
CESS!! CESS!! (semprotan diarahkan ke Voltha)
" Mmmhh.... (menjauh) Apa ini Kak Vingent? Kenapa disemprotkan kepadaku?. "
(memasukannya kembali dalam tas) "Ahh... Itu adalah larutan penghilang. Itu adalah penemuanku baru-baru ini. Larutan itu akan membuatmu tidak terlihat untuk waktu, dan momen tertentu. Tetapi bukan berarti, keberadaanmu tidak bisa diraba. "
" Wahhh.... Jadi aku benar-benar tidak terlihat? Waaww... Ini keren! (tak menyangka) Kau hebat sekali Kak Vingent.... (berbinar-binar) Tapi apa suaraku juga terdengar?. " (memandang Vingent)
" Hah, iya. Itu masih belum dikembangkan. Jadi, pemakaiannya harus hati-hati. "
" Lalu untuk apa kita memakainya? "(bingung)
(melihat ke arah Voltha) " Untuk perjalanan yang lebih seru, dan.... Juga menantang. " (tersenyum semringah)
"Hahh?!... "(heran)
Voltha* [Apa artinya itu? Perjalanan yang seru?... Dan menantang? (berpikir)... Apa jangan-jangan yang dia maksud...]
KRAAKK!!... KRAAKK!!.... SREEKK!!
Suara yang berisik dari gelapnya pepohonan, dikanan tebing terdengar seperti suara dahan pohon yang ditabrak paksa beberapa kali. Keduanya hanya terpaku terdiam, dan terus memandang ke satu arah dengan sangat waspada. Vingent menarik tangan Voltha agar dia tidak jauh-jauh darinya. Seraya berbisik pelan.
" Itu dia pertunjukan yang ku maksud. Yang ada dibaliknya adalah Monele liar yang sangat berbahaya. Jadi.... Mulai dari sini kita akan berjalan secara mengendap-ngendap. Jika kita sampai ketahuan, tidak ada yang menjamin kita akan selamat. Mengerti?. " (berbisik)
SREKK!!!
Bayangan hitam melintas dengan cepat, lalu hilang tanpa jejak dikegelapan. Mereka yang menyadari akan hal tersebut, bersiaga, dan bersigap meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan secara perlahan, pandangan harus selalu fokus pada jalan. Perjalanan sudah berlangsung setengah jam, selama itu, mereka hanya beristirahat sekali.
Voltha yang sedari tadi membantu Vingent berjalan, entah mengapa terasa ada yang janggal. Vingent melihat ke arah Voltha, benar saja, keringat yang bercucuran, ditambah muka pucat seakan memberi tahu bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
" Voltha... Ada apa? (berhenti, khawatir) Kelelahan yaa, ini... "(memberi botol minum)
Belum ada reaksi dari Voltha. Sedangkan ia berusaha mengatur nafasnya. Dia masih terdiam. Hingga akhirnya Voltha menerima botol air yang diberi. Namun... Ketika botol itu belum digenggam dengan sempurna, Voltha merasa bahwa tubuhnya sudah tak mampu menopang lagi berat badannya.
Seakan-akan ada ratusan batu besar yang memberatkan bahunya. Beberapa detik kemudian Voltha jatuh pingsan. Vingent yang langsung menyadarinya, berusaha menahan Voltha, tapi dia tetap tak mampu. Karena dia bertumpu pada satu kaki yang terluka.
BRUUKK!!..... (Vingent tertimpa Voltha)
"Voltha!!.... Voltha!! (menepuk pelan pipinya) Bangunlah....! Ayo bangun!. " (khawatir)
SREKK!!.... KREKK!! (suara bising kembali lagi)
__ADS_1
Vingent* [HAHH!.... (melihat kebelakang dan ke kanan) Itu mereka.... Gawat! mereka sudah muncul.... (berpikir) Bagaimana caraku pulang....? (melihat ke langit) Anginnya juga semakin malam semakin kencang, kita bisa terhempas ke jurang bila tak berhati-hati. Dan juga.... Ada apa dengan langitnya? Terlihat sangat mendung dan gelap. Bahkan tidak ada satupun cahaya bulan ataupun bintang yang terlihat, ini tidak seperti biasanya. Tapi dilihat dari ciri-cirinya, aku yakin malam ini akan terjadi badai.]
" Voltha bertahanlah.... Kita akan segera sampai, " (menggendongnya dari belakang)
WUSSS.... WUSSS....(angin yang sangat kencang)
Cuacanya semakin malam semakin tidak bersahabat. Angin bertiup dengan kencang. Tempat yang bermedan miring dan gelap seperti ini adalah hal yang buruk. Belum lagi keadaan disekitar jembatan yang dipenuhi Monele liar yang sedang berburu dan berjaga.
Sehingga pergerakan semakin dibatasi, di satu sisi harus berjalan di sebelah kanan dengan hati-hati, agar tidak terhempas ke dalam jurang. Dan disatu sisi juga, Vingent harus menjaga langkah dan suaranya agar para Monele tidak ada yang menyadari kehadirannya, apalagi Vingent membawa Voltha.
Vingent mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah botol kecil berisikan obat pereda nyeri dengan dosis tinggi, diminumnya hingga tiga tegukan. Setelah meminumnya Vingent merasa bahwa semua rasa sakit yang dirasakannya tadi sudah tidak terasa apapun lagi. Dengan segera Vingent menggendong Voltha, dan sedikit berlari untuk keluar dari wilayah itu.
Pemakaian dari obat pereda nyeri terutama dengan dosis tinggi akan menimbulkan resiko yang tinggi pula. Efek positif dari meminum obat tersebut, selain menghilangkan rasa sakit, Vingent juga tidak merasakan rasa capek. Namun efek samping lainnya adalah, hilangnya kesadaran selama beberapa hari, mengalami migrain, masalah pencernaan hingga rasa pegal yang berlebih, hingga kerusakan organ dalam.
Vingent terus berjalan dan sedikit berlari selama puluhan menit. Berlari dan berlari, tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Dan sampailah mereka di gerbang kota atas. Vingent sangat puas juga merasa lega, tapi perjalanan tidak selesai sampai disitu saja. Setelah memasukinya, Vingent memelankan cara berjalannya. Sesambil mengatur nafas yang tersengal-sengal dan membenarkan posisi gendongannya yang hampir lepas.
Mereka melewati beberapa rumah-rumah penduduk yang sangat sepi dan minim penerangan. Suasana lebih sunyi dan lebih tenang daripada saat masih berada dalam jembatan yang ribut akan suara-suara aneh dan mengerikan. Angin masih belum menyerah untuk berhembus lebih kencang. Tak lama kemudian, akhirnya sampailah mereka di rumah Vingent.
TOK... TOK... TOK!!! (mengetuk pintu)
" AYAHH....!! Buka pintunya.... Ini aku Vingent. " (mengeraskan suara)
Hening.... Tak ada balasan
TOK... TOK!!
" AYAH!!!... AY.... " (terputus)
Tiba-tiba pintu terbuka, lelaki bertubuh kekar menatap wajah anaknya dengan muka sangar. Bagaikan singa yang sudah mengincar mangsanya.
" VINGENT!!! KEMANA SAJA KAU?!!. INI SUDAH JAM BERAPA?(Kesal) BUKANKAH KAU HARUS PULANG SEBELUM MATAHARI TERBENAM? DAN INI HAMPIR MAU TENGAH MALAM!! Dan juga, lihatlah wajahmu, Mengapa bisa lebam semua!! Apa kau berkelahi dengan.... " (tidak bisa terima)
" Kak.... (suara yang melemah). "
" Voltha? " (berjalan memaksa masuk)
" Eh...! Siapa itu Vingent? " (terkejut)
"Ayah, bantu aku!! (membaringkannya di ruang tamu) Temanku ini pingsan saat dalam perjalanan. "
" Huuh!! Dasar pengalih perhatian yang handal. (berjalan mendekati Vingent) Jangan disini!! Tidurkan dia di kamarmu dulu. (menunjuk) Ayah akan ambilkan obat. " (pergi)
__ADS_1
" Di Kamarku? Lalu aku tidur dimana ayah? "
" Sudahlah.... kau bisa tidur di ruang tengah, atau dimana saja, terserah, lagipula kau harus menghargai tamu terutama pasien. "
" Hmm... Baiklah (pasrah) "
Vingent menggendong nya kembali dan membawanya ke dalam kamarnya. Tak lama ayahnya datang dengan peralatan pengobatan dan sebaskom air hangat.
" Vingent! Beritahu dulu siapa dan dari mana asal temanmu ini, kau membawanya pulang, bagaimana bila orang tuanya mencarinya, Haahh!!. "
" Namanya Voltha. Dia dari utara Kota Bingla. Aku bertemu dengannya di pasar. (mengganti baju) Dia tersesat dipasar lalu secara tidak sengaja bertemu denganku yang lagi dipukuli, dan dia juga menolongku dari beberapa anak preman dipasar itu. " (yakin)
" Menolong m?, (sambil memeriksa Voltha) Ada apa denganmu sampai ia menolong mu? Kau seharusnya bisa membela dirimu sendiri.... Dimana harga dirimu saat ditolong oleh perempuan! " (meledek)
" Gimana yaa.... Yang ayah ajarkan padaku hanya teori, bukan bela diri.... (membalas). "
" Ohhh.... (mendekatkan mukanya ke Vingent) Hanya bisa membela diri dengan kata-kata rupanya yaa...! (menggosokkan tangannya diatas kepala Vingent, seperti ingin memukulnya) Sudaah!! Kompres sana luka lebam mu dengan air dingin, kalau perlu air es sekalian, biar lebih manjur efeknya. Tapi di bersihkan dulu lukanya. " (serius memeriksa Voltha)
" Berarti temanmu ini sangat hebat dalam berkelahi. Sampai-sampai anak laki-laki sepertimu saja tidak bisa mengatasinya sendiri..... Hahaha (tertawa puas) Laki-laki macam apa dirimu.. "
" Sudahlah ayah!! (kesal). Aku dan dia BERBEDA!! (mengalihkan topik) Tapi ayah dia juga bukan hanya hebat dalam berkelahi. Tapi dia juga cerdas. Dia saja bahkan bisa membeli barang-barang yang ayah butuhkan. Padahal kalau dipikir meskipun dia membawa catatan belanjaan, tetapi dia juga haru memilih mana yang bagus kan. Dan juga, (mengambil sesuatu dari plastik belanja) Lihat ini....!! (memperlihatkan uang) Uangnya hanya dipakai seperempat saja! . "
" Wahh... Dia punya kemampuan dan institusi yang tajam. Berarti dia mungkin memiliki latar belakang yang tidak bias.... "(terkejut)
Belum selesai bicara ayah Vingent terkejut ketika melihat betis Voltha yang sudah merah kebiruan, dan ditengahnya seperti ada jarum kecil yang menancap. Dia mengambilnya secara perlahan dengan pinset lalu memasukkannya kedalam kantung plastik khusus. Dan melihatnya secara detail dengan kaca pembesar.
(mengamati serius) " Hmmpp.... Bukankah ini kumis jarum dari Serigala Penembus Bayang?. "
" Itukan salah satu Monele liar yang ada di tebing!!. "
" Iyap benar. Berarti dia ini pingsan bukan karena kelelahan, tapi karena serangan dari serigala itu. "
" Tapi bagaimana bisa?, kami merasa tak diserang sedikitpun! " (yakin)
" Ketika Serigala Penembus Bayang, merasa bahwa ada pergerakan yang tidak beritme, dia akan menyebarkan kumisnya yang seperti jarum halus ini ke segala arah. Gunanya untuk mengamankan dirinya dari ancaman bahaya musuh. Dan dalam waktu kurang dari satu menit, jarum-jarum kumis itu akan kembali kepadanya. Nahh.... Dari situ, jika ada salah satu bagian jarumnya tidak kembali. Dia bisa memastikan bahwa ada musuh yang terperangkap dengan serangannya. " (mengoleskan obat salep di lukanya Voltha)
" Disaat itu, mereka pasti sempat menyusul mu saat kau bergerak agresif. Tetapi karena kau menggunakan larutan penghilang buatanmu itu, kau berhasil mengecoh mereka. Tapi tetap saja, Serigala Penembus Bayang adalah Monele liar yang sangat susah dijinakkan dan juga memiliki pendengaran sangat tajam. " (menjelaskan detail)
" Jadi lain kali, berhati-hatilah saat melewati jembatan itu malam-malam. Apa kau mendengarnya?! (Vingent tidak menjawab) Oyy!! Kau mengerti kan Vingent?! (berbalik)
Ayahnya tampak keheranan melihat wajah anaknya yang berseri-seri seakan memberi tahu 'penjelasanmu keren sekali ayah' Begitulah.... Vingent dengan spontan mengambil buku catatan, dan menulis semua yang dikatakan ayahnya barusan.
__ADS_1
* * * * * * *