Si Merah Part Liontin

Si Merah Part Liontin
Teka-Teki (1)


__ADS_3

" Pasti kau sangat sedih akan kepergian ibumu. "


" Iyah.... Bahkan aku belum bisa menerimanya sampai sekarang.... (kesal) Tapi aku tak boleh terus-terusan seperti itu kan?!!.... (menoleh dengan senyum rekah) Oh iya bukankah kita sudah memasuki kawasan utara Bingla? " (mengalihkan topik)


" Ahh...! Benar, keasyikan mendengar cerita Kak Vingent sihh... , aku sampai tak memerhatikan sekelilingku. " (bahagia)


Dihadapan mereka ada dua jalan setapak yang tidak begitu besar, mungkin cukup untuk seukuran gerobak dorong para petani yang membawa hasil bumi mereka. Dan dikanan jalan ada sebuah papan kayu yang tertancap. Papan kayu tersebut bertuliskan ' Selamat Datang di Kawasan Bingla Utara '


Jalan setapak itu memutari sebuah tanah lapang yang bersebelahan dengan lahan perkebunan tanaman labu, dan taman untuk budidaya tumbuhan anggrek hitam. Voltha mengatakan bahwa rumahnya dekat dengan taman ini dan hanya perlu memutarinya untuk sampai disana.


" Ayo Kak Vingent....!!! (spontan menarik tangan Vingent) Kita sudah dekat!! Sebentar lagi sampai...!. " (berlari)


" Ehh....(ikutan berlari) Voltha.... Pelan-pelan saja.... Tak usah terburu-buru. "


Voltha yang terlalu bersemangat sudah tidak sabaran untuk menemui kedua orang tuanya. Setelah memutari taman, akhirnya mereka tiba didepan rumah kayu yang ukurannya bahkan mungkin lebih kecil dari rumah Vingent. Vingent memperhatikan rumah itu dari sudut ke sudut. Rumput-rumput liar, serta benalu yang merambat pada tiang-tiang rumah, bahkan sudah tumbuh tinggi.


" Ini rumahmu Voltha....? " (memandang)


" Iyaa!!... " (memandang dengan mata yang berbinar-binar)


Vingent* [ Tunggu.... Rumah ini tampak tak terurus. Mengapa aku berperasaan kalau rumah ini sudah ditinggal sejak beberapa hari yang lalu yaa?! Halamannya begitu kotor dipenuhi dedaunan berserakan. Rumput-rumput disini juga tak terurus. ]


" Ayah!!!... Ibu!!!.... (berjalan, membuka pintu) Aku sudah pulang.... Kemari dan lihat siapa yang aku bawa!! " (bersemangat)


(Tak ada balasan)


" Ayah?!!.... Ibu?!! (mencari ke seisi rumah) Sudah cukup!.... Jangan bersembunyi lagi, keluarlah!!. "


(Masih sama, tak ada jawaban)


" Mungkin ayah dan ibumu sedang tidak ada dirumah Voltha?. " (menenangkan suasana)


" Ahh....!! Iya, mungkin ayah dan ibu sedang dikebun. Begitu mereka pulang, aku akan memberikan mereka kejuatan. Kak Vingent, buat dirimu senyaman mungkin yaa. Aku mau membersihkan rumah!! Anggap saja rumah sendiri. " (meninggalkan Vingent)

__ADS_1


" Baiklah.... Bolehkah aku melihat-lihat rumahmu?. "


" Tentu saja, silahkan. " (setengah berteriak)


Vingent sedari masuk tadi sudah mengetahui bahwa rumah ini telah ditinggalkan belum lama. Ia berkeliling melihat satu per satu ruangan. Ia mencoba memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari posisinya saat itu. Setelah masuk, ternyata ruangan ini adalah kamar tidur, sepertinya milik kedua orang tua Voltha.


Ruangan itu didominasi dengan foto-foto bersama mereka, jadi tebakan Vingent tepat. Disamping tempat tidur, ada sebuah penutup lampu tidur yang tergeletak dan juga retak. Saat didekati, dibawah lampu tersebut ada secarik kertas kusut yang terlipat. Di dalamnya tertulis :


Teruntuk anakku tersayang, Voltha


Anakku, maafkan ayah dan ibu, mungkin nanti ketika kamu sudah pulang, kamu tidak akan melihat kami ada dirumah. Karena beberapa hari yang lalu, beberapa prajurit istana membawa ayah dan ibu kesana. Mereka sudah mencurigai kami, berasal dari luar dan ingin menginterogasi semuanya.


Nak, ibu sangat bermohon kepadamu, agar kamu pergi yang jauh, jika perlu pergi sejauh-jauhnya. Tinggalkan rumah ini setelah kau membaca tulisan ini, secepatnya! Ibu khawatir, jika prajurit istana akan datang kembali, lalu membawamu bersama kami. Dan mereka akan melakukan sesuatu yang berbahaya jikalau kamu bersama kami. Nak, jangan khawatirkan ibu dan ayah disini, kami akan selalu baik-baik saja.


Ibu akan memberitahumu sesuatu penting tentang dirimu. Carilah sebuah peti yang berada dibawah tempat tidur ibu, bawalah itu bersamamu, dan jangan biarkan orang lain membukanya apalagi sampai melihat sesuatu didalamnya.


Bukalah peti itu saat umurmu sudah memasuki tujuh belas tahun. Berjanjilah kepada ibu agar kamu membukanya saat masanya telah tiba, dan berjanjilah untuk yang kedua kalinya, bahwa kamu tidak akan mencari atau menyusul ayah dan ibumu kemari, sebelum kamu menemukan jati dirimu, dan menjadi kuat untuk membangun kembali apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu.


Vingent* [ Ini surat dari orang tua Voltha!! Jadi ini yang terjadi pada orang tuanya. Pantas saja, aku sudah menduga rumah ini sudah ditinggal beberapa hari yang lalu. Tapi para prajurit membawa orang tua Voltha dengan alasan, karena orang tua Voltha adalah orang luar...? Kelihatannya itu sedikit berlebihan, pasti ada alasan lain mengapa mereka dibawa. (curiga) Lalu.... Petinya....!!! (mencari) ]


Vingent dengan segera meraba dibawah ranjang tempat tidur, disisi kanan ia tak menemukan apapun. Ia mencoba disisi lainnya. Dan akhirnya Vingent menemukannya, sebuah peti berukuran sedang dengan ukiran khas yang tak begitu asing dimatanya.


Vingent merasa teringat akan sesuatu jika melihat ukirannya. Peti tersebut berwarna emas keperakan, peti tersebut sepertinya terbuat dari emas putih murni, dengan campuran logam terkuat yaitu titanium dan borazon.


Diatas peti tersebut, terdapat ukiran lambang khusus, ditengahnya terdapat satu batu permata berlian berwarna merah, dan dikelilingi empat batu berlian lainnya. Lalu dilingkaran luarnya ada sebelas berlian lagi di luarnya. Masing-masing batu berlian itu memiliki corak dan warna yang berbeda-beda.


Vingent* [ Didalam peti ini pasti menjelaskan siapa dan darimana Voltha berasal, aku harus membawa ini dan memperlihatkan pada ayah. Ayah pasti tak menduganya. Untuk surat ini.... (berpikir) Sepertinya.... Aku belum bisa memberitahukan keadaan terdesak ini padanya. Aku harus membawa Voltha pergi lagi terlebih dahulu dari sin, sebelum para prajurit itu kembali lagi untuk menemukan Voltha.]


Vingent memasukkan peti dan secarik kertas tersebut ke dalam tas yang ia bawa. Saat ia menyimpannya Voltha tiba-tiba memanggilnya, spontan ia memasukkan dengan cepat, lalu menemui Voltha. Ia mengatakan pada Voltha, bahwa orang tua Voltha, tidak akan pulang ke rumah.


" Tapi mengapa?, apa yang terjadi? Lalu.... Darimana kakak bisa tahu?. " (khawatir)


" Entahlah, aku seperti diberitahu oleh ayahku baru saja, jikalau kamu ingin mengetahui alasannya kita kembali kerumahku, dan menanyakannya pada ayahku saja. Ayah mungkin bisa menjawabnya lebih rinci. "

__ADS_1


Vingent* [ Maafkan aku Voltha, aku terpaksa membawamu pergi dengan cara seperti ini. Jika tidak, kamu pasti tidak akan pernah mau lagi pergi jauh lagi dari rumah ini. ]


Ketika Vingent terpaksa berbohong kepada Voltha, dan membawanya pulang kembali ke Kota Atas. Disepanjang perjalanan, Voltha tiada berhenti menanyakan kabar mengenai orang tuanya. Raut wajahnya sangat terlihat sekali, kalau Voltha sedang gelisah dan khawatir.


Begitu sampai dirumah Vingent, ia menyuruhnya untuk tetap tenang, dan berkata kepadanya bahwa kedua orang tuanya tidak apa-apa. Tapi walaupun sudah dikatakan tidak apa-apa, Voltha masih saja cemas, perasaannya tetap tidak tenang.


" Tunggu sebentar yaa.... Aku akan mencari ayah dulu, jikalau nanti memang ada apa-apa pada orang tuamu aku akan membantumu. Ini.... (menyajikan manisan untuk Voltha) kmu makan saja dulu, oke?! (berusaha membuatnya tenang) Aku akan segera kembali bersama ayahku. " (berjalan tergesa-gesa, dengan membawa tasnya)


Ketika sampai diruang kerja ayahnya....


" Ayah!!.... Ayah!! Kau dimana?!! "


" Hey.... Ada apa berteriak sampai seperti itu...? Cobalah bicara perlahan.... " (terbangun dari tidurnya)


" Ayah.... Perhatikan ini.... (Mengeluarkan peti yang ia temukan dirumah Voltha) Lalu kertas ini juga.... " (menunjukkan)


Ketika melihat peti tersebut, raut wajah Paman Vir seketika menjadi serius. Dibacanya pesan dalam kertas itu perlahan, lalu ia membolak-balikkan peti untuk memeriksanya. Tetapi rasa penasaran mereka yang tinggi, tak mampu untuk melihat apa isi dalam peti, mereka belum bisa membukanya.


" Kau menemukan benda ini di rumah Voltha?!! " (serius)


" Itu benar ayah, berarti semua dugaan ayah memang benar adanya?!! "


" Ini sudah jelas, peti ini dikunci dengan menggunakan sistem kunci buatan leluhur kita. Untuk membukanya kita harus membutuhkan sampel darah dari sang pemiliknya. "


" Apa kita harus memintanya pada Voltha? Lalu memberitahunya semua tentang rahasianya?. "


" Jangan....! Untuk saat ini, jangan memberitahukan apapun padanya. Ingatkan.... Apa yang tertulis dalam suratnya?!! (Menunjuknya). ' Sampai waktunya tiba, kamu harus menjanganya '. Kau pun sekarang sudah mengertikan siapa dia?. Mulai sekarang dia adalah tanggung jawab terbesarmu. Tugas ini bukan sekedar tugas yang ayah beri. Tetapi tugas ini juga pemberian dari bangsamu. "


" Raja, sudah membantu kita bahkan dititik terakhir dalam hidup kita semua sekalipun. Kita harus menunjukkan balas budi yang tinggi padanya. Vingent kau mengerti bukan?! " (menyentuh bahunya)


" Tentu ayah, (serius) serahkan semuanya padaku. Kita akan membantu Voltha untuk menemukan jalan sesungguhnya darinya. "


* * * * * *

__ADS_1


__ADS_2