
Setelah kepergiannya kaisar, seseorang yang memperhatikan sejak tadi keluar dari persembunyian nya. Menatap arah kepergian kaisar.
"Siapa pria itu? Kenapa aku merasakan bahwa pria itu dari dunia atas."
Setelah bergumam dengan apa yang di pikirkan nya, seseorang itu pergi kembali ke kediamannya.
.
.
Sedangkan kaisar sendiri datang kembali ke kamar Lun xiang, merebahkan tubuhnya di samping selirnya dan memeluknya.
Lun xiang yang kaget dan mengira kaisar telah pergi tentu saja melawan, mencoba memukul orang yang sangat lancang itu. Kaisar yang melihat gerakan tersebut tentu saja menahan tangan Lun xiang yang hendak memukulnya.
Greep….
"Kau…!"
Kaisar hanya diam menatap wajah cantik selir yang selalu mengganggu pikirannya. "Tidurlah," Kaisar membawa Lun xiang berbaring dan memeluknya.
"Jangan memeluk ku,"
Kaisar tidak peduli dengan apa yang di katakan selirnya. Tetap memeluk tubuh ramping itu dengan erat.
"Lepas, kau membuat ku sesak. Bukanlah sebelumnya kau telah pergi, kenapa kembali lagi?"
"Ada sesuatu yang harus ku lakukan tadi. Sekarang diamlah. Aku ingin memeluk mu dan menemani mu tidur."
Lun xiang tetap meronta, mencoba Lepaskan diri dari pelukan suaminya yang sepertinya menjadi posesif dan bukannya melonggarkan, kaisar malah semakin memeluknya erat.
"Aku lelah, tidurlah."
Kaisar memejamkan mata. Lun xiang yang mendengar menoleh, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya. Sungguh pahatan wajah yang sangat sempurna.
"Memang kamu dari mana?" Kaisar diam tidak menjawab pertanyaan itu, membuat Lun xiang mendengus.
"Kembalilah agar aku bisa melindungi mu."
"Tidak mau." Tolaknya dengan cepat.
"Benar-benar keras kepala."
Kaisar mengeluarkan sesuatu, sebuah cincin yang memiliki permata berwarna merah. Di dalam permata itu sudah di isi dengan sebagian jiwanya agar saat Lun xiang mengalami bahaya dirinya bisa tahu dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Pakailan,"
Kaisar memasangkan cincin tersebut di jari lentiknya. Cincin yang begitu cantik dan pas di jari manisnya.
"Cantik."
"Apa kamu suka?"
Lun xiang menatap kaisar dan mengangguk. Kaisar yang melihat selirnya menyukainya tersenyum kecil. Perlahan wajahnya mendekat dan tatapan mereka saling bertemu. Bibir kaisar pun perlahan menempel di bibir Lun xiang, mengecupnya dengan lembut.
Cup….
Lun xiang memejamkan mata, menikmati kecupan tersebut. Kaisar yang melihat tersenyum. Perlahan bibirnya bergerak, melu-mat bibir bawah Lun xiang dengan lembut, menikmati rasa manis bibir selirnya yang sudah lama tidak di rasakannya.
Emh….
Lenguh Lun xiang saat merasakan sensasi aneh di tubuhnya. Apalagi saat tangan kaisar juga ikut bergerak, menyentuh beberapa bagian tubuhnya.
Kedua orang berbeda jenis kelamin itu kini menikmati dan merasakan sesuatu yang lama tidak mereka rasakan. Kaisar terus mencum-bu, memberikan ciuman dan kecupan-kecupan di seluruh tubuh selirnya.
Lun xiang yang merasakan dan mendapatkan perlakuan lembut itu tentu saja mende-sah. Suara nya begitu indah membuat kaisar semakin bersemangat.
Emh…..Aah….Aaah…
De-sah Lun xiang sangat menikmati.
Oouuuh….Aaaah….Aaah..
Yan Chen membuang nafas dengan kasar. "Tidak bisakah kalian berdua memelankan suara. Bagaimana jika suara kalian membangunkan orang lainnya." Yan Chen hanya bisa menggelengkan kepala. Kenapa harus mengeluarkan suara seperti itu. Tidak bisakah diam dan menikmati saja, pikirnya.
Hais…
Yan Chen dengan terpaksa membuat sebuah penghalang yang mengelilingi kediaman selir pertama. Sebuah penghalang yang juga berfungsi sebagai peredam suara, berharap tidak ada yang mendengar suara-suara aneh kedua manusia yang sedang di landasan gairah.
Tubuh Lun xiang bergelinjang saat kaisar berada di bawah sana. Ya, kaisar sudah berhasil melepas semua yang di pakai Lun xiang sejak tadi dan kini sedang menikmati sesuatu yang berada di tengah-tengah kedua pahanya.
Ouh….
Tangan nya menekan kepala kaisar, memintanya memperdalam permainan lidahnya dan kaisar dengan senang hati melakukannya. Mengobrak-abrik lembah kenikmatan itu dengan lidahnya, menye-sap nya menikmati.
"Yu Feng."
Lun xiang yang tidak pernah mengalami hal seperti ini saat di dunia modern tentu saja dia merasa melayang tentang indah dan nikmatnya bermain bersama pria.
__ADS_1
"Kamu suka selir ku?" Tanya kaisar yang kini menatap selirnya yang kacau. Nafasnya terengah-engah karena ulahnya.
Lun xiang menatap sayu. Dia malu mengatakan bahwa dia sangat menyukai hal itu. Kaisar yang tidak mendapatkan jawaban, tersenyum kecil. Mengecup bibir dan setelah itu kembali melu-matnya.
Mereka saling melu-mat, menye-sap dan bertukar saliva. Tangan kaisar mencari gundukan kenyal dan mere-masnya dengan pelan. Memainkan benda yang kini menjadi mainan favoritnya.
Emh….Emh….
Suara cecapan dan lenguhan memenuhi kamar tersebut. Ranjang yang semula rapi kini berantakan karena ulah keduanya yang sudah di landa gairah hebat.
"Sayang. Apa kamu sudah siap?" Tanya kaisar yang sudah tidak tahan. Rudal kebanggaannya sudah mengacung tegap siap mengobrak-abrik sarangnya.
Lun xiang tidak menjawab hanya mengangguk saja. Jujur saja dia juga sudah tidak tahan, ingin merasakan benda besar itu masuk di miliknya. Dan malam itu mereka berdua menikmati malam panjang penuh peluh dan gairah.
.
.
Pagi hari, perlahan Lun xiang membuka mata. Rasa lelah sangat di rasakannya, sungguh suaminya tidak memberikan waktu untuknya beristirahat.
"Dia sungguh menjadi gila jika melakukan hal itu," wajahnya merona saat mengingat betapa gagahnya suaminya berada di ranjang.
Puk…puk….
Lun xiang menepuk pipinya pelan, membuang bayangan mereka berdua tadi malam. Lun xiang menoleh ke samping, tidak ada suaminya. Mungkin suaminya telah pergi saat dirinya belum bangun.
Lun xiang turun dari ranjang dan membersihkan tubuhnya yang begitu lengket, menikmati air hangat yang ternyata sudah di siapkan oleh kaisar sebelum pergi.
.
.
Di dunia hitam, Dewa Iblis menyangga kepalanya di singgasananya. Dia mendengar laporan dari bawahannya, bahwa beberapa anak buahnya yang di perintah mencari jejak Aura Dewa Shura telah mati semua tanpa sisa.
"Apa kau tahu siapa pelakunya?"
Bawahan itu menunjukkan rekaman sisa pertempuran bawahannya dengan kaisar Yu Feng yang saat itu di rekam dengan batu jiwa sebelum mereka di hisap oleh senjata Penghisap Jiwa milik kaisar.
Dewa Iblis yang melihat menatap diam. Entah apa yang di pikirkannya. Dan tiba-tiba dia tersenyum menyeringai.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung