
Xion* [Xino saat itu juga memaksaku mengemas beberapa baju dan pergi dari rumah. Ekspresi Xino seakan sudah lelah dengan semua tuntutan ayah. Aku hanya bisa pasrah, jujur saja aku sebenarnya juga lelah, aku ingin seperti anak lain yang bisa bermain dan....]
FLUUTT!!!
Bel tes terakhir telah selesai, suara yang keras dan riuh membubarkan lamunan panjang Xion. Dia segera bangkit dan berjalan keluar, ketika anak-anak yang lainnya sudah keluar gedung dan hanya menyisakan setengahnya saja. Dia berjalan menuju ke gedung olahraga pertama, untuk melihat apakah tes disana telah usai apa belum.
Xion* [Seharusnya kalau tidak salah di gedung Jurusan PTE, sudah hampir setengah lebih yang telah mengikuti tes itu. Seharusnya aku tidak membuang nomorku tadi, padahal sebenarnya asik jikalau aku ikut bermain dengan anak-anak itu. Tapi di nomor yang kudapat adalah tes terakhir, apa diposisi terakhir aku bisa bersanding dengan anak kerajaan tadi?]
Xion* [Sepertinya mustahil.... Setidaknya jika aku tidak bisa melawan dua anak bangsawan itu, aku bisa bertanding dengan dua pengikut setianya itu. Dua orang yang selalu mengikuti mereka berdua.... Aku tidak tahu dua anak itu siapanya mereka. Tapi memandang mereka, cukup membuatku risih....]
Xion berhenti ditempat dimana dia menjatuhkan nomornya, mencari kesana kemari berharap menemukan sesuatu, tapi tak kunjung ketemu-ketemu juga. Akhirnya dia menyerah dan keluar gerbang untuk mencari makanan. Karena sedari malm tadi dia belum memakan apapun, dia juga sempat mengkhawatirkan nasib kembarannya yang sama sepertinya.
Xion* [Xino itu sudah makan sesuatu ngak yahh.... Dasar anak suka keluyuran.... Paling nanti kalau belum menemukan apa yang dia makan, palingan juga dengan sendirinya akan datang menghampiriku. Apalagi disekitar sini banyak pedagang makanan. Aku yakin dia sudah mengisi perutnya....]
Xino berjalan memilih dan melihat satu persatu kedai pedagang, dan mencari apa yang jngin dia makan saat ini. Perutnya terus berbunyi saat dia mengerjakan tes tertulis tadi. Katena tidak tahan akan rasa laparnya, Xion lebih memilih makanan berat agar dia bisa melanjutkan aktivitasnya dalam waktu lama tanpa nantinya mencari makan lagi.
Dipilihlah kedai yang menjual lauk pauk sederhana, disana dia memesan nasi goreng dengan telur mata sapi. Makanan kesukannya yang selalu menjadi menu andalan yang dirindukan dari ibunya. Saat tengah menunggu pesanannya siap, entah pandangannya yang salah, atau karena saking laparnya dia jadi melihat ilusi Xion tengah memakan sesuatu disuatu kedai yang agak lumayan jauh.
__ADS_1
Meskipun dari tempat Xion dia hanya bisa meihat setengah rambut dan punggungnya, sesekali juga wajahnya terlihat sekilas, namun Xion merasa bahwa dia hanya salah melihat. Dia beranggapan jikalau anak yang disana itu hanyalah mirip dengn kembarannya, Xino.
Padahal sebenarnya.... Yang Xion pikir salah lihat, ternyata memang Xino yang lagi memakan kentang goreng kesukaannya. Dia kembali ke kedai kakek tua yang menjual sari buah itu setelah bertemu dengan Faren, dan kembali membeli seporsi lagi kentang goreng untuk dirinya. Dia juga seperti akrab dengan kakek tua itu, dan nampak asyik sekali bercerita.
Xion tak memperdulikan apa yang dia lihat, karena yang dipikirannya saat ini hanya ingin langsung memakan nasi goreng pesanannya. Begitu pesanannya datang, dia langsung melahap satu demi satu suapan. Sedangkan Xino disana, yang berniat ingin membayar makanannya di kedai yang berada didepannya, begitu berbalik dan kembali ke kedai kakek tua, dia seketika menghilang.
Dan, tiba-tiba Xino sudah berada didalam panggung arena gedung olahraga pertama, untuk mengikuti ujian tes masuknya. Benar-benar diluar dugaannya, Xino sama sekali tak menduga bahwa kartu yang diambil saat Xion membuangnya, bisa membuatnya berteleportasi ke dalam arena secara langsung. Sekarang, dia harus menggantikan Xion yang seharusnya mengikuti tes ini.
Saat didalam, dia sama sekali tak tahu harus berbuat apa, dia sudah tak bisa mengundurkan diri karena perihal salah orang. Yang dia ingat dari perkataan Xion, dia hanya akan menyelesaikan tes ini dengan cepat. Berarti satu-satunya jalan hanyalah bertanding saja sesukamu, sampai kau bisa puas menang. Begitulah kesimpulan yang diperoleh dari hasil olah pikiran Xino.
Xino* [Sepertinya aku tak perlu mengundurkan diri, karena lawannya yang kudapat kali ini sungguh beruntung. (tersenyum menyeringai) Lagipula kami berdua kan kembar!! Tidak akan ada yang tahu, kalau bukan Xion lah yang seharusnya menjadi lawannya. Lagian salah Xion jugalah.... Membuang kartunya sendiri. Kalau sudah begini kan,.... Berarti secara tidak langsung dia telah menyeretku kedalam urusannya kan?!!]
Xino* [Hahahh.... Maaf ya Xion akulah yang mendapatkan kesempatan untuk berurusan dengan orang-orang pengikut pangeran sombong itu.... (senang) Hora....! Hora....! Akan kumulai dari mana dulu yahh....!! Apa aku langsung mulai dari mematahkan kakinya?! Hemmm.... Jangan deh.... Nanti saja....!! Awal pertandingan itu harus dimulai dengan yang ringan-ringan saja dulu.... Haha.... ]
Dezyl : " JANGAN SAMPAI KELUAR DARI GARISNYA FARENN....!!! INGATT....!! " (sorakan Dezyl terdengar jelas sampai diarena)
Xino* [Garis?? (melihat kebawah) Owh jadi.... Apakah garis-garis ini yang tidak boleh dilewati....?! Hmm....! Hmm....! Sedikit peraturan yah! Baiklah aku sudah paham, cukup buat dia keluar dari garis saja aku sudah bisa memenangkannya kan?!.... Haha, Ini terlalu mudaaah.... Aku berharap Xion bisa menyaksikan aksiku disini....]
__ADS_1
Faren : "Hei kau....!! Bocah nyentrik yang tadi!! Kenapa kau terus-terusan memperhatikan ku sambil tersenyum aneh begitu hah?!! Se.... Sebenarnya kau merencanakan apaaa....?!! " (waspada)
Xion : " Ada apa?, kau ketakutan yah....! Hei.... Pengikut setia!! Kau itu tampak lemah ya.... Hahah.... " (terseyum ala senyuman khasnya)
Faren : " Jaga mulutmu bocah....!! "
Xino : " Kau juga masih bocah...., (tenang) tolonglah.... Sadar diri...." *Dasar aneh.... (memotong ucapannya sambil tersenyum tenang)
Faren* [Hemm.... Memang benar sih.... Tapi.... (merenung sejenak) AHHH!! Lupakaaan.....!!]
Wasit : " Baik, kalian berdua sudah siap?!! Ini tes terakhir lohh.... Berikan semaksimal mungkin ya!! BAIKLAH.... SATU.... DUAA.... TIGAAA.... SILAHKAAAN MULAAII....!!! " (menjauh dari arena)
Faren bersiap seakan menunggu serangan dari Xino, sedangkan Xino, tak ingin memulainya terlebih dahulu. Tetapi, dia seperti memasang sesuatu disetiap garis yang mengitarinya. Tapi gerak-geriknya tak terbaca oleh Faren, yang terlalu fokus menantikan serangannya. Faren tidak mau memulai, karena dia masih belum mengetahui tipe spirit Xino dan tidak ingin mengambil resiko dari serngan kejutannya.
Xino* [Hmm.... Kalau dipikir aku belum tahu menahu tentang tipe spiritnya. Semoga tidak memberatkan dirinya saat melawanku nanti yaa.... (tersenyum)]
* * * * * *
__ADS_1