
Revisi
Beberapa pria berpakaian hitam menyerang Lun xiang, mengeluarkan kekuatan mereka masing-masing. Ada yang memiliki kekuatan api, petir dan lain sebagiannya.
Bola-bola api menghantam dan melesat ke arah Lun xiang. Begitupun yang memiliki kekuatan petir. Petir menyabar dan bergerak cepat. Membuat ledakan di sekitar tempat itu.
Lun xiang dengan sikap siapnya menghindari setiap serangan, melompat, berlari bahkan berguling di tanah.
Lun xiang tidak bisa terbang karena kekuatannya belumlah tinggi, hanya berada di tingkatan paling rendah, dan hanya bisa melawan dengan kekuatan beladiri nya dan langkah cepat yang beberapa hari dipelajarinya dari pria tua
"Bunuh wanita itu secepatnya." Perintah seorang di kelompok itu yang jengah karena susah memunuh wanita yang memiliki kekuatan lemah itu. Kenapa susah sekali padahal sudah jelas kekuatannya berada di bawah mereka.
Geram, tentu saja geram. Mereka yang harus membunuh wanita itu dengan cepat nyatanya gagal. Wanita susah untuk di bunuh.
Menurut mereka Lun xiang bukanlah sesuatu yang susah di hadapi. Kekuatan yang hanya berada di Body Tempering lv 5 menurutnya mudah untuk membunuhnya. Tanpa tahu bahwa sebenarnya tidak semudah itu membunuh Lun xiang yang dijuluki Dewi Shura.
Dua orang dari mereka menyerang maju dengan tangan kosong. Lun xiang yang melihat sudut bibirnya terangkat, menyerigai.
Wuus….
Dengan langkah cepat, secepat kilat, Lun xiang menghilang dari tempat nya dan muncul di belakang mereka setelah itu memukul tengkuknya dan menendang dengan kuat, membuat mereka terpental dan jatuh.
Bugh....
Mendapat kesempatan untuk menembakkan senjata nya, Lun xiang membidikkan pistolnya dan secara otomatis peluru melesat menembak ke arah satu pria tersebut.
Dooor…
Satu peluru berhasil menembus kepala bagian belakang tersebut, membuat pria itu langsung mati seketika, tergeletak dengan tubuh tengkurap.
Semua yang melihat terkejut, bagaimana bisa wanita itu dengan mudah membunuh salah satu rekan mereka. Mereka menatap Lun xiang dan beralih ke arah benda aneh berwarna hitam yang berada di tangan Lun xiang. Bertanya-tanya benda apa itu.
"Aku akan memberikan kalian kesempatan untuk merasakannya," Ucap Lun xiang sambil dengan mimik wajah khasnya, dingin dan datar.
Mereka saling berbisik, berkata untuk menghindari benda berbahaya itu. Jangan sampai terkena dan membuat mereka mati mengenaskan seperti yang di alami satu rekannya. Mereka tidak melihat ada luka serius di tubuh rekannya, tapi satu suara aneh yang keluar dari senjata itu dapat membuat temannya mati dalam sekejap.
"Kita harus berhati-hati," Semuanya mengangguk.
Lun xiang yang melihat menyeringai. Walaupun mereka berhati-hati untuk menghindari serangannya, Lun xiang tidak akan membiarkan. Dia tetap akan membunuh mereka semua tanpa sisa.
Wuus…
Lun xiang kembali begerak cepat, dan memukul kepala salah satu di antara mereka, membuat orang tersebut terhuyung dan merasakan sakit yang amat.
Bugh….
Kepalanya berdenyut, pandangannya berkunang-kunang. Beberapa kali menggelengkan kepala mengusir pusing dan akhirnya berhasil. Pria itu mencari keberadaan orang yang memukulnya, namun tidak ada.
"Hati-hati! Wanita ini begitu licik." Serunya pada teman lainnya.
Semua nya melihat sekeliling, mencari keberadaan Lun xiang yang tidak ada disekitar mereka. Matanya mencari kesana kesini, tapi tetap tidak menemukan.
"Kemana wanita itu?"
"Semuanya waspada, jangan lengah. Jangan sampai wanita itu membunuh satu persatu dari kita."
Seringai licik muncul di bibir Lun xiang. Saat habis memukul kepala seorang di antara mereka dan membuat mereka mengalihkan perhatiannya, Lun xiang mengeluarkan selendang putih transparan nya, membungkus tubuh itu agar tidak terlihat oleh mata.
__ADS_1
"Jangan pikir kalian bisa membunuh ku. Akan ku buat kalian membuka mulut siapa yang memberi perintah pada kalian."
Wuus….
Lun xiang kembali bergerak cepat, memukul dan menendang satu persatu di antara mereka yang tidak bisa melihat keberadaannya. Mereka yang di serang tentu saja kebingungan mencari keberadaan Lun xiang tanpa bisa membalas.
"Keluar kau wanita sialan! Jangan bersembunyi. Jika kau berani hadapi kami,"
"Kau pikir aku bodoh," jawabnya dengan suara menggema di sekitar. "Kalian berjumlah lebih dari satu, dan tanpa tahu malu kalian mengeroyok ku. Kau pikir itu seimbang. Jadi jangan salahkan aku jika aku melakukan hal ini pada kalian. Bersiaplah mati di tangan ku,"
Lun xiang melempar bom asap di tengah-tengah mereka. Membuat mereka kebingungan tanpa bisa melihat.
Wuus…
Bugh…..
Bugh…..
Tendangan dan pukulan di berikan ke tubuh mereka. Tak hanya itu, Lun xiang juga menembak beberapa orang di antara nya membuat mereka menjerit keras saat kaki dan tangan mereka mendapatkan tembakan.
Door….
Door….
Aargh…..
Pekik mereka merasakan sakit akibat timah panas.
Sedangkan rekan lainnya yang tidak mendapatkan tembakan berteriak keras. Apa yang terjadi dengan temannya.
"Sial! Wanita ini sungguh Licik. Kenapa juga kabut ini tidak cepat menghilang,"
"Siapa disana?"
Craas….
Argh…..
Satu tebasan menyayat punggung pria itu membuat kulit punggung itu robek dan darah mengalir.
Lun xiang tidak menggunakan pisau pendeknya, melainkan menggunakan sebuah pedang yang berbentuk melengkung layaknya sebuah bulan sabit. Pedang itu juga barusan di belinya di Shop Sistem dengan harga yang murah, 10 poin.
Jeritan kembali terdengar membuat semuanya panik. Tidak menyangka untuk membunuh satu orang saja mereka akan kesusahan seperti ini dan malah mendapatkan kesulitan. Padahal target yang dibunuhnya kekuatannya jauh di bawah mereka, tapi mereka begitu kesulitan mengatasinya.
Lun xiang terus membuat mereka menjerit di dalam kabut asap yang tidak hilang-hilang itu. Menembak dan menebas tubuh mereka membuat tubuh itu berlumuran darah.
Jerit kesakitan terus menggema di tempat itu. Namun Lun xiang tidak menghentikan nya sama sekali. Tidak peduli dengan sakit yang mereka rasakan. Yang saat ini di lakukan Lun xiang memberi pelajaran pada orang yang berani ingin membunuhnya.
Craas….
Craas….
Door….
Door….
Aaargh…..
__ADS_1
Setelah di rasa mereka sudah terkapar karena tembakan dan tebasan pedangnya, Lun xiang menendang mereka semua keluar dari gumpalan asap tersebut, dan kini terlihatlah mereka berlima terkapar dengan darah dan luka di tubuh.
Krak….
Aargh…..
Lun xiang menginjak tangan seorang dari mereka dengan kuat dan menekannya, sambil menodongkan pistolnya tepat di kepala. Dan satu tangan membawa pedang melengkung yang diletakkan di bahu, membuat kesan Lun xiang begitu mengerikan.
"Katakan pada ku, siapa yang memberi perintah pada kalian untuk membunuh ku,"
Pria itu tidak menjawab. Menjaga rahasia penyewa jasa adalah tugasnya. Tidak boleh mengatakan siapa yang memberi perintah. Lun xiang yang melihat pria itu tidak mau menjawab, menembak kepala itu dengan beberapa tembakan, dan itu langsung membuat pria itu mati seketika..
Lun xiang beralih ke empat orang lainnya yang tersisa, memintanya untuk mengatakan siapa yang memberi perintah untuk membunuhnya.
"Jika kalian tidak menjawab pertanyaan ku, maka kalian bersiaplah merasakan tembakan pistol ku ini."
Lun xiang memainkan pistolnya, siap menembak mereka jika mereka tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Apa jika kami menjawab, kau akan mengampuni kami?"
"Tergantung kalian."
"Aku akan mengatakannya. Tapi kau harus janji akan melepaskan kami." Lun xiang mengangguk. "Kami diperintah oleh seorang wanita, dia adalah selir dari Kaisar Yu Feng. Untuk namanya kami tidak tahu."
Lun xiang diam. Berpikir siapa selir itu. Teringat siang tadi ada tiga selir yang datang karena cemburu dan marah, tidak mungkin mereka yang menyewa karena mereka tetap berada di istana.
"Tunggu, bukankah tadi tidak ada Selir Mey Ling? Mungkinkah dia pelakunya." Gumamnya dalam hati.
"Hmm, jadi dia pelakunya." ucapnya dengan seringai mengerikan.
Lun xiang menatap mereka, dan setelah itu memberikan sesuatu.
"Ambillah, dan makanlah. Maka kalian tidak akan merasakan sakit lagi di tubuh kalian,"
"Apa ini?"
"Ini permen manis yang ku punya. Anggap saja ini tanda terimakasih karena telah mengatakan siapa orang tersebut."
Mereka ragu. Tapi tetap saja di ambilnya. Selain penasaran dengan warna dan bentuk yang sangat menarik, mereka juga ingin merasakan seperti apa rasa yang di katakan wanita itu, barang yang bernama permen.
"Ini bukan racun kan?"
"Kalian bisa mencobanya." Jawabnya masih dengan wajah datarnya.
Tanpa ragu lagi, mereka langsung memakan permen itu. Dan benar saja, rasanya begitu manis dan nikmat. Lun xiang yang melihat menyeringai dan setelah itu pergi meninggalkan mereka.
Hitungan dalam lima menit, tiba-tiba tubuh mereka merasakan keanehan. Tubuhnya bergerak lentur dan dagingnya seperti terkoyak dan setelah itu, tubuh itu tiba-tiba meledak, membuat bagian-bagian daging dan tulang berhamburan dan bercecer.
Lun xiang yang melihat tertawa. Membunuh adalah hal yang menyenangkan untuknya. Beruntung mereka terlalu bodoh dan tidak tahu apa yang diberikannya. Sebuah permen peledak yang mampu menghancurkan tubuh mereka dalam hitungan menit.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Selamat membaca. Semoga kalian terhibur. jangan lupa like, komen dan votenya. Bila berkenan kasih rating bintangnya, 10 ya.😁😁😁