
Syler meninggalkan meja makan, berlari menuju balkon, di istana lantai dua. Suasana dinginnya malam seketika menyeruak disekujur tubuhnya. Pandangannya tak terarah kesana kemari. Dari atas dia mencari keseluruh halaman istana yang begitu luas, ditambah kabut yang menutupi pandangannya, tetapi dia berhasil menemukan posisi kedua temannya.
Eter dan Dezyl berdiri dengan satu kaki yang diangkat kebelakang dan tangan kanan yang direntangkan. Walaupun terlihat samar-samar dikegelapan, tapi ia masih bisa melihat dengan jelas.
Dalam lubuk hatinya sejujurnya ia merasa sangat bersalah, karena ucapan nya lah sekarang teman-temannya berdiri di luar. Syler tidak bisa mengalihkan pikirannya selain memikirkan kondisi teman-temannya. Ia terus memandang keluar, tanpa menyadari bahwa Raja Altergust sedang memperhatikannya daritadi. Ia lebih mendekat ke arah Syler, dan menyentuh bahunya.
" Syler apa yang kamu lakukan disini, mengapa kamu masih diluar dan tiba-tiba berlari pergi dari ruang makan?. "
" Yang Mulia?. " (terkejut memandangnya)
Syler terdiam, pikirannya tiba-tiba kosong, tubuhnya terpaku, bola matanya tak bisa bergerak dengan sorot mata yang redup dan gelap. Kepalanya terasa sangat berat dan sakit sekali, begitu juga dengan telinganya yang berdengung kencang.
Ia merasa sangat kesakitan, seakan-akan banyak orang yang sedang menusuk kepalanya, tetapi ia sama sekali tidak bisa bergerak. Dan Syler sama sekali tidak bisa mengekspresikan rasa sakitnya sedikitpun. Ia tampak terlihat biasa saja, tapi nyatanya dia sekuat tenaga menahan rasa sakit. Bola matanya yang semula berwarna abu-abu perlahan berubah menjadi kuning. Rambutnya yang kuning tampak seperti mengeluarkan sedikit cahaya.
Angin yang mulanya semilir tenang, semakin lama semakin menjadi kencang. Raja yang memperhatikannya menjadi heran dengan semua keanehan Syler. Dilihatnya langit-langit yang sangat gelap, bahkan bintang-bintang pun enggan menunjukkan kilauannya. Pohon-pohon menari mengikuti irama angin yang terus menghembus kencang. Dan kilatan cahaya pun mulai ikut berdatangan seiring waktu melarut.
" Syler....?! Ada apa denganmu? Syler?!! , .... " (menepuk bahunya)
Sontak Syler seketika tersadar. Ia bingung dengan apa yang barusan terjadi, namun ia teringat akan sesuatu.
" Yang Mulia. (sikap memohon) Yang Mulia.... saya mohon, tolong ringankan hukuman mereka, saya salah yang mulia, saya salah. (berlutut memohon) Saya tidak sengaja berkata seperti itu dan tidak mengetahui jika akan berakhir seperti ini. Tolong maafkan mereka, hukum saja saya, saya yang bersalah terhadap mereka Yang Mulia.... " (sangat berharap)
" Tidak Syler kau tidak salah, perkataanmu memang benar, mereka memang lancang dan mereka pantas mendapatkan hukuman atas kesalahan mereka. Biarkan mereka menyadari perbuatan mereka, ini sedikit pelajaran untuk mereka agar mereka tidak mengulanginya lagi. Sudah kuperintahkan mereka agar tidak menggunakan energi spirit mereka untuk hukuman ini. Yang salah tetap akan salah!!.... Berdirilah Syler dan segeralah) istirahat, ini sudah lewat. " (pergi meninggalkan Syler)
(perasaannya sangat kacau, rasa sedih dan khawatir bercampur menjadi satu) " Baik Yang Mulia.... " (berdiri dan membungkuk hormat)
Ngiiingg!!! (dengungan yang sangat keras datang lagi)
Spontan tubuh Syler mengalami lagi apa yang tadi terjadi, ia kembali merasakan sakit itu, tatapannya lagi-lagi kosong, ia merintih sangat kesakitan, namun tubuhnya sangat tak berdaya walau hanya untuk bergerak. Raja yang telah pergi, menghentikan langkahnya dan melihat Syler dari kejauhan dengan senyum misterius.
(tersenyum) " Itu dia....(berhenti sejenak lalu melanjutkan langkahnya) Itu sudah.... Dimulai....Bertahanlah sebentar saja..."
Syler masih tak bisa bergerak, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Ia sudah tak memiliki cukup tenaga lagi untuk bisa berdiri apalagi berjalan. Tubuhnya melemah, dan kakinya sangat lemas dirasa. Tak lama kemudian, Syler ambruk pingsan, para prajurit istana yang sedang berjaga disitu terkejut, mereka berdua menghampiri Syler dan membangunkannya.
__ADS_1
"Tuan... Tuan apa kau baik-baik saja?. Tuan bangunlah.... Tak ada respon. Apa kita perlu membawanya ke ruang pengobatan? " (Bertanya pada rekannya)
" Akkhh!!....Akkhh!! Sakit.... Pergilah.... (Mengigau) "
" Tuan... Tuan sadarlah!! " (menggoyangkan bahunya dan menepuk pelan pipinya)
" Pergilah!!. (meronta-ronta) Menjauh!!....DARIKUUU....!! (teriak) Aaaah!! " (membuka mata)
" Tuan kau baik-baik saja? (khawatir) Katakan sesuatu, ada apa denganmu?. " (membantunya duduk)
(Tidak menjawab, ia melihat ke sekelilingnya)
Pikiran Syler lagi-lagi kembali seperti semula memikirkan teman-temannya. Rasa sakit yang barusan dirasanya seakan hilang begitu saja, tanpa ia memikirkan darimana datangnya itu. Dengan respon cepat ia bergegas berlari kearah tangga dan menuju keluar istana yang bahkan hujan pun mulai merintikkan tetesan airnya.
Hujan turun dengan derasnya. Bahkan ia sudah tak bisa lagi melihat teman-temannya dari kejauhan. Anginnya juga kencang, dan hawa dingin ikut menyelimuti malam yang berkabut itu. Syler sangat khawatir pada mereka, ia berlari menyusuri setiap bagian halaman luar yang menjadi titik terakhir dari posisi mereka saat Syler masih bisa melihat mereka dari atas. Ia tak peduli lagi dengn tubuhnya yang basah kuyup karena diguyur hujan.
Syler* [Mereka ada dimana? Seharusnya masih disekitar sini (melihat kekanan dan kiri) Semoga mereka masih baik-baik saja.... Ini sudah semakain malam. Apa mereka tidak kedinginan? (cemas) ]
Sedangkan keadaan mereka saat ini...
" Tentu saja aku bisa, tapi apa kau lup...? Ayah melarang kita menggunakan energi spirit dalam hukuman kali ini kan? "
" Haaahh....! Yang benar saja, aku bisa mati kedinginan disini!! " (Dezyl mengosok-gosokkan kedua tangannya)
" Dan aku pasti akan kena marah dengan guru besok, karena membasahi buku sekolahku. Sekarang tulisannya juga sudah tidak bisa terbaca lagi. " (murung)
" TEMAN-TEMAN!!... Kalian dimana?,... Ahh(menemukan) Kalian disana!!. " (berlari mendekat)
" Syler untuk apa kau kemari?! Kenapa kau tidak didalam saja sana.....!! Eter tidak usah pedulikan dia. " (Dezyl kesal dengan Syler)
" Teman-teman.... Aku minta maaf, aku sungguh tidak bermaksud begitu, aku tidak sengaja... Mengucapkan perkataan yang melukai perasaan kalian. Aku... Aku sangat khawatir pada kalian. Tolong maaf kan aku, Dezyl, Eter. " (memegang tangan mereka)
" Tidak perlu lakukan itu Syler, cepatlah masuk atau kau akan kedinginan. Jika sakit aku tidak akan mengurusmu. " (Eter menjawabnya)
__ADS_1
" Tidak!!! Aku akan disini bersama kalian. Sampai hukuman kalian selesai. "
" Syler mengapa kau keras kepala, kau akan mendapatkan hukuman dari Paman!! " (Dezyl)
" Tidak masalah, aku juga sedang melakukannya. Aku juga salah terhadap kalian. " (keras kepala)
" Teserah sajalah, yang penting aku sudah memperingatkanmu!! Jangan membawa nama kami kalau kau dimarahi paman. " (Dezyl buang muka)
(Tersenyum ikhlas) " Terima kasih. "
Selama hampir tiga jam mereka berdiri, hujan juga tak kunjung berhenti. Semakin larut malam, udara dingin semakin menusuk hingga ketulang mereka. Tak ada yang memperdulikan mereka. Bahkan ribuan petir pun juga tak berhenti menyambar membelah langit.
Eter yang memiliki tipe spirit air, tentu saja hujan lebat ini bukan masalah untuknya, tapi bagi Dezyl yang tipe spiritnya tanah atau Syler yang belum mendapatkan tipe spiritnya, apa mereka bisa bertahan?.
Dikediaman bangsa laut, yang hampir sepertiga wilayahnya adalah perairan, tentu memberikan keuntungan tersendiri bagi pemilik tipe spirit air. Wilayah tersebut mampu memberi dan menambah energi sekaligus sebagai sumber daya bagi pemiliknya juga kelemahan bagi penerima selain tipe spirit air.
Hal ini pun berlaku untuk seluruh kediaman masing-masing tipe spirit. Dimana suatu bangsa berdiri ditempat dimana ada penyokong spirit mereka, disitulah titik terkuat mereka. Dan bisa menjadi kelemahan bagi tipe spirit lain, bila memasuki kawasan mereka.
Jika sudah berada dalam titik terkuat tersebut, tentu saja akan ada suatu keistimewaan dari penyokong spirit mereka. Keistimewaan itu ialah apapun yang berhubungan dengan penyokong masing-masing tipe spirit, maka frekuensi kekuatannya akan menjadi dua kali lipat efeknya, atau bahkan mungkin bisa bertambah.
Misalnya, dikediaman bangsa laut. Walaupun mereka tak tinggal didasar laut, namun kawasan mereka dikelilingi penyokong spiritnya, yaitu air. Bila nantinya terjadi sesuatu apapun yang berhubungan dengan penyokongnya maka akan berefek dua kali lipat dari kekuatan sebelumnya. Hal itu hanya akan terjadi dikediaman bangsa laut saja dan tidak akan terjadi di kawasan lainnya.
Seperti hujan ini, memang sekilas biasa-biasa saja, dan terlihat seperti hujan pada umumnya. Tapi bila yang merasakan secara langsung adalah tipe spirit lain, maka ia akan merasakan seperti diguyur air es yang bersuhu sangat rendah. Kecepatan turunnya air hujan dari langit ke tanah juga sangat cepat, akan terasa sangat sakit bila menyentuh kulit.
Ditambah hawa dingin lautan yang sangat terasa lebih besar tekanannya daripada biasanya, cukup untuk menguras seluruh energi spirit yang di miliki tingkat spirit, kelas menengah kebawah. Hujan seperti ini hanya bisa terjadi di kawasan bangsa laut, dan dikawasan lainnya tidak akan mengalaminya. Dikawasan selain bangsa laut hanya akan terjadi hujan yang sangat normal seperti biasa, tak akan berefek apapun.
Dezyl yang sudah kehabisan tenaga, kepalanya sudah terasa pusing, badannya sangat dingin dan menggigil hebat, mukanya juga memucat. Syler yang menyadarinya segera memapah Dezyl agar ia tetap berdiri.
" Dezyl....!! (Memapah). Dezyl.... Mukamu sangat pucat, apa kau masih bisa bertahan? (Eter juga ikut memapah)
" A... Aku masih... kuat. "(Matanya mulai tertutup)
" Dezyl buka matamu!! Jangan tidur!! (menepuk pelan pipinya) Hey... Dengarkan aku, kau tak boleh tidur!! Bangun Dezyl!! " (Syler berusaha membangunkannya)
__ADS_1
* * * * * *