Dave dingin.
"Mungkin saat ini ia bisa saja selamat dan hidup. Namun dia tidak akan berani mengganggu mu lagi karena dia sudah pernah mati satu kali di tangan ku! "
Cia terisak, air matanya mengalir deras di pipinya. Rasa sakit bekas tamparan Dave tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
"Alex.. aku harus melihatnya" Cia segera bangkit dan bergegas pergi mencari Alex. Gadis itu tidak akan berhenti mencari Alex, ia akan memastikan jika Alex baik baik saja.
Sementara di rumah sakit, Raina terbaring lemah di brankas rumah sakit di salah satu ruangan VIP.
Susi duduk di samping Raina, menggenggam erat tangan putri angkatnya. Walaupun Susi bukan ibu kandung Raina, namun rasa sayang yang Susi berikan melebihi kasih sayang seorang ibu terhadap anak kandung nya.
"Raina... bangun lah.. ibu disini" lirih Susi mengecup punggung tangan Raina.
"Ibu akan memasakkan makanan yang enak untuk mu... "
"Sayang... bangun.. "
Susi menahan tangisnya, hidungnya sudah terasa tersumbat oleh ingusnya. Susi menempelkan keningnya pada punggung tangan Raina.
__ADS_1
Perlahan Raina pun mulai menunjukkan tanda tanda siuman. Keningnya mengerut, lalu matanya mulai terbuka perlahan.
"Ibu.... " lirih Raina. Susi kaget, ia mengangkat kepalanya dan menatap putrinya memegang keningnya.
"Sayang kamu sudah sadar? " sahut Susi.
"Ibu akan memanggilkan dokter" ucap Susi, lalu berlari keluar ruangan Raina. Bertepatan saat itu Siren memasuki ruangan Raina. Ia turut senang karena Raina sudah sadar.
"Bagaimana ke adaan mu? " tanya Siren lembut.
"Aku baik baik saja tante" lirih Raina pelan, ia berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Tidak sopan rasanya ada calon mertua, tapi dirinya malah berbaring saja.
"Eh eh.. tidak papa. Kamu baring saja Raina" cegah Siren menahan Raina untuk tetap berbaring.
Susi kembali ke ruangan Raina bersama dokter yang akan memeriksa keadaan Raina.
"Silakan periksa putri saya dokter" ucap Susi, ia berdiri di samping Siren.
Dokter pun memeriksa keadaan Raina, tidak ada masalah yang serius pada Raina, ia hanya butuh istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaganya.
"Nona Raina tidak apa apa, tubuhnya hanya syok dan butuh istirahat penuh untuk kembali memulihkannya" jelas sang dokter.
"Haaa, syukur lah" Susi bernafas lega, putrinya tidak apa apa.
"Terimakasih dok"
"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter bersama suster, mereka keluar dari ruangan Raina.
"Oh iya Raina, tante mau berterimakasih juga pada mu. " Raina mengerut bingung, kenapa Siren malah berterimakasih padanya?.
"Terimakasih untuk apa tante? " tanya Raina dengan nada lemah.
"Kamu sudah menyelamatkan putra tante" balas Siren. Raina semakin bingung, putra tante Siren yang mana yang ia selamat kan?.
Deg.
Raina tiba-tiba ingat dengan Diano, bagaimana keadaan pria itu sekarang.
"Nak.. pria yang kamu selamat kan itu adalah calon suami mu " ucap Susi Lembut.
"Huh? " Raina semakin bingung, Diano?? Alex?? apa pria itu adalah pria yang sama?
Raina terdiam, otaknya masih berpikir keras tentang fakta ini.
"Beristirahat lah, besok tante akan mengajak mu bertemu dengan Alex" ucap Siren membenarkan selimut Raina.
"Hmm... baiklah Tante" sahut Raina lemah.
Raina menatap ibu nya, lalu menghela nafas pelan. Susi mengangguk pelan, ia menenangkan putrinya, meyakinkan Raina dengan tatapan lembutnya.
"Aku keruangan Alex dulu" pamit Siren, lalu keluar dari kamar Raina dengan Susi mengantarnya ke depan.
__ADS_1
"Makasih yah nyonya, sudah mau menolong Anak saya" lirih Susi.
" Tidak Susi, seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Raina sudah menyelamatkan nyawa putraku. Aku berhutang budi padanya " jawab Siren. Susi tersenyum lembut.
"Satu lagi, jangan panggil aku nyonya, aku tidak terbiasa dengan hal itu" kritik Siren.
"Hahaha... baiklah baiklah"
Susi kembali masuk ke dalam ruangan Raina, gadis itu sudah duduk diatas ranjang nya.
"Loh sayang, kamu kenapa duduk? "
"Gak papa bu, Raina sudah capek baring terus" jawab Raina pelan.
"Hm.. bu, kenapa ibu gak bilang kalau Alex itu adalah kak Diano? "
Susi terdiam, ia memang sengaja tidak mengatakan sebelum nya pada Raina. Ia memiliki alasan tersendiri.
"Ibu hanya ingin tahu, jika nanti Alex tidak seperti yang kamu inginkan. Kamu bersedia atau tidak melepaskannya" jelas Susi.
"Hemm... bu"
"Ibu hanya ingin kamu bahagia Raina, apapun itu kebahagiaan kamu yang paling utama"
"Raina paham bu, Raina juga akan melakukan apapun demi kebahagiaan ibu" balas Raina, ia merentangkan kedua tangannya memberikan isyarat agar Susi memeluknya. Wanita paru baya itu mengerti, ia langsung mendekat dan memeluk putri kesayangan nya.
'Apa ini bonus untuk ku? ' batin Raina, ia bingung harus mengekspresikan perasaannya seperti apa. Mesti harus sedih, atau bahagia.
"Jika kamu merasa tidak nyaman dengan perjodohan ini, kamu boleh menolaknya" lirih Susi, Raina mendongakkan kepalanya menatap wajah sang ibu.
"Tidak apa apa bu, aku akan mencoba nya" ucap Raina tersenyum tipis, ia akan menerima kesempatan untuk mendapatkan momen momen bersama Alex. Raina merenggangkan pelukannya pada Susi, ia menatap sang ibu.
"Apa kamu yakin sayang? " tanya Susi menangkup wajah Raina dengan kedua tangannya.
"Aku yakin bu, apa salahnya mencoba nya"
"Yasudah, terserah kamu saja" balas Susi kembali memeluk tubuh Raina.
Sementara di ruangannya Alex menatap kesal pada sang kakak. Bukannya menanyakan keadaannya, Arya malah mengintrogasinya.
"Apa hubungan kamu dengan Mafia itu!! " tegas Arya.
"Aku tidak ada hubungan dan urusan apapun!! " jawab Alex singkat dengan nada ketus.
"Aku akan menyelidikinya Alex, jika sesuatu yang salah kamu lakukan. Aku akan menghukum mu" balas Arya kesal, bisa bisanya Alex berurusan dengan Mafia kejam dan licik itu.
Alex tidak menjawab, ia malah memilih untuk memejamkan matanya, menghindari perdebatan dengan sang kakak.
...----------------...
Bersambung....
__ADS_1
Halo kakak, kembali saya ingatkan. like komen serta votenya nya. Berkomentar lah yang bijak dan positif, jangan lupa jadikan favorit ceritanya agar kakak semua mendapat notifikasi ketika cerita ini di update.