Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(42) Pengkhianat?


__ADS_3

Raina berjalan menuruni anak tangga melewati lantai dimana teman teman perusahaan lamanya menatap kearahnya. Mereka berbisik bisik membicarakan Raina. Raina yang sudah menghilang selama seminggu setelah pulang dari dinas luar, dan tiba-tiba Raina datang ke perusahan bersama Dave dan ayah Cia. Tentu saja gadis itu menjadi buah bibir saat ini.


"Raina" panggil Dewi.


"Ehm.. " balas Raina dingin. Langkah kaki dewi terhenti, gadis itu awalnya senang melihat Raina, namun melihat reaksi Raina yang tidak seperti sahabat nya dulu membuat ia kaget.


"Aku ingin berbicara dengan mu! " ucap Dewi datar. Lalu berjalan lebih dulu dari Raina. Mereka menuju ke tempat biasa mereka kunjungi untuk membicarakan seseorang yang rahasia.


"Katakan! " titah Raina.


Dewi berjalan mendekat pada Raina, menatap manik mata Raina yang tidak mau membalas menatap ke mata Dewi.


"Apa yang kamu lakukan! " serga Raina kesal.


"Tatap aku Raina, katakan mengapa kamu bersikap seperti ini! " ucap Dewi menahan kepala Raina agar menatap matanya.


Raina tidak bisa menghindar, ia terpaksa menatap ke mata Dewi. Seketika air matanya mengalir begitu saja. Saat itulah Dewi tahu jika Raina dalam keadaan tertekan, sikap yang Raina perlihatkan bukanlah sikap aslinya.


"Ada apa?? kenapa kamu menangis. Katakan sama aku Raina. Kita sahabat, mengapa kamu memendam sendiri masalah mu? "


"Tidak Dewi, kalian tidak boleh tahu.Tinggal sedikit lagi, aku akan berhasil"


"Maksud kamu? " Dewi melepaskan wajah Raina.


"Aku tidak bisa cerita sekarang, yang terpenting kamu percaya sama aku kan? " Raina menatap Dewi, sesekali ia melirik kiri dan kanan takut ada yang mematai nya.


Brakk~


"Aww.... Raina, kenapa kamu mendorong ku! " ringis Dewi merasakan sakit di bokongnya.Raina tiba-tiba mendorong dirinya begitu saja.


"Berhenti membujuk ku, aku tidak akan mundur. Jika kamu mengacaukan rencana ku dan tuan Dave. Maka kau akan berhadapan dengan ku" ucap Raina lantang. Dewi melongo bingung, ia tidak mengerti apa yang di maksud oleh Raina.


"Raina... " lirih Dewi lagi sembari mencoba bangkit. Raina melirik ke arah samping tembok, ia memberikan petunjuk pada Dewi melalui matanya. Dewi pun mengikuti arah mata Raina, ia melihat seseorang tengah bersembunyi disana.


"Tapi Raina, kamu harus sadar! " ucapan Dewi mengikuti drama Raina.


"Sudah cukup!!! kamu tidak usah ikut campur dengan urusan ku!! " bentak Raina, lalu meninggalkan Dewi begitu saja.


"Raina!!!! "


"Raina!!! "teriak Dewi memanggil Raina yang sudah berlalu pergi. Kini tinggal Dewi sendiri di sana, ia bersender pada tembok memikirkan apa sebenarnya yang sedang Raina rencanakan.


Tidak bisa memikirkan apa yang sedang Raina lakukan Dewi kembali ke ruangannya, pikirannya berkecamuk sudah. Belum lagi memikirkan pekerjaan yang semakin menumpuk, ini malah di tambah teka teki yang Raina bawah.

__ADS_1


" Aku gak nyangka deh"


"Iya bener, aku juga tidak menyangka"


"Ehhh Dewi.... " Salah satu dari pegawai wanita itu menarik tangan Dewi yang baru saja melewati mereka dan membawanya bergabung.


"Ada apa? " tanya Dewi.


"Kamu sudah tahu belum, pengkhianat di perusahaan kita siapa? "


"Siapa emang? " tanya Dewi. Saat itu Raina lewat dan masuk ke dalam ruangan mereka. Mulai hari ini Raina kembali bergabung dengan mereka. Raina sudah mundur dari jabatan asisten Alex.


"Tuh orang nya"


Raina menghentikan langkah kakinya, ia menatap mereka yang menatap benci kearahnya. Cukup lama Raina memperhatikan mereka, lalu ia kembali melangkahkan kakinya dengan ekspresi dingin.


"Heh!! masih punya muka kamu masuk ke ruangan ini! " serga Linda, gadis ini paling anti dengan pengkhianat.


"Ehh kak lin" halang Dewi, ia menarik Linda agar tidak berbuat apa apa pada Raina.


"Kenapa sih wi, biarkan saja kak Lin memberi pelajaran pada pengkhianat seperti dia" sahut yang lain. Raina hanya menatap datar ke arah mereka, lalu dengan acuhnya Raina duduk di meja lama nya.


"Dasar rendahan!! "


"Setelah menjilat boss besar, sekarang kau malah mendekati pemegang saham terbesar. Sampai sampai kau membocorkan rahasia perusahaan kita! " maki Linda.


"Tentu saja itu urusan ku, kau tidak sadar jika karir kak Alex dalam bahaya karena ulah mu!!! " balas Linda lagi, diantara mereka semua hanya Linda yang berani melakukan semua ini.


"Diam!!! jika kau masih sayang dengan pekerjaan mu! "


Mereka semua berbalik menghadap ke sumbar suara. Seketika mereka semua bubar, kembali ke meja masing masing. Kian menghela nafas, lalu berjalan mendekati meja Raina.


"Ikut dengan ku! " titah Kian.


"Aku masih punya banyak pekerjaan" tolak Raina.


"Kau ini!! benar benar pegawai yang pembangkang" dengus Kian. Ia menundukkan tubuhnya sedikit, menatap wajah Raina yang mengalihkan tatapannya tidak berani menatap mata Kian.


"Jika kamu tidak segera ke ruangan ku, maka semua rahasia mu akan aku bongkar! " ancam Kian setengah berbisik.


"Huuh.. dasar pemaksa! " cibir Raina kesal. Lalu mengikuti langkah kaki Kian menuju ruangannya. Sebelum masuk ke dalam ruangan Kian, Raina sempat bertatap mata dengan Alex. Pria dingin itu langsung mengalihkan tatapan matanya dari Raina. Membuat hati Raina tergores dan perih.


"Maafkan aku kak" batin Raina, lalu masuk ke dalam ruangan Kian yang kacanya sudah menggelap.

__ADS_1


"Katakan ada apa! " ujar Raina tanpa basa basi.


"Huh.. seharusnya aku yang bertanya pada mu! "


"Bertanya apa? " balas Raina pura pura polos.


"Kau menerima tawaran paman? "


"tidak! "


"Jujur!! "


"Iya iya!! aku melakukan nya" jawab Raina jujur.


"Huh, apa kau tidak tahu jika semua ini terlalu berisiko besar? " bentak Kian kelepasan.


"Kenapa boss yang marah pada saya" ketus Raina.


"Karena kau adalah wanita terbodoh di dunia ini!! " maki Kian lagi, ia tidak mengerti jalan pikiran gadis ini.


"Berhenti lah sebelum terlambat" titah Kian. Namun Raina tidak akan melakukan nya. ia sudah mengorbankan banyak hal untuk ke hm tahap ini.


"Tidak, aku harus melanjutkannya sampai selesai"


"Raina!! sadar lah. Mereka sudah membenci mu!"bujuk Kian.


" Tidak masalah, aku tidak peduli dengan ucapan mereka" tegas Raina.


"Tapi kamu harus menghentikannya Raina. Sebelum terlambat"


"semua sudah terlambat, aku sudah terlanjur mendalaminya, aku akan membuahkan hasil" ujar Raina penuh tekat.


"Raina... "


"Sudah cukup, aku akan keluar sekarang" ucap Raina ke luar dari ruangan Kian.


"Dasar, keras kepala! " gumam Kian pelan.


Raina masih di ambang pintu, memegang gang pintu kaca Kian. Gadis itu berhenti namun tidak menoleh.


"Kita tidak sedekat itu, jadi awasi sikap boss. Jangan bersikap seolah dekat dengan ku" ucap Raina penuh penekanan, lalu ia menarik gang pintu dan benar-benar keluar.


Deg.

__ADS_1


Tinggallah Kian yang terhenyak semakin jauh ke dasar lautan, ia merasa terombang ambing di bawah arus laut. Ucapan Raina barusan menyentak Kian pada kesadaran yang mendalam.


...----------------...


__ADS_2