
Pukul 7 malam Raina baru saja tiba di rumah, hari ini ia sedikit terlambat pulang karena menemani Dewi lembur.
"Aku pulang... " lirih Raina pelan, ia yakin tidak akan ada yang mensahuti ucapan nya, meskipun suami dinginnya itu ada di rumah.
"Masak sana! " ucap Alex tiba-tiba ketika Raina melewati ruang tengah.
"Astaga!! " pekik Raina kaget, ia terperanjat ketika mendengar suara Alex tanpa melihat wujud Alex. Pria itu sengaja mematikan lampunya.
"Sorry yah, aku capek" tolak Raina setelah menguasai dirinya dari keterkejutan nya. Gadis itu melenggang pergi dari hadapan Alex yang ternyata duduk di sofa. Baru beberapa langkah, ucapan Alex kembali membuat Raina tidak bisa berbuat apa apa.
"Baiklah, aku cukup tahu jika sikap seorang istri seperti itu. Aku tinggal bertanya pada ibu atau mama" gumam Alex santai.
Raina menipiskan bibirnya, menahan kekesalan pada suami yang selalu seenaknya dan mengancam.
'Mengapa aku menyukai pria seperti dia'gerutu Raina dalam hati. Ia berbalik menatap Alex dalam kegelapan.
"Baiklah suamiku yang sama seperti kulkas, pria dingin dan seenaknya. Aku akan ke dapur sekarang!! " ucap Raina menghentak hentakan kakinya menuju dapur. Tak lupa Raina sengaja melempar tasnya kearah Alex duduk.
"Aku juga akan menanyakan ini pada ibu dan mama!! " teriak Alex.
"Aku tidak peduli!!! " balas Raina.
"Huh... kadang kadang dia lucu juga" kekeh Alex merasa senang mengganggu istri nya. Yah, meskipun mereka nantinya akan bercerai.
Alex menghela nafas berat, setiap kali memikirkan pembicaraan nya dan janji nha pada Raina sehari sebelum mereka menikah, membuat dada Alex terasa sesak.
"Masak yang enak!!! " teriak Alex, ia bangkit dari duduknya. Menyusul Raina ke dapur, tapi pria itu hanya sampai di meja makan saja.
"Jangan lama dong, udah lapar ni" desak Alex.
"Sekarang giliranku yang akan menanyakan ke ibu dan mama, apakah istri itu seorang pembantu" cibir Raina mulai jengah dengan perlakuan Alex.
"Dilarang plagiat! " peringat Alex menatao Raina sekilas. Aroma masakan Raina mulai masuk kedalam indera penciuman nya.
'Wangi sekali' batin Alex tidak sabar, perutnya semakin terasa lapar.
"Apa masih lama? " tanya Alex, perutnya sejak tadi sudah berbunyi minta amunisi.
__ADS_1
"Sabar!! " ucap Raina, ia terus mengaduk aduk nasi di dalam wajan. Raina benar-benar merasa sangat lelah hari ini, ia hanya memasakkan Alex sepiring nasi goreng dengan toping daging sapi. Meskipun terlihat sederhana, Raina tetap menggiling sendiri bumbu bumbunya tanpa menggunakan bumbu instan. Menurut Raina, itulah kenikmatan masakan. Jika menggunakan bumbu instan makan rasanya sedikit berbeda.
Raina melirik Alex yang duduk santai di meja makan sembari mengontak atik laptop nya. Entah sejak kapan pria itu membawa laptop ke ruang makan. Senyum kecut terukir di bibir Raina. Entah sampai kapan wanita itu bisa melihat pria pujaannya dari jarak dekat seperti ini. Raina masih ingat, bagaimana ekspresi wajah Alex ketika marah pada nya tadi. Ia juga masih ingat betapa ketakutannya Alex ketika melihat dirinya ada di ruangan Kian.
Hati Raina menjadi di lemah, kadang sikap Alex membuatnya terbang. Terkadang pula sikap Alex membuatnya sadar akan posisi nya berpijak.
'Ibu.. aku harus bagaimana? " tanya Raina memanggil sang ibu di dalam hati.
Setelah lama menunggu, Akhirnya sepiring nasi goreng dengan tampilan yang menggiurkan tersaji di depan Alex.
"Makan lah, aku akan ke kamar dulu" ucap Raina setelah menghidangkan sepiring nasi goreng berserta air minum dan kebutuhan lainnya ketika Alex sedang makan.
Raina melangkah hendak meninggalkan ruang makan, ia merasa sangat lelah dan ingin cepat cepat membersihkan diri.
"Beginikah cara istri melayani suami?? meninggalkan suaminya makan sendiri" cibir Alex, lagi lagi membuat Raina merasa sangat kesal.
"Oke!! istri menemani suami makan! " tekan Raina keras, ia duduk di depan Alex. Pria itu tersenyum menang, meskipun menggerutu Raina tetap menuruti apa yang Alex katakan.
Alex menyantap nasi goreng buatan Raina, selalu sama, rasa nasi goreng Raina selalu pas di lidahnya. Tinggal beberapa sendok lagi sisa makanan Alex, pria itu mendengar suara dengkuran. Alex pun melirik kearah Raina. Gadis itu sudah tertidur dengan kedua tangannya terlipat diatas meja.
Setelah menghabiskan nasi goreng nya, Alex beranjak mendekat pada Raina. Menatap wajah gadis itu lekat. Tangan Alex terangkat merapikan anak rambut Raina yang berantakan.
"Maafkan aku" lirih Alex pelan, ia mengangkat tubuh Raina dan memindahkan ke kamarnya. Di dalam kamarnya, Alex merebahkan tubuh Raina pelan, takut tidur Raina akan terganggu karenanya.
"Engg.... Kak Diano" rancau Raina dalam tidurnya.
Deg~
Tubuh Alex menegang, bagaimana Raina bisa tahu nama panggilan itu. Alex menatap lekat wajah Raina, namun ia tidak mengingat apa pun.
"Bagaimana gadis ini bisa tahu soal nama itu? " pikir Alex, lalu pria itu keluar dari kamar Raina, ia mencoba mengabaikan soal nama kecilnya. Mungkin kesamaan nama dengan teman Raina, atau orang dekat Raina.
"Tidurlah yang nyenyak" gumam Alex kembali menatap Raina sebelum benar-benar menutup pintu.
***
"Cia!!!! " teriak Dave keras. Langkah kaki pria itu tampak melebar ketika hampir mendekati kamarnya dan Cia.
__ADS_1
"Kenapa kau berteriak! " balas Cia sinis.
"Kau kan, yang membuat proyek itu gagal jatuh ke tangan ayah! "
"Kalau iya kenapa?? apa kau bisa merebutnya kembali? " ledek Cia. Dave menggeram kesal, reputasinya jatuh karena tindakan bodoh istrinya.
"akh!!! Sakit bajingan!! kau menyakiti ku!! " teriak Cia memukul mukul tangan Dave yang menarik kuat rambutnya.
"Kenapa kau selalu membuat sesuatu yang tidak aku sukai Cia!! " bentak Dave menatap mata Dia tajam, bahkan gadis itu sudah mulai bergetar.
"Lepaskan aku Dave... " lirih Cia memohon.
"Eh, lepaskan...??? kau pikir setelah kau melakukan semua ini, kau meminta ku untuk melepaskan mu?? "
Dave menyeret Cia menuju kamar mandi, mengisi bathup hingga penuh, bahkan melimpah ruah ke lantai.
"Kau sudah aku peringatkan, jangan melakukan sesuatu yang aku tidak suka!! " bentak Dave.
Byur!!
Dave membenamkan kepala Cia ke dalam air, membuat gadis itu menggapai gapaikan tangannya mencari pegangan karena nafasnya mulai sesak.
"Apa kau sudah mengerti sekarang?? " tekan Dave menarik kepala Cia keluar dari dalam air. Nafas Cia memburu, ia hampir mati terbenam di dalam bathup.
"Ampuni aku Dave" mohon Cia di sela selah deru nafasnya.
Byur!!!
"Ini pelajar bagi wanita yang tidak mendengar kan ucapan suaminya!! " ucap Dave lagi. Ia kembali menarik kepala Cia setelah membenamkan nya sedikit lebih lama di dalam air. Hal itu Dave lakukan berulang kali untuk mematahkan mematahkan mental Cia agar tidak kembali melawan dirinya.
"Sekali lagi kau melakukan tindakan bodoh, aku tidak akan segan segan memotong leher mu dan mantan selingkuhan mu itu! " ucap Dave dengan nada menekan. Cia hanya bisa menangis dalam diam, ia tidak mampu melawan Dave. Nafasnya masih tersengal sengal.
Brak~
Dave menghempaskan tubuh Cia kedalam bathup, lalu pergi begitu saja meninggalkan Cia menangis memeluk dirinya sendiri di dalam air.
...----------------...
__ADS_1