Si Merah Part Liontin

Si Merah Part Liontin
Fenomena Aneh


__ADS_3

Keesokan paginya, ayah Vingent yang berada di ruang kerja tengah sibuk untuk mengerjakan sesuatu. Proyek besar yang sepertinya sangat penting untuk dikerjakan. Bahkan sedikitpun ia tidak mau mengalihkan perhatiannya ke lainnya.


(mencari) " Dimana aku menyimpan obengku, bukannya ada disini tadi?!! (membongkar barang-barang) Mungkin ada di kotak perkakas, coba kuperiksa.... (membuka) Tidak ada juga?! (mencari kesekeliling tapi tetap tidak menemukan) Ahh... Dia menghilang lagi!." (terus menghambur barang-barang yang ada dirak)


Sementara itu, dikamar Vingent, Voltha baru saja terbangun dari istirahat panjangnya. Disebelah tempat tidurnya ada sebuah foto dan catatan yang tertempel di bingkainya. Diambilah catatan tersebut, yang bertuliskan :


Voltha kalau sudah bangun, temui aku didapur untuk sarapan ya. Dapurnya ada disebelah kanan kamar.


^^^~Vingent^^^


Voltha mengembalikan catatan ketempatnya, seraya memandangi foto seorang anak kecil yang digendong dengan memakai kacamata bulat. Dan di tangannya mengenggam sebuah piagam emas. Lalu disampingnya ada seorang pria memegangi piala besar dengan senyuman yang sangat khas.


Voltha* [ Ini pasti Kak Vingent dan ayahnya (menebak dengan pasti). Wajah mereka mirip sekali....]


Voltha beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar. Tetapi tepat didepan kamarnya, Voltha mendengar beberapa keributan seperti barang yang berjatuhan, dan membentur besi dengan keras. Karena rasa penasarannya, ia pun mendekat. Kebetulan pintunya terbuka sedikit. Ia memanfaatkan peluang, dan mengintip kedalam untuk memeriksa. Ternyata didalam ada seorang pria tengah membongkar 'manusia salju'.


Voltha penasaran dengan pria tersebut. Ia membuka lebar pintu secara perlahan, dan masuk dengan mengendap-ngendap. Pria tersebut tidak menyadari keberadaan Voltha. Ketika ia sudah didalam dan hampir mendekati pria tersebut. Ia justru menghentikan langkahnya dan terkesan dengan apa yang ia lihat.


Voltha* [ Waauw...! Tempat apa ini? Disini banyak sekali benda-benda aneh yang tersusun rapi di rak. Dan juga beberapa alat-alat yang berserakan. Sangat berantakan tapi... Tetap kereenn... ]


" Benda-benda yang ada di sana Itu seperti mesin-mesin!! (takjub) Sangat hebat dan tampak tidak asing juga. " (matanya belum bisa berhenti melihat keunikan ruangan tersebut)


Pria yang sangat fokus mengerjakan pekerjaannya terkejut, mendengar suara Voltha. Dan tidak sengaja menghantuk alat penggantung besi, yang tepat berada diatas kepalanya.


PAANG!! (merintih kesakitan sambil memegangi kepala, lalu ia membalikkan badan)


" Aduuh.....(menoleh) Owhh... Voltha....?! Sudah bangun ya. Bagaimana keadaanmu, apa sudah membaik? Apa kakimu tidak terasa sakit lagi? " (mengelus-elus kepala)


" EMM!!... Kakiku juga sudah bisa berjalan seperti biasa lagi. Tapi mengapa paman bisa tahu, siapa paman? " (penasaran)

__ADS_1


" Haha... (tertawa).... Aku lupa kalau aku belum memperkenalkan diriku. Dengar Voltha, aku adalah Vildarth Desja, ayah dari Vingent. Kau bisa panggil paman, dengan sebutan Paman Vir. " (senyuman yang menampakkan gigi)


(terkejut) " Wahh... Jadi paman adalah ayah Kak Vingent?! Waduhh paman, aku minta maaf sudah lancang memasuki ruanganmu. " (menunduk)


" Tidak apa-apa Voltha, anggap saja rumah sendiri. "


" Jadi paman juga yang mengobati kakiku?! Waahh... Terima kasih banyak yaa paman baik sekalii... "


" Haha.... Iyaa.... Paman juga berterima kasih kembali kepadamu ya, karena sudah menolong Vingent waktu dipasar. Dia pasti sudah merepotkanmu. "


" Tidak paman... Tidak, tidak sama sekali kok. " (tersenyum)


Voltha* [Ayah Kak Vingent ini sangat baik. Dan juga masih sangat tampan....(berbinar-binar) ]


" Paman sedang mengerjakan apa? Aku perhatikan dari tadi paman sangat bekerja keras. " (mendekat)


" Ahhh.... Paman hanya mengerjakan proyek paman, sekalian memantau dan menyelidiki perkembangan cuaca, sejak tadi malam cuacanya begitu aneh, tetapi menjelang matahari terbit cuacanya kembali normal. "


" Benar.... Kemarilah dan lihat ini. " (menunjuk ke arah monitor)


Voltha mendekat ke meja Paman Vir. Ia menunjukan sebuah alat temuannya pada Voltha. Tapi selanjutnya ada hal yang tak biasa terjadi.


" Ini adalah alat pengukur gelombang elektromagnetik buatanku." (memperlihatkan secara dekat)


Paman Vir* [Tunggu.... Mengapa alat ini tiba-tiba bereaksi sama seperti tanda-tanda akan terjadinya badai datang, sama seperti tadi malam! Ini tidak mungkin.... (heran) ....Tidak mungkin kan badai itu datang lagi?.]


Hasil temuan yang ditangkap dari alat pengukur gelombang elektromagnetik mengatakan, bahwa diprediksi akan terjadi badai besar diwilayah Kota Atas. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, semakin lama, badainya perlahan berpindah ke wilayah sekitar lereng lembah dan Kota Bawah. Suhunya juga dari yang semula turun, perlahan kembali naik dan menjadi suhu normal.


Paman Vir kembali menjelaskan kepada Voltha, apa yang sudah ia temukan. Namun sembari menjelaskan, dalam lubuk hatinya tampak keraguan dan rasa penasaran yang dalam tentang fenomena baru ini. Dan sekaligus terkejut dengan pola perubahannya.

__ADS_1


" Terdapat 4 status untuk melihat besar atau kecilnya energi elektromagnetik tersebut terdeteksi. Ada normal, mula, tinggi, dan berbahaya. Dan setiap status memiliki empat level."


Sejak awal badai datang, alat ini menunjukan status berbahaya level empat. Itu sangat mengejutkan, karena di Kota Atas baik saat sedang cuaca ektrem ,atau sedang terjadi badai, tidak pernah menimbulkan pancaran gelombang elektromagnetik sebesar dan sekuat itu.


"Tingkatan paling tinggi dari gelombang elektromagnetik yang pernah terdeteksi hanya sampai pada skala mula level tiga "


" Dan badai inilah yang menjadi badai pertama paling mengerikan yang pernah dialami kota atas. Dapat disimpulkan berarti energi elektromagnetik yang dihasilkan setiap kali petir menyambar, mampu menghancurkan lembah kota atas ini beserta seisinya. Huuhh.... (Menghembuskan nafas).... Itu baru sekali sambaran, bayangkan jika berkali-kali. "


" Perubahan pola perpindahannya juga patut disyukuri, sehingga hal-hal yang buruk tadi bisa terhindari. Badai petir ini menjadi badai yang sangat berbahaya, sekaligus mematikan. Karena badai itu bisa merusak dan menghancurkan apapun yang ia kenai. " (sambil mencatat)


" Petir?!.... Berarti badai yang terjadi semalam adalah badai petir? " (terkejut)


Vingent spontan menyaut. Seakan tak menyangka, bahwa badai semengerikan itulah yang akan menjadi resiko terbesarnya, jika saja dia belum sampai dirumah tepat sebelum tengah malam.


" Kak Vingent sejak kapan kau ada disini? "


" Sudah dari beberapa menit yang lalu. Aku ingin memeriksamu, tapi diruangan ayah seperti ada yang berbicara. Makanya aku kemari. Ayah!!! Jawablah, apa itu benar?. Lalu sekarang kemana perginya badai itu. Kalau memang benar itu badai petir, seharusnya aku sudah terbangun sejak semalam karena suara petir kan?!! . "


" Saat menjelang matahari terbitlah, sedikit demi sedikit energi elektromagnetik tersebut berkurang drastis. Dengan bantuan sinar matahari perlhan badainya pun menghilang. Lagipula badainya juga terjadi di Kota Bawah, yaa.... Sangat jelaslah bila kau tidak mendengarnya!. "


" Oh.... Jadi begitu, pantas saja.... Ayah. Tapi mengapa tiba-tiba wilayah seperti pinggiran Kota Bingla ini terjadi badai petir? Padahal wilayah pinggiran kota ini, dikenal sebagai tempat dengan minimnya cuaca ekstrem. Dan keadaan disini juga tidak ada yang bisa menjadi pemicu terjadinya badai petir. "


Mendengar penjelasan logis nan akurat dari Vingent, Paman Vir terdiam. Itu adalah teori yang sangat logis, terlebih didukung dengan banyaknya fakta yang masuk akal. Seakan menemui jalan buntu atas peristiwa ini, Paman Vir ingin segera memecahkan teka-teki dari fenomena langka ini.


" Hmm.... Aku masih mencaritahunya Vingent.... (memalingkan topik) Sudahlah!! Tidak usah banyak tanya, sekarang pergilah sarapan sana!!. Aku sudah menyiapkan dari pagi tadi. Awass saja kalau tidak habiskan!! (mengancam) Setelah itu kau laksanakan janjimu semalam. Kau bilang pada Voltha, kalau kau ingin mengantarnya pulang kann...!? "


" Iya ayah..... Baiklah. Ayo Voltha kita sarapan dulu, perutku juga sudah keroncongan daritadi. " (pergi keluar)


" Iya.... Ayo kak. " (semangat)

__ADS_1


Setelah kedua anak itu meninggalkan ruangan kerja, alat pengukur gelombang elektromagnetik milik Paman Vir kembali menunjukan reaksi. Energi gelombang tersebut berkurang sedikit demi sedikit. Paman Vir yang menyadari akan hal itu, semakin yakin dengan kecurigaannya terhadap sesuatu. Tetapi ia masih belum mempunyai barang bukti yang tepat dan kuat, untuk menjadi pendukung dari pemikirannya itu.


* * * * * *


__ADS_2