
" HAHH...?! " (terkejut)
Vingent* [Eehh... Apa dia bilang? Dia ingin membantuku.... ?? apa aku tidak salah dengar?.... Tidak!... Tidak!... Dia memang mengatakannya..... Huaahh.... Dia membuatku ketakutan.... Tiba-tiba datang, lalu menolong orang yang tidak dikenali. Apa dia bisa dipercaya? Bagaimana kalau dia punya niat jahat?..... Tidak... Sepertinya tidak! Dia terlihat seperti anak perempuan yang baik-baik. ]
" Aku akan membantumu. " (mengulang)
Vingent hanya terdiam.
" Kakak tampan, ada apa?. Kenapa kau melamun seperti itu? Apa ada yang salah?. " (melambaikan tangan didepan muka Vingent)
" Ehh... Mmm.... Hehe... Tidak.... Tidak ada.(mengalihkan) Jadi.... kau ingin menolongku? "
" Tentu... Ayo aku akan membantu memapahmu, kita harus segera pergi dari sini. Sebelum banyak orang-orang yang berdatangan kemari. Kita akan dalam masalah nanti. " (cemas)
" Ah iya. Terima kasih banyak, kamu sudah mau menolongku, (berdiri perlahan) kalau bukan karenamu, aku tidak tahu nasibku akan jadi seperti apa nantinya. " (tersenyum)
Vingent* [Dia bukan hanya pandai berkelahi, tetapi dia juga pintar. Dia ingin membawaku pergi, agar tidak ada penduduk sekitar yang akan salah paham, terlebih jika melihat kami disana bersama dengan orang-orang yang terbaring terluka. (berpikir) Apalagi kalau tidak salah anak-anak itu statusnya juga bukan main-main. Terutama orang tua dari bos mereka adalah orang yang berperan penting di istana. Betapa mengerikannya jika aku berurusan dengan mereka. (membayangkan)]
" Itu bukan masalah, kakak tampan. Hee.. (tertawa lirih). (Melihat sekeliling) Lebih baik kita ke sana saja (menunjuk), setelah kita masuk lorong itu, ada rumah kosong yang bisa kita manfaatkan. " (berjalan)
" Sepertinya kamu sangat mengenali tempat ini ya...! Apa kamu tinggal disini?. Siapa namamu?. "
" Namaku Voltha Arkjez. Aku bukan berasal dari sini. Aku datang cuma cuma melihat-lihat tempat ini. "
" Wahhh.... Kamu hanya melihat-lihat tapi sudah hafal tempat ini, seperti kamu tinggal disini yaa. "
" Ohh iyaa, Kak tampan.... "
" Panggil aku Vingent saja.... " (perasaan aneh)
"Mengapa mereka tadi menganggu kakak sampai separah ini?. (melihat Vingent) Dari yang aku lihat mereka sudah mengenal kakak. Apa mereka sering melakukan itu? "
" Iya... Begitulah. Setiap aku pergi ke pasar, entah mengapa aku selalu bertemu dengan mereka. Dan kalau aku tidak pintar-pintar pilih jalan, pasti aku akan bertemu mereka dan sialnya barang bawaanku akan dirampas. Jika aku tidak memberikannya mereka akan mengancam ku dengan pukulan atau serangan fisik lainnya. Tapi tak jarang, aku juga berhasil kabur dari mereka. Hahah.... "
__ADS_1
" Jadi begitu.... Mereka sungguh keterlaluan. (kesal) Oh lihat, kita sudah sampai. Kakak tampan, beristirahat saja dulu. Lalu... bagaimana dengan barang-barang yang kakak beli di pasar? "
" Aku belum membelinya, (menunduk) dan aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus segera ke pasar dan membeli barangnya. Itu sangat penting untuk ayahku. (sedih) Apalagi sebentar lagi matahari akan terbenam. Disaat itu aku harus segera pulang. " (khawatir)
" Biar aku saja yang pergi!!. Berikan saja daftar belanjamu dan uangnya. Aku akan membelinya untukmu.....Tenang saja aku bukan orang jahat seperti mereka. " (menatap serius)
" Hmm... Baiklah aku hanya punya kertas cetak biru, kau harus menjaganya, dan ini uangnya. Tapi sepertinya kau tidak akan.... "
" Baik tunggu aku kembali...!!! Jangan kemana-mana!!! " (berlari cepat)
" Hey!!! (berteriak) Kembali... Aku belum selesai bicara.... Hey...!!! "
Vingent* [Sudahlah... Tidak ada gunanya aku berteriak, dia juga sudah pergi jauh. Aku masih penasaran, sebenarnya siapa dia? Kenapa dia bisa baik dan percaya dengan orang baru sepertiku? Dia bahkan tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri. Malah mengkhawatirkan aku yang bukan siapa-siapanya.]
Vingent* [Dan juga, mengapa tiba-tiba aku kepikiran dengan kertas cetak biru nya?.... (berpikir)..... Mmm.... Apa?.... (teringat sesuatu) OHH IYAA.... Kan kertasnya>_< Bagaimana iniii!!! (gelisah) Aku sudah berjanji pada ayah untuk tak memperlihatkan kertas cetak biru ke orang lain....!! Tapi kan dia ingin menolongku.... (berpikir) AKHHH....!! Sama saja ini masalah!!! Tidaaakk.... (tidak tenang) Apa dia mengerti apa yang ada dalam kertas cetak biru itu? AKHH!!... (menutupi mukanya dengan kedua tangan) bagaimana ini..... Sekarang aku dalam masalahh.... (khawatir) ]
Vingent* [Tenanglah Vingent.... (berusaha tenang)Tenanglah... Semuanya baik-baik saja. Daripada memikirkannya, lebih baik pulihkan tenagamu saja. Badanku sakit semua!!! Aku tidak akan bisa pulang dalam kondisiku seperti ini...! Selagi aku menunggunya, aku akan berbaring sebentar.]
* * * * * *
Ia berjalan mendekati bangunan yang sudah tua itu dan juga kusam. Pintu dibuka, TRING!! sebuah bel diatas pintu berbunyi. Ia mendekati meja kasir, tapi tidak ada seorang pun di sana. Perhatiaan nya pun teralihkan dengan bangunan yang tidak terlalu besar, tapi menjual dengan lengkapnya alat-alat elektrik, hingga toko ini terasa sangat penuh.
" Owhh haloo, anak muda. Apa kau ingin membeli sesuatu? " (ramah)
Seorang kakek paruh baya, dengan pengikat kepala berwarna putih, dan juga handuk berwarna biru muda yang dikalungkan pada leher. Matanya sangat sipit, hingga nampak seperti sedang tertidur.
" Ada yang bisa aku bantu? " (suara serak-serak, lemah)
" Aaaa.... Itu kek aku ingin membeli beberapa alat-alat disini. Ini daftarnya. " (mengambil secarik kertas dalam gulungan)
" Baiklah... (Menerima secarik kertas dan membacanya) Mari kita lihat. Mmm.... (Membaca teliti) Wahh... Wahh, pesanan ini sama seperti yang biasanya Vingent pesan. Apakah kau disuruh Vingent untuk membeli ini?. "
" Iya, kek. Ada sedikit masalah dengannya. Jadi aku menggantikannya. "
__ADS_1
" Ohh begitu.... Pantas saja. Biasanya jam-jam segini dia sudah ada di toko. Baiklah.... Tunggu sebentar yaa. " (mengambil pesanan)
" Nahh ini dia pesanannya (memberi). Dan ini kertasmu tadi. "
" Wahh terima kasih kek, ini uangnya. Kalau begitu aku pamit dulu ya kek. Sampai jumpa... " (melambaikan tangan)
Akhirnya Voltha keluar juga dari toko. Ia melanjutkan perjalanan menuju toko selanjutnya, yaitu toko peralatan mesin. Ternyata toko tersebut hanya berjarak tiga bangunan dari toko sebelumnya. Lagi-lagi dia disambut dengan papan nama toko, 'Toko Peralatan Mesin dan Robot Serbaguna'. Disitu tertulis :
Terkhusus hari ini dalam rangka ulang tahun toko yang ke 10 tahun , pemilik akan memberikan diskon sebesar 30% per jenis barang yang dibeli, dan diskon 100% untuk pembelian 6 jenis barang. Dengan syarat pembeli membeli alat-alat terbaru yang baru saja datang dengan lisensi Teknisi Khusus. Jadi... Ayoo! Segera datang dan nikmati diskonnya!.
Saat tengah asik membaca, ada seseorang yang menegurnya.
Dia menanyakan perihal diskon, dan menawarkan nya pada Voltha.
" Aku akan membeli alat-alat yang kakak maksud, apabila alat-alat tersebut ada dalam catatan ini. (dia memberikan kertas yang tadi). "
Seorang perempuan muda yang tengah menjaga toko tersebut terkejut ,dan terlihat bahagia setelah membaca tulisan dalam kertas yang Voltha berikan. Ternyata alat-alat yang tertulis dalam kertas semuanya tercantum dalam daftar alat-alat yang mendapatkan diskon. Apalagi jumlah alat-alat yang dibutuhkan berjumlah tujuh jenis.
Namun karena ada satu alat yang stok nya habis, maka Voltha hanya bisa mendapatkan enam jenis alat. Tetapi semua alat yang Voltha beli tidak mendapat harga atau gratis karena mendapatkan diskon 100%. Voltha kegirangan, ia merasa hari ini adalah hari yang beruntung untuk Vingent. Namun tidak sampai disitu, Voltha di tanya perihal lisensi yang menjadi persyaratan umum diskonnya.
Tetapi dia tidak bisa menunjukkan lisensi yang dimaksud karena tidak memilikinya. Apalagi Vingent hanya memberinya kertas cetak biru yang didalamnya hanya terdapat secarik kertas. Voltha terancam tidak mendapatkan diskon, hingga sang penjaga toko itu menanyakan siapa yang menyuruhnya membeli disini.
" Siapakah yang menyuruhmu?. " (tanya si penjaga toko)
" Aku tidak disuruh, tapi aku hanya membantu Vingent...! Dia menggunakan kacamata bulat. " (jujur)
" Aahhh.... Ternyata Vingent yaa! Baiklah... Ini (memberi sekantong alat-alat yang dibeli Voltha) Kamu berhak kembali mendapatkan diskonnya. (tersenyum ceria)
" Hahh... Kenapa kak?. (bingung) Bukannya aku tak punya lisensi?. "
" Haha... Vingent itu sudah sering membeli disini. Jadi kakak sudah tahu latar belakangnya. Jadi tidak perlu lisensi ya!. " (tertawa)
" Wahh... Jadi begitu... Kalau begitu terima kasih yaa kak untuk semuanya. Sampai jumpa. " (melambaikan tangan)
__ADS_1
" Terima kasih kembali. Dahhh.... " (melambaikan tangan juga)
* * * * * *