
Ngus....
Naga Api mendengus di depan mereka semua. Nafasnya yang panas langsung menerpa tubuh mereka membuat mereka memejamkan mata merasakan nafas yang begitu kuat itu.
"Aku memberikan kalian kesempatan. Tetaplah di tempat maka nyawa kalian akan selamat," ucap Naga Api memperingati agar tidak mengganggu Tuannya mengambil benda pusaka tersebut.
Mereka yang memiliki kekuatan lemah tentu saja diam, tidak berani menjawab. Jika mereka berani menjawab dan melawan sudah jelas mereka akan berakhir mati. Tapi tidak untuk mereka yang memiliki kekuatan lebih tinggi, merasa mereka akan mampu melawan Naga Api jika bekerja sama.
"Kau pikir kami akan menyerah begitu saja. Apapun yang terjadi kami juga berhak memiliki Benda Pusaka itu," jawab seorang ketua yang memiliki kekuatan di Manifestasi tingkat Awal, berdiri dengan berani maju lebih depan.
"Ya, kami tidak akan menyerah walaupun kami harus melawan ku Naga sialan!" saut ketua lainnya.
"Sungguh manusia yang tidak tahu tingginya langit. Baiklah, karena kalian ingin mengantarkan nyawa maka aku tidak akan segan melenyapkan kalian semua."
"Tidak, jangan bunuh kami. Kami menyerah. Kami tidak menginginkan benda pusaka itu. Silahkan ambil dan kami mohon jangan bunuh kami." Teriak semua orang yang memiliki kekuatan Tingkat bawah, tidak ingin mati sia-sia.
"Dasar pengecut." Ucap seorang ketua merendahkan para bawahannya dan mengibaskan tangannya, melesatkan kekuatan menghantam para bawahannya yang memilih menyerah.
Wuus....
Duaar....
Semua bawahan itu terpental oleh kekuatan ketua mereka, membuat tubuh mereka menghantam dinding tempat tersebut.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Uhuk...Uhuk...
"Ampuni kami Ketua, kami tidak sanggup untuk melawan Naga itu."
"Dasar sampah."
Ketua lainnya ingin membunuh mereka semua lantaran mereka sangat tidak berguna. Tapi sebelum itu terjadi, Naga Api yang melihat menyemburkan nafas apinya membuat kobaran api menyembur ke arah mereka semua.
Awas.....
Mereka semua melompat menjauh menghindari semburan api yang panas. Ada di antara mereka semua yang terlambat menghindar tubuh mereka langsung hangus menjadi abu, membuat mereka yang melihat terkejut. Sungguh nafas api yang sangat kuat.
"Kurang ajar! Akan ku bunuh kau Naga sialan!"
Para ketua berkumpul dan menyerang bersama Naga Api. Melesatkan kekuatan mereka menghantam ke arah tubuh Naga Api. Namun tubuh besar Naga Api sama sekali tidak terluka membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Serang bersama dan keluarkan kekuatan terbesar kalian," seru seorang ketua memberi perintah.
Mereka berdiri melayang mengepung Naga Api dan setelah itu membuat sebuah jurus di tangann, menggabungkan kekuatan mereka menjadi satu. Sebuah sinar berwana hijau mncul dari atas dan perlahan dari sudah itu terdapat pusaran, sebuah tangan raksasa muncul dengan pola-pola unik dan perlahan bergerak keluar.
"Bunuh Naga sialan ini!"
Naga Api mendongak menatap tangan raksasa yang berada di atasnya. "Trik rendahan,"
Naga Api membuka mulutnya lebar-lebar. Sebuah kekuatan besar berwarna merah perlahan keluar dan melesat secepat kilat mengarah ke arah jurus tangan besar tersebut, menghantamnya membuat angin berhembus sangat kencang.
Dua kekuatan itu saling beradu. Siapa yang lebih kuat dialah pemenangnya.
Krak....
Krak....
"Bertahan."
Perlahan Jurus Tangan Besar itu retak dan serangan Naga Api menembusnya, membuat Jurus Tangan Besar langsung hancur dan para ketua itu memuntahkan darah dari mulutnya.
Uhuk...
Uhuk...
Uhuk...
"Ya, sepertinya kita memang bukanlah lawan nya."
"Bagiamana jika kita membagi tugas, kalian hadapi Naga ini dan aku membunuh wanita yang hanya berada di tingkat Yuan Dan itu,"
"Baiklah. Bunuh secepatnya wanita itu agar kita bisa memiliki ketiga benda pusaka itu."
Semua mengangguk dan melakukan rencana mereka. Empat di antaranya menghadapi Naga Api dan satu di antaranya akan membunuh Lun xiang.
Wuus....
Mereka melesat ke arah masing-masing. Sedangkan seorang yang kini menghampiri Lun xiang mengeluarkan kekuatannya, mengarahkan kekuatan kearah Lun xiang yang masih berusaha memecahkan penghalang yang melindungi ketiga pusaka tersebut.
Lun xiang yang menyadari sebuah serangan mengarah kearah mereka langsung berbalik dan mengeluarkan jurus Tapak Darah menghalau serangan dari seorang ketua tersebut.
Boom....
Duuar....
Lun xiang yang melihat menatap dingin wajah tua itu. Beraninya menyerang dari belakang.
__ADS_1
"Bersiaplah mati di tangan ku wanita lemah," ucap pria itu yang meremehkan kekuatan Lun xiang.
Pria itu langsung melesat dengan cepat mengarah ke arah Lun xiang dengan pedangnya, ingin menebas tubuh Lun xiang dalam sekali serang. Lun xiang masih dengan wajah dinginnya dan mengeluarkan Pedang Naga Api menghalau Pedang tersebut.
Trang.....
Wuuus....
Dua Pedang saling beradu dan dua kekuatan menyebar di sekitar. Membuat hembusan angin menerpa dengan kuat.
"Kenapa wanita ini memiliki kekuatan yang kuat? Bukankah dia hanya berada di tingkat Yuan Dan?" Bingung ketua tersebut saat beradu kekuatan dengan Lun xiang.
"Berani mengganggu ku, bersiaplah mati,"
Lun xiang mengerakkan satu tangannya, membuat Jurus dan setelah itu menghantamkan ke tubuh Ketua tersebut. Membuat ketua itu langsung terpental. Lun xiang tidak membiarkan begitu saja. Dia melesat dengan kecepatan kilat menghampiri dan menendang tubuh ketua tersebut membuat ketua itu kembali terpental.
"Sialan! Alam ku bunuh kau wanita sialan!" Geram ketua itu melihat dirinya di permainkan oleh seorang wanita yang memiliki kekuatan lemah.
Hiaaa......
Ketua itu mengeluarkan semua kekuatannya. membuat cahaya terpancar menyelimuti tubuhnya dan setelah itu melesat ke arah Lun xiang.
Trang....
Trang....
Trang....
Pedang saling beradu saat kedua saling menyerang.
Syuut....
Boom....
Duuar....
Dinding tempat itu runtuh oleh kekuatan dua orang yang berbeda kekuatan. Tingkat Manifestasi melawan Tingkat Yuan Dan, sungguh tingkat kekuatan yang tidak seimbang. Namun Lum xiang mampu mengimbangi kekuatan ketua tersebut.
Sedangkan Naga Api sendiri malah begitu santai melawan keempat ketua tersebut, membiarkan keempatnya terus menyerang sambil matanya tak lepas melihat Tuannya bertarung. Sungguh Tuannya itu berbeda dengan para pendekar umumnya. Ada sesuatu yang menarik di diri Tuannya, yakin bahwa pilihannya menjadikan Lun xiang tuannya adalah benar.
.
.
Bersambung.
__ADS_1