
Lun xiang benar-benar marah. Beraninya ada seseorang yang ingin membunuhnya.
"Sepertinya pelayan itu memang sengaja ingin membunuh mu,"
"Ya, kau benar. Tapi apa alasannya dia ingin membunuh ku?"
"Pasti ada orang yang menyuruhnya dan menginginkan mu mati,"
Lun xiang diam, berpikir. Siapa yang menginginkan dirinya mati. Tiba-tiba terbesit bayangan wajah-wajah para selir yang tidak menyukainya.
"Apa ini ulah dari para selir itu? Karena hanya mereka sepertinya yang tidak menyukai ku,"
"Hm, bisa jadi,".
Lun xiang menatap Bibi Qin, dan menepuk bahunya. Meminta maaf karena marah di depan seorang wanita tua yang selalu menemani dan merawatnya.
Lun xiang akan mencari tahu sendiri siapa yang mencoba ingin membunuhnya. Jika sampai dia menemukannya, Lun xiang akan membuat pelajaran pada orang tersebut.
Lun xiang terpaksa harus mencari sendiri siapa pelaku tersebut, karena dia tidak memiliki bawahan yang di perintah untuk menyelidiki.
Lun xiang keluar dari istananya dan berjalan hendak menemui ibu suri, memeriksa keadaan wanita itu yang pastinya sudah lebih baik.
Tanpa di temani oleh Bibi Qin, Lun xiang berjalan santai. Namun saat melewati sebuah taman bersantai, dia mendengar suara tawa beberapa orang. Karena rasa penasarannya, Lun xiang melihat siapa pemilik suara itu dan ternyata ke empat selir tersebut.
Lun xiang awalnya ingin mengabaikan, namun matanya menangkap wajah seseorang yang di carinya. Pelayan sialan yang ingin membunuh nya.
"Pelayan itu? Kenapa Pelayan itu ada disana? Apa hubungan nya dengan mereka?"
Mata Lun xiang tak lepas dari pelayan dan para selir itu. Ingin tahu apa hubungannya dengan mereka berempat. Namun tiba-tiba dia di buat terkejut oleh obrolan mereka yang membahas tentangnya. Tentang kematiannya yang tidak akan lama lagi.
"Bagaimana? Apa rencananya berhasil?" Tanya Mey Ling.
"Aku yakin berhasil. Dia tidak mungkin mengetahui jika di dalam makanan itu ada racun. Dan pastinya tidak lama lagi, pelayan setianya itu pasti akan berteriak meminta pertolongan karena nyonyanya tidak bernyawa lagi," jawan Xiao xiao.
"Hahahaha….aku tidak sabar mendengar berita itu."
"Aku pun sama. Aku tidak sabar melihat wajah sombongnya yang pucat dan dingin itu."
__ADS_1
Mereka tertawa bersama. Tidak sabar ingin secepatnya mendengar kematian Lun xiang. Lun xiang yang berdiri sedikit jauh darinya mengupayakan tangan dengan kuat. Beraninya mereka mencari masalah dengannya dan mencoba ingin membunuhnya.
"Sialan! Jadi ini ulah mereka?" Gumamnya dengan pandangan tak lepas dari para selir yang nampak bahagia. "Heh, karena kalian ingin mencari masalah dengan ku, maka jangan salahkan aku yang bertindak kejam pada kalian,"
Lun xiang tersenyum menyeringai. Dan berjalan menghampiri mereka. Mereka tidak menyadari kehadiran Lun xiang dan masih asyik membahas kematian Lun xiang.
Plok….Plok….Plok….
"Bagus, bagus, bagus. Sungguh sesuatu yang tak terduga. Aku tidak menyangka akan mendengar hal ini."
Suara Lun xiang langsung mengalihkan perhatian mereka. Mereka sungguh terkejut melihat kehadiran Lun xiang. Mereka berpikir, apakah ini berhalusinasi atau tidak, nyata atau tidak.
"Apa kau melihat Selir Lun xiang?" Tanya Shi Ling sekia mengangguk. "Apa ini arwahnya?" Sambungnya lagi.
"Aku tidak tahu," jawab Mey Ling masih menatap arah Lun xiang yang berjalan ke arah mereka.
Mereka berpikir Lun xiang telah mati dan yang ada di hadapannya adalah arwah Lun xiang yang gentayangan.
Namun tiba-tiba mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat, pelayan Xiao xiao tiba-tiba di tampar dan di tendang oleh Lun xiang membuat pelayan itu terpental dan tubuhnya menabrak tiang Gazebo.
Bug….
Lun xiang tidak akan membiarkan pelayan itu hidup, dia akan membuatnya mati dan mengaku siapa yang menyuruh mereka. Benarkah keempat selir itu atau hanya sebagian.
Lun xiang menghampiri tubuh itu dan menarik rambutnya dengan kasar.
"Le….lepaskan sa…ya selir," pelayan itu meronta mencoba melepas tangan Lun xiang yang menjambak rambutnya.
"Melepaskan mu? Kau pikir kau siapa memberi perintah pada ku untuk melepaskan ku setelah apa yang kau lakukan pada ku." Marah Lun xiang dengan wajah dingin dan mengerikan. Wajahnya begitu gelap ingin sekali merobek dan mencincang tubuh pelayan sialan itu.
"Am…puni saya sel…aaaaaa……." teriak pelayan itu saat Lun xiang semakin menjambak rambut dan menyeretnya dengan kasar.
Bug….
Lun xiang kembali menendang, membuat tubuh itu terpental dan kembali memuntahkan darah.
Uhuk….uhuk….
__ADS_1
Lun xiang yang sudah marah, mengeluarkan pisau kecilnya, mengusapnya dengan senyuman Devil yang mengerikan. Seolah dirinya terlihat seperti psikopat.
Lun xiang kembali menendang tubuh yang terkurap itu hingga membuatnya terlentang dan setelah itu menarik rambut pelayan tersebut, membuat wajah pelayan itu mendongak menatapnya.
"Katakan, siapa yang mengirim mu untuk membunuh ku?"
Lun xiang bertanya dengan nada mengerikan, membuat pelayan yang melihat menelan ludah dengan kasar apalagi saat melihat tatapan tajam mengerikan itu.
"Cepat katakan!" Bentak Lun xiang tak main-main.
"Am….am…ampuni saya selir. Saya tidak tahu a…aapa yang anda ma..ma…maksud," jawabnya masih berilah.
"Oh, kau masih saya tidak mau mengaku," Lun xiang semakin terlihat mengerikan. Dan setelah itu tiba-tiba…..
Craaas…..
Pipi itu di robek dengan kasar oleh pisau Lun xiang membuat pelayan dan keempat selir menjerit keras.
Aaaaaa…….
Darah langsung menetes, rasa perih di rasakan oleh pelayan tersebut.
"Cepat katakan! Atau ku cincang tubuh mu!" Marahnya dengan suara yang begitu keras dan mata menatap tajam.
Lun xiang bukan tipe wanita sabar. Jika ada yang mengusiknya dia tidak akan segan memberi pelajaran pada orang tersebut.
Pelayan itu menangis, air matanya menetes. Dia melirik ke arah ke empat selir. Namun saat mata itu menatap ke empat selir itu, para selir memberikan tatapan membunuh. Seolah berkata. Jika kau mengaku siapa yang menyuruh mu, maka keluarga mu tidak akan segan untuk kami musnahkan.
Lun xiang melirik arah tatapan pelayan itu, benar-benar para selir sialan. Namun Lun xiang tidak menghentikan aksinya. Dia ingin para selir melihat betapa kejamnya dia jika dirinya di ganggu.
Lun xiang menyayat-nyayat wajah itu dan juga mencongkel matanya. Tak lupa beberapa kali dia menghunuskan pisau kecilnya di tubuh pelayan itu, membuat pelayan itu mati dan para selir berkeringat dingin melihat betapa kejam dan mengerikannya Lun xiang.
Darah berlumuran di tangan Lun xiang, tapi Lun xiang tidak peduli seolah itu hal yang biasa. Dia melepaskan pelayan itu, dan membiarkan tergeletak begitu saja dan setelah itu menatap beberapa selir yang sudah berkeringat dingin, apalagi melihat tatapan tak biasa dari Lun xiang, seolah Lun xiang adalah iblis yang menjelma menjadi manusia.
"Jangan mendekat!" Seru mereka bersama mundur saat melihat Lun xiang berjalan ke arah mereka.
.
__ADS_1
.
.