Si Merah Part Liontin

Si Merah Part Liontin
Permainanku (1)


__ADS_3

Xion keluar dari gedung olahraga dan kembali dimana dia bertemu dengan anak perempuan yang memiliki aura berat yang mencengkam. Disana sudah tidak ada siapapun, mungkin setelah pengumuman tadi, seluruh anak-anak sudah berada didalam gedung untuk menjalankan tes masing-masing.


Xion* [Aku sangat yakin kalau anak perempuan itu berjalan ke arah gedung olahraga yang kedua itu. Mengapa dia mendaftar disana, apa dia belum mempunyai tipe spirit?. Aku akan mencari tahu....(teringat sesuatu) Tapi ini.... (dia berpikir sambil memandangi kartu nomornya) (lalu dia membuang nomornya dan berlari kearah gedung)]


Kebetulan Xino tak berada jauh darinya, dia melihat Xion membuang sesuatu, dan melihatnya berlari ke arah gedung olahraga kedua. Dia mencari tahu apa yang dijatuhkan Xion, dan itu hanyalah kertas yang bertuliskan nomor enam puluh tiga. Xino tidak mengerti, dan tidak mengetahui bahwa kertas yang dipegangnya adalah kertas untuk tes uji coba.


Niat awalnya ingin mengembalikan, berubah menjadi tidak jadi, karena Xino berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang tidak penting untuk Xion. Dibawanyalah kartu itu, selaginya Xino berjalan-jalan. Dia menghampiri beberapa kedai makanan, yang berjajar disepanjang pinggiran gerbang akademi.


Xino* [Wahh.... (matanya berbinar-binar, ketika melihat banyaknya penjual makanan dan minuman yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang menarik mata) Ahhh.... Ini surga duniaku.... (serasa ingin melayang) Tapi aku hanya membawa uang pas-pasan, tapi tidak apa-apalah.... Selagi perutku bisa terisi dan tidak ribut lagi... Ahaay.... Mari makann....]


Dia berjalan seperti seorang anak kecil yang kegirangan mendapatkan mainan baru. Memang sih, umurnya baru tujuh tahun, tapi tingkahnya lebih terlihat seperti seorang bayi. Ekspresinya tidak kalah main dengan tingkahnya, sampai-sampai salah seorang penjual minuman yang dia hampiri, mengatakan kalau mukanya sangat imut, bahkan melebihi imutnya seorang bayi yang bertingkah.


Kembali ke Xion, yang sudah berada didepan gedung olahraga dua, tetapi dia tidak bisa masuk. Tanpa adanya kartu nomor peserta, ataupun kartu tanda pengenal panitia, selebihnya tidak diperkenankan masuk. Xion sedikit menyesal telah membuang kartunya. Tetapi dia berpikir kembali, meskipun dia memiliki kartunya tadi, pasti tetap ada pembeda antara calon peserta dari Jurusan PTE atau Jurusan LTE. Tidak ada jalan keluar lagi yang bisa ia pikirkan, selain....


Xion* [Sepertinya hanya cara ini saja yang bisa ku lakukan agar bisa masuk.]


Xion menatapi salah satu panitia yang menjaga pintu masuk dan pemberi kartu masuk itu. Saat ditanyakan agar memperlihatkan kartu nomor peserta, Xion hanya mengatakan kepadanya bahwa dia akhirnya memutuskan pindah jurusan ke jurusan ini. Sambil menggenggam tangannya, dan mengeluarkan ekspresi memohon yang meyakinkan.


Xion : " Aku mohon pak.... Aku masih kebingungan tadi saat memilih jurusanku... Ini masih ada kesempatan sebelum tesnya dimulai.... ” [*Nah sekarang waktunya....]

__ADS_1


Panitia penjaga : " Tapi nak, kau harus kebagian administrasi untuk mengubah dokumen dan selanjutnyaa.... (tatapannya mulai kosong)


Xion : " Berikan padaku nomor yang tersisa.... "


Panitia penjaga : " Sudah tidak ada kartu nomor yang tersisa. " (berkata tanpa sadar apa yang dia katakan)


Xion* [Ckk!.... Bagaimana kalau aku ketemu lagi dengan panitia lainnya didalam.... (terdiam berpikir) Tak masalah! Akan ku urus nanti saat aku melihat apa yang di didalam. (memperhatikan petugasnya, dan menggenggam tangannya kembali) Kau tidak akan ku biarkan tahu.... (dia mengeluarkan energi spirit dari tangannya) Tidurlah....)


Petugas itu seketika tertidur dikursi yang dia duduki, tanpa berlama-lama dia langsung masuk kedalam. Gedung olahraga itu sama seperti gedung yang pertama, tetapi disini jumlah muridnya lebih sedikit dari Jurusan LTE. Jika digedung pertama posisi panggung ada dibawah dan kursi penonton dibuat seperti tangga, berbeda dengan disini.


Panggungnya sejajar dengan kursi penonton yang tak dibuat seperti tangga. Ini disesuaikan dengan jumlah siswa yang tidak sebanyak dengan gedung pertama. Xion berjalan kebarisan kursi dibelakang. Pembagian jatah kursi, dibagi berdasarkan grup. Xion menduduki kursi dimana dia berada di Grup C. Dan digrup itu yang duduk dibarisan paling belakang hanya ada seorang anak laki-laki yang terlihat kebingungan.


Dipikirannya Xion, dia akan memilih duduk disebelahnya. Dia melihat kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada panitia yang berjaga. Setelah dirasanya aman, dia ingin memberi anak itu kejutan, tapi dia mengurungkan niatnya.


Xion : " Haloo... Siapa namamu? (mengukurkan tangan) Aku.... Aku.... [*lebih baik pakai nama samaran saja] Aku Rankqie, salam kenal.... "


Anak itu : Emmm.... Aku.... (menjabat tangannya perlahan) Aku.... Namaku.... Namaku adalah.... Genba.... "


Xion* [Dia ini pemalu atau apa....? Terbata-bata begitu.]

__ADS_1


Xion : " Kau berasal dari mana? " [*Pertanyaan bagus, yang tidak sengaja keluar!]


Genba : " Aku, berasal dari.... Sekitar.... Daerah sini.... " [*Ibuku pernah berkata, kalau ada yang belum dikenali jangan sampai membocorkan hal-hal pribadi]


Xion : " Ohhh begitu, jadi rumahmu dekat-dekat sini ya?!. " [*Jawaban yang bagus, aku tak perlu repot-repot mengurusmu]


Xion : " Genba.... Aku masih tidak mengerti tes uji coba disini, apa kau bisa memberi tahuku bagaimana, dan seperti apa gambaran tesnya?! " [*Ayo katakan!]


Genba : " Oh... Karena kita.... Dijurusan PTE, tesnya.... Akan dilakukan secara tertulis.... Kita hanya perlu maju dan.... mengerjakan soal-soalnya. Dan sekali maju, biasanya sekaligus akan ada lima anak yang berlomba.... Siapa yang tercepat mengerjakan soal.... Akan menjadi yang terpilih... Dan lulus tes.... Uji cobanya.... Begitu. "


Tanpa Xion sadari gadis yang dicari tadi, sedang memperhatikannya. Dia berada pada Grup B dan urutan kursi nomor dua dari belakang. Meski posisinya berada ditengah, dia bisa samar-samar mendengar perbincangan Xion.


Xion : " Ahhh begitu ya!! Terima kasih ya... "


Xion memegang tangannya, dan mengaktifkan kembali energi spirit yang sama saat dia melakukannya pada panitia petugas diluar. Genba yang baru saja membalas perkataan terimkasih Xion dengan anggukan, seketika tertunduk. Lalu dia mengangkat kepalanya kearah depan, dengan tatapannya sama, kosong.


Xion : " Berikan kartu nomormu, lalu pulanglah kembali kerumahmu. Katakan pada orang tuamu, kalau kau tidak lolos tes uji cobanya. Dan lupakanlah wajahku. Jalan! " (melepaskan tangannya)


Genba hanya menuruti perkataannya, dia pergi tanpa berkata apapun. Gadis yang melihat tadi terkejut, Xion yang merasa diperhatikan mencari asal sumber tatapan itu. Otaknya mengatakan kepadanya, bahwa orang yang melihat itu ada disebelah kiri. Didalam otaknya langsung tergambar koordinat pasti dimana sang penatap berada.

__ADS_1


Dia seketika menoleh kearah koordinat itu, dan begitu terkejutnya juga ia, bahwa yang memperhatikannya adalah gadis yang dia cari sejak tadi. Gadis itu spontan mengalihkan pandangannya ke arah depan, mukanya masih menunjukkan rasa ketidakpercayaan.


* * * * * *


__ADS_2