
"Hm, sepertinya ini sedikit menarik. Mungkinkah kemunculan Dewa Shura ada sangkut pautnya dengan pria itu."
"Bisa jadi Yang Mulia."
"Kirim dan temukan secepatnyaTitisan Dewa Shura. Aku tidak ingin kita terlambat."
"Baik Yang Mulia," jawabnya dan menghilang dari hadapan Dewa Iblis.
.
.
Kaisar Yu Feng yang kini kembali ke kerajaannya, memikirkan tentang makhluk-makhluk yang telah di binasakannya.
Tadi malam saat mereka menyatu, Kaisar mencoba masuk dalam lautan spiritualnya selirnya. Dia melihat sesuatu yang masih tertidur. Tapi dilihatnya tidak lama lagi akan terbangun dan di yakini itu benar-benar Aura dari Dewa shura. Mungkin saja selirnya adalah titisan dari Dewa Shura. Jika itu terjadi dirinya harus bisa menjaga selirnya dengan baik.
"Aku tidak bisa mengabaikannya. Jika sampai mereka tahu, aku yakin mereka akan menangkapnya, menjadikannya senjata untuk menghancurkan dunia."
Saat berpikir tentang masalah selir pertamanya, Yan Chen datang di hadapannya, melaporkan sesuatu yang di dapat dari bawahnya.
"Ada apa?"
"Maaf mengganggu waktu anda Yang Mulia."
"Katakan,"
"Ini tentang selir kedua dan selir lainnya Yang Mulia."
"Ada apa dengan mereka."
"Saya mendapatkan informasi dari anak buah saya, bahwa para selir sebenarnya masih merencanakan untuk membunuh selir pertama. Selir kedua selama ini masih mencoba mencari keberadaan selir pertama dengan menyewa beberapa pembunuh bayaran. Dan satu lagi, keluarga selir kedua juga ikut andil dalam hal ini."
"Hm…sepertinya mereka tidak takut sedikitpun dengan ku, sampai ingin melenyapkan Xiang'er."
"Lalu apa yang bisa saya lakukan Yang Mulia? Saya bisa menghilangkan mereka semua, membunuh semuanya yang ingin membunuh selir pertama."
"Tidak perlu, biarkan dia sendiri nanti yang melakukannya jika dia sudah kembali ke istana. Kamu hanya perlu mengawasi mereka saja. Jangan biarkan mereka menyentuh sedikitpun Xiang'er."
"Baik Yang Mulia."
.
.
__ADS_1
.
3 bulan kemudian, kini waktu dimana portal menuju reruntuhan kuno di buka. Lun xiang pun kini sudah berada di Tingkat Langit Yuan dan siap berpetualang di reruntuhan peninggalan bangsa iblis.
Konon katanya, banyak barang berharga dan senjata tingkat tinggi di tempat itu. Tapi tidak hanya itu saja, di reruntuhan itu banyak bahaya yang akan mengincar mereka. Mungkin saja sisa-sisa bangsa iblis atau bangsa lainnya.
Semua murid berkumpul di depan sebuah pintu portal yang akan mengirim mereka semua dalam sekejap. Saat disana nanti, tidak hanya dari Akademi Lan Jian saja yang hadir, akan ada banyak kelompok dari penjuru tempat yang ikut dalam perburuan di reruntuhan kuno. Maka dari itu mereka harus bisa menjaga diri masing-masing di tempat yang berbahaya itu, tempat yang bisa menjadikan kawan menjadi musuh.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Bai Qianyu yang juga ikut dalam menjelajahi reruntuhan kuno itu.
"Tentu saja. Aku tidak sabar untuk melihat seperti apa reruntuhan kuno peninggalan bangsa iblis dan lainnya."
"Ya, aku pun sama."
Dari arah lain, beberapa pasang mata menatap ke arah mereka berdua. Lun xiang yang merasakan seperti ada yang mengawasinya, melihat sekeliling. Tapi tidak menemukan keanehan.
"Mungkin hanya perasaan ku saja."
"Tidak. Memang ada yang memiliki niat membunuh pada mu," jawab pria tua.
"Benarkah?"
"Kau akan tahu setelah kau sampai di sana. Yakinlah pasti orang-orang itu akan menunjukan diri mereka sendiri."
Dua orang tetua berdiri di depan portal tersebut, memberikan arahan kepada setiap murid yang ikut dalam penjelajahan tersebut. Memberikan pesan bahwa sesampainya disana, mungkin saja mereka akan langsung menghadapi bahaya. Jadi para tetua berpesan, jagalah nyawa mereka masing-masing dan sebisa mungkin kembali dalam keadaan selamat.
Semua murid masuk dalam portal tersebut, dan dalam sekejap mereka sampai di sebuah tempat yang asing. Tempat yang begitu suram dan berkabut.
Saat mereka sampai di tempat reruntuhan kuno, mereka terpisah tidak datang bersama seperti saat masuk dalam portal. Bahkan Lun xiang dan Bai Qianyu juga terpisah saat sampai.
Lun xiang melihat sekeliling. "Kabut beracun." Lun xiang menelan pil menawar racun agar tubuhnya tidak terkena racun saat menghirupnya.
Lun xiang melangkah menyusuri tempat itu. Tidak ada satupun makhluk hidup yang muncul disana. Sangat Sunyi.
"Apa kau tahu tempat apa ini?"
"Sepertinya ini adalah hutan kabut. Hutan yang terdapat racun dan juga banyak jenis monster,"
"Baiklah kalau begitu, perburuan kita Mulia."
Lun xiang melompat dari pohon satu ke pohon lain. Sampai akhirnya mereka mendapatkan rintangan pertamanya, sebuah akar tiba-tiba melilit kakinya, membuatnya tertahan. Lun xiang yang melihat mengeluarkan pisau pendeknya, memotong akar tersebut dari kakinya dan berhenti di sebuah dahan besar menatap arah akar yang menjerat kakinya.
Keningnya berkerut saat tiba-tiba akar lain dan besar-besar muncul menyerangnya. Lun xiang mengeluarkan pedang Naga Api dan menebaskan nya. Mengeluarkan kekuatan api dan memotong serta membakar akar-akar tersebut.
__ADS_1
Tapi anehnya akar itu dengan cepat tumbuh dan kembali menyerangnya. Sejauh Lun xiang pergi, akar itu tetap bisa mengejarnya. Dan mau tidak mau Lun xiang harus mengalahkan nya.
Lun xiang memegang pedangnya dan siap melawan akar menjalar yang menyusahkan itu. Lun xiang melompat menebas dan memotong akar menjalar. Namun setiap kali di potong, akar itu kembali tumbuh dan menyerangnya.
Craas…..
Craas…..
Boom…..
Duuar….
"Sial! Sebenarnya tumbuhan macam apa ini, kenapa tidak ada habisnya."
"Kau harus mencari titik dimana akar itu tumbuh dan menghancurkannya." Ucap Pria tua
Lun xiang melompat, meluncur di akar menjalar yang besar, menghindari setiap serangan akar lainnya yang mengejarnya. Matanya dengan tajam mencari titik tersebut, dimana akar itu tumbuh sambil sesekali menebas dan membakar akar menjalar tersebut. Dan akhirnya dia berhasil menemukannya.
"Ketemu. Berikan aku bensin. Aku akan membakar akar itu hingga tuntas."
"Permintaan di terima." Jawab Sistem dan memberikan bensin dalam ukuran banyak.
Lun xiang yang sudah mendapatkannya apa yang di minta langsung menyiramkan bensin dan setelah itu mengeluarkan kekuatan api dari pedang nya, mengarahkan ke arah bensin yang telah di siramkan agar api langsung menyala.
Wuuus….
Dan benar saja, api langsung menyulut besar. Membakar tumbuhan tersebut. Akar-akar besar yang semula mengejar perlahan berhenti dan kembali mencoba memadamkan api yang membakarnya. Namun sia-sia. Api itu tidaklah padam dan malah semakin besar membakar semuanya.
Lun xiang berdiri menatap akar-akar besar yang terbakar. Sepertinya berhasil. Dan cukup lama menunggu akhirnya api itu padam juga dan akar tersebut hangus tanpa sisa.
Lun xiang puas. Akhirnya dia berhasil menyingkirkan rintangan itu. Namun saat hendak pergi sistem memahannya, memintanya untuk turun dan melihat sesuatu yang ada di bawah.
Dan ternyata disana ada Buah Akar Setan yang sudah berusia ratusan tahun. Lun xiang mengambilnya dan setelah itu pergi dari tempat tersebut.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1