
Alex menatap Raina dari kursi kemudi. Mereka sejak tadi sudah tiba di rumah, namun Alex tak kunjung, keluar dari mobilnya, ia malah betah menatap Raina yang sedang tertidur di samping.
"Siapa kau sebenarnya, mengapa kau terlihat tangguh berada di sisi ku?? " Batin Alex, tatapan nya sulit di artikan.
Alex menghela nafas, entah bagaimana kedepannya. Pria itu bertekat akan membuat gadis ini bahagia, setelah bercerai dengannya Raina pasti bahagia dan bebas. Itu pemikiran Alex.
Cukup lama berada di mobil, akhirnya Alex memutuskan untuk mengangkat Raina dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Secara, perlahan Alex membaringkan Raina ke atas ranjang nya. Terlihat Raina menggeliat memperbaiki posisi tidurnya setelah di jaringkan Alex.
"Tidur lah yang nyenyak" bisik Alex. Lalu pria itu keluar dari kamar Raina dengan menutup pintu pelan.
****
Keesokan harinya di perusahaan AMD group di kacaukan oleh proyek yang sudah berada di tangan mereka tiba-tiba akan di cabut. Pemilik proyek meragukan kinerja AmD group dalam penanganan proyek ini karena terjadinya mogok kerja para pekerja lapangan. Jadi semua pekerjaan terbengkalai dan terhenti, target penyelesaian pasti tidak akan tercapai.
Erjo berlari menuju ruangan Alex dan Kian, mereka di panggil rapat oleh Dion.
Brak~
"Apa yang terjadi, mengapa semua ini bisa terjadi!!! "
"Maaf paman, semuanya sudah sesuai rancangan dan perkiraan kita. Mustahil jika para pekerja melakukan mogok" sela Kian.
"Tapi semuanya mogok dan pekerjaan terhenti!! " balas Dion tegas, ia berdiri di depan Kian dan Alex. Keduanya adalah orang kepercayaan Dion, meskipun mereka selalu bertengkar.
"Aku yakin sesuatu telah terjadi, seseorang sengaja melakukan ini untuk menghancurkan kita" ujar Alex.
"Benar, aku juga berpikiran seperti itu! " sahut Kian setuju dengan Alex.
"Bos, bukan hanya mogok, Rancangan kita dan juga semua data data kita tentang proyek ini telah bocor. " ujar Erjo.
"Apa!!! " Alex berdiri dari duduknya.
"Lihat ini!! " ucap Erjo memberikan tap nya pada Alex dan Kian bergantian.
"Sial!! " umpat Alex dan Kian bersamaan.
"Bagaimana bisa mereka mendapatkan semua ini?? " geram Alex.
"Kita sudah menyimpan semua dokumen dan hanya di beritahu kepada orang orang tertentu saja" sambung Kian.
"Tumben mereka akur" bisik Gio pada ketiga teman teman Alex, mereka berdiri di belakang mereka.
"Aku curiga" gumam Dion yang sejak tadi diam.
__ADS_1
Alex dan Kian menatap Dion, menunggu kalimat Dion selanjutnya.
"Semua ini pasti ada hubungan nya dengan Cia!!, Semenjak kedatangan mereka aku sudah merasakan ada sesuatu yang mereka rencanakan. "
"Hmm... jika Cia, hanya memiliki 1 tujuan" ujar Erjo.
"Tidak usah bahas! " protes Alex garang.
"Hemm.. fokus pada Ayah nya! " ucap Kian.
"Kita harus menendang mereka dari perusahaan kita sebelum mereka menghancurkan perusahaan ini! " ucap Dion.
"Tapi, sekarang mereka yang memegan saham terbesar di perusahaan kita" ujar Erjo.
"Nah, itulah yang harus kita pikirkan. Kita harus memikirkan bagaimana cara untuk menendang mereka dari perusahaan kita"Ucap Dion lagi.
" Ikuti permainannya" ujar Kian.
"Kita harus membuktikan kesalahan mereka, karena aku juga baru saja mendapatkan laporan jika mereka sudah melakukan sesuatu yang di berguna. Hanya menghabiskan banyak dana perusahaan kita" jelas Kian membaca sebuah e-mail dari bawahannya.
"Hanya ada satu cara agar kita bisa mengetahui akal bulus mereka, dan mengumpulkan semua bukti. " Gumam Dion. Sekuat mata mengarah pada Alex, hanya dia satu satunya orang yang bisa melakukan semua ini.
"Aku?? " tunjuk Alex pada dirinya sendiri.
"Yah, hanya kau yang bisa membuktikan nya." ujar Erjo.
"Tidak bisa paman, Cia sudah memiliki seorang Suami. Ini akan memperburuk situasi kita. " sela Kian.
"Benar, jika aku mendekati Cia, kemungkinan besar anak Mafia itu melakukan sesuatu yang buruk pada perusahaan kita. Ayahnya memiliki tubuh baik dengan Mafia di seluruh dunia ini" tambah Alex pada ucapan Kian. Dion mengangguk pelan, apa yang di katakan Alex dan Kian memang ada benar nya juga.
Tuk!!! Tuk!!!
Mereka menoleh ke sumber suara, menatap Raina yang tercengir di depan pintu. Lalu Raina berjalan pelan mendekati mereka. Dion tersenyum, kedatangan Raina membuat otaknya mendapat kan sebuah ide.
"Maaf jika saya telat" cicit Raina menunduk.
"Tidak datang pun tidak masalah, kamu memang tidak ada gunanya" cibir Alex, membuat Raina mencibir kesal.
Kian tersenyum, ia pindah duduk ke samping Raina. "Jika tak penting bagi mu, biarlah pentyl bagi ku"
"Huh" dengus Alex kesal.
"Terimakasih" sahut Raina tersenyum pada Kian.
"Sudah sudah!! kembali ke pokok pembicaraan" sanggah Dion, mereka kembali fokus ke pembicaraan tadi.
__ADS_1
"Raina" panggil Dion.
"Iya bos besar? "Raina mendadak gugup, perasaannya mulai tidak tenang.
" Aku ingin mengutus mu mendekati Dave" ujar Dion menatap Raina serius.
"Dave? suami Cia? " ulang Raina.
"Maaf Boss, ini terlalu bahaya" sela Alex, ia kurang setuju.
"Benar paman, ini terlalu bahaya untuk Raina. Jika mereka mengetahui rencana kita, maka Raina akan menjadi sasaran kemarahan mereka" sahut Kian.
"Kita akan selalu mengikuti Raina, diam diam kita akan memantau semua" jelas Dion.
"Apa kamu bersedia? " tanya Dion lagi pada Raina. Gadis itu terdiam, ia melirik Alex yang juga melirik kearahnya. Alex memberi kode menggeleng, agar Raina menolaknya.
"Maaf Boss besar" ujar Raina, Alex bernafas lega mendengarnya. Ia mengurangi jika Raina menolak permintaan Dion.
"Kapan misi ini akan di mulai? " tanya Raina membuat nafas Lega Alex berubah menjadi nafas sesak.
"Jadi kau bersedia? " tanya Dion memastika.
"Yah, demi perusahaan. Aku akan melakukannya" ujar Raina yakin.
"Bagus, aku jadi akan keselamatan mu" ucap Dio tersenyum senang.
"Raina, kamu yakin? " tanya Kian memegang tangan Raina.
"Aku tidak bergerak sendiri kan? kalian pasti akan melindungi aku kan" jawab Raina tersenyum.
"Tentu saja, kami semua akan membantu mu" sahut Ega dari belakang. Raina menoleh, ia melemparkan tatapan tajam pada ketiga pria itu. Raina masih kesal pada mereka. Sementara Alex menatap tajam tangan Kian yang masih setia memegang tangan Raina.
"Baiklah, meeting kita hari ini cukup sampai disini" ucap Dion menutup rapat.
Mereka semua keluar dari ruangan meeting, Raina menarik tangannya dari tangan Kian. Lalu mengikuti Alex yang sudah berjalan keluar lebih dulu.
"Marah lagi tu" bisik Jiandi.
"Kalian ini pegawai arsitektur atau emak emak pedagang sayur sih, gosip mulu" celetuk Raina pada mereka bertiga. Lalu Raina mengejar Alex yang sejak tadi terlihat marah padanya. Raina harus berbicara dengan Alex.
"Huh, aku yakin mereka bukan saudara" gumam Justin.
"Tentu saja, aku melihat Raina memakai cincin pernikahan ketika mengusir Cia" imbuh Ega
"Jangan jangan?? " Jiandi menggantungkan ucapannya. Ketiga pria itu saling menatap dengan menutup mulut mereka. Apakah yang ada di pikiran mereka sama?.
__ADS_1
...----------------...