
Pimpinan pelayan bergegas meninggalkan dapur, berjalan disepanjang koridor lalu menuruni tangga menuju lantai bawah. Saat ketua menuju pintu keluar utama istana, tiba-tiba seorang pelayan dari arah depan menabraknya.
Bruukk!!! (Terkejut)
" Aduh..... " (pimpinan dan pelayan tersebut tersungkur ke bawah)
Prannnkk!!!.... (bunyi baki logam yang menghantam lantai marmer yang keras)
Membuat barang-barang yang dibawa pelayan itu berserakan dilantai. Menumpahkan air mawar dalam wadah kecil yang pelayan itu gunakan untuk membersihkan pintu. Setelah keduanya berdiri pelayan itu terkejut bahwa wadah yang berisi air, telah membasahi baju sang pimpinan.
Melihat itu, pelayan tersebut gemetaran...., rasa takut menguasai tubuhnya. Hingga membuat lututnya lemas dan seketika ia berlutut meminta maaf. Kepalanya tertunduk tidak berani melihat wajah pimpinan. Tetapi wajah pimpinan tersebut juga tertunduk seperti menyembunyikan amarahnya.
" Mm... Ma... Maafkan saya Ketua Kepala!! (ketakutan) Tolong ampuni saya. Saya tidak sengaja... Ss.. Sa... Saya sungguh tidak melihat bahwa.... "
Pimpinan sudah tak mampu menahan semua amarahnya. Dalam kondisi yang serba tergesa-gesa dan banyaknya tanggung jawab yang ia pikul, wajar saja bila kesalahan yang mencolok seperti ini bisa membuatnya naik pitam.
Ia mendekat kearah pelayan, dan dengan sarkas menarik baju pelayan hingga pelayan yang tadinya berlutut tertarik hingga berdiri. Tak sampai disitu saja, pimpinan yang sudah terlanjur terbawa amarah, membentak pelayan dengan kasar.
" APA KERJAMU TIDAK SEBECUS INI?!! DIMANA KEDUA MATAMU ITU KAU GUNAKAN, KAU SUNGGUH TAK.... "
(Mendorongnya hingga menubruk dinding)
" TAK BERGUNA!!! "
" BAGAIMANA...." (menunjuk ke arah pelayan)
Lalu tak terduga, suara dari seorang anak membuat pimpinan tersebut menghentikan perbuatannya.
" Cukup ayah.... (Menarik baju ayahnya kebelakang, seolah olah ingin melerai) Berhenti... !!!" (berteriak)
__ADS_1
" BAGAIMANA JIKALAU ADA YANG TERLUKA KARENA PERBUATANMU?...!!!
" Ayah... Tenanglah...(memelankan suara) Hentikan perbuatanmu itu ayah... Kau berlebihan. Kau bisa jadi pusat perhatian. "(berusaha menenangkan ayahnya)
" BERLEBIHAN?. ANAKKU APA KAU TIDAK MELIHAT APA YANG TELAH IA PERBUAT? (menunjuk si pelayan). Aku tak mempermasalahkan bila dia membasahi bajuku (jongkok lalu memegang bahu anaknya dan memelankan suara). Tapi bagaimana jikalau yang diposisiku tadi itu Yang Mulia. (memasang wajah gelisah) Apalagi tamu-tamu Yang Mulia nanti? " (khawatir)
" Iya ayah....(simpati) Aku mengerti... Tenanglah. Sepertinya darah tinggimu lagi kambuh. Lebih baik, ayah segera mengganti pakaian dan beristirahat saja. Biarkan semua kekacauan ini akan ku tangani. " (ambisius)
" Tapi Syler... Ayah harus... "
" Sudahlah ayah. Istirahat saja..... Berikan catatanmu, akan ku selesaikan sisanya. Serahkan pada Syler anak ayah yang hebat ini... " (dengan percaya diri)
Pimpinan itu terdiam, lalu tertawa senang atas kelakuan anaknya yang dirasanya sudah bertambah besar. Ia sangat bangga memiliki anak laki-laki yang sangat bisa untuk diandalkan.
Huuuffft.... (menghembuskan nafas dengan lega)
" Hahaha.... Baiklah... Nak. Kau memang bisa diandalkan seperti biasa, aku bangga padamu (tersenyum). Lakukan seperti apa yang tertulis di catatan itu ya.... Apa kau mengerti? " (sambil menyerahkan buku catatannya)
" Iya... Ayah Iya. Sudah sana. Ayah pasti belum sarapan dan meminum obat kan!!" (Mencurigai)
"Aaahh.... (Khawatir) kalau.... Untuk.... Yang satu itu... Aahh hehe....hehe... Memang belum nak.... (Memasang muka pasrah). Ayah memang belum bisa menyempatkan sarapan (membalikkan badan)... Dan jugaa..... "
Syler dari belakang tampak mengeluarkan aura mengerikan, dengan tatapan mematikan. Dan ketika ayahnya membalikkan wajahnya.... Dan melihat tatapan anaknya.
" Huaahh!!.... Syler... (Ketakutan) kee... Kenaa... (Tersendat sendat). Kenapaa... Kau... Kau... memasang... Wajah seperti ituu (melirihkan suara).... Wahai anakku.... (Pasrah) tersayang.... :(
" Cepat pergi dan habiskan sarapanmu!! Lalu jangan lupa untuk (melangkah maju) MEMINUM OBATMU.... " (aura gelapnya makin bertambah dan tatapannya semakin tajam)
" Iy... Iy... Iyaa (tambah ketakutan), Ay.... Ayahh... Tidak akan lupa... :( (segera meninggalkan Syler)
__ADS_1
Pimpinan* [Huuu... Tuhan... Mengapa engkau memberikan anak yang bahkan lebih menakutkan daripada ibunyaa.... Huuhuu... Aku hanya bisa pasrah saat dia sudah mengeluarkan tatapan seperti itu... Huhuu....]
Pimpinan yang biasanya terlihat sangat tegas, penuh wibawa, dan tidak segan segan mengeluarkan amukan yang sangat mengerikan apabila mendapati sesuatu yang tidak bisa ia tolerir, akan berbeda jika dalam pandangan Syler. Bagi Syler pimpinan itu hanyalah seorang ayah yang teledor, suka bertindak semaunya, brutal, keras kepala, dan suka kumat apabila penyakitnya kambuh.
Tapi disisi lain Syler juga sangat mengagumi ayahnya. Ayahnya saja bahkan selalu menyempatkan diri untuk melatih Syler. Mendisiplinkan Syler, memberikan latihan super ketat, dan dengan ketegasannya serta kemampuan yang ia kerahkan semua, tak lain hanya untuk anaknya seorang. Meskipun.... anaknya semenakutkan itu.
Ia berharap dengan latihan yang ia berikan akan berguna nantinya. Ayahnya juga tahu, bahkan Syler yang masih diumur 7 tahun saja sudah diakui oleh Monele (Monster Elemen) dan pencapaian itu sama seperti putra dari Raja Laut mereka, yaitu Eter. Eter yang juga baru berumur 7 tahun sudah mendapatkan pencapaian hebat seperti itu tidak bisa disangkal lagi.
Apalagi jika dilihat Eter keturunan dari keluarga bangsawan, keluarga kerajaan. Wajar saja jika dia sudah mendapatkan pengakuan dari Monele diusia yang masih dibilang belia. Karena itu bisa saja warisan dari leluhur sebelumnya, atau karena pengaruh turunan.
Syler yang sedari tadi melihat ayahnya berjalan menjauh, berbalik badan dan segera menemui pelayan yang didorong ayahnya tadi. Seakan-akan dia yang membuat kesalahan, dengan rasa bersalah nya atas perbuatan ayah nya ia segera meminta maaf pada pelayan tersebut.
" Paman... Ayo berdiri paman. (merangkul) Paman baik-baik saja kan?!. Sebelumnya.... aku minta maaf atas perbuatan ayahku yang kasar tadi paman....Penyakitnya sering kambuh akhir-akhir ini, jadi dia sedikit emosional. Aku tahu paman tidak sengaja menabrak ayah. Jadi aku harap paman tidak.... "(menaruh tangannya didepan dada, dengan sikap memohon)
" Tidak apa-apa Syler....(menurunkan tangan Syler) Pamanlah yang salah. Heheh.... Dan seharusnya yang meminta maaf adalah paman, bukan kamu nak. Paman memang pantas mendapat hukuman. " (perasaan bersalah yang besar)
" Sudahlah paman.... Tidak usah dipikirkan. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. "
" Mari paman aku akan membantumu membersihkan tumpahan air-air ini. " (bergegas)
" Tidak perlu Syler, (mengambil barang yang sudah dipungut Syler) Serahkan pada paman saja.(tersenyum bahagia) Kamu lanjutkan saja tugas dari Ketua. "
(Syler memandang kagum, lalu mengangguk)
"Baiklah.... jika paman bilang begitu. Kalau begitu aku pergi dulu ya paman. Paman harus berhati-hati lain kali. "(Berlari menjauh)
" Baik!! Terima kasih sebelumnya!!. " (senang)
Pembantu* [Huft.... Menakutkan.... Kedua ayah dan anak itu. Mereka sama-sama memiliki kesan yang mengintimidasi, ditambah gertakan sang pimpinan tadi cukup membuatku terpojok. Hampir saja.... Aku sangat bersyukur, dengan adanya Syler aku terselamatkan. Anak itu memang berbeda dari lainnya, diumur yang masih muda tersebut ia sudah memiliki kemampuan berpikir dan berbicara dengan baik. Aku kagum padanya.
__ADS_1
Ditambah lagi, ayahnya tidak akan berkutik apabila Syler sudah mengeluarkan jurus mengintimidasinya. Begitu besar pengaruhnya terhadap kerajaan ini... Yahh... Begitulah yang aku rasakan saat ini. ]
* * * * * *