
Terkejut sekaligus panik, ia mendekati dimana posisi kedua anak itu sebelum menghilang. Banyak kepingan kaca tajam yang sudah berubah menjadi merah, disekitar kubangan darah dilantai. Ia menangis, spontan mengetahui, bahwa pecahan kaca beserta darah dilantai adalah ulahnya. Tanpa berpikir panjang, segeralah ia meletakkan telapak tangan kirinya di atas kubangan darah.
Lalu, dengan menggunakan kekuatannya, ia mendeteksi dimana anaknya berada, dengan memanfaatkan golongan darah yang sama dengan anaknya Xion. Ia bersyukur lega, ketika mengetahui mereka tengah berada di lingkungan tempat kediaman Ketua Klan Ryshawn (Klan Dimensi). Ia segera mengabari pihak pusat informasi di mansion Tetua. Dan balasan atasnya, bahwa anak-anak itu sudah ada bersama mereka.
Perasaan tenang, bercampur aduk dengan penyesalan lagi dan lagi. Ia merasa, bahwa istrinya di sana masih bersedih atas perbuatan yang selalu berulang dengan melibatkan anak-anaknya. Melibatkannya untuk menjadi korban atas penyakitnya. Keyakinannya sekarang rapuh dengan kepercayaan anak-anaknya padanya.
Penyesalan demi penyesalan selalu ia lontarkan setelah amarahnya reda. Tak jarang pula, setelah melampiaskan segalanya, ia menangis berlarut-larut. Rasa kehilangan amat besar ia rasakan pada istrinya. Sekarang, tak ada lagi yang bisa menjadi penenang disaat anak-anaknya membutuhkan kehadirannya sebagai perisai amarahnya.
Tak ada lagi, yang mampu memberikan kehangatan saat dinginnya obrolan di meja makan bersama anak-anak. Tak ada lagi yang bisa menjadi pundak tempat mereka berbicara dari hati ke hati. Tak ada pula, yang mampu memberikan perasaan aman dan nyaman untuk anak-anak selain dirinya. Kehadirannya sangat ia perlukan saat ini. Belum ada seminggu pasca istrinya meninggal, masalah datang lagi menimpa anak-anaknya.
Apalah yang harus ia adukan pada Tetua Klan Ryshawn, saat menjemput anak-anaknya nanti. Apakah perlu waktu sebentar agar anak-anaknya tenang?.
Tetua : " Darzoe.... Mengapa engkau lagi-lagi membuat masalah pada keluargamu, bahkan belum lama setelah istrimu meninggalkanmu. Apakah engkau tak bosan mempersulit anak yang ku asuh dengan kedamaian?. Bukankah engkau sudah berjanji akan mengontrol dengan bijak emosimu?. Mengapa akhir-akhir ini engkau malah membuatnya semakin buruk?. "
Tetua : " Aku sudah mendengar semua kesaksian anakmu atas perbuatan mu. Aku juga menggunakan waktu untukku melihat hologram saat tragedi naas itu. Apa ide gila yang sedang kau kembangkan sampai membuatmu menggunakan amarah untuk menelitinya. Lalu merepotkan orang tersayang mu dengan menggunakan nyawa sebagai tambal amarahmu?! Begitukah.... "
Darzoe : " Tidak tetua.... (Berlutut, memohon ampun) Sungguh, aku menyesal, sangat menyesal Tetua. Andai aku bisa mengubah waktu, akan aku ubah takdir tersebut Tetua.... Sungguh... Dengan perasaan menyesal yang terdalam.... (meneteskan air mata) Aku.... Aku.... Sungguh minta maaf Tetua. Aku siap menerima hukuman apapun atas pengingkaran janjiku....! "
Darzoe : " Aku akan siap jika harus mati di tanganmu Tetua.... (pikirannya kosong) Apapun hukumannya, akan aku jalani Tetua.... (menunduk) "
Tetua : " Huufftt.... Tidak, engkau tidak mengingkari janji secara nyata, tapi sikap dari penyakitmu itu yang terlalu berlebihan. Apa selama ini kau tidak pernah berobat untuk menyembuhkan penyakitmu?. Penyakitmu itu bisa membuat mental seseorang rusak disaat engkau kambuh.... Lihatlah sekarang anakmu yang terlihat sangat trauma, terlebih saat melihat orang baru.... "
Tetua : " Sungguh buruk ulahmu, apa kau juga berusaha menghilangkan nyawa orang tersayang yang tersisa?. Bagaimana engkau bisa berpikiran melempar gelas kaca pada anak yang masih balita?!. Apa yang tengah kau pikirkan saat itu.... Hahhh.... (menghela nafas sambil menggelengkan kepala) "
Darzoe : " Maaf Tetua, sungguh maaf. Sikapku telah terlampaui batas.... Maaf.... "
Tetua : " Ku maafkan jika kau berusaha untuk mengendalikan dan menyembuhkan penyakitmu itu! Tapi sebagai hukuman, akan aku pegang hak asuh mu sampai ku rasa penyakitmu itu membaik. Dan selama itu, anak-anakmu akan berada di bawah asuhan Klan Rayshawn. Jadi berusahalah sembuh jika ingin agar anak-anakmu kembali. Mengerti Darzoe?! "
__ADS_1
Darzoe : " Tentu Tetua, aku akan berusaha sekuat tenaga.... "
Tetua : " Baiklah, sekarang, engkau diizinkan menjenguk anakmu. "
Darzoe : " Terima kasih. Terima kasih Tetua.... (bangkit dan berhormat) "
Ia dituntun menuju kamar tempat dulu Tharquest beristirahat. Di sana Xion tengah terbaring diatas tempat tidur yang besar. Sedangkan Xino, menunggu disampingnya dengan menggenggam tangannya.
Darzoe : " Xino anakku, kamu baik-baik saja? ." (lembut)
Xino terkejut bukan kepalang, spontan berbalik dengan sikap siaganya.
Xino : " Mau apa ayah?!! (membentak) PERGI!! "
Darzoe : " Maafkan ayah nak, (menangis) ayah terlalu keras pada kalian.... Tolong maaf kan aya.... (terpotong) "
Darzoe : " Iya nak, ayah akan pergi. Tolong dengar ayah sebentar saja. Bisa yaa, ayah mohon.... " (menahan isak tangisnya)
Xino : " ENGAAK AKAN!! PERGII.... SANAA....!!! " (ingin melempar bantal, namun tangannya ditahan Xion yang sudah tersadar)
Xion " Ja...ngan... (hampir tak terdengar) Bi...arlah.... (mengatur nafasnya) "
Darzoe : (tersenyum haru) " Terimakasih nak Xion, cuman sebentar saja.... Ayah cuman mau bilang, kedepannya, kalian akan tinggal disini. Itulah yang terbaik, ayah khawatir jika kalian didekat ayah.... (terpotong) "
Xino : " ITU BENAR!! "
Darzoe : (tersenyum) " Jadi, tinggallah nyaman disini sampai ayah sembuh dari penyakit ini. Ayah akan menitipkan kalian pada peramal dan Tetua klan. (menghela nafas) Hiduplah seperti anak-anak lainnya. Itu saja.... Ayah akan pergi. Baik-baik disini.... (menangis) Sampai jumpa.... "
__ADS_1
* * * * * *
Memang terkadang saat kambuh, ayah mereka hanya akan terobsesi pada penelitiannya, ketimbang anak-anaknya. Dan saat mereda, ia bisa menjadi sosok ayah pada umumnya. Yang menyayangi dan mengasihi anak-anaknya. Dua perlakuan yang berbeda, yang bisa berganti kapan saja, sudah menjadi asupan sehari-hari baginya. Berbeda dengan Xino yang selalu bersama ibunya.
Xino hanya selalu melihat sikap buruk ayahnya, karena itu ia sangat membencinya. Terlebih, ia selalu diajarkan dengan kelembutan dan perhatian dari ibunya, yang jauh lebih sering ia rasakan daripada Xion. Hal inilah yang membuat sikap mereka sangat mencolok berbeda dalam menangkap perlakuan orang lain.
Hanya Xion yang paham pola pikir ayahnya, apalagi darah dan spirit elemennya serupa dengan ayahnya. Xion pun membuat julukan untuknya sebagai 'Ilmuwan Bertopeng'. Sekarang keduanya bisa bernafas lega, dengan kepergian ayahnya. Mulai saat itu, mereka mulai berangan-angan dengan kehidupan penuh kebebasan, dengan dititipkannya mereka di Mansion Klan Rayshawn.
Tetapi, lagi-lagi itu hanyalah mimpi belaka. Mereka diasuh dibawah tangan sang peramal. Tetua memberikan izin untuknya mengasuh anak-anak Darzoe. Namun sang Tetua tak mengetahui, jika sang peramal memanfaatkan hal ini untuk kepentingan pribadinya. Ia mengiming-imingi tetua dengan memindahkan anak-anaknya ketempat yang dapat memberikan pendidikan yang bagus bagi mereka.
Nyatanya, tempat itu adalah tempat pelatihan ilegal bagi pembunuh bayaran di kawasan Klan Rykor (Klan Racun, dari bangsa pembunuh) tempat ayah mereka berasal. Namun, tempat itu adalah tempat paling berbahaya di benua, meski tempat itu masih di bawah kendali Pimpinan Klan Rykor. Tetap saja, bagi anak balita, tempat itu adalah tempat terlarang.
Selama tinggal di sana, tak ada namanya kehidupan normal sebagai anak-anak. Tidak diperbolehkan bersosialisasi dengan orang luar selain mereka. Mereka bahkan tidak punya waktu untuk bermain, ataupun sekedar bermain petak umpet. Mereka hidup semakin terkurung didalam bayangan ketidakmanusiawian.
Bayangkan saja, sedari dini mereka sudah diajarkan bagaimana caranya menghilangkan nyawa seorang manusia. Apapun cara kekerasan, mereka harus bisa melakukannya. Perlakuan terhadap mereka jauh lebih buruk dibanding saat mereka berada di rumah. Di sana hanya dipenuhi orang-orang yang tak memiliki perasaan. Jika mereka berbuat kesalahan, nyawa adalah hal yang mudah untuk diselesaikan.
Namun karena mereka berada dibawah tangan sang peramal, mereka aman dari gangguan mereka. Karena Bagaimanapun juga, sang peramal pasti harus membawa bukti kembali, meski isinya telah berubah bukan. Tak peduli isinya mau seperti apa, yang terpenting luarnya masih sama.
Tidak adanya kehidupan normal yang mereka rasakan di sana, membuat kondisi psikis dan mental mereka pun berubah sedikit demi sedikit. Hal inipun semakin membuat rasa benci pada ayah mereka semakin membesar. Mereka merasa bahwa ayahnya merekalah yang mengirim mereka kesini. Perubahan mental seiring bertambahnya usia, membuat pola pikir mereka pun menyesuaikan lingkungan yang mereka pelajari.
Mereka sudah tak mengenal arti cinta. Tak mengenal rasa kasih sayang dan kepedulian. Hingga membuat hati mereka menolak setiap orang yang berbicara dengan mereka. Rasa tak berperasaan juga menjadi pelengkap rusaknya mental baik hati yang dulu ibunya pernah ajarkan. Keputusasaan berat yang mereka alami, seolah ingin ditumpahkan kembali pada semua orang.
Beserta penderitaan dan kegelapan yang mereka rasakan sedari kecil. Tak ada lagi arti kekeluargaan dan persahabatan yang tertanam dalam jiwa mereka. Semua ilmu pertahanan, penyerangan, beladiri, hingga kemampuan akting sudah mereka kuasai sejak dini. Apalagi, sebelumnya, mereka juga sudah pernah dididik secara teori, semua ilmu penyerangan dari berbagai elemen oleh ayah mereka.
Sehingga lengkap sudah kehebatan si kembar yang di isu-isukan akan menjadi orang pilihan oleh Pimpinan Klan Rykor. Hingga pantaslah sekarang mereka disebut sebagai 'Mesin Pembunuh dari Klan Rykor'.
* * * * * *
__ADS_1