Si Merah Part Liontin

Si Merah Part Liontin
Masa Lalu Keluarga Si Kembar (3)


__ADS_3

Kesedihan sudah pasti dirasakannya, beserta kekecewaan yang mengiringi hingga ke pertengkaran diantara dirinya dan suaminya. Suaminya telah berlaku kasar terhadap anak-anaknya. Mungkin karena itulah, alasan untuk berpisah dengan kedua orang tuannya semakin memengaruhinya. Tharquest dengan penuh kesabaran, menghadapi emosi sang suami yang bisa meledak kapan saja.


Ini bukan tanpa alasan, suaminya memiliki masalah kesehatan untuk susah dalam mengontrol emosi atau Intermittent Explosive Disorder. Dimana yang mengalami gangguan ini akan mengeluarkan emosi secara berlebihan. Penderita bisa saja melempar barang, menghancurkan benda, ataupun melakukan kekerasan secara berulang atau tiba-tiba.


Gangguan mental ini bisa terjadi selama bertahun-tahun, meski tingkat keparahan ledakan amarahnya dapat menurun seiring bertambahnya usia. Namun gejala ini sangat mungkin dialami bagi orang yang mengalami trauma psikologis. Setelah mengeluarkan amarahnya, biasanya pengidapnya akan merasa lega dan kelelahan. Kemudian mereka akan menyesali tindakannya.


Karena itulah, terkadang suaminya secara tiba-tiba bertingkah kasar kepada dirinya dan anak-anaknya tanpa ia sadari. Tharquest berusaha memahami kondisi dari "ketidaksengajaan" yang berturut-turut menimpa keluarga kecilnya. Setelah suaminya mengetahui dan sadar, anak sulungnya pergi dari rumah karena kekerasan yang terus dialami karenanya.


Spontan sang suami berlutut menangis kepada istrinya, memohon agar mengampuni perbuatannya. Tharquest membalasnya, dengan pelukan. Menenangkan senggukan penuh sesal dari isakan tangisnya. Memberitahunya kalimat yang selalu dia ulang, dengan lembut Tharquest mengatakan, jikalau itu bukan atas kesalahannya.


Lantas, setelah kejadian itu, Tharquest memperketat pengawasan dan perlindungan untuk anak-anaknya. Terlebih, yang tersisa sekarang hanyalah anak kembarnya. Sikap posesifnya mengiringi dalam mengasuh anak-anaknya dan begitu pula dengan suaminya.


Namun perjuangannya dalam menjaga anaknya, baik dari pihak musuh, ataupun dari perilaku suaminya usai sudah. Tharquest tutup usia saat berhasil menyelamatkan Xino dari para Monele liar di pegunungan. Ia meninggal secara tragis. Dan berita kepergian istrinya itu telah sampai ke telinga sang suami, saat ia dalam keadaan sadar.


Terpuruk lah ia dalam kesedihan yang berlarut-larut. Tak henti ia mengutuk dirinya sendiri dengan tiada maaf untuk kesalahannya sendiri. Kesedihan akan ditinggal oleh kekasih tercintanya yang sabar dalam menghadapinya, hampir sempat membuatnya menghancurkan seluruh barang-barang yang ada didalam lab nya.

__ADS_1


Dari peristiwa itu, ia semakin sadar, kedua anak kembarnya juga terlebih muak dengan dirinya. Kata benci selalu keluar di setiap ia berbicara dengan Xino. Sementara Xion, hanya diam. Entah umpatan apa yang terlontar dalam pikirannya. Namun dia hanya menurut, tanpa ekspresi ataupun kata-kata.


Hingga ia pernah membentak Xion saat ia penyakitnya kambuh, karena sikapnya yang seperti robot.


Dalam keadaan tak sadar pun, ia melempari Xion dengan obeng. Dan tepat sasaran, tanpa elakan, obeng mendarat di jidatnya. Obeng terjatuh, bersamaan menetesnya darah. Obeng pun diambil. Ketika berjongkok saat mengambilnya, ia bergumam.


Xion* [Ibu.... Apa cara sesabar ini yang mengantarkan mu pada kematian? Lalu.... Ajaran sabar ini harus kuanut sampai kapan?]


Ia bangkit dan meletakkan obeng kembali di atas meja, lalu pergi meninggalkan ayahnya. Merasa diabaikan karena direspon dengan membisu serta ekspresi yang masih sama datarnya, ia kembali melayangkan botol kaca kearahnya dengan umpatan. Lagi-lagi tanpa elakan, botol berhasil mengenai bagian belakang kepala Xion. Botol pecah setelah menghantam kepalanya.


Bukan hanya itu, dirinya pun dikejutkan dengan dahi Xion yang membiru membengkak, dengan darah yang masih keluar dari kulitnya. Ketakutan, dan rasa syok yang berlebih, terhadap apa yang ia lihat, membuat ia semakin menangis, berteriak dengan kencang memanggil nama Xion.


Ia melihat ayahnya, sudah pasti dia tahu siapa pelakunya. Tetapi mulutnya tak bisa mengeluarkan apapun kata-kata umpatan yang biasanya ia lontarkan setiap ayahnya mengajaknya berbicara. Ketakutan yang sama ketika melihat ekspresi ayahnya yang dipenuhi rasa emosi. Seakan-akan akan melakukan hal yang sama untuknya.


Ia hanya bisa menggeleng kepala, tanda menolak keadaan. Wajah manisnya tak bisa berbohong jika ia sedang sangat ketakutan dengan dua hal sekaligus. Takut ayahnya mengulang kembali apa yang ia lakukan pada kakaknya kepadanya. Dan takut pada Xion yang akan seperti ibunya.

__ADS_1


Dengan mulut yang terkuncinya, suara sesenggukan berlebih, dahi yang mengkerut dan tangisan yang pecah tanpa suara. Tubuh kecilnya spontan mengangkat Xion untuk menjauh. Namun ia tak kuat. Dengan tubuh itu, ia hanya bisa menyeret Xion menjauh. Namun terjatuh, karena berusaha menyelamatkan diri dari lemparan kaca yang membayangi isi kepalanya.


Ayahnya kembali tenang dan sadar, namun ia juga tak kalah terkejutnya ketika melihat Xino menangis, menjerit ketakutan, sembari berusaha menjauhkan Xion dari dirinya. Ia berusaha mendekat untuk mencari tahu, dan menenangkan Xino. Namun sembari ia berjalan mendekat, Xino tambah memeluk Xion dari belakang, menangis menjerit, dan berteriak.


Gelengan kepalanya seakan memberi tahu, jangan mendekat. Hempasan tangan yang berulang seakan menyuruhnya pergi. Matanya yang tak pernah lepas dari pandangannya seakan memberi tahu jika ia sedang bersiaga. Namun tak dihiraukan, ia kembali mendekat. Namun Xino dengan brutal mengeluarkan kekuatan ruangnya tanpa arah, dengan tujuan agar ayahnya tidak mendekat.


Hingga tanpa pikir panjang ia mengeluarkan kekuatan teleportasi padanya dan juga kakaknya. Berpindahlah dengan cepat kedua kembaran itu ke sebuah ruangan yang tak dikenali. Karena saat ia mengeluarkan kekuatan teleportasi miliknya, ia teringat akan satu tempat yang pernah ibunya tunjukkan sebagai tempat latihannya dulu.


Namun saat itu, ibunya kembali menutupkan matanya saat akan keluar dari tempat itu. Jadi ia tak tau pasti dimanakah tempat itu. Tetapi, yang terpenting dipikirkannya hanya aman dari pandangan ayahnya. Ia tak ingin melihatnya. Ia memeluk Xion sambil menangis, bingung harus bagaimana menolongnya. Ia masih tersegukan, padahal otaknya menyuruh mulutnya untuk berteriak minta tolong.


Mulutnya tak punya tenaga hanya sekedar mengatakan tolong. Hatinya terasa panas. Rasa syok masih menyelimutinya. Pikirannya tak bisa lepas dari saat ia menemukan Xion terkapar. Keringat dingin membasahi tubuhnya, ketika ia melihat tangan yang ia taruh dibelakang kepala Xion dengan tujuan menahan agar darahnya tak keluar, justru saat ditarik, tangannya lah yang penuh dengan darah, seperti dilantai tempat kepala Xion berbaring.


Dihempaskannya tangannya secara acak untuk membuang darah-darahnya. Ketakutannya semakin menjadi, jeritannya semakin keras. Kepanikan yang tak berujung membuat kepalannya sangat pusing. Dan membuat ia terkapar disamping Xion.


* * * * * *

__ADS_1


__ADS_2