
Syuut....
Boom....
Duuar....
Kedua kekuatan saling beradu dan membuat ledakan besar. Sayatan-sayatan berbentuk sabit melesat terus menerus untuk menyerang lawannya berharap kekuatan jurus yang mereka lepaskan dapat melukai lawan masing-masing.
Duaar.....
Duuar.....
Lun xiang memusatkan kekuatannya di kaki untuk mempercepat gerakannya dan melesat menghampiri seorang ketua tersebut, muncul di belakang dan menghantamkan Tapak Darah tepat ke punggung ketua tersebut.
Bugh.......
Braaak....
Tubuh itu dengan kuat terpengal dan menabrak dinding sekitar, membuat nya terlulai lemah dan memuntahkan seteguk darah.
Uhuk...Uhuk...
Ketua itu mencoba bangkit, tapi sialnya Lun xiang sudah berada di hadapannya sambil menodongkan Pedang Naga Api tepat di leher ketua tersebut.
Ketua itu yang melihat diam dengan tatapan tak lepas dari wanita di depannya. Wanita yang memiliki kekuatan di bawahnya dan kini mampu mengalahkannya.
"Jangan bunuh saya," pinta ketua tersebut melihat ujung pedang yang perlahan semakin dekat dengan lehernya. Bahkan ujungnya kini sudah menggores kulitnya dan darah menetes.
Glek.....
Lun xiang menyunggingkan senyum nya dan menurunkan pedangnya setelah itu berbalik meninggalkan ketua itu. Ketua yang melihat Lun xiang menganpuninya menyeringai. Dia mengeluarkan kekuatan di tangannya dan menyerang Lun xiang dari belakang.
Lun xiang yang menyadari langsung menggerakkan tangannya, mengibaskan pedang dan menebas leher ketua tersebut hingga terpuntus menggelinding di lantai.
Craas.....
__ADS_1
Semua yang melihat kematian seorang ketua dari salah satu kelompok yang ada disana terkejut. Bagaimana bisa ketua itu kalah dengan seorang wanita yang berada di tingkat Yuan Dan, sungguh tidak masuk akal.
Heh, Lun xiang berjalan menghampiri ketiga Benda Pusaka tersebut untuk kembali memecahkan penghalang. Tapi sebelum itu Lun xiang menatap Naga Api memintanya untuk segera memberesekan para ketua itu.
Naga Api mengangguk. Naga Api kini bersungguh-sungguh melawan para Ketua yang memiliki Tingkat Manifestasi. Kekuatan nya dikeluarkan dan menyerang ke empat ketua tersebut, membuat kekuatan menghantam tubuh mereka dan terluka.
Sedangkan Lun xiang kini membuat Jurus di tangannya dan menyalurkan kekuatan di penghalang tersebut untuk memecahkannya.
Wuus.....
Kekuatan berwarna merah kini di salurkan di penghalang tersebut. Lun xiang terus menambahkan kekuatannya berharap secepatnya penghalang itu pecah dan dirinya bisa mendapatkan ketiga benda pusaka itu.
Cukup lama dan menguras tenaganya, penghalang itu perlahan menunjukkan keretakan dan tak lama setelah itu penghalang pun pecah.
Pyaar.....
Wuus.....
Kekuatan dari Benda Pusaka langsung menyebar di sekitar. Sebuah aura dan kekuatan besar menghantam tubuh, membuat mereka yang merasakan tertarik dan ingin memiliki. Namun saat melihat wajah wanita yang menurutnya menyeramkan dan menakutkan mereka mengurungkan niatnya, tidak berani berebut dengan wanita yang mampu mengalahkan seorang ketua.
"Sial! Ingin sekali aku memiliki salah satu benda itu." gumam seorang yang ada di sana.
"Hei bagaimana kalau kita bekerja sama saja untuk memiliki salah sahu benda itu. Kita harus mengepung wanita itu, aku yakin dia akan kalah di tangan kita." Ucap seorang yang mencoba mencari bala bantuan untuk membantunya memiliki salah satu benda pusaka tersebut.
"Tidak, aku tidak ingin berebut dengan wanita itu. Bukannya nyawa kita selamat tapi sebaliknya, nyawa kita akan melayang ditangan wanita mengerikan itu."
"Belum tentu. Jika kita bekerja sama membunuhnya, aku yakin wanita itu akan kalah di tangan kita,"
Mereka semua akhirnya berpikir keras. Mungkinkah jika mereka bekerja sama wanita itu akan kalah. Tapi bagaimana jika mereka yang kalah? Bukankah mereka akan mati.
Benimbang terus menimbang, akhirnya mereka termakan oleh bujuk rayu dari seorang pemuda itu untuk melawan Lun xiang secara bersamaan.
"Baiklah, kita akan bekerja sama untuk melawan wanita itu. Tapi jika kita berhasil mengalahkannya bagaimana dengan benda pusaka itu. Maksud ku cara membaginya?"
"Untuk hal itu kita pikirkan belakangan. Yang penting saat ini kita harus membunuh wanita itu."
__ADS_1
Semuanya mengangguk dan langsung melesat ke arah Lun xiang yang telah berhasil mengambil ketiga benda pusaka.
"Serahkan benda pusaka itu kepada kami,"
Lun xiang berbalik dan menatap beberapa pemuda yang ada di hadapannya. Menyerahkan barang yang sudah ada di tangannya? Heh, lucu sekali.
"Kalian menginginkan ini?" Tunjuknya pada ketiga benda pusaka. "Itu jika kalian mampu mengambilnya."
"Kurang ajar! Kau pikir kami tidak mampu mengambilnya."
Mereka bersiap untuk menyerang Lun xiangntapi sebelum itu di lakukan. Naga Api datang dan berdiri di belakang tubuh Lun xiang dengan tatapan tajam.
"Apa kau telah selesai mengurus mereka?" tanyanya pada Naga Api tentang ke empat ketua.
"Ya, mereka bukan tandingan ku. Mudah untuk membunuhnya."
Beberapa orang yang melihat Naga Api berdiri di hadapannya langsung menoleh ke arah ke empat ketua yang tadi melawan Naga Api. Di lihatnya ke empat ketua itu telah mati. Terkejut, tentu saja terkejut. Jika ke empat ketua itu mati dengan mudah di tangan Naga Api, bagaimana dengan mereka yang kekuatannya lebih di bawah para ketua itu. Bukankah sama saja mengantarkan nyawa dengan suka rela.
"Lari, kita tidak bisa melawan Naga itu." Teriak seorang dari mereka dan kabur
Lun xiang yang melihat menyunggingkan senyum, tidak semudah itu mereka lari darinya. "Bunuh mereka semua," perintahnya pada Menara kematian.
"Kenapa tidak aku?" tanya Naga Api tidak terima bukan dirinya yang di perintah, tapi malah Menara Kematian.
Lun xiang diam tidak menjawab pertanyaan yang tidak penting itu. Matanya menatap ke arah meraka yang melarikan diri.
Syuut.....
Menara kematian melesat secepat kilat mengejar mereka yang melarikan diri. Menghadangnya dan berhenti di depan mereka. Seketika mereka yang kabur langsung langsung berhenti menatap Menara aneh yang di selimuti hawa kematian yang pekat.
Nguuung......
Sebuah suara keluar dari Menara kematian membuat semua yabg mendengar langsung menutup telinga karena suara pekikan yang keras dan mengerikan.
Aaaa.......
__ADS_1
Saat mereka sibuk oleh suara itu. Menara kematian berputar. Sebuah angin beliung berwarna hitam muncul dan menerjang tubuh mereka semua, menarik, menghisap jiwa dan kekuatan para manusia-manusia yang ada di sana. Perlahan jiwa itu di tarik dengan paksa membuat mereka memekik keras, tidak ingin mati dengan cara seperti itu.
Wuuus.....