Still You

Still You
Kedekatan.


__ADS_3

Waktu semakin terasa cepat. Detikkan jam kini membawa mereka menjadi semakin dekat.


Masih sebagai teman, tentunya.


Ujian nasional yang semakin dekat, membuat hampir seluruh siswa-siswi SMK 7 Gajah Mada kelimpungan di buatnya.


Seperti saat ini. Hari senin dengan matahari yang sangat menyengat, semua siswa-siswi SMK 7 Gajah Mada tersebut sedang berbaris di tengah lapangan, mendengarkan pak Buana yang sedang berbicara panjang lebar di depan sana.


"Panas banget!" Celetuk Liya pelan. Di depan sana, pak buana masih berbicara tanpa memikirkan dirinya yang kepanasan di tempatnya.


"Jadi gitu ya, anak-anak. Buat yang kelas dua belas, banyakin belajar, ujian nasional tinggal seminggu lagi."


Yulia masih tetap mendengarkan, tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya tersebut. Berbeda dengan Liya yang sedari tadi terus mengeluh dan sempat berfikir, 'pura-pura pingsan enak nih'.


Tetap saja, tidak kunjung Liya lakukan. Takut-takut jika ia tertawa ketika di gendong.


Sedangkan Wulan, ia tidak mengeluh apalagi mendengarkan. Pikirannya yang sibuk memikirkan 'kapan ia bisa tidur' itu membuat nya ingin cepat-cepat selesai dan ingin rasanya ia menyuruh kepala sekolahnya ini segera turun dari mimbar.


"Ingat, ya! Ujian nasional kurang seminggu lagi. Kelas 10 dan 11 akan di liburkan."


Terdengar dengusan dari beberapa siswi dan sorakan senang dari beberapa siswa. Suasana yang mendadak ricuh, membuat pak Buana kembali bersuara.


"Sudah-sudah. Sekian pidato singkat dari saya, jalani hari kamu dengan senang, semangat, terimakasih dan wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"


Terdengar jawaban salam serentak dari seluruh siswa-siswi di sana.


Liya mendengus, "bosen banget gua di ingetin ujian ujian terus!"


🦋🦋


Saat ini Yulia, Wulan dan Liya baru saja memasuki kelas, bersamaan dengan siswa-siswi kelas 12 tata busana yang lainnya. Bayangkan saja, hampir dua jam ia di jemur di bawah matahari yang sangat terik. Lelah dan gerah itu pasti mereka rasakan.


Liya mengipas-ngipas-kan tangannya ke wajah, tanda jika dia kegerahan.


"Ceramah dua jam di bilang pidato singkat?!"


"Gak tau aja muridnya udah persis ikan asin yang lagi di jemur!"


"Ini lagi, keringet kok gak ilang-ilang?!"


Sepanjang jalan menuju kelas, Liya tak henti-hentinya mengomel. Hal tersebut membuat Yulia memutar kedua bola matanya malas.


"Alay lo! Dah lah, gua mau tidur!" ucap Wulan.


Sepertinya ia tak sabar ingin tertidur pulas di dalam kelas hari ini. Ah, ralat. Bukan hanya hari ini, tapi setiap hari ia ingin.


"Haus gua."


"Bawa minum gak?" Yulia bertanya, tetapi Wulan hanya menggeleng.


"Yahh, sayang sekali ... gua cuma punya kasih sayang, bukan minuman."


Oke, Yulia mendadak ilfeel dengan temannya yang satu ini. Liya namanya.


Yulia mendengus, kemudian berdiri. Berniat membeli minuman di kantin, tanpa mengajak temannya. Mereka itu ... menyebalkan, bukan?


"Mau ke mana lo?" Yulia di kagetkan oleh suara Adi yang baru saja datang. Tangannya memegang botol air mineral dan beberapa cemilan.


Matanya mengikuti arah pandang Yulia yang sedang melihat botol di tangannya, membuat Adi terkekeh.


Adi mengulurkan tangannya untuk memberikan botol air mineral tersebut pada temannya. "Minum," ucapnya singkat.


"Duduk lo, abis ini gurunya dateng, mending duduk anteng dari pada keluar."


Yulia hanya diam, memperhatikan adi yang kini duduk, seraya memakan cemilan yang tadi ia bawa.

__ADS_1


Adi yang sadar di perhatikan, ia melirik yulia, "apa? Gua kalo di liatin sama 'mereka' udah biasa, tapi kalo di liatin lo, itu MasyaAllah rasanya."


Yulia mengerjap, mengalihkan pandangannya baru kemudian duduk. Ia mengambil botol yang berisi air mineral, kemudian meminumnya.


"Bagi dong, anjir!" Liya mencibir, kemudian mengambil botol itu ketika Yulia memberikannya.


"Di!" Yulia memanggil, membuat Adi menoleh, menatap dirinya.


Suasana kelas yang masih ramai, membuat Yulia merasa bebas untuk mengobrol, tanpa harus takut jika ada yang menguping.


"Kira-kira kalo gua tanya-tanya soal kemampuan indigo lo, lo marah atau tersinggung gak?"


Adi berfikir sejenak, kemudian mengedikkan bahunya tidak tahu. "Tergantung."


Melihat Yulia yang sepertinya kebingungan, Adi melanjutkan kalimatnya.


"Kalo niat lo cuma nanya-nanya karena emang mau tau, gua gak papa."


"Kalo mau nyinyir, gua bogem."


Jawaban tersebut sontak membuat Yulia menghela nafas, memanyunkan bibirnya, seraya berfikir.


"Kenapa? Lo mau nanya?"


Yulia menoleh lagi, kemudian mengangguk. "Gua selalu pengen tau tentang hal mistis."


Adi menatap Yulia sebentar, kemudian meletakkan cemilan di atas mejanya.


"Khusus lo, tanya sesuka lo."


"Dih, tapi ntar lo bogem!"


"Enggak, tenang aja!"


"Iya!"


"Bener loh."


"Gua bogem beneran nih?" Dan kemudian mereka tertawa bersama. Tawa pelan, lebih tepatnya.


"Punten."


Suara dari seseorang itu mengalihkan atensi seluruh siswa-siswi 12 tata busana pada saat ini. Seorang lelaki yang terkenal nakal, memasuki kelas.


Habil.


Membuat beberapa siswi terus melihatnya, dan beberapa berbisik tentangnya.


Tentu saja, Habil mengabaikannya.


"Selamat pagi!" Habil menyapa, seraya menarik kursi kosong. Tangannya yang jahil menggebrak meja Wulan sedikit keras, membuat Wulan yang hampir pulas itu mendadak bangun.


"Waktunya bangun, Lan! Udah sore."


Wulan menatap Habil geram, ingin menerkamnya sekarang juga.


Sedangkan yang lainnya, mereka menahan tawa.


"Sialan, pergi ae lo!"


Wulan yang baru saja kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangannya di atas meja, berniat ingin kembali tidur. Tetapi tangan jahil yang berusaha mengganggunya itu membuat dirinya kembali kaget.


Bayangkan saja, Habil mencabut sehelai rambut hitamnya.


Wulan berdiri, berkacak pinggang dan menatap Habil garang. Yang di tatap bukannya takut, Habil malah tersenyum puas. Tangannya bergerak ingin mengantongi sehelai rambut itu seraya berucap. "Lumayan buat di guna-guna."

__ADS_1


Wulan membelalakkan matanya tak percaya, kemudian merebut sehelai rambutnya dari tangan Habil yang baru saja akan memasuki kantong seragam nya.


"Iih mau lo apa sih?"


"Mau comblangin lo sama temen gua, mau gak?"


Diam sebentar.


Otaknya sedikit lemot ketika ia baru saja bangun dari tidurnya.


"Ogah, temen lo gak jelas semua. Pergi lo, ah!"


"Yulia ... ih!" Wulan merengek, meminta Yulia agar cepat mengusir pria di depannya ini. Mengganggu saja.


Yulia terkekeh, "Apa, Lan?"


Wulan menatap yulia dengan tatapan memohon, berharap Yulia menurutinya. "Usir Habil ih!"


Yulia yang juga ingin menggoda Wulan, ia mengedikkan bahunya.


"Lo kira gua pawang buaya? Mana bisa gua ngusir dia," ucapnya menahan tawa.


Habil yang tak terima, ia mengalihkan pandangannya ke arah Yulia, menatapnya tak setuju. "Gua udah bukan buaya, Ya!"


"Tapi?"


"Komodo!" lanjut Wulan dan liya bersamaan, kemudian tertawa.


"Mampus, pergi lo!"


Habil mendengus, kemudian menggeleng tak setuju.


"Balik sono, pak Mukhlis abis ini dateng," Adi berucap, membuat Habil menatapnya sebentar.


"Pak Mukhlis lagi diare, Men."


Yulia, Adi, Liya dan Wulan mengerutkan keningnya heran. "Tau dari mana lo?" Mereka bertanya kompak.


Habil menyengir, seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kebe--"


"Selamat pagi anak-anak!"


Sedikit terkejut, refleks Habil memundurkan kursinya, menempatkan pada tempatnya.


Mereka menjawab, dan mendadak kelas itu hening setelahnya.


Anis, seseorang yang saat ini berada pada satu bangku dengan Habil, ia tersenyum malu, seraya mencuri pandang ke arah Habil.


Habil yang menyadarinya, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Anis, kemudian berbisik.


"Aa Habil pinjem kursinya bentar. Temennya gak masuk, kan?" ijinnya membuat Anis mengangguk, seraya tersenyum malu.


"Maaf bapak telat masuk kelas, bapak diare," jelas pak Mukhlis, seraya duduk dan meletakkan beberapa buku yang ia bawa ke atas meja.


Di saat itu pula, Yulia, Wulan, Adi dan Liya menoleh kompak ke arah Habil, meminta kejelasan. Habil yang memang sedang menatap Yulia, ia menaikkan sebelah alisnya, kemudian menggeleng.


"Bukan gara-gara gua, njir," bisiknya.


Lagi-lagi mereka mendengus, kemudian di kagetkan oleh sebuah suara. "Kamu yang sebangku sama Anis. Sepertinya bukan anak kelas ini, ya?"


Deg!


Habil ketahuan.

__ADS_1


__ADS_2