
Revisi
Dua orang kini bertarung di dasar jurang. Pertarungan kedua begitu sengit. Lun xiang yang berubah menjadi kuat karena kekuatan dari gumpalan berwarna merah yang berasal dari tengkorak, kini bisa melawan menghadapi makhluk mengerikan tersebut.
Ledakan karena dua kekuatan saling bertubrukan menggema di sekitar tempat itu, membuat banyak hewan spiritual yang berada di atas tidak berani mendekat. Lun xiang menatap dingin makhluk berkabut hitam itu. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi mengeluarkan sebuah lingkaran besar berwarna hitam di langit dan perlahan muncul sebuah menara dengan aura hitam yang sangat pekat turun dengan perlahan, MENARA KEMATIAN.
Aura yang terpancar dari Menara kematian membuat semua yang merasakan terasa sesak, dingin dan menakutkan. Menara itu adalah Menara yang di ciptakan oleh Dewa Kematian, Menara yang di gunakan untuk mengurung dan membunuh para iblis.
Makhluk berkabut yang merasakan Aura mencekam dari menara tersebut, tiba-tiba tubuhnya bergetar. Rasa takut mulai muncul saat melihat menara berwarna hitam itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba tubuh ku seperti ketakutan."
Makhluk itu yang belum pernah melihat Menara Kematian, bingung. Menara apa itu, kenapa bisa membuat tubuhnya sangat ketakutan. Entah kenapa dia merasa menara itu adalah yang buruk untuk nya. Tidak ingin mati konyol, makhluk itu mencoba kabur. Tapi Lun xiang yang melihat tidak membiarkan itu terjadi, tangannya bergerak, ke depan, mengarahkan Menara itu menuju makhluk tersebut.
Wuus.....
Menara itu perlahan bergerak, makhluk berkabut yang melihat tentu saja panik dan mencoba lari. Tapi semuanya terlambat, Menara Kematian, bergerak sangat cepat mengejar karena merasakan hawa iblis di tubuh makhluk tersebut. Menara Kematian berhasil menangkap, mengekangnya membuat makhluk itu berteriak keras karena tubuhnya seakan di cabik-cabik dengan dahsyat.
Aaaaa......!!!!
Kekuatan dari Menara kematian menyebar, membuat angin berhembus sangat kencang saat mencoba menelan Makhluk tersebut.
Jeritan makhluk berkabut itu sangat mengerikan, membuat suasana disana sangat mencekam. Angin di sertai hawa aura hitam menyebar luas, tidak ada satupun yang berani mendekat. Semuanya memilih bersembunyi menghindari aura kekuatan yang sangat mengerikan itu.
Aaaaa.......
Teriaknya lagi saat perlahan tubuh itu mulai di telan oleh Menara Kematian. Dan tak butuh lama makhluk itu perlahan terhisap masuk sepenuhnya, di penjara di dalam menara dan perlahan akan di cerna menjadi bagian kekuatan Menara Kematian.
Setelah berhasil membereskan makhluk tersebut, Lun xiang yang melayang di udara perlahan kesadarannya hilang dan pingsan. Jatuh dari atas.
Pria tua yang melihat langsung menghampiri, melihat keadaan Lun xiang. Beruntung Lun xiang baik-baik saja. Pria tua melihat ke atas, melihat pada Menara yang masih melayang di udara dan perlahan Menara itu berubah menjadi kecil, melesat dengan secepat kilat menuju arah Lun xiang.
Wuus.....
Menara itu menempel di telinga Lun xiang, berubah menjadi anting-anting menara mini. Pria tua yang melihat tentu saja terkejut, mencoba melepas Menara yang berubah menjadi anting-anting kecil. Namun sia-sia, Menara itu tidak membiarkan siapapun menyentuhnya, Menara itu tidak bisa di lepas sedikitpun.
Tak berselang lama, mata Lun xiang perlahan terbuka. Kepalanya terasa pusing, perlahan memijit kepalanya. Entah apa yang terjadi, kenapa kepalanya pusing sekali.
__ADS_1
"Kau sudah sadar?"
"Apa yang terjadi dengan ku?"
"Kau tiba-tiba pingsan. Entah apa yang terjadi dengan mu, sampai membuat mu pingsan seperti ini. Apa kau tidak mengingat sesuatu?"
"Apa? Memang apa yabg terjadi?"
Pria tua menceritakan semuanya membuat Lun xiang sangat terkejut. Benarkah ada kejadian seperti ini? Tapi kenapa dia tidak mengingatnya?
"Menara itu ada di telinga mu, menjadi anting-anting kecil. Sebelumnya aku mencoba melepasnya, tapi tidak berhasil."
Tangan Lun xiang meraba telinganya, dan benar saja ada benda kecil disana. Padahal sebelumnya Lun xiang tidak memakai anting-anting dan kini ada sesuatu yang menempel disana.
Perlahan Lun xiang mencoba melepas anting-anting tersebut, tapi tidak bisa. Seolah anting-anting melekat dengan kuat disana.
"Kenapa seperti ini?"
Sekuat apapun Lun xiang berusaha melepas, tetap saja tidak bisa di lepas dan malah semakin erat menempel di telinganya. Membuat Lun xiang mendengus dan menghela nafas dengan berat. Lun xiang hanya berharap Menara itu tidak membahayakan dirinya.
Lun xiang beranjak dan menghampiri tengkorak tersebut. Manatap tengkorak itu dengan diam. Matanya menangkap sesuatu yang ada di tangan tengkorak itu. Perlahan Lun xiang mengambilnya, sebuah seruling berwarna hitam. SERULING IBLIS.
Lun xiang mencobanya, meniup seruling tersebut. Nada indang terdengar mendayu-dayu, perlahan kekuatan dari seruling itu keluar.
Menara Kematian yang mendengar melodi seruling tersebut merespon, sesuatu keluar dari Menara, asap hitam pekat dan aura Kematian terbang melayang di depan Lun xiang, membentuk sesuatu makhluk neraka yang sangat mengerikan. Jumlah mereka sangat banyak dan semuanya menatap Lun xiang, tidak ada yang menyerang satu pun, seolah tunduk dan menganggap Lun xiang tuannya.
.
.
Lun xiang akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Tak lama kepergiannya, sekelompok orang datang. Mereka merasakan aura yang begitu familiar.
"Sepertinya selir pertama melewati tempat ini, aku bisa merasakan aura yang tertinggal." Ucap bawahan yang di perintah oleh kaisar merasakan aura yang tertinggal di tempat itu.
"Aku juga merasakan nya."
Tapi di lihat dari tempat yang hancur dan kacau akibat Ular Naga Hitam yang mengejar Lun xiang, mereka sekaan tidak percaya jika kekacauan itu di lakukan oleh Selir pertama. Dari tempat yang hancur itu mereka yakin pertarungan itu sangatlah sengit.
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang mereka pikirkan tentang selir pertama. Dari tempat yang mereka lewati saat ini, terdapat bekas pertarungan yang sangat sengit dan mungkin saja pertarungannya memanglah sangat besar. Apalagi di lihatnya bekas jejak yang amat besar, yakin selir pertama bertarung dengan hewan spiritual yang sangat kuat.
Tidak ingin banyak berpikir dan membuang waktu, mereka kembali melanjutkan pencarian. "Lebih baik kita lanjutkan pencarian. Dan bawa kembali selir pertama."
Semuanya mengangguk dan kembali mencari. Sedangkan yang di cari kini sudah pergi jauh, menuju tempat Akademi Lan Jian.
.
.
Lun xiang kini sampai di tempat kota di mana Akademi itu berada. Lun xiang berjalan kaki sambil melihat-lihat keramaian di kota tersebut.
"Tuan, bisakah saya bertanya, dimana keberadaan akademi Lan Jian."
"Oh anda pasti ingin mendaftar siswa baru di akademi itu ya." Lun xiang mengangguk. "Nona tinggal lurus saja, tak jauh dari sini nona akan menemukannya,"
"Kalau begitu Terimakasih tuan,"
Lun xiang berjalan tempat yang di tunjukkan tuan tadi. Dan setelah sampai, Lun xiang mendongak, menatap bangunan gapura tinggi dan bertuliskan nama akademi 'Lan Jian'.
"Inikah akademi itu," gumam Lun xiang.
"Apa kau ingin menjadi murid disini?" Tanya pagoda dewa
"Hm… sepertinya begitu,"
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya, Otor tidak pasti jam update nya. mohon di maklumi, kadang kala memang sedang sibuk dan juga sedang buntu otaknya, g bisa mikir. hehehe.....
__ADS_1
selamat membaca, semoga kalian terhibur. jangan lupa Like, komen dan votenya nya.