Si Merah Part Liontin

Si Merah Part Liontin
Lawan Yang Merepotkan (1)


__ADS_3

Perandingan terus berlangsung hampir satu jam tak terasa, hingga sampailah pada giliran Eter. Seluruh peserta yang bernomorkan dua belas dipanggil kedalam arena. Keempatnya dipersilahkan memperkenalkan diri masing-masing. Empat lawan eter adalah pengguna elemen api, elemen gravitasi dan satu lagi elemen cahaya.


Memang lawan yang tidak mudah sepertinya, semuanya bisa saja menghambat pergerankannya. Ada tipe spirit yang bertolak belakang (api), ada tipe spirit pengelabui (cahaya), dan satu lagi, pengguna tipe spirit yang sangat merepotkan (gravitasi). Sebelumnya, Eter belum pernah menemui lawan yang memanfaatkan gravitasi bumi sebagai daya serangnya.


Makanya Eter pasti akan mendapatkan banyak kejutan dari si penyerang grafvitasi itu. Biarpun disekolahnya yang dulu, dia juga sama sekali tidak pernah berjumpa atau menemukan satu anak pun dengan tipe spirit gravitasi. Semakin dia memandang anak itu semakin penasaran juga bagaimana cara dia menggunakan elemen gravitasinya.


Dan sebarapa baik juga dia telah berlatih, semua beragam pertanyaan berdengung bersamaan diotaknya. Semakin waktu berpacu semakin Eter ingin segera menyelesaikan tes ini. Dan pastinya semua perhatian berpaling padanya. Mungkin ini adalah momen yang paling ditunggu oleh semua penonton dan para juri yang menilai.


Setelah sekian lamanya sekolah itu tak kedatangan anak bangsawan terkenal, lalu sekarang berdirilah Eter yang berstatuskan seorang anak raja pasti membuat semua orang penasaran dengan kemampuannya. Semua pesona yang keluar darinya, membuat semua pandangan tak bisa teralihkan.


Apalagi semenjak berada ditengah arena, dia sama sekali tak membuka mulutnya. Terus menerus diam, sambil mengamati dan menganalisa seluruh lawannya yang akan dihadapinya. Sikap seperti itulah yang salah dimata penontonnya, para kaum perempuan yang tergila-gila dengannya terus-terusan menyorakinya.


Mengatainya tampan, keren, mempesona dan lain sebagainya membuat kaum sebaliknya, (kaum laki-laki) juga ikutan mengatai Eter, tapi bukan berupa pujian. Namun tak semua anak laki-laki begitu, diantara mereka juga ada yang menantikan aksi dari pertandingan sang Pangeran Sherk ini.


Faren : " Apakah kalian tidak berprasangka kalau lawan Eter kali ini sedikit rumit?. Terlebih anak yang memiliki kemampuan mengendalikan gravitasi itu.... Sepertinya dia tampak seperti orang yang terlatih.... Dan satu lagi, anak dengan tipe cahaya dikirinya. " (menunjuk)


Faren : " Bukankah elemenmu sama sepertinya Syler? Coba perhatikan dia, mungkin kau bisa mempelajari bagaimana caranya menyerang dan menggunakan tipe spiritnya. "


Dezyl : " itu benar, mereka sepertinya bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Syler bagaimana menurutmu....?. " (memandang wajahnya)


Syler : " Aku tak tahu, aku sampai sekarang belum bisa mengeluarkan apalagi menggunakan dengan baik tipe spiritku ini. Aku mungkin akan kesulitan bila bertemu lawan seterlatih mereka nanti diarena. "

__ADS_1


Dezyl : " Ayoolaah....!! Aku yakin kau pasti bisa!! Buktinya selama pelatihan bersama OronDa kau berhasil menyelesaikan semua latihan yang diberinya kan?! Mau kau menggunakan elemenmu atau tidak kau tetap saja berhasil, bukankah itu hebat?!! " (tersenyum)


Syler : (mengangguk) " Emm! Aku juga akan berusaha keras!! "


" Oke anak-anak!! Bersiap! Hitungan mundur, satu.... Dua.... Tiga...!! (penonton ikut menghitung) Silahkan mulaaaii....!! " (wasit menjauh dari arena)


Tanpa banyak waktu sang elemen api mulai menyerang brutal kearah Syler, diikuti gerakan unik dari si pengendali gravitasi. Eter terus memperhatikan gerakan dari anak itu, seraya menghindar akan serangan tak terarah dari si elemen api. Tapi Eter merasa tak terjadi apapun disekelilingnya selain satu orang menyerang dan satu lagi hanya diam, seakan menunggu momen gilirannya.


Eter terus menghindari serang bola api yang bertubi-tubi mengarah kepadanya. Memang sulit untuk bisa menghindar dari serangan itu, terlebih-lebih saat berada di ruang yang sangat terbatas seperti ini. Dia terus menari diudara dengan gerakan menghindar eksotisnya, tetap matanya juga terus memperhatikan ke arah bawah agar dia tidak menginjak batas dari garis ubinnya.


Ketika ada satu bola api yang hampir mengenainya, Eter membuat sebuah pusaran air, sehingga membuat semua serangannya termakan oleh pusarannya, sekalipun dia berusaha mengarahkan ke arah lainnya. Serangannya akan tetap masuk ke dalam pusaran airnya.


Bak lubang hitam yang ada di luar angkasa yang siap menyedot apapun disekitarnya, Eter berhasil membersihkan serangan lawan. Sang lawan yang berhenti menyerang, lantas terdiam. Entah dia sedang kelelahan atau sedang terkejut karena semua serangannya hanya masuk di pusaran airnya.


Eter* [Apakah kadar besar tidaknya kemampuanku bisa menjadi ukuran seberapa sejatinya aku?! Humph! Dasar lawak....]


" AHHH!! PANGERAN!! Kau memang hebaaatttt....!! " (barisan depan cewek-cewek yang tidak mau kalah)


" Kalahkan mereka norak ....!! Ayo !! Habisi mereka semua!! Kau pasti bisa kalahkan mereka, ayo!! Dasar bangsawan sok keren!! " (barisan cowok-cowok yang tidak terima kehadiran Eter tapi tetap memberikan semangat)


" Ayoo!! Terus terjang mereka! Buat mereka kalah!! Wahh luar biasa serangan barusan.... Itu pasti butuh energi banyak!! Ayoo!! Kalahkan mereka jangan beri ampuun!! Terus sialann!! Hajar mereka....!! " (kelompok anak laki-laki yang terbawa suasana, padahal diawal pertandingan mereka menghina eter)

__ADS_1


Eter* [(dengan muka datarnya) Wahh.... Wahh.... Apa-apaan mereka semua ini?! Diawal berkata lain, sekarang malah bermulut manis....!! Tak kupercaya.... Mereka semua sungguh jago bermuka dua]


Eter yang tak fokus pada pertandingan membuat dia harus terkena serangan dari anak berelemen cahaya. Serangan tak kasat mata, tetapi begitu mengenai punggung dan tangan kirinya, energinya seketika tersedot sedikit demi sedikit. Rasanya hanya seperti digigit semut, tetapi begitu Eter lihat, ternyata itu adalah jarum magnet.


Jarum yang sangat tipis dan halus, dimana jarum ini hanya mengandalkan dari mana dia diarahkan. Anak dengan penngendali cahaya itu pasti menunggu momen dimana seluruh cahaya lampu diatas arena mengarah kepada Eter. Lalu dia diam-diam memanaskan jarum magnet itu dengan kekuatan spiritnya.


Dan begitu Eter teralihkan dia melemparnya ke arah Eter, jarum yang dari awal sudah mendeteksi energi spirit cahaya, pada saat dilemparkan jarum itu hanya menuju tempat, dimana tempat yang terkena cahaya. Eter ingin mencabutnya, tapi dia sama sekali tak bisa bergerak, Eter terpaku oleh serangan jarum magnet itu. Momen ini langsung dimanfaatkan oleh si anak pengendali api.


Eter : " Oy... Oy... Kenapa kalian semua seakan ingin menyerangku bersamaan....?


Pengendali api : " Kau mungkin merasa bahwa kau sedang dikeroyok kan?! Tapi apa kau tidak tahu, inilah taktik populer yang sering digunakan siswa disini untuk mengikuti tes uji coba lohh... Hahaa.... Apa kau tidak tahu itu? Wah... Wahh.... Kalau begitu, aku cukup beruntung hari ini.... Haha.... "


Pengendali cahaya : "Taktik dimana yang terkuatlah, yang akan menjadi prioritas utama untuk menyerang. "


Pengendali gravitasi : " Kami mengetahui bahwa kau, para bangsawan apalagi anak kerajaan sepertimu akan cukup hebat untuk menjadi lawan kami. Karena mereka sedari kecil akan diperlakukan dan diberi apapun oleh orang tua mereka agar bisa menjadi yang terkuat bukan?! "


Eter* [Apa yang membuat mereka berpikir seperti itu?! Aku tak pernah diajarkan begitu! Apalagi diberi hal yang begituan oleh orang tuaku terutama demi untuk menjadi kuat. Kalaupun orang tua memperlakukanku agar aku bisa menjadi kuat, itukan wajar dong.... Lagi pula aku satu-satunya anak laki-laki yang tersisa di kerajaanku, bisa saja ayah menunjukku untuk menjadi penerusnya sewaktu-waktu. Makanya aku harus mempersiapkan diri.]


Spontan dia menyerang dengan serangan bola api kembali dengan brutalnya. Karena kakinya tidak terkena serangan jarum magnet. Eter berpikir masih ada kesempatan menyerang, dia berusaha mengeluarkan kekuatan airnya melalui gerakan kaki, tetapi terlambat sudah.


Sang anak pengendali gravitasi tadi sudah memansang jebakannya tepat dibawah kaki Eter. Sebuah tulisan yang melingkar dilantai muncul, tulisan itu bertuliskan. ' Pulanglah Wahai Sang Pangeran Sombong '.

__ADS_1


* * * * * *


__ADS_2