
Ditempat, Faren tak bisa bergerak karena serangan kabut itu membuatnya mati rasa. Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan. Sekarang seluruh arena telah dipenuhi kabut beracun yang hanya berefek didalam arena. Karena terdapat pelindung disekitar arena, para penonton dan juri tidak terpengaruh oleh serangan kabut Xion.
Serangan ini adalah serangan yang biasanya Xion gunakan untuk melumpuhkan pasukan yang keras kepala memberontak, menyerangnya saat ia memaksa masuk dalam wilayah yang akan menjadi tempat jelajah selanjutnya. Serangan andalan sekaligus serangan yang sangat efektif untuk penyerangan secara diam-diamnya. Tetapi untuk saat ini, serangan itu sudah beralih ke mode serangan langsung.
Jika berada didalam arena, serangan 'Transparanisasi Kabut' ini tidak akan terlihat wujudnya, seakan-akan Xion tidak melakukan serangan apapun. Namun, jika diluar arena (diluar pelindung) mata penonton akan dapat melihat wujud dan rupa dari serangan Xion ini. Asap kabut berwarna hitam yang menyeruak dengan cepat bak ruangan yang dipenuhi tebalnya asap, mampu membuat lawannya tumbang tanpa syarat.
Inilah teknik berbahaya yang telah dia kuasai dari masa kecil pahit, yang sekarang bisa membuat semua orang akan langsung mengingat dan mengetahui siapa kah yang telah menyerang mereka bila mendengar serangan 'Transparanisasi Kabut'. Nama Poison Boy sudah tidak asing lagi dibeberapa wilayah terpencil yang kerap mendapatkan gangguan dan masalah dari pihak pemerintahan.
Bahkan julukan ini, ditakuti dibeberapa kalangan kepemerintahan kerajaan. Bahkan sampai ada yang rela membayar tinggi hanya untuk menyewa pembunuh bayaran yang nantinya ditugaskan untuk membunuh Poison Boy. Isu-isu ini telah terdengar sampai ketelinga Xion, dan Xion sama sekali tak memperdulikan mereka. Mereka juga tidak akan bisa menemukan Xion yang sudah terlatih bersembunyi dibalik bayangan kegelapan.
Sebenarnya Xion sama sekali tidak puas dengan pertandingan kali ini, karena dia merasa tes ini begitu mudah. Apalagi lawan yang ia lawan sudah tersungkur kelantai, tak sadarkan diri hanya selang beberapa menit sejak Xion memasuki arena tes. Tidak mendapatkan kepuasan seperti apa yang dia inginkan, membuat Xion ingin menyudahi tes ini. Lagipula lawannya itu, menurutnya tidak akan bangun dalam waktu dekat.
Setelah kabut didalam pelindung menghilang perlahan, Xion berjalan keluar arena, dan melambaikan tangan kepada wasit. Wasit yang berada dilinggiran arena terperangah, kebingungan, dan bertanya-tanya dalam bebaknya apa yang sedang terjadi. Tapi dia segera menghampiri Faren dan memeriksanya apakah ia masih mampu bertarung apa tidak. Tidak ada tanda-tanda dari Faren.
Wasit mengangkat kepalan tangannya keatas, tanda tes terakhir sudah selesai. Eter, Syler, dan Dezyl tidak mengerti alur pertandingan Faren. Seluruh murid-murid seketika berhamburan keluar gedung begitu bel berbunyi. Eter, Syler, dan Dezyl berlari menghampiri Faren yang dikerumuni tim medis yang siap mengangkutnya ke dalam ruang kesehatan sekolah.
Faren dibawa masuk keruangan, dan perawat disana tidak memperbolehkan ketiganya masuk. Apalagi setelah melihat, keempat anak yang sama itu belum lama mengunjungi ruangan kesehatan sebelumnya. Tim medis didalam berusaha membantu Faren pulih kembali, sedangkan ketiga anak itu bersitengang dengan rasa khawatir mereka.
Eter : " Aku masih tidak percaya, Faren dengan semudah itu dikalahkan.... Padahal kalian tahu sendiri kan, potensi dari kekuatan spirit Faren yang begitu besar.... " (memandang satu sama lain)
__ADS_1
Dezyl : " Ini yang menjadi pertanyaan! Sebenarnya apakah Faren yang memang terlalu meremehkan lawannya.... Ataukah memang lawannya itu terlalu unggul untuknya....?!! " (cemas)
Syler : " Lebih tepatnya, Apa tipe spiritnya? Sampai membuat Faren seakan tidak memiliki peluang menyerang. " (memecahkan kebingungan.... Bukan, menambah kebingungan)
(Eter dan Dezyl terdiam)
Dezyl : " Benar!! Pertanyaan bagus....!! Aku juga memperhatikan daritadi, berusaha mencari tahu tapi tetap saja tidak ada jawaban. "
Eter : " Kurasa Udara bukan?! Dia seperti mengendalikan kabut lalu menyerang Faren dengan itu....! "
Dezyl : " Bukan!! Aku lebih merasa itu serangan bayang! Kabut itu hanya bentuk pengalihan saja! Karena setelah dia mengeluarkan serangannya sekitarnya tampak gelap....! " (menebak)
Dezyl : " Jelas-jelas itu serangan bayangan, aku juga pernah melihat seseorang menyerang menggunakan bayangan yang membentuk kabut. Tandanya sekitarnya akan menjadi suram.... " (menunjuk)
Syler : " Kalian salah! (memutus perdebatan keduanya) Itu adalah tipe spirit racun! " (percaya diri)
Dezyl : " Pfftt.... (menahan tertawa) Hah?! Tidak salah?! Hahaa.... "
Eter : " Hahah.... (tertawa sambil menepuk bahu Syler) jangan bercanda Syler!! Hahaah.... "
__ADS_1
Syler : " Aku tidak sedang bercan.... (terputus) "
" Kalian tidak usah khawatir dia akan segera baikan, sebaiknya kalian tidak perlu cemas dan memikirkan secara berlebihan.... " (kepala sekolah yang berhenti sejenak lalu pergi lagi)
Eter : " Baik pak, terima kasih atas sarannya. " (mewakili)
Sedangkan Xion berekpresi datar, berjalan menuju tempat gedung olahraga dua, dimana dia menjalani ujian tes tertulis Jurusan PTE (Pelatihan Teori Elemen). Dia berhenti pada jalan setapak di taman yang berada dibelakang gedung. Tempat tersepi yang jauh dari kerumunan para siswa-siswa. Layak disebut sepi, karena letaknya memang bersebelahan dengan tempat pemakaman.
Pemakaman yang berisi beberapa tokoh penting dan beberapa murid dari Akademi Kwon yang wafat dengan hormat. Dimakamkan disana sebagai bukti dan tanda perjuangan hebat dan luar biasa yang telah mereka lakukan demi sekolah. Mulai dari kepala sekolah terdahulu hingga siswa yang dimakamkan karena melindungi serta menjaga Akademi Kwon saat ada ancaman masalah.
Xino menyusulnya, berlari sampai tersengal-sengal. Dia sudah tidak bisa menggunakan kekuatan spassialnya lagi untuk berpindah tempat. Karena sudah ia gunakan untuk bolak-balik mencari makanan diluar, dan yang terakhir untuk Xion masuk kedalam arena. Disana mereka membahas beberapa serangan yang dilakukan keduanya. Mengevaluasi dan mencari titik temu dalam perdebatan yang selalu ada dalam setiap perbincangan.
Namun saat Xino membahas pasal serangan Xion yang sedikit berlebihan. Untuk sekelas tes kecil itu sebaiknya tidak digunakan, Xino membentak Xion untuk menemui anak itu dan membantunya. Tapi Xion menolak keras, dia menganggap itu bukan urusannya, karena tes telah usai.
Xion : " Tesnya sudah berakhir, segala cidera ku anggap bukan wewenanganku lagi. Semua orang tahu, untuk memasuki sekolah ini harus menjalani tes. Dan segala resiko yang didapat dari sebelum, saat, dan setelahnya adalah tanggunangan masing-masing pribadi. Aku terlalu sibuk untuk mengurusi tanggungan orang lain. (menjeda) Menyebalkan.... " (memalingkan wajahnya dan duduk di kursi taman)
Xino sangat tidak bisa menjawab lagi perkataannya. Semua yang dikatankan Xion sangat benar, itu adalah urusan dari setiap orang. Xino menyadari jikalau pasal berpikir siapa yang lebih dewasa diantara keduanya, yang dipilihnya tetap akan Xion. Meski dirinya murni pengendali dimensi spassial dibandingkan dengan Xion, justru dialah yang kalah.
Kedewasaan dua bersaudara ini tidak perlu diaggap heran. Keduanya sama-sama bisa menggunakan kekuatan spassial, dan itu sudah hal yang lumrah dikalangan tipe spirit dimensial. Semua orang mengakui itu, karena itulah banyak petinggi dan badan pemerintahan di Bangsa Warden (Penjaga) dipegang oleh Klan Rayshawn (Klan Dimensi) terutama dari kalangan dimensi spassial.
__ADS_1
* * * * * *