
Bulan 5, tanggal 3, pada pagi hari.
Suatu hari disebuah tempat, yang setiap harinya selalu dikunjungi para pelajar dari wilayah manapun bangsa air. Tempat menimba ilmu sekaligus tempat latihan terbaik untuk para pengendali tingkat dasar. Disana ada seorang guru yang sedang memberikan pelajaran kepada para murid-muridnya.
” Anak-anakku sekalian ketahuilah bahwa dibelahan dunia ini, beberapa potensi akan selalu ditemukan. Baik seorang jenius yang pandai akan pengendaliannya, ataupun seorang abnormal yang pandai akan kepiawannya menguasai seluruh materi manapun. Namun tidak terlepas dari pesatnya berkembang yang seseorang peroleh, akan lebih mulia seseorang tersebut bila dia menggunakannya dengan cara bijak."
" Akan tetapi, tak jarang banyak pula orang yang berkembang dengan cara yang salah. Sehingga alam menghukum mereka, atas keegoisan serta ketamakan mereka."
" Dan hukum-hukum alam yang membatasi tiap-tiap kehidupan manusia, tak selamanya mendukung peranan kita di dunia. Bahkan ada yang sangat menentang kehadiran kita."
" Itulah sebabnya aku hanya ingin kalian, para murid-muridku ini, tetap mempelajari ilmu yang ku sampaikan dengan cara yang benar. Walaupun nantinya.... Kalian sekalipun tidak mengalami kemajuan sedikitpun. Itu lebih mulia, karena lebih baik terlihat tak berguna untuk menutupi berlian, daripada menjadi berlian tapi tak bernilai. Para murid ku, apa kalian paham pelajaran yang ku sampaikan?"
" Tentu Guru !!!.... Kami paham."
" Baiklah, pelajaran hari ini selesai. Besok aku ingin kalian semua berkumpul di Kolam Penenang dan menyiapkan perlengkapan yang sudah ku minta sebelumnya."
" BAIK GURU!!! TERIMA KASIH!!! " (mereka semua serentak mengucapkan seraya membungkuk)
Semua murid pun bergegas pulang meninggalkan Aula Pengajaran. Tampak diantara mereka masih ada yang merapikan barang bawaan seperti buku, tinta, pena bambu atau sekedar merapikan alas tikar yang mereka gunakan untuk duduk. Dari kejauhan terlihat seorang anak laki-laki, kira-kira berusia 7 tahun, ia membawa beberapa buku lalu beranjak dari duduknya dan pergi menuju pintu keluar, namun baru beberapa langkah ia sudah dihentikan oleh seseorang.
" Nak... tunggu sebentar. "
Anak itupun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, dilihatnya wajah seorang kakek tua yang mengenakan pakaian putih, dengan rambut dan janggut yang panjang serta berwarna putih.
" Guru Yochen?... Ada perihal apa Guru memanggilku?. Apa ada yang bisa ku bantu Guru?. " (bingung)
Guru Yochen, adalah salah satu Guru dari 5 Guru yang sangat dikagumi dan dihormati di Aula Pengajaran Kerajaan Laut. Nama 'Yochen' adalah nama panggilan yang diberikan murid-muridnya kepadanya, nama aslinya adalah Mu Rou Jivaice. Ia berasal dari bangsa es dan Klan Jivaice, klan yang disegani karena mendirikan banyak pabrik senjata yang memproduksi senjata berkualitas. Ia juga dikenal sangat dekat dengan murid-muridnya. Bahkan ia menganggap semua muridnya, adalah anak-anaknya.
" Nak Eter, apa kau punya waktu sebentar?, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu. Tidak begitu penting juga, tetapi.... "
" Tentu Guru, (spontan) mengapa tidak?. Apa yang ingin Guru tanyakan? "
__ADS_1
" Nak... Dari yang kulihat di wajahmu, warna bola matamu, aura Roh mu, dan juga tanda element di dahi kirimu, apakah.... Apa (ragu).... Apakah .... Kau adalah seorang putra ketiga dari Raja Laut Altergust Sherk Noglant?. Mmm... Jawablah dengan jujur nak, apa itu benar?.
Guru Yochen sebenarnya sedikit tidak yakin melontarkan pertanyaan tersebut. Namun rasa keingintahuannya yang besar, membuatnya berani menanyakannya.
Eter terdiam, bingung apa yang harus ia lakukan. Ayahnya berpesan kepadanya agar ia tidak menggunakan namanya apalagi kedudukannya untuk hal-hal yang tidak perlu di beritahukan dan juga untuk disalahgunakan. Tapi ia berfikir kembali..., yang mengajukan pertanyaan tersebut adalah Gurunya sendiri, mau berbohong pun tidak ada gunanya, karena Gurunya pun paling sudah mengetahui semua hal itu sebelumnya. Akhirnya, Eter hanya bisa pasrah menjawab.
" Iya Guru.... Itu benar. Aku memang anak dari Raja Laut. Dan namaku sebenarnya adalah Equipter Sherk Tera, bukan Eter. Eter itu hanya panggilan yang ayah sarankan untuk ku gunakan di keseharian selama di luar kerajaan, Guru. Sebenarnya ayah sedikit keberatan jika aku memberitahu secara bebas identitasku disekolah. Jadi... mm... Maaf Guru."
Pengakuan dari muridnya tersebut, seakan-akan seperti sebuah sentakan. Sontak, membuat Guru Yochen berlutut dan memberi hormat kepada Eter.
" Sssa.... Salam!!! Dan hormat!!! Untuk Yang Mulia Muda.....Saya minta maaf.... Atas sikap saya yang lancang ini Yang Mulia. "
Eter terkejut atas sikap gurunya, spontan Eter mendekati Gurunya dan memegang bahunya, seolah-olah memberikan perintah agar bangkit dan berdiri.
" Guru.... Bangunlah, tidak perlu seperti itu Guru..." (rasa tidak enak)
" Tidak... Tidak, maafkan saya. Seharusnya saya tidak berani menanyakan hal-hal yang tidak disetujui Raja atas Yang Mulia Muda. "
" Guru hentikan itu. Tidak perlu memanggilku seperti itu. Tidak apa-apa jikalau Guru sudah mengetahuinya. Tapi.... Bisakah Guru tetap merahasiakannya?. Aku mohon Guru, ini demi yang terbaik agar ayah tidak mengetahuinya. "
" Guru....! Jangan memanggilku Yang Mulia Muda lagi. Apa Guru ingin membiarkan semua orang tahu identitasku?.... Bersikaplah seperti Guru memperlakukan murid Guru pada umumnya saja. "
" Hehe... Baiklah Muridku. " (senang)
Guru Youchen* [ Inikah sosok sebenarnya dari sang penerus Kerajaan Laut? Sungguh bermoral dan sangat bagus sopan santunnya. Dialah yang akan menjadi berlian yang tersembunyi nantinya (sambil tersenyum bangga). Kutunggu pencapaianmu, wahai Murid terhebat ku (memandang punggung eter yang menjauh darinya, dan membalas lambaian tangan muridnya)]
" Sampai jumpa besok Guru!!! " (melambaikan tangan).
* * * * * *
Sementara itu....
__ADS_1
Di Kerajaan Laut sendiri, sepertinya akan ada beberapa masalah terjadi di sana. Keadaan dapur terasa sangat tegang, seluruh juru masak fokus menyibukkan diri masing-masing dengan pekerjaan mereka.
Lalu datanglah seorang pria maskulin berjalan memasuki ruangan dapur. Rambutnya lebat berwarna putih. Ditangan kirinya menggenggam sebuah buku catatan, dan pena bambu yang ia letakkan pada telinga kanannya. Ternyata ia tidak sendiri.... Ia membawa seseorang bersamanya.
" Perhatiaaaan...!!! Semuanya...!!! Harap hentikan pekerjaan kalian. Dan berbarislah rapi di hadapanku sekarang!!!.
" Baik, Wakil Kepala...!!! (semua Koki menyahut)
Seluruh juru masak dengan sergap segera mendekati Wakil Kepala dan berbaris rapi memanjang dihadapannya. Suasana berubah menjadi hening, lalu suara pria tersebut memecahkan keheningan.
" Ada beberapa hal!! Yang ingin disampaikan oleh Kepala Pelayan (bersemangat) Semuanya....!! Harap perhatikan dengan baik-baik arahannya. "
" Baik....! Wakil Kepala....!!! (Para Koki membalasnya dengan semangat yang membara pula)
" Silahkan Ketua... (Menunduk) Anda bisa menyampaikannya. "
" Terima kasih... Atas bantuanmu (Menepuk bahu wakil pelayan tersebut) Baiklah.... Untuk para koki-koki terhebatku, mungkin hari ini akan menjadi hari yang paling sibuk. Karena malam hari nanti Yang Mulia Raja akan kedatangan tamu jauh dari bangsa tanah, yaitu Raja Gristha Dust II, dan Putrinya yang bernama Dezyl Grown Dust, dari Kerajaan Bumi. Jadi Yang Mulia Raja menginginkan agar semuanya berjalan dengan baik. "
" Yang Mulia Raja juga ingin agar kalian memasakkan makanan kesukaan mereka. Terutama makanan kegemaran Raja Tanah. Siapkan semua makanan pembuka, makanan penutup, buah-buahan segar, serta manisan dengan sempurna. Pastikan semuanya tertata rapi dan bersih. "
" Untuk resep masakannya, aku sudah menyiapkannya. Lalu, kalian akan dibagi menurut pengelompokkan. Jadi kalian akan memasak makanan-makanan nanti bedasarkan pengelompokkan kalian. Walau ini memang sedikit mendesak, tapi tidak memungkinkan kita untuk tidak bisa melakukannya bukan?!....Lakukanlah sebaik mungkin, kurangi kesalahan dan jangan mengecewakanku. Ini saja perintah untuk kalian. Terima kasih. "
" Baik, Ketua Kepala Pelayan.... !!! Terima kasih untuk arahannya!! "
Para koki-koki tersebut berbalik badan dan menuju meja-meja dapur mereka dan mulai memasak kembali. Semangat yang mereka tunjukkan membuat pimpinan pelayan itu senang.
" Wakil Kepala... Apa seluruh pelayan yang diminta sudah dikumpulkan?. "
" Tentu Ketua, Mereka ada di Altar ruang tengah, lantai 2. "
" Mmm... (Berpikir), Begini saja, tugas selanjutnya aku serahkan padamu. Aku ingin melihat keadaan taman, dan halaman luar Istana. Dari pagi tadi, aku belum sama sekali mengecek keadaan diluar. Semoga para penjaga kebun itu mengerjakan tugas mereka dengan benar. " (menghela nafas)
__ADS_1
" Tentu... Ketua. Percayakan saja padaku. " (tetap semangat)
* * * *