
Setelah membeli semua peralatan, Voltha secepatnya berlari menuju tempat dimana Vingent beristirahat. Dengan barang bawaan yang banyak dia sedikit berhati-hati, dan menghindari tempat dimana dia berkelahi dengan para penggangu Vingent. Dengan memutari pasar, meski jaraknya lumayan jauh, demi keamanan barang bawaan, dia pun bergerak dengan gesitnya.
Hingga sampailah dia dirumah kosong. Sebuah rumah yang terhimpit tiga bangunan besar di kanan, kiri dan belakangnya. Saat masuk terlihatlah Vingent yang tengah tertidur pulas. Bekas darah yang bercucuran dari mulut dan hidungnya pun sudah dibersihkannya. Dia pasti sangat kelelahan. Voltha yang masih tersengal-sengal nafasnya, membangunkan Vingent secara perlahan
" Kak Vingent.... (menggoyangkan tubuh Vingent) Kak... bangunlah, aku sudah kembali. Ayoo bangun... "
" Hmmm...? Hahh.... Hoamm... (menguap). Voltha? Sudah kembali ya?. " (menyipitkan mata)
" Apa aku pergi terlalu lama kak, sampai kakak tertidur begini menungguku? " (memandangnya)
" Ehh... Tidak... Tidak... Aku tadi cuma ingin... (melihat ke sekeliling). Apa!!! (terkejut) Matahari sudah terbenam? Aku harus pulang!!! (tergesa-gesa) Kenapa aku bisa tertidur disini.... (membereskan barang) Aku bisa dalam masalah. "(gelisah)
Vingent yang masih setengah sadar, dan dalam kondisi yg masih lemah mau tidak mau harus kembali ke rumah. Apalagi ayahnya menyuruhnya untuk kembali sebelum matahari terbenam. Dan sekarang, bahkan matahari sudah diufuk dan hampir benar-benar tenggelam. Hanya menyisakan rona jingga keunguan yang sangat indah.
" Emm... Itu... Maafkan aku Kak Vingent. Seharusnya aku kembali lebih awal. " (merasa bersalah)
" Ahhh.... Tidakk... Bukan salahmu kok.... Aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah membuatmu repot-repot membantuku. "
" Tidak apa-apa kak.... Jadi iniii.... (memberi) Semua barang-barang yang kakak perlukan. Tapi tadi, ada satu alat yang stok nya habis. "
" Jadi kau mengerti apa isi dari kertas cetak biru itu?. Tapi bagaimana bisa, apa kau pernah mempelajari itu sebelumnya?. "
" Entahlah sepertinya belum pernah.... Tetapi begitu aku membukanya ada secarik kertas, yang tertulis barang-barang yang mau dibeli.... Jadii... " (belum selesai bicara)
__ADS_1
Vingent* [Ternyata kertasnya ada dalam cetak biru.... Huuhh (menghela nafas). Begitu ayah bilang sudah menyiapkannya diatas meja.... Dasar ayah yang pelupa.]
(menyela) " Wahhh... Jadi begitu. Baiklah, sekali lagi terima kasih ya. Aku pamit pulang dulu, sekarang aku harus segera pulang. (terburu-buru) Kamu juga ya Voltha, ini sudah hampir mau malam. Tidak baik untuk anak perempuan sepertimu berkeliaran dimalam hari. (berdiri perlahan, meski kesusahan)
" Tapii... "
" Dahh...!! Kita harus bertemu lagi ya! Aku akan membalas semua jasamu. Oke ! sampai jumpa lagi. " (jalan dengan terpincang-pincang)
Setelah beberapa saat Vingent melangkah, tiba-tiba Voltha menarik kembali tangan Vingent, yang membuatnya harus menghentikan langkahnya. Voltha terdiam membeku.
(menoleh) " Mmm? Voltha ada apa? Mengapa kamu masih belum pulang? Aku tidak punya banyak waktu lagi Voltha, aku harus pulang cepat... Lain kali kita bertemu lagi ya. " (memegang tangan Voltha, dengan mengharap Voltha melepaskan tangannya)
" Tunggu.... (tertunduk) Aku tahu Kak Vingent terburu-buru. Tetapi aku bagaimana? (Matanya berkaca-kaca) Aku tidak bisa pulang....HIKSS.... (menangis) Aku tidak tahu jalan pulang.... Aku tersesat. Tolong.... (tambah memegang erat tangan Vingent) Jangan tinggalkan aku sendiri disini.... HIKS... " (mengelap air mata)
" Rumahku ada di Utara Kota Bingla, aku sebenarnya kemari bersama teman-temanku. Tetapi mereka semua meninggalkan aku. Aku tak tahu harus kemana. Kak Vingent tolong.... Jangan tinggalkan aku sendiri disini (memasang muka penuh harap) Tidak ada siapapun yang aku kenal disini, selain kakak. Tolong.... Bawa aku juga bersamamu, aku takut disini. " (sedih bercampur bingung)
Vingent* [Utara Bingla?!! (terkejut) Itu jauh sekali.... Bagaimana ini.... Tunggu sebentar.... Biarkan aku berpikir.... Dia sudah menolongku banyak hari ini, aku juga tidak tega jika meninggalkan dia sendiri, di tempat yang begitu asing untuknya. Apalagi dia masih kecil, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya... (berpikir) Apa aku harus membawanya pulang? Hemm....Apa ayah keberatan? (memejamkan mata).... Akkhhh!!... Ya sudahlah, itu urusan nanti. Anggap saja ini balas budi untuknya.]
" Baiklah... Begini saja untuk sementara kamu ikut denganku saja, menginap lah di rumahku, besok paginya aku akan mengantarkan mu pulang. Tapi rumahku ada di kota atas dan perjalanan kesana sedikit berbahaya, apalagi ini sudah malam. "
(Senang) " Wahhh.... (kembali ceria) Tidak masalah kak (semangat) Asalkan aku bisa pergi ke tempat yang lebih baik daripada disini. "
" Baiklah, kalau begitu... Ayoo...!! Kita sedikit jalan cepat, aku khawatir kita tidak akan sampai di rumah sebelum tengah malam. "
__ADS_1
"Baik boss!! (Voltha meraih tangan Vingent, membantunya berjalan) "
Pada akhirnya Vingent membawa Voltha bersamanya. Mereka harus melewati malam dengan berjalan kaki. Setelah keluar dari pasar mereka memasuki kawasan perkebunan jagung dan cabai milik penduduk sekitar.
Lalu menuju jembatan yang menghubungkan kota atas dengan kota bawah. Voltha yang tidak terbiasa dengan jalan menanjak, harus membiasakan diri berjalan pada jembatan yang menanjak memutari tebing. Sepertinya bukan hanya Voltha, Vingent yang sudah terbiasa berjalan naik turun pun menjadi lebih terhambat sejak dia mendapatkan luka yang lumayan parah.
Vingent harus bisa membiasakan diri, berjalan dengan satu kaki yang terluka dan keseleo. Apalagi di jembatan nanti tidak ada satupun penerangan. Padahal disepanjang pinggiran jembatan terdapat obor-obor sebagai penerangan.
Namun penduduk kota atas selalu merasa sia-sia jika dinyalakan. Pasalnya ini adalah wilayah tempat yang tinggi, dan tentunya angin yang berhembus juga cukup kencang. Tetapi Vingent selalu siap siaga. Dia membawa lampu pijar dengan penutupnya, jadi jika angin bertiup kencang apinya tidak padam.
Selain tidak adanya penerangan dan kencangnya angin bertiup, jembatan itu dikatakan berbahaya, karena dipinggiran jembatan tidak terdapat pagar-pagar sebagai pengaman. Jadi tak heran bila banyak orang yang kurang berhati-hati, dan malangnya terjatuh kedalam jurang yang terjal.
Bukan hanya itu, di lembah ini juga merupakan tempat bagi para hewan liar haus darah yang berkeliaran mencari mangsa. Mereka biasanya selalu muncul untuk mencari makan, tepat setelah matahari terbenam. Inilah alasan lainnya yang menjadi penyebab sepinya jembatan kota atas setelah matahari terbenam.
Mereka terus saja berjalan tanpa henti hingga tak terasa mereka sudah melakukan setengah perjalanan. Voltha yang kelelahan membuat Vingent harus menghentikan perjalanan dan istirahat sebentar. Selama beristirahat mereka sempat mengalami gangguan.
" Kak Vingent...(kelelahan) Apa masih jauh lagi...? HAH!... HAH! (nafasnya tidak teratur) Aku... Sudah sangat kelelahan.... " (berbaring)
" Sebentar lagi ya Voltha, (duduk disebelahnya) kita sudah setengah perjalanan. Tak lama lagi juga akan sampai. Ini... Ada air yang aku bawa, minumlah. " (memberi botol minum)
(menerimanya dan kembali duduk) " Wah... Terima kasih kak.... Kak Vingent tahu saja aku lagi kehausan. " Glek.. Glek (meminum air)
Vingent* [Ini aneh, ditempat yang gelap, dan hanya ada satu cahaya disini, kok tidak ada pergerakan dari musuh? (melihat sana sini, seraya mengambil semprotan dari dalam tasnya). Sebelum itu terjadi, aku akan menyemprotkannya pada tubuh Voltha dan tubuhku ini. Tak lupa juga untuk lampu pijar ini...]
__ADS_1
* * * * * *