
Lima hari kemudian....
Hari dimana pendaftaran Akademi Kwon pun telah tiba. Pagi itu, Vingent dan Voltha sudah siap dengan setelan baju baru mereka. Baju itu adalah pemberian Paman Vir untuk kedua anak-anak itu, sebagai bentuk dukungan pada mereka. Agar keduanya bisa lulus tes 'Penerimaan Siswa Baru' di Akademi Kwon.
Pagi yang sangat cerah, pakaian baru, dan udara sejuk, seakan menambah semangat membara mereka. Setelah selesai bersiap dan berkemas, Voltha dan Vingent bersalaman dengan Paman Vir. Disela itu, Paman Vir memasukkan kotak bekal makanan kedalam tas masing-masing.
Paman Vir : (memasukkan) " Ini.... Makanan kalian! Jangan lupa memakannya saat disana nanti ya!! Voltha, paman sudah siapkan nasi goreng telur mata sapi kesukaanmu! Habiskan ya!! Hahaha...." (menepuk-nepuk bahunya dan merapikan rambutnya)
Voltha : " Siap paman!!! Ku habiskan nanti sampai tidak tersisa sedikitpun! " (badannya tegak dan tangannya diangkat seperti saat sedang hormat)
Paman Vir : " Bagus!! (menoleh) Vingent.... (memberi empat lembar uang) Ini uang kalian.... Untuk berjaga-jaga. Jika ada sesuatu yang membuat kalaian membutuhkan uang, gunakan saja. Ingat! Untuk hal yang penting-penting saja, mengerti?!. " (membantu menutup tas Voltha)
Vingent : "Iya ayah.... Terima kasih banyak. " (memasukkannya kedalam tas)
Paman Vir menatap Vingent dengan penuh rasa haru, bercampur rasa sedih. Tetapi hatinya juga sangat senang dan bahagia. Anak satu-satunya itu akan meninggalkannya dalam waktu yang lama untuk pergi ke sekolah barunya. Ia langsung memeluk Vingent erat-erat, bak seorang ayah dan anak yang sudah tidak bisa bertemu lagi.
Voltha perlahan meneteskan air matanya, melihat momen yang sangat langka untuk dia lihat dan dia rasakan. Mulutnya bergetar seraya tersenyum. Sesekali dia menghapus tetesan air matanya yang membasahi pipi merah mudanya. Paman Vir yang melihatnya, lalu spontan menarik tangannya kedalam pelukan 'Ayah dan Anak' itu. Seperti sadar dan bisa mengerti perasaan Voltha, Paman Vir juga mengelus-elus kepalanya.
Paman Vir : " Kita semua itu keluarga Voltha.... Jangan merasa seoerti orang asing. Jika kita sedang kesusahan, keluarga lain akan membantu. Begitu pula sebaliknya.... Dan saat kalian disana nanti, kalian itu sudah seperti kakak beradik yang harus saling membantu dan juga melindungi satu sama lain. Jangan karena masalah kecil, membuat hubungan keluarga kalian terputus yaa...?!! " (melepaskan pelukan)
Voltha* [Sungguh rasa yang sangat aneh! (heran). Aku belum pernah merasakan pelukan hangat yang sangat-sangat tulus dan dalam seperti itu.... Terasa sangat nyaman sekalii.... (tersentuh) Bahkan saat orang tuaku memelukku pun, aku tak merasakan apapun.]
Voltha* [Orang tuaku itu sudah seperti orang lain, tidak ada arti dari pelukan keluarga. Bagiku.... Rumahku adalah tempat keluarga asingku. Mereka jarang memberikan pelukan yang semenenangkan ini. Mereka hanya memberikan pelukan dingin, atas sekadar rasa empati memelukku.]
Voltha* [Mereka juga kadang tidak menjawab pertanyaan, seperti aku lebih mirip siapa? Ayah atau ibu?. Atau sekedar pertanyaan yang aku dengar dari teman-temanku tentang ketidakmiripanku dengan orang tuaku.... Seperti ada yang ditutupi oleh mereka.... Aku tidak suka itu, aku hanya ingin keluarga yang terbuka... Dan aku hanya ingin pelukan yang seperti itu.... Lagi.... Dan lagi....]
__ADS_1
Voltha : " HIKS....!! (terisak). Ba.... Baik paman! Aku akan menjaga dan melindungi Kak Vingent untukmuu!! A... A... Aku janji!. " (mengacungkan jari kelingking)
Vingent melihat tingkah Voltha seperti ingin tertawa karena kepolosannya. Tapi, dia juga bahagia telah mengira bahwa Voltha sudah tidak memikirkan kedua orang tuannya lagi. Tetapi nyatanya, hal itulah yang masih selalu mengganggu pikirannya.
Paman Vir : " Berjanjilah padaku bahwa kalian harus menjadi lebih kuat dari yang sekarang.... Harus bisa menjadi kebanggaan untuk paman ataupun benua kita.... Harumkanlah nama kalian sendiri, setinggi-tingginya, hingga langitpun mengakui kalian!!. "
Paman Vir : (memelankan suara) " Vingent, kau juga harus berjanji pada ayah, untuk selalu melindungi Voltha apapun kedaannya, aku sangat mengandalkanmu anakku.... (menatapnya serius). SIAP BERJANJI....?!! (kembali mengeraskan suara) "
(keduanya serentak menjawab) " KAMI BERJANJI....!!! "
Mereka akhirnya berjalan pergi, dari kejauhan mereka melambaikan tangan. Paman Vir melambainya serupa. Rasa harapan yang besar pada merekalah, membuatnnya harus bisa merelakan egonya untuk masa depan mereka. Perjalanan anak-anak itu masih sangat panjang. Biarkan mereka mengepakkan sayap, dan lepas terbang tinggi. Hingga tidak ada lagi yang bisa mengejarnya.
Voltha : " PAMAN! TUNGGU SAAT KAMI KEMBALI! AKU AKAN MEMPERLIHATKAN KEKUATANKU YANG TERHEBAT. DAN PANGKATKU YANG TINGGI. HAHA.... PAMAN HARUS SABAR MENUNGGU YAA...!! DAHH.... " (Voltha berteriak dikejauhan)
* * * * * *
Semua tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan para anak-anak itu. Ketiganya sudah siap di ruang tengah, sedang menunggu seseorang lagi keluar. Tapi, Syler merasa, sudah lama sekali orang itu tidak keluar. Akhirnya Syler memutuskan untuk menjemputnya kembali di dalam kamarnya.
Syler : " SUDAH SIAP BELUM?!! LAMA SEKALI.... " (berteriak dari luar sambil berjalan memasuki kamar)
Faren : " Aku harus pakai apa?. Agar tidak ada yang mencurigaiku nanti....?. " (kebingungan)
Syler : " Bukankah sudah disiapkan oleh pelayan?. Kenpa harus bingung?. "
Faren : " Bajunya terlalu mencolok untuk kupakai! Diakademi sana nanti, pasti ada beberapa prajurit yang dikirim ayah untuk memata-matai, dan mencariku. Aku lebih memilih menggunakan baju-baju orang biasa saja.... " (bingung)
__ADS_1
Syler* [(berfikir) Tapi dari penampilanmu ini, dia sudah berubah total dari sebelumnya. Rambutmu sudah dipotong, juga diwarnai.... Lalu dia juga memakai cincin yang bisa menutupi aura spiritnya. Hanya tambahan pakaian saja memang akan membuatnya tampak berbeda.]
Syler : " Ya sudah.... (berjalan ke arah lemari pakaiannya). Kamu pkai ini saja, (mengambilkan).... Aku juga akan ganti.... "
Faren : " Hah?.... Lah....? Kenapa?! Kamu sudah bagus begitu kok....! " (terheran)
Syler : " Aku juga merasa aneh memakainya, sekalian.... Supaya kamu ada barengannya.... " (merapikan pakaian yang dihamburnya)
Faren : (menahan tawanya) Pfttt....!! Hah?! Apa?! Serius....?! Tumben banget, Hahaha.... " (tertawa lepas)
Syler : " Iya, karena mau memberi surprise untuk prajurit Kerajaan Api, jadi....! Harus tampil meyakinkan.... (datar). Sekalian bawa barang bukti kan?!! " (tersenyum menyeringai)
Faren : (terkejut) " Hahh....?! Kok begitu....?. " (mengerutkan dahi)
Syler meninggalkan Faren dengan terburu-buru. Faren pun segera bergegas menyusulnya. Sedangkan di ruang altar tengah, Dezyl dan Eter harus menunggu sangat lama.
Eter : " Huuhh....!! (menghela nafas) Berapa jam lagi kita menunggu mereka.... " (tidak sabaran)
Dezyl : " Persiapan mereka bahkan lebih lama dariku.... " (menyaut)
Tiba-tiba datanglah seorang prajurit yang mengatakan bahwa kereta sudah siap semua, begitu pula dengan perlengkapan mereka. Tiga kereta berkuda sudah dipersiapkan untuk mengantarkan keempat anak tersebut ke Akademi Kwon. Kedua anak itu berdiri, Dezyl merapikan pakaiannya. Lalu Eter mengucapkan terima kasih pada sang prajurit, dan memintanya agar menunggu lima menit lagi.
Dezyl menyarankan agar mereka menjemput Faren dan Syler di kamar. Tapi kemudian Syler dan Faren muncul dengan tergesa-gesa. Faren membawa tas kecil yang digantungkan pada pinggangnya. Mereka semua pun berlari keluar.
__ADS_1
* * * * * *