
"Jangan mendekat!" Seru mereka bersama mundur saat melihat Lun xiang berjalan ke arah mereka.
Lun xiang tidak peduli, dia terus maju mendekati mereka dengan membawa pisau pendeknya.
Keempat selir yang melihat menelan ludah, berharap Lun xiang tidak melakukan hal nekat pada mereka.
"Berhenti! Jangan mendekat!" Seru Mey Ling yang ketakutan.
Lun xiang malah menyeringai dan saat dekat dia menarik tangan selir Luo Qingyi.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku,"
Selir Luo Qingyi mencoba menepis dan melepas genggaman tangan Lun xiang. Namun bukannya melepas, Lun xiang malah menampar wajah itu dengan keras, membuat selir itu memekik kesakitan.
Plak….
"Beraninya kau!" Marah Luo Qingyi menatap tajam Lun xiang.
Lun xiang tidak peduli dengan tatapan itu. Dia menarik dan mendorong tubuh itu sampai tersungkur.
Lun xiang mencengkram rahang itu dengan kuat, menekan jarinya membuat Luo Qingyi meringis dan kesakitan.
"A…apa yang kau lakukan? Lepaskan aku sialan!"
Plak…
Bukannya menjawab, Lun xiang kembali menampar wajah itu dengan kuat.
"Katakan pada ku, siapa di antara kalian yang memiliki rencana itu?"
Xiao xiao yang mendengar mundur satu langkah. Dia tidak ingin Lun xiang mengetahui dan membunuhnya.
"Semoga dia tidak mengatakannya," gumamnya dalam hati, dan bersyukur kekhawatirannya tidak terjadi karena selir Luo Qingyi tidak menjawab pertanyaan itu.
Luo Qingyi yakin Lun xiang tidak hanya melakukan itu padanya, pasti dia juga akan melakukan hal itu pada selir lainnya. Maka dari itu dua diam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Plak….
Tamparan mendarat tepat di wajah Luo Qingyi karena Luo Qingyi tidak lakas menjawab pertanyaannya, membuatnya benar-benar marah.
"Kau ingin menpermainkan ku ternyata!" Lun xiang mencekik leher Luo Qingyi dan menarik tubuh itu dan setelah itu melempar Luo Qingyi hingga membuatnya terpental.
Bugh….
Argh…..
Teriaknya kesakitan.
Lun xiang menghampiri dan menendang lagi tubuh itu, membuat Luo Qingyi berguling dengan tubuh penuh memar.
__ADS_1
"Hentikan! Apa yang kau lakukan?" Teriak para selir meminta Lun xiang menghentikan aksinya pada Luo Qingyi. Namun Lun xiang tidak peduli, dia menarik rahang itu dan membuka mulutnya, memberikan sesuatu dalam mulut Luo Qingyi.
Glek….Glek….
Para selir yang melihat berlari untuk menghentikan Lun xiang, takut apa yang di berikan Lun xiang sesuatu yang dapat membahayakan selir itu.
Namun saat mereka mendekat, bukannya mereka bisa menolong namun mereka malah di hajar, di tampar dan di pukul serta di tendang, membuat mereka babak belur di buat Lun xiang.
"Dasar wanita ja-lang sialan! Akan ku balas kau setelah ini."
Bug…
Bug…
Argh…
Pekik mereka dengan keras.
"Kau mengancam ku ha…! Ayo katakan lagi," pintanya dengan tatapan yang begitu dingin.
Bug…
Bug…
Bug…
Lun xiang begitu kesal kepada mereka semua. Berani mereka masih mengatakan akan memberi pelajaran padanya. Satu persatu di buat babak belur oleh Lun xiang hingga membuat wajah mereka menjadi seperti babi, penuh lebam dan memar.
"Masih mengumpat ku," kesal Lun xiang dan kembali menampar.
Plak….Plak….
Tidak ada yang membantu atau melerai pertikaian itu. Para menjaga hanya diam menyaksikan saja. Sedangkan seorang yang memperhatikan sejak tadi hanya diam, tidak ingin muncul, malah asyik melihat pertunjukan yang di buat oleh selir pertama.
"Sungguh selir pertama begitu kejam," gumamnya melihat aksi Lun xiang yang tidak ada rasa kasihan sedikitpun, "Benar-benar seperti kaisar,"
"Apa kau membicarakan ku?" Tanya kaisar yang tiba-tiba muncul di belakang Yan Chen yang asyik melihat pertunjukan beberapa selir yang berantem.
Yan Chen yang terkejut langsung memberi hormat dan menunduk.
"Hormat hamba Yang Mulia,"
"Kenapa kau ada disini?"
Sebelum Yan Chen menjawab, suara teriakan beberapa selir yang di hajar oleh Lun xiang mengalihkan perhatian kaisar, membuat kaisar mengerutkan kening saat melihat beberapa selir berantem, lebih tepat nya mereka dihajar oleh selir pertamanya.
"Apa yang terjadi?" Kaisar begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dia tidak menyangka akan melihat hal seperti ini.
Bug….
__ADS_1
"Heh, dasar tidak berguna." Lun xiang duduk di sebuah kursi menatap mereka yang tergeletak di tanah dengan penampilan acak-acakan.
Lun xiang bersedekap dada, menatap mereka dengan sinis.
"Kemari kalian," perintahnya seperti layaknya seorang tuan yang memanggil bawahannya.
Mereka berempat tidak beranjak, malah saling pandang. Membuat Lun xiang yang kesabarannya setipis tisu mengeram kesal.
"Cepat kemari atau ku buat wajah kalian hancur!" Bentak nya dengan nada keras, membuat mereka berjingkat dan dengan cepat mereka merangkak mendekat.
"Buka mulut kalian," perintahnya pada mereka yang berada di depannya.
Dengan ragu dan terpaksa mereka akhirnya membuka mulut mereka. Lun xiang langsung memasukan tiga butir pil di dalam mulut mereka masing-masing.
Mereka yang menelan itu terkejut, "Apa yang kau berikan?" Tanya Mey Ling sambil memegang lehernya yang telah menelan pil dari Lun xiang.
"Kau tidak perlu tahu," jawabnya santai masih dengan tatapan dingin dan setelah itu pergi meninggalkan mereka semua yang bertanya-tanya pil apa yang di berikan Lun xiang padanya. Dalam hati mereka memaki dan menyumoah serapah, berharap wanita itu secepatnya mati.
"Dasar ja-lang sialan! Awas saja kau," marah Mey Ling dengan perlakukan yang di lakukan Lun xiang
pada nya.
"Kira-kira apa yang di berikan kepada kita?" Tanya Xiao xiao.
"Aku tidak tahu," jawab Shi Ling takut jika pil itu sesuatu yang dapat membahayakan nyawanya, apalagi saat melihat Luo Qingyi yang di beri cairan aneh oleh Lun xiang dan kini tergeletak tak sadarkan diri.
"Lebih baik kita pergi dari sini, dan panggil tabib untuk memeriksa tubuh kita. Aku takut kita di beri racun olehnya," ucap Shi Ling dan mereka mengangguk.
Mereka pergi dari tempat itu, tak lupa meminta seorang penjaga untuk membawa Luo Qingyi di kediamannya sendiri.
Melihat para selir pergi dari tempat itu, kaisar meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Yan Chen pun menceritakan dari mulai awal dan hingga akhir. Kaisar yang mendengar terkejut, beraninya para selirnya itu membuat ulah dan mencoba meracuni Lun xiang. Pantas saja selir pertamanya itu murka dan menghajar mereka, karena itu memang pantas di dapat oleh mereka berempat.
"Menurut anda apakah para selir itu akan diam dengan perlakuan selir pertama, Yang Mulia?"
"Aku tidak tahu." Jawabnya membuat Yan Chen bingung. Dalam hati berkata, tidak bisakan menjawab dengan benar
"Apa perlu kita membantu Selir pertama, Yang Mulia?"
"Tidak perlu. Biarkan dia mengurus masalahnya sendiri."
"Baik, Yang Mulia,"
Yan Chen menganggukkan kepala tanda mengerti. Melihat selir pertama tidak seperti sebelumnya, entah kenapa Yan Chen kini merasa Selir pertama bukanlah Selir pertama.
.
.
__ADS_1
Bersambung