Si Kulkas Itu Suamiku

Si Kulkas Itu Suamiku
(45) Takdir tak bisa di paksa


__ADS_3

Cia melihat berita di ponselnya, ia kaget melihat satu artikel yang menjadi berita utama hari ini.


"Ayah?? " gumam Cia menutup mulutnya. Matanya membulat tidak percaya.


"Putar balik, kita ke kantor Ayah sekarang" titah Cia pada supir pribadinya.


"Baik nyonya"


Tiba di depan perusahaan ayahnya, Cia langsung keluar dari dalam mobilnya.


"Ayah!! Ayah!!! "panggil Cia berlari menghampiri sang Ayah. Dua polisi tengan memegang dan mengawal penangkapan sang Ayah.


"Cia!! " Gumam Ayah Cia.


"Ayah, kenapa bisa begini? "


"Maafkan Ayah Cia, Ayah belum bisa menjadi Ayah yang baik untuk mu" lirih Ayah Cia menatap sedih putrinya.


"Ayah... aku akan membantu mu" ucap Cia meyakinkan Ayahnya. Namun ayahnya menggeleng pelan, seperti nya ia mulai sadar akan perbuatannya. Kasusnya terlalu berat, semua yang ia lakukan selama ini sudah terbongkar.


"Maaf nona, Ayah anda harus segera kami bawa" ucap polisi yang membawa Ayah Cia.


Cia tak dapat berkata kata lagi, ia terpaksa melepaskan Ayah nya di bawah oleh polisi.


"Dave" Gumam Cia teringat pada Suaminya, kemana pria itu? mengapa ia tidak ikut tertangkap.


Sementara di perusahaan AMD group semua orang merasa senang dan lega, akhirnya mereka terlepas dari semua masalah. Bahkan sekarang semakin banyak proyek yang di tawarkan oleh para direksi agar AMD group yang mengaetnya. Rancangan gedung pencakar langit di terima baik oleh masyarakat, bahkan mereka kagum melihatnya. Sehafusnya rancangan begini tidak perlu di publish, namun karena masalah yang hampir meruntuhkan AMD membuat mereka harus membuktikan bahwa rancangan itu milik mereka dan bukan milik perusahaan lain.


"Selamat Alex admudiano, reputasi mu semakin baik. Rancangan mu sangat bagus" puji Dion sembari menjabat tangan Alex.


"Terimakasih boss" jawab Alex tersenyum puas.


"Dan tidak lupa kita ucapkan terimakasih kepada Raina, jika bukan karena dia perusahaan kita pasti sudah runtuh, terjebak semua masalah yang Dave buat untuk kita. " Ucap Dion mencari cari keberadaan Raina, namun gadis itu tidak terlihat di mana pun.


"Kemana dia? " tanya Dion, Erjo mengangkat bahu tidak tahu. Gadis itu sudah menghilang sejak acara live.


"Aku juga tidak melihat Raina sejak kemarin" ujar Ega.


"Iya, kami tidak melihatnya sejak kemarin. "


Alex hanya diam, ia terlihat tidak peduli dengan keberadaan Raina saat ini. Ia benar-benar merasa sangat kecewa. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa sangat cemas. Rindu, sejak keluar kota Raina tidak pernah pulang ke rumah.

__ADS_1


Seluruh pegawai merasa bersalah pada Raina, mereka sudah salah menilai Raina.


"Huh, sekarang apa kalian menyesali ucapan kalian? " seru Dewi menatap Linda dan beberapa pegawai lainnya. Mereka yang bersikeras menyudutkan Raina dulu.


"Iya bener, aku merasa sangat bersalah padanya"


"Kemana gadis itu? aku ingin meminta maaf"


Mereka mencari cari keberadaan Raina. Sehati ini mereka belum melihat batang hidung gadis itu.


"Apa kamu melihat Raina? " tanya salah satu pegawai pada Dewi.


"Aku juga tidak tahu, seperti nya Raina belum datang" jawab Dewi sembari melirik arloji nya. Sudah hampir pukul 11 siang, tapi Raina belum datang juga.


"Aku rasa Raina tidak datang hari ini" sahut yang lain.


*****


Raina menatap seluruh isi rumah, ia berjalan menuju ke kamar Alex, mengintip sebentar kedalam kamar yang ternyata tidak terkunci. Raina perlahan masuk,duduk di tepi ranjang empuk Alex, ia menatap lekat setiap sudut kamar seolah olah ia sedang merekam semua yang ia lihat di sana.


"Huhh... ini benar-benar nyaman" Gumam Raina merebahkan lembutnya ranjang Alex, ia senyum senyum sendiri membayangkan dirinya dan Alex berbagi ranjang.


"Tolong jaga kesehatan mu kak" bisik Raina pada foto Alex yang tertata di nakas samping ranjang. Raina meletakkan sepucuk surat di samping foto Alex, ia berharap Alex membacanya dan mau memaafkannya. Tidak lupa Raina juga meninggalkan buku diary yang berisi semua tentang Alex di masa masa remaja dulu.


Swtelah merasa cukup lama di dalam kamar Alex, Raina pun dari sana. Sebelumnha Raina sudah merapikan kembali ranjang yang sedikit kusut karena ulahnya tadi. Dengan berat hati gadis itu harus keluar dari rumah itu. Sudah banyak kenangan yang ia lewati bersama pria yang hampir 6 bulan menjadi suaminya, Seperti yang ibunya katakan takdir tidak bisa di paksa. Tak lupa juga Raina meninggalkan surat pengajuan cerai untuk Alex yang sudah ia tanda tangani.


Raina menarik kopernya keluar dari rumah, terlihat di luar Taxi sudah menunggu nya. Supir taxi langsung menyambutnya dan membantu Raina membawa barang barangnya ke dalam bagasi.


"Jalan pak" titah Raina ketika dirinya masuk ke dalam taxi. Supir taxi pun mengangguk pelan, lalu menjalankan mobilnya. Raina terus menatap rumah Alex, bahkan ia menolehkan kebelakang kepalanya ketika taxi yang ia tumpangi semakin jauh dan tidak terlihat lagi rumah Alex, barulah Raina kembali menghadap ke depan.


"Huhh... Mungkin ini saatnya ibu" batin Raina.


***


Seluruh tempat sudah Cia kunjungi, Dave tidak ada di mana pun. Bagai di telan bumi, pria itu menghilang sekejap mata.


Cia pulang ke rumah nya dan Dave, ia merasa sangat lelah dan beban pikiran. Cia harus memikirkan cara agar ayahnya terbebaskan.


"Akkppp!! " pekik Cia tertahan ketika dirinya memasuki kamarnya, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya.


Brak!!!

__ADS_1


Tubuh Cia terhempas ke lantai, matanya membulat melihat Dave berdiri tepat di hadapannya


"Kenapa? kaget? " decak Dave tersenyum miring. Cia beringsut menjauh dari Dave yang melangkah semakin dekat dengannya.


"Kamu tidak perlu mencari ku lagi, karena aku sudah di hadapan mu" ujar Dave, Cia menggeleng ketakutan. Pelan pelan Cia menggerakkan tangannya menelusup ke dalam tas sandang yang tergeletak di sampingnya. Cia mencari cari ponselnya, namun pergerakannya terhenti.


"Akhh!!! Dave sakit. Sakit!! " rintih Cia menahan sakit pada pergelangan tangan kirinya yang di injak oleh Dave.


"Huh, mau menghubungi polisi? " cibir Dave.


"Kau tahu, aku hampir tertangkap polisi karena Ayah mu! "


"Tidak.. - itu semua karena kau!! kau yang membuat Ayah ku tertangkap! " balas Cia membuat Dave naik pitam.


"Huh, mau menyalahkan ku??? Kalau bukan karena keserakahan Ayah mu, semua ini tidak akan terjadi!! " bentak Dave ia berjongkok dengan kaki masih menginjak tangan Cia, matanya menatap tajam sembari satu tangannya menarik rambut Cia kuat.


"Akhh... " rintih Cia menengadah kan kepalanya karena jambakan Dave di kepalanya.


"Kau yang bodoh, Karena dirimu terbuai oleh rayuan wanita itu!! " balas Cia dalam kesakitan.


Plak!!!!


"Berhenti menyalahkan ku!!! "


Plak!!!


"Bajingan!!!! " teriak Cia lagi, ia terlihat tidak takut dan sudah kebal akan kekerasan yang Dave lakukan padanya.


"Huh, berani sekali mulut mu ini memaki ku" decak Dave. Pria itu menghempas kan tubuh Cia, lalu bangkit dari jongkok nya. Dave membuka ikat, pinggang yang melilit erat di pinggang celananya. Cia yang tergeletak di lantai tak berdaya melakukan apa apa lagi, ia sudah pasrah menerima nya.


"Bangun!! " titah Dave membentak.


"Apa kau tuli!!! " teriak Dave menarik paksa tangan Cia agar segera bangun. Dengan lemas dan berdiri sempoyongan, Cia menatap penuh kebencian pada suaminya. Ia sangat menyesali telah menikah dengan pria ini.


"Apa?? kau ingin membalas ku? " olok Dave.


Plak!!!!


Bug!!! Bug!!! Bug!!!


Cia tak bergerak lagi, ia hanya memejamkan matanya menahan setiap cambukan yang Dave layangkan.

__ADS_1


__ADS_2