SISTEM. Selir Buangan

SISTEM. Selir Buangan
Perang Dingin


__ADS_3

Setelah menyewa sebuah kelompok pembunuh bayaran untuk membunuh Lun xiang, Mey Ling melanjutkan perjalanan untuk kembali kekerajaan ayahnya. 


Dan setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, kini Mey Ling sampai di tempat tujuan. Kedatangannya langsung di sambut oleh ibunda dan ayahandanya.


"Ibunda, ayahanda," sapa Mey Ling langsung memeluk mereka berdua.


"Bagaimana kabar mu putri ku?" Tanya Raja Gu Jianzhi membelai kepala putrinya dengan lembut.


"Ling'er baik ayahanda."


"Baguslah. Lalu dimana Kaisar, kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Raja Gu yang tidak melihat Kaisar turun bersama putrinya.


"Ling'er datang sendiri ayah. Kaisar sedang sibuk, Ling'er tidak berani mengganggunya."


"Baiklah, kalau begitu ayo masuk," 


Raja Gu tidak bertanya lagi, karena tahu siapa Kaisar Yu Feng. Tidak mungkin putrinya berani meminta untuk menemaninya berkunjung, yang ada bisa saja putrinya malah di bunuh karena memaksanya. 


"Dimana kakak?"


"Kakak mu sedang berlatih. Mungkin sebentar lagi akan menemui mu,"


Mereka pergi dan menuju ruang perjamuan. Disana beberapa pelayan sudah menyiapkan beberapa hidangan makanan terlezat demi menyambut kedatangan putri Raja mereka. Dan benar saja, tak lama seorang pemuda datang menghampiri dan memeluk Mey Ling 


"Kakak, aku merindukan mu,"


"Kakak juga merindukan mu. Bagaimana, apa kau bahagia bersama dengan kaisar sialan itu?" Tanya Kakak Mey Ling bernama Gu Lang Tian.


Mey Ling menunduk, sedih. Semua yang melihat saling tatap. Ada apa dengannya? Mungkinkah kaisar tidak menginginkannya dan membuat putrinya menderita.


"Ada apa putri ku, apa ada masalah?" Tanya ibunda Mey Ling dengan lembut. 


"Tidak ada, aku hanya lelah saja." jawab Mey Ling tidak ingin membahas tentang masalahnya di meja makan. Hari ini hari bahagianya bisa bertemu dengan keluarganya. Dia tidak ingin merusak suasana saat ini.


Setelah selesai, Mey Ling kembali ke kamar yang ditempati dulu saat belum menjadi selir Kaisar Yu Feng. Dia melepas aksesori kepalanya dengan dibantu oleh pelayannya. 


Terdengar pintu dibuka. Lang Tian masuk dan mendekati adiknya, meminta pelayan itu pergi, biarlah dirinya yang membantu adiknya.


"Kakak, apa yang membuat mu datang menemui ku?"

__ADS_1


"Apakah kakak tidak boleh menemui mu?"


"Bukan begitu." Jawab Mey Ling tidak enak, salah berbicara.


"Kakak ingin berbicara dengan mu,"


"Apa ini tentang kaisar?" Lang Tian mengangguk. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan adiknya. 


"Kakak tahu kau pasti ada masalah. Katakan apa yang terjadi. Siapa tahu Kakak bisa membantu."


Mey Ling diam. Tapi tidak masalah mengatakan pada kakaknya. Siapa tahu kakaknya memang bisa membantu menyingkirkan dan membunuh Lun xiang.


Mey Ling menceritakan semuanya, membuat Lang Tian mengepalkan tangan, marah. Jadi adiknya disana selalu di abaikan karena kaisar lebih memilih selir pertamanya. Tidak pernah adil dengan semua selirnya.


"Jadi dia selalu mengabaikan mu dan wanita itu selalu menindas mu?"


"Benar kak, wanita itu selalu menyiksa kami para selir. Bahkan dia tidak segan untuk memukul serta memberikan kami racun secara terangan-terangan." Jawabnya mengusap air matanya yang jatuh, berdrama agar kakaknya percaya dengan apa yang di katakannya.


"Dasar wanita sialan! Beraninya dia melakukan itu pada adik ku. Aku tidak akan membiarkan wanita itu hidup dengan mudah. Kita harus segera membunuhnya agar dia tidak melakukan hal gila itu pada mu lagi." Marah Lang Tian pada Lun xiang setelah mendengar cerita dari versi Mey Ling, seolah dirinya yang paling tertindas, tapi kenyataannya, merekalah tabg selalu mencari gara-gara.


Mey Ling tersenyum menyeringai. Kakaknya mendukungnya, itu berarti kematian Lun xiang semakin dekat. Dia tidak sabar melihat wanita itu segera mati.


"Kamu tenang saja, Kakak akan membantumu mengatasi wanita itu,"


"Tapi, bagaimana caranya?"  Tanya Mey Ling bingung. Sedangkan Lang Tian hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan adiknya.


.


.


Dua hari berlalu, Lun xiang sedang kesal karena mengetahui banyak penjaga bayangan yang mengawasi kediamannya dan pastinya semua itu ulah kaisar. Entah apa maksudnya itu sungguh membuatnya muak.


Lun xiang kini berdiri di hadapan kaisar dengan tatapan tajam dan dinginnya. Kaisar yang melihat juga melakukan hal sama, dingin dan datar. Ruangan itu menjadi terasa mencekam. Yan Chen yang berada di sekitar mereka berdua mengusap tengkuknya. Entah kenapa tengkuknya begitu dingin melihat perang dinging kedua manusia itu.


"Apa maksudnya?" satu pertanyaan yang membuat kaisar bingung mengartikannya. Maksud yang bagaimana, pikrinya.


"Aku tidak mengerti apa maksud mu?"


"Jangan pura-pura bodoh di hadapan ku dan seolah tidak mengerti apa yang ku maksud," Ingin rasanya Lun xiang membunuh pria dihadapannya ini.

__ADS_1


"Aku memang tidak mengerti," jawabnya santai dan menurut Lun xiang sangat menyebalkan.


"Singkirkan orang-orang sialan mu itu dari tempat ku, atau aku akan membunuh mereka semua," ancamnya dengan nada begitu dingin, tidak bercanda.


Kaisar yang mendengar menatap selirnya, menyunggingkan sudut bibirnya melihat keberanian selir pertamanya yang terang-terangan mengancam akan membunuh bawahannya. Kaisar tidak peduli dengan ancaman itu, mengabaikannya membuat Lun xiang yang melihat benar-benar marah. Tangannya mengepal. Wajahnya menjadi gelap, dan giginya gemeretak menahan emosi yang sebentar lagi ingin meledak.


Kaisar tahu saat ini Lun xiang begitu marah. Tapi dia tidak peduli. "Itu sudah menjadi tugas mereka. Jika kau ingin membunuh mereka, lakukanlah."


Mata Lun xiang melotot mendengar kaisar malah mengizinkannya membunuh mereka jika Lun xiang benar-benar terganggu oleh kebeadaraan mereka. Lun xiang kesal, dengan sikap beraninya, Lun xiang menodongkan sebuah pistol tepat di depan kaisar, membuat Yan Chen siap siaga menghentikan jika Selir pertama benar-benar berani membunuh kaisar.


"Aku tidak peduli siapa kau. Mau kau kaisar atau dewa sekalipun, jika berani membatasi ku dan menganggu ku, aku tidak akan segan melenyapkannya."


Kaisar menyinggingkan sudut bibirnya melihat keberanian Selir pertamanya. Tangannya bergerak, menyentuh pistol itu dan mengambilnya dengan gerakan cepat yang tidak di sadari Lun xiang. "Benda yang bagus. Aku menyukainya."


Merasa sia-sia berbicara dengan kaisar yang menurutnya buang-buang waktu saja, akhirnya Lun xiang pergi meninggalkan kaisar dengan keadaan sangat marah, mengabaikan pistolnya berada di tangan kaisar.


"Sungguh wanita pemarah," gumamnya melihat benda aneh di tangannya. Benda yang di dapat dari selirnya.


Kaisar menghilang dari tempatnya, meninggalkan benda berwarna hitam itu tergeletak di atas meja dan lebih memilih menyusul selirnya yang sedang kesal.


Wuuus...


Kaisar muncul di hadapan Lun xiang dalam sekejap, membuat Lun xiang terkejut setengah mati karena munculnya kaisar yang secara tiba-tiba.


"Mau apa kau?"


Aaaaaa........


Teriaknya saat tiba-tiba tubuhnya melayang, dia nekat oleh Kaisar dalam gendongannya.


.


.


.


Tahap Revisi.


"

__ADS_1


__ADS_2