
Xion* [Aku sudah mengetahui beberapa tentang dirinya, aku juga sudah tahu beberapa sifatnya saat aku memperhatikan bagaimana dia mengerjakan tes. Tapi dari sekian informasi yang kudapat, tak ada sama sekali yang membantu.]
Xion* [Aku masih heran, sebenarnya dia itu memiliki aura yang pekat begitu darimana kira-kira?. Tidak mungkin, sekecil dirinya sudah memilikinya, padahal untuk bisa melihat aura yang mencerminkan seberapa besar kekuatan yang dipunya hanya bisa saat diusia sudah dua belas tahun.]
Xion* [Hanya aku saja yang bisa melihatnya karena, ayahku memaksaku agar aku bisa menguasainya. Sedari sekarang demi untuk keperluannya, meskipun sebenarnya cara ini berbahaya untuk mempelajarikan hal tersebut kepada anak dibawah usia dua belas tahun. Ayah juga mengatakan, saat aku sudah mahir menggunakannya, tepatnya saat aku mendapat luka dalam dikepalaku. ]
Xion* [Dia berkata jikalau orang-orang mengetahui tentangku, dunia akan mengenalku sebagai anak termuda dengan penguasaan teknik aura termahir. Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi, karena ini hanya akan menjadi rahasia umum dalam keluarga dan klanku. Selain teknik aura, aku juga memiliki kemampuan lainnya, dan semua itu adalah hasil latihan mati-matian pemberian dari ayahku.]
Xion* [Aku bahkan tidak tahu aku harus membencinya atau bersyukur padanya karena telah membuatku seperti anak 'Pelancar Strategi' mainnya. Aku tahu, semua yang dilakukannya hanya untuk kepentingan penelitiannya semata. Menjadikanku dan saudara kembarku, sebagai bidak catur yang menjalankan strategi mainnya.]
Xion* [Bahkan aku dan Xino pernah mendapat julukan sebagai 'Si Kembar Sang Pemain Strategi '. Mungkin di klanku, itu adalah sesuatu atau hal yang hebat, keren, dan sempurna yang patut dibanggakan. Tapi bagi kami berdua, itu hanyalah sebatas permainan catur belaka.]
Xion* [Karena aku menuruni tipe spirit ayah, itulah yang membuatnya semakin terobsesi denganku, lalu menjadikanku dan mengubahku menjadi anak yang siap untuk dijadikan mesin tempur. Bukan berarti saudara kembarku dibiarkan begitu saja, ayah menyuruh ibu agar melatihnya sama kerasnya denganku. Dia harus bisa menjadi seperti apa yang dimau ayah.]
Xion* [Bahkan ayah memberikan jadwal kapan waktunya untuk berlatih dan melatih, dan kapan waktunya untuk istirahat. Malah hampir setiap hari waktu untuk istirahat lebih sedikit daripada untuk berlatih. Suatu ketika, ayah menyuruh ibu untuk melatih teknik baru Xino di hutan pegunungan, yang kawasannya masih dekat dengan rumahku.]
Xion* [Ibu dengan mentah-mentah menolak permintaan ayah, katena hutan itu memang penuh dengan Monele buas yang berbahaya. Sangat berbahaya untuk membawa anak kecil yang masih belum bisa menguasai teknik spiritnya. Karena, Monele buas yang tinggal dihutan biasanya didominasi oleh monster-monster yang menyukai daging yang rendah energi dan aura spirit. Dipegunungan itu, ayah menyuruh mereka berdua membawa pulang tanaman bunga anggrek hitam yang sudah langka.]
__ADS_1
Xion* [Ayah memarahi ibu, dan mereka sempat bertengkar hingga akhirnya ibu terpaksa mengiyakan permintaannya. Sedangkan aku saat itu harus menghafal satu buku tentang pengendalian elemen dan turunannya. Lalu saat sore tiba ada suara ketukan pintu. Aku yakin, bahwa itu adalan Xino dan ibu karena aku sudah bisa merasakan sedikit adanya energi aura dari mereka berdua.]
Xion* [Saat ku bukakan pintu, aku sangat bertanya-tanya pada diriku saat kulihat, Xino berumuran darah sedangkan ibu tak bersamanya. Mata merahnya yang sudah bengkak itu terus mengeluarkan air mata sambil tersenggukan. Lalu dia memelukku kencang-kencang sambil merengek berteriak, meronta-ronta, mengatakan kalau ibu sudah tiada. Aku mendengarnya terkejut luar biasa, jadi aura yang kurasakan tadi adalah aura energi yang dikeluarkan oleh darah ibu yang berlepotan dibaju Xino.]
Xion* [Aku mulai ikutan menangis saat itu, dan berulang kali ku tanyakan padanya apa yang terjadi, biarpun aku berteriak memaksanya buka mulut. Tapi dia tetap diam, lalu Xino spontan berlari kedalam menemui ayah. Disitu dia berteriak habis-habisan dan menyalahkan ayah. Sambil menahan air mata yang terus-terusan menetes, dia melempar beberapa barang yang ada disekitarnya kearah ayah. Ayah menghampiri Xino dengan muka marah, dia mengambil botol bir yang ada dimejanya.]
Xion* [Ayah yang lagi dalam keadaan mabuk, melempar Xino dengan botol bir kosong. Tapi Xino berhasil menghindar sehingga botolnya pecah berserakan mengenai laintai. Aku langsung berlari menghampiri Xino, aku tidak terima Xino diperlakukan seperti itu. Aku tidak mau Xino bernasib sama seperti ibu lagi, karena berusaha melawan ayah.]
Xion* [Aku menarik tangan Xino mundur tepat saat ayah ingin melempar vas bunga kecil kearahnya. Aku yang berada didepan Xino, hanya bisa pasrah menghadang serangan ayah sambil ketakutan menangis dan memeluk Xino. Tapi ayah tidak jadi melempar, seakan dia berusaha menahan tangannya. Ayah memalingkan badan lalu menyuruh kami pergi. Aku sempat melihat ayah menangis dengan posisi membelakangi kami.]
Xion* [Aku langsung menarik paksa tangan Xino, lalu berlari ke kamar. Xino langsung melempar tubuhnya di tempat tidur, berguling-guling sambil menangis. Dia juga melempar bantal ke arah lemari didepannya. Disitu dia mulai menceritakan semuanya. Ternyata ibu menyuruh Xino agar menunggunya didepan hutan, dan membiarkan ibu sendiri yang mencarikan bunga itu untuk ayah.]
Xino : " Matahari sudah mau tenggelam tapi ibu belum keluar juga dari hutan.... (berdiri berjalan kesana-kemari sambil memeperhatikan langit jingga) Apa aku harus menyusulnya....? " (duduk kembali, memainkan batu)
Ibu : " XINOOO!! (Xino menoleh)
Xino : (berdiri menghampirinya yang penuh darah sekujur tubuhnya)
__ADS_1
Ibu : " LARIILAH XINO!!! CEPAAAT.... !! DENGARKAN IBU....!! SEKARANG LARILAH...."
Xino : (khawatir, menangis melihat tangan ibunya yang sudah buntung sebelah sedangkan darah masih terkucur) " Ibu.... Ap... Apa yang ter.... (menangis) terjadi padamu....?! HUAAA....!!! " (memeluknya)
Ibu : (berjongkok) "Nak dengarkan ibu....(memegang pipinya sambil menangis) Ada banyak monster yang mengejar ibu!! (memberikan bungkusan yang berisi tumbuhan anggrek hitam) PERGILAH SELAGI IBU MENAHANNYA.... AYO.... !! " (memeriksa kearah belakang)
Xino : " Tapii.... Ibu.... Bagaima.... "
Ibu : "PERGIIII.... "
Segerombolan Monele berdatangan dengan cepat berlari kearah mereka. Xino segera berlari, sedangkan ibunya membuat serangan spassial yang mampu menahan mereka sementara. Tapi karena saking brutal dan bergairahnya mereka saat melihat santapan kesukaan mereka ada didepan, pergerakan mereka semakin liar. Xino sesekali menoleh kebelakang dan berteriak memanggil ibunya berkali-kali sambil berlari menjauh.
Dari kejauhan ibunya membuat Spascial Teleport untuknya, lalu Xino memasukinya, saat berbalik dia hanya bisa melihat ibunya diterjang, dicabik habis-habisan dan dijadikan santapan oleh buasnya para Monele pegunungan itu. Dia menjatuhkan bungkusan anggrek hitam yang digenggamnya, dia berniat untuk kembali dan menyelamatkan ibunya. Tapi telat sudah, karena portal teleportasi milik ibunya sudah tertutup.
Xion* [Aku masih tidak terima kematian ibu, lalu aku berinisiatif untuk mengajak Xino melarikan diri dari rumah. Kami berdua tidak tahan semua tekanan ini. Disatu sisi kami berdua harus bisa terus hidup tanpa ibu, yang disatu sisi kami harus berjuang melawan penyakit ayah yang akhir-akhir ini sering kambuh.]
Xion* [Sedangkan biasanya yang menenangkan dan merawat ayah saat penyakitnya sedang kambuh adalah ibu. Sekarang ibu sudah pergi. Lalu siapa lagi yang akan menenangkan ayah saat penyakitnya kambuh?.]
__ADS_1
* * * * * *