Si Merah Part Liontin

Si Merah Part Liontin
Lawan Yang Merepotkan (2)


__ADS_3

Daya tarik gravitasi keluar melebihi dugaan semua orang, terlebih dua orang anak yang menjadi lawannya. Kedua anak itu juga terkejut akan besarnya kekuatan spirit gravitasi yang dikeluarkan. Spontan saja, tubuh Eter tertarik kelantai. Kekuatan yang sangat besar, sampai-sampai Eter tak bisa menggerakkan satu pun anggota badannya.


Eter berusaha melihat keseliling, sekiranya ada satu saja kesempatan atau celah untuknya menyerang. Dia melihat reaksi dari anak yang menggunakan gravitasi itu, terlihat kelelahan dan kesulitan. Eter berpikir bahwa dia sebenarnya tidak begitu mampu menggunakan serangan ini. Dia hanya bermodal nekat saja, agar bisa segera memukul keluar anak yang dirasanya berbakat.


Eter* [Apa-apaan reaksi wajahnya itu, dia jelas sekali tak bisa menggunakan kekutannya, kenapa dia nekat mengeluarkannya?! Apa dia tidak memikirkan jangka panjang bila terjadi seauatu yang tak diinginkan?! Misalnya.... (tersenyum pasrah) Seperti aku ini!! Yang sudah menjadi korbannyaa....!!]


Tak bisa bergerak sama sekali, tidak ada peluang, sekalipun hanya untuk menggunakan konsentrasi ganda, itu juga tidak akan berhasil. Bagaimana Eter bisa konsentrasi disaat-saat seperti ini, tubuhnya sudah dijatuhkan telak, hanya tinggal menunggu serangan selanjutnya saja maka, tumbanglah Eter dengan kekalahannya.


Eter* [Apa ini akhir pertandinganku?, keluar sebagai yang pertama kalah?, apa-apaan aku ini!! Apa aku mau menyia-yiakan hasil latihan kerasku bersama OronDa?!! Ayolah tuhan....! Tolong beri aku satu saja kesempa.... (terputus saat dia melihat anak pengendali api sudah ingin mengeluarkan tinju berapinya)]


Entah darimana datangnya, pikiran Eter langsung mengarah ke keringat yang menetes didagunya. Keringat yang membasahi mukanya, sepertinya bisa digunakan untuk memberikan peluang serangan balasan. Seperti botol dalam air saat dia berlatih bersama OronDa, hanya perlu menggunakan pikiran, dan biarkan konsentrasi penuh yang memegang kendali terhadap menyerangmu.


Ibarat ruang waktu yang berhenti sejenak, beberapa detik saja sudah cukup untuk Eter mengeluarkan serangan balasan itu. Pandangan awalnya yang terlihat pasrah mengarah keanak yang menyerangnya, sekarang seketika terpejam saat tiba-tiba secercah cahaya itu datang.


Eter* [Waktuku tak banyak lagi, hanya tinggal beberapa detik saja untukku melawannya. Tak masalah itu lebih baik dariku daripada hanya diam dan pasrah. Aku cukup perlu melakukan seperti apa yang kulakukan saat latihan. Mulailah dengan pejaman matamu.... Lalu bungkam mereka dengan seranganmu]

__ADS_1


Eter sudah mengetahui serangan apa yang sangat ampuh untuk membatalkan semua serangan ini bersamaan. Masih sama seperti serangan sebelumnya. Hanya saja, perlu yang lebih besar lagi, agar bisa membuat semua penyerang berhenti mengeluarkan kemampuannya.


Konsentrasi dimulai, otaknya sudah menggambarkan bagaimana kekuatan yang akan dikeluarkannya. Lalu saat mata dibuka, sebuah pusaran air yang sangat besar terbentuk dengan begitu cepatnya. Naik dan terus naik hingga lebih tampak seperti tornado air. Terus berputar naik, hingga semua serangan akan terhisap kedalamnya.


Dan saat semua serangan terhisap, maka serangan tadi akan berputar hingga menuju ke bawah, dan nantinya serangan itu akan menghilang. Begitu pula dengan nasib jarum magnet dari si pengendali cahaya, semunya hanya akan hancur saat pusaran itu melahap apa saja disekitarnya. Terlebih portal gravitasi yng melingkar dibawah kakinya kini sudah hancur dan lenyap.


Karna semua jarum telah lepas dan tidak ada lagi gravitasi yang akan menghambat tubuhnya, Eter kembali mampu berdiri lagi. Tetapi dari luar ketiga anak itu sudah kewalahan, hanya bisa melihat sepasang bola mata yang menyala kebiruan dibalik pusaran hebat yang semakin lama semakin membesar dan daya serangnya yang juga tinggi. Arus itu terus berputar dan naik bak benteng yang melindunginya dari segala penjuru.


Semakin besar pusaran airnya semakin besar pula daya tariknya. Karena Eter tak bisa berbuat lebih jauh lagi, dan tidak ingin membuat lawannya mengalami luka serius saat terhisap kedalam arus buatannya, jalan satu-satunya tidak lain, dia hanya bisa meledakkannya. Dia belum cukup kuat untuk membatalkan serangannya secara spontan.


Eter* [Aku tak bisa memejamkan mataku....!! Bagaimana ini!! Sedangkan tubuhku terus mengambang naik, dan pusaran ini semakin lama semakin membesar....!! Aku takut bahwa anak yang dibawah akan ikut kedalam arusku dan mereka akan bernasib sama seperti serangan mereka....!! Hancur dan menghilang hingga tak tersisa apapun.... Cepat lakukan sesuatu Eter!!]


Eter* [Tolong siapa saja....!! Tolong hentikan aku....!! Aku sudah tak bisa memejamkan matakuu....!! Tolong.... Apapun itu.... Hentikan aku....!!]


[* Tenangkan dan rilekskan dirimu!! Kau tidak hanya bisa mengandalkan konsentrasimu, tetapi itu semua juga membutuhkan ketenangan batinmu!! Kalau kau tidak bisa menenangkan dirimu.... Kau juga tak akan bisa mengendalikan kekuatanmu.!! Pahami itu Eter!!! *]

__ADS_1


Eter* [Kenapa tiba-tiba ada suara OronDa.... Apa dia ingin membantuku....? (tidak Eter sadari, setelah mendengar suara OronDa dia secara tidak sengaja bisa menenangkan dirinya) Aku.... Ke... Kenapa.... Kenapa kepalaku pusing.... Aku....]


Mulai dari detik itu pusaran hebat air Eter berhasil melemah, mengecil dan semakin mengecil, hingga lenyap, hilang, seberdirinya Eter kembali diatas lantai. Eter terkejut saat melihat didepannya sudah tidak ada siapapun. Saat dia benar-benar memandang sekelilingnya, Eter terheran dengan ketiga penyerangnya yang terkapar keluar arena.


Eter* [Tung.... Tunggu.... Kenapa mereka bisa keluar arena....? Apa pusaran air itu justru menolak mereka dan menghempas mereka keluar kah? Apa yang terjadi sih? Aku jadi bingung! Yang mana yang benar?! (kakinya melemas) Kepalaku juga jadi pusing....!]


Badannya yang tak kuat lagi berdiri karena sudah mengeluarkan energi yang cukup banyak hampir membuatnya ikut tersungkur, tetapi dia berusaha bertahan sebentar lagi. Sampai sang wasit memutuskan siapa yang menjadi pemenang, dan semua orang juga tahu kalau Eter lah yang menjadi pemenang di seleksi nomor dua belas.


Hingga sang wasit mengangkat tangannya, dia yang tak kuat lagi menahan tubuhnya, sudah tak peduli lagi dengan sekitarnya, tak peduli lagi dengan semua orang, apalagi pertandingannya. Pandangannya sudah hitam, badannya akan segera ambruk. Sang wasit yang menyadari kalau Eter akan jatuh sudah merespon dengan sigap untuk menangkap Eter. Tetapi sebelum Eter jatuh dia sudah berteleportasi ketempat duduknya semua.


Syler yang sudah bersiaga langsung menangkap tubuhnya dan mendudukinya, lalu menyandarkan kepalanya dibahu Dezyl. Syler juga memeriksa kondisi detak jantungnya dengan menempelkan teliganya pada dada Eter. Tetapi detak jantungnya masih berdegup kencang, dengan keringat dingin yang membasahi kulitnya.


Karena khawatir terhadap kondisinya, Syler menyuruh Faren dan Dezyl, untuk membawanya ke ruang kesehatan akademi itu. Setidaknya biar mereka bisa memastikan tak ada sesuatu yang membahayakannya. Sementara Syler memintakan izin kepada panitia untuk ketiga temannya agar bisa keluar gedung.


Lalu Faren menggendong Eter dipunggungnya, sementara dezyl membawa barang bawaan, dan menjaga Eter dari belakang. Begitu sampai, seorang petugas kesehatan lalu membantunya sampai Eter terbaring di ranjang. Petugas perempuan itu segera mengecek keadaannya dan menulis diagnosa sementara dibuku laporan kesehatan sekolah.

__ADS_1


* * * * * *


__ADS_2