SISTEM. Selir Buangan

SISTEM. Selir Buangan
Biawak Kaca


__ADS_3

Mey Ling masih tetap ingin mendekati kaisar, berharap kaisar akan jatuh dalam pelukannya. Namun kaisar tidak membiarkan sedikitpun tubuhnya di sentuh oleh selir kedua. Kaisar dengan kasar mengibaskan tangannya, mengeluarkan kekuatannya ke arah Mey Lin. Geram karena selirnya itu mencoba membuat masalah dengannya.


Aaaa......


Bugh.......


Tubuh itu terpental menabrak dinding dengan keras, membuat Mey Ling memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.


Uhuk….uhuk….


"Yang Mulia apa yang anda lakukan,?" Mey Ling benar-benar tidak percaya bahwa kaisar akan berlaku kasar padanya, bahkan tidak segan membuatnya terluka.


Kaisar tidak sedikitpun menjawab. Tatapannya begitu tajam, sorot matanya menandakan bahwa dia benar-benar sangat marah. 


Wuus…


Greep…


Secepat kilat kaisar sudah berada di depan Mey Ling,  mencekik lehernya dan mengangkat tubuh ringan itu, membuat Mey Ling sesak dan sulit bernafas.


Mey Ling merasakan sakit di lehernya. Dia mencoba melepas tangan itu dari lehernya, memukul lengan Kaisar berharap kaisar sadar dan tidak menyakitinya. .


"Ya…ng Mu…li…a," Ucapnya dengan terbata-bata


"Beraninya kau pada ku! Jangan harap aku akan menyentuh wanita menjijikkan seperti mu."  Nada bicara dan tatapan itu begitu dingin dan mengerikan. Seolah mampu menguliti tubuh Mey Ling


Selir kedua sangat ketakutan melihat tatapan mengerikan itu. Saat ini dia sangat menyesal telah melupakan betapa mengerikan dan menyeram kaisar. Keringat perlahan mulai menetes dari keningnya, takut saat ini akan menjadi hari kematiannya.


Bugh….


Brak…..


Tubuh Mey Ling terlempar dengan kuat menabrak meja. Tidak peduli dengan rasa sakit yang di rasakan selirnya. Saat ini Mey Ling benar-benar sangat lancang dan mencoba membangunkan sisi kejamnya. Kaisar mengangkat tangannya ke arah Mey Ling yang tergeletak di lantai. Tubuh yang masih terkulai itu perlahan terangkat oleh kekuatannya. Kaisar menggerakkan jarinya, mencengkram, menekan kekuatannya membuat Mey Ling merasakan berat dan sakit yang luar biasa.


"Aaaa…pu…ni….saya Ya…ng Muli…a…," mohon Mey Ling meminta belas kasih.


Di luar, pelayan Mey Ling yang masih menunggu nyonyanya mendengar suara keributan dari arah dalam. Gelisah itulah yang di rasakan, takut terjadi sesuatu dengan nyonyanya. Mondar-mandir kesana kemari, bingung apa yang harus di lalukannya.


"Ibu suri! Ya, ibu suri. Aku harus meminta bantuan kepada ibu suri.


Pelayan itu langsung pergi menuju kediaman ibu suri, meminta bantuan untuk nyonyanya. Setelah sampai dan mengatakan niatnya datang menemui, Ibu suri dengan cepat pergi ke tempat dimana kediaman Kaisar berada.


"Buka pintunya," perintah ibu suri kepada dua penjaga yang menjaga pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


Saat pintu itu di buka, ibu suri dan pelayan tersebut terkejut saat melihat Selir Mey Ling dalam keadaan mengenaskan.


"Apa yang kamu lakukan putra ku?" Seru ibu suri dengan panik dan menghampiri. 


Bagaimana ibu suri tidak terkejut. Melihat wajah dan tubuh Selir Mey Ling yang pucat dan lemah membuatnya takut bila terjadi seuatu dengan menantunya. Apalagi saat melihat wajah dan tubuh terdapat beberapa memar.


"Lepaskan selir kedua," pinta Ibu suri melihat Kaisar masih mencoba memberi pelajaran pada Mey Ling. Kaisar yang mendengar suara ibu suri langsung menghentikan apa yang di lakukannya. 


Wajah Kaisar pucat. Tubuhnya berkeringat dingin. Apa yang di alami Kaisar bukan karena takut akan kehadiran Ibu suri melainkan karena menahan sesuatu yang terjadi di tubuhnya. Tanpa berbicara kepada ibu suri Kaisar menghilang dari sana, pergi meninggalkan mereka semua.


Melihat putranya pergi, ibu suri hanya bisa menghela nafas dan memberi perintah pelayan untuk membantu Mey Ling kembali kekediamannya.


"Entah apa terjadi dengan kalian, lebih baik untuk saat ini kamu beristirahat. Memulihkan tubuh mu yang terluka,"  


Mey Ling mengangguk. Tubuhnya memang terasa remuk akibat Kaisar begitu murka padanya, lebih baik kembali dan menyembuhkan luka di tubuhnya.


"Bawa aku kembali,"


"Baik, nyonya,"


Pelayan tersebut membawa Mey Ling ke kediamannya. Sepeninggal Mey Ling dan pelayan itu, wajah yang terlihat panik kini dalam sekejap berubah menjadi dingin, tatapannya sulit di artikan. Menunjukkan sifat aslinya.


"Keluar,"  Perintahnya pada seseorang yang bersembunyi di balik sudut ruangan.


Ibu suri duduk di kursi, menyilangkan kakinya dan menyangga kepalanya. Siap memberikan pertanyaan kepada bawahan putranya itu.


"Dimana dia?"


"Yang Mulia sepertinya pergi ke kolam spiritual, Yang Mulia Ibu,"


"Katakan sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Feng'er begitu murka dengan Selir kedua?"


Yan Chen langsung menceritakan semua apa yang terjadi tanpa terlewat sedikitpun. Ibu suri yang mendengar kini tahu akar permasalahnya. Jadi selir kedua mencoba merayu putranya dan putranya menolak dan berakhir kejadian seperti tadi.


"Sepertinya dia sangat tidak ingin di sentuh oleh siapapun. Hah, kalau seperti ini kapan aku akan memiliki cucu,"


"Anda tidak perlu khawatir ibu, kaisar akan tetap memberikan anda cucu. Hanya saja tidak dengan para selir itu,"


"Maksud mu?"


"Kaisar hanya ingin di sentuh oleh selir pertama ibu."


"Selir pertama? Xiang'er maksud mu? Apa kau tahu sesuatu?"

__ADS_1


Yan Chen mengangguk, dia menceritakan semuanya termasuk Kaisar sudah menyentuh Selir pertama dan hanya menginginkan selir pertama yang menyentuh tubuhnya. Ibu suri yang mendengar terkejut, ternyata putranya sudah melakukan itu. Hohoho....bukankah itu berarti dia akan menjadi nenek dan memiliki cucu.


Semangat 99 kini membara di tubuhnya. memiliki niat akan menjadikan Lun xiang sebagai permaisuri untuk putranya.


.


.


Di hutan Akademi Lan Jian,  Lun xiang merebahkan tubuhnya di atas batu besar, menatap langit yang terik. Mengingat kehidupan sebelumnya.


"Hah, sudah cukup lama aku berada di dunia ini. Ku harap mereka tidak ada yang menangis di depan jasad ku," gumamnya mengingat teman-temannya di dunia modern. Tersenyum, yakin bahwa mereka tidak akan menangis dan mungkin saja mereka malah senang karena kepergiannya. "Baiklah, mulai saat ini jadilah Lun xiang yang kuat. Buktikan bahwa kau adalah wanita kuat dan tangguh. Jadilah diri mu sendiri dan jangan pernah menyerah." ucapnya pada diri sendiri.


"Waktunya berburu,"


Lun xiang pergi, melompat dari pohon satu ke pohon lain mencari buruannya, Hewan Spiritual. Tak lama akhirnya dirinya menemukan seekor hewan spiritual. Hewan itu adalah Biawak kaca. Biawak itu memiliki kekuatan Tingkat Normal dan mampu membelah dirinya menjadi beberapa. Membuat lawannya akan kesusahan menentukan siapa yang asli dan hanya bayangan.


"Target di temukan,"


Lun xiang melompat turun berdiri di depan Biawak Kaca dengan tangan memegang senjatanya. Siap bertarung dan mengalahkan hewan spiritual tersebut.


"Kau akan menjadi lawan ku," tunjuknya pada Biawak Kaca membuat Biawak tersebut meraung kesal. Beraninya ada manusia yang mencari masalah dengan nya.


Biawak itu berlari dan menyerang Lun xiang, mengeluarkan kekuatannya, serpihan kekuatan transparan membuat serangan itu tidak terlihat melesat ke arahnya.


"Hati-hati," Pria tua memperingati Lun xiang untuk menghindari serangan tersebut. "Serangannya tidak terlihat oleh mata langsung. Kau harus bisa merasakan dan mendengarnya agar kau bisa mengetahui arah dari serangan tersebut."


Lun xiang mengangguk, memejamkan mata dan memfokuskan pendengaran untuk mengetahui setiap serangan dari Biawak Kaca.


"Ketemu," Lun xiang seakan merasakan gerakan arah setiap serangan yang melaju ke arahnya.


Dengan mata terpejam dan pendengaran setajam angin Lun xiang melompat menghindari setiap serangan dan juga menangkisnya.


Pertarungan mereka sangat sengit. Lun xiang dan Biawak kaca saling melepas kekuatan, membuat ledakan karena kekuatan saling bertabrakan.


.


.


.


Bersambung 


 

__ADS_1


__ADS_2