
Setelah memberi pelajaran pada ke empat selir itu, Lun xiang kini menemui ibu suri, ingin melihat keadaannya. Sesampainya disana seorang penjaga mempersilahan Lun xiang untuk masuk.
"Silahkan Selir,"
Lun xiang mengangguk, berjalan menuju tempat Ibu Suri berada dengan wajah datar dan dinginnya, membuat beberapa orang yang melihat menuduk dan takut melihat wajah yang dingin tanpa ekspresi itu.
"Hormat saya ibunda," sapa Lun xiang saat berada di depan ibu suri, sedikit menggerakkan tubuh dan menundukkan kepala, memberi tanda hormat seperti yang di lakukan setiap orang saat bertemu dengan Ibu suri.
Ibu suri mengangguk. "Kemarilah," pintanya untuk mendekat. Lun xiang berjalan mendekat dan duduk di samping Ibu suri. "Bagaimana kabar mu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu suri menggenggam tangan itu dengan lembut.
"Saya baik ibunda. Lalu Bagaimana keadaan Ibunda, apa sudah lebih baik,"
"Hm, ibu sudah lebih baik dan ini berkat bantuan mu. Terimakasih karena sudah membantu ibu menyembuhkan penyakit Ibu," Lun xiang hanya mengangguk, tersenyum kecil. Ibu suri yang melihat ikut tersenyum. Entah kenapa dia merasa selir pertama sangat berbeda, tidak seperti sebelumnya.
"Apa kamu ada waktu nanti malam?"
"Tidak ada. Apa bunda memerlukan sesuatu?"
"Malam ini ibunda ingin mengadakan acara makan malam bersama. Bunda ungin kau hadir juga dalam acara tersebut. Apa kamu mau?"
Lun xiang diam, tidak langsung menjawab. Menatap wajah wanita tua di depannya. Jika menolak tidak enak menyakiti hati wanita tersebut. Tapi jika menerima, yakin akan bertemu dengan para selir itu. Dan akhirnya dengan terpaksa, Lun xiang menerimanya, akan hadir dalam perjamuan makan malam.
"Baiklah, Ibunda tunggu kehadiran mu,"
Setelah menemui ibu suri, Lun xiang kembali kekediamannya. Di jalan menuju tempat tinggalnya, dia bergumam, bertanya pada Sistem X berapa jumlah total poin yang dimilikinya. Dan mendengar poinnya bertambah karena berhasil menyembuhkan ibu suri, Lun xiang ingin membeli sesuatu di Shop Sistem berharap menemukan sesuatu yang berguna untuk nya.
"Apa di Shop Sistem ada Kitab jurus yang cocok untuk ku?"
"Untuk apa?"
"Apa maksud mu untuk apa?" tanya Lun xiang dengan wajah dingin mendengar pertanyaan aneh Pria tua. Bukannya menjawab, tapi malah balik menjawab.
"Ehem....tidak." Jawabnya menormalkan diri, mendengar nada bicara Lun xiang yang dingin, entah kenapa dia bergidik ngeri. "Sebenarnya kau tidak memerlukan itu untuk saat ini. Kau hanya berlu meningkatkan kekuatan mu secepat mungkin. berkultivasi dengan sungguh-sungguh itu saja."
__ADS_1
Tapi aku merasa itu sangat aneh jika tidak memiliki suatu jurus,"
"Tidak perlu dipikirkan. Diri mu itu sangat istimewa. Jika suatu saat waktunya telah tiba kau pasti akan memilikinya sendiri,"
Kening Lun xiang berkerut, apa maksudnya. "Apa kau tidak bisa menjelaskan dengan benar?"
"Untuk saat ini kau tidak perlu tahu. Fokuslah berkultivasi dan meningkatkan kekuatan. Saat kau sudah mencapai tingkat Langit Yuan kau akan tahu dan dapat mengetahui apa yang istimewa dalam diri mu. Tapi untuk mengetahuinya kau memerlukan sesuatu barang yang sangat sulit."
"Barang yang sulit? Apa itu?"
"Kristal darah Klan Neter," jawab Pria tua membuat Lun xiang mengerutkan kening. Kristal apa itu? Kenapa baru kali ini dia mendengarnya.
"Bisa kau jelaskan dengan rinci apa itu Kristal darah Klan Neter?"
Jika kristal itu memang bisa membangunkan sesuatu yang istimewa di tubuhnya, Lun xiang akan melakukan apapun, termasuk keluar dari Istana dan mengembara, mencari kristal tersebut.
Pria tua menjelaskan semuanya, termasuk kristal itu berasal dari Klan apa. Lun xiang yang mendengar diam, berpikir. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kristal yang susah di dapat itu. Lun xiang yakin itu tidaklah mudah, karena saat ingin mendapatkan nya dia pun harus memasuki wilayah Klan Neter yang penuh bahaya.
"Untuk saat ini fokuslah berlatih. jangan memikirkan hal lain. Tapi aku sarankan, kau berlatih di luar, karena selain mendapatkan pengalaman kau akan tahu macam-macam orang kuat di luaran sana."
Lun xiang entah kenapa memiliki pemikiran akan ada saatnya mengalami hal yang sulit dan bahaya. Jika dirinya tidak menjadi kuat, Lun xiang tidak ingin mati untuk kedua kalinya. Apapun yang terjadi di hidupnya yang kedua ini, Lun xiang akan merubah, menjadikan dirinya kuat untuk menghadapi bahaya yang akan datang.
"Ayo kita kembali. Malam nanti aku yakin ada hal yang tidak mudah."
Malam hari, dengan di temani Bibi Qin, Lun xiang pergi ke kediaman ibu suri. Saat menuju kesana, dirinya bertemu dengan ke empat selir kaisar. Namun aneh nya mereka semua menggunakan cadar dan baju tertutup, membuat Lun xiang menaikkan satu alisnya melihat perubahan cara berpakaian mereka.
Ke empat selir yang melihat Lun xiang langsung emosinya meledak. Mereka teringat dengan apa yang di lalukan Lun xiang siang tadi. Dan ternyata Lun xiang memberikan sebuah Pil yang membuat tubuh mereka menjadi gatal-gatal dan kini tubuh itu penuh penuh bintik-bintik merah.
Mereka marah karena kini mereka tidak bebas menunjukkan wajah cantik mereka. Apalagi tubuh dan wajah itu pun tidak hanya terdapat bintik-bintik, tapi ada juga lebam dan memar akibat di pukul serta di tampar oleh Lun xiang.
"Ada apa dengan cara berpakaian kalian?" Tanyanya langsung menyulut api kemarahan mereka berempat. "Dasar wanita sialan." makanya dalam hati.
Mendengar pertanyaan selir petama yang menurutnya pura-pura bodoh, Keempat selir langsung maju dan ingin menyerang Lun xiang.
__ADS_1
"Ja-lang sialan, ku bunuh kau!"
Mereka ingin menyerang dan membalas apa yang di lalukan Lun xiang padanya. Saat mereka melayangkan tangan, suara seseorang menghentikan mereka. Dan ternyata itu adalah suara kaisar.
"Apa yang kalian lakukan?" Seru kaisar menghampiri dengan wajah datar dan dingin.
Semuanya langsung menoleh, dan ternyata itu adalah kaisar. Mereka langsung menunduk dan memberi hormat.
"Hormat hamba Yang Mulia." Sapa mereka tapi tidak dengan Lun xiang.
Lun xiang yang melihat suaminya menghampirinya, mengabaikan, tidak peduli sedikitpun. Dan kaisar yang tidak dianggap kehadirannya, menatap dingin selirnya itu. Ada apa dengan selir pertamanya itu. Kenapa sepertinya dia sama sekali tidak di harapkan kehadirannya.
"Ada apa, apa ada masalah?" tanyanya pada mereka semua.
"Tidak Yang Mulia," jawab ke empat selir, tapi tidak dengan Lun xiang.
"Lebih naik kalian segera le tempat perjamuan. Jangan sampai membuat ibunda menunggu lama."
"Baik, Yang Mulia."
Setelah mengatakan itu, kaisar pergi meninggalkan mereka semua yang masih betah disana, menatap tajam satu orang yang mereka benci. Ya, Keempat selir itu begitu membenci Lun xiang.
Lun xiang yang malas melihat wajah mereka mengabaikan, pergi lebih dulu meninggalkan mereka yang menurutnya tidak penting.
"Cih belagu sekali dia. Ingin sekali ku robek wajah sok dingin dan datarnya itu." Ucap Mey Ling yang paling membenci Lun xiang. Semuanya mengangguk, membenarkan apa yang di katakan Selir kedua.
Sedangkan Lun xiang saat ini mengingat apa yang di katakan kaisar barusan saat melewatinya. Kaisar berkata tidak menyukai sifat dingin dan datarnya itu. Lun xiang yang mengingat berdecih, apa urusannya dengan sikap nya. Apakah itu penting.
.
.
Bersambung
__ADS_1