
"Lo gak pantes hidup, Nur!" Ucapnya, kemudian mendorong bahu Nuri dengan ganggang besi pada pisau yang ia pegang.
"Aaaa!" Nuri berteriak nyaring dan sedetik kemudian ia mendarat. Terlihat, hampir seluruh siswa-siswi SMK Gajah Mada keluar dari kelasnya, mencoba melihat ada apa di sana?
"Kabur, bego!" Teriaknya, kemudian melarikan diri, meninggalkan Alisa yang sedang membeku, hingga sebuah teriakan terdengar menyeramkan di telinganya.
"ALISA QOTRUNNADA!"
"Astaga!" Ia kaget, terduduk di atas tempat tidur karena mimpinya. Masa-masa tersebut adalah hal yang suram, membuatnya menyesal di masa sekarang.
Alisa meraih segelas air putih di atas nakas, kemudian meneguknya habis. Ingatannya kembali mengingat, mimpi yang terasa nyata, sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Astaga, Alisa!" gumamnya frustasi seraya mengacak atau bahkan menarik rambutnya. Sungguh, perasaan bersalah itu selalu muncul menghantuinya.
Waktu Indonesia bagian barat sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Alisa menghela napas berat, kemudian berjalan menuju balkon kamarnya.
Angin pagi yang masih begitu segar tanpa kotoran itu terasa membelai lembut kulit wajahnya. Alisa memejamkan matanya sejenak, merasakan sentuhan angin pagi. Sedetik kemudian, Alisa membuka matanya lalu bergumam, "maaf, Nuri."
🦋🦋😀
Hari semakin sore, menunjukkan pukul empat sore waktu Indonesia barat. Alisa sedang berada di salah satu tempat pemakaman yang berada di kota bandung, ia berjalan dan pikirannya terfokus pada sesuatu yang selama ini selalu mengganjal di hatinya.
Setelah beberapa menit berjalan, Alisa akhirnya sampai. Alisa berjongkok di samping salah satu makam, tertera nama 'Nuri Sinta' di sana.
Alisa memegang batu nisan bertuliskan nama Nuri, di detik berikutnya satu tetesan air mata menetes menuju dagunya.
"I regret," celetuknya. [Aku menyesal.]
"I'm sorry, Nuri!" Lanjutnya.
Air mata yang tadi hanya satu tetes, kini berubah menjadi aliran deras. Sesekali Alisa mengusap ingusnya, dan terakhir mengirimkan doa, supaya Nuri tenang di sana.
"Aku pamit dulu, ya. Bulan depan InsyaAllah kesini lagi!"
🦋🦋
"Lo yang bener dong, Bil!" Ucap Yulia kesal, dengan sedikit meninggikan nada suaranya, membuat Habil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, seraya menatap Yulia dengan cengiran khasnya.
"Gua harus gimana?" Pertanyaan Habil barusan membuat Yulia menghembuskan napas kasar, lalu membanting bolpoin ke atas meja.
"Ck, kapan sih lo pinter?" Tanya nya beralih menatap Habil.
__ADS_1
Habil mendengus, dalam hati ia ingin berkomentar, tetapi ia tahan. Tidak lucu jika ia di usir dari rumah Yulia karena sudah membuatnya kesal, 'kan?
"Iya ... sorry!"
Mengalah, itu lah yang ada di pikiran Habil saat ini. Mengalah adalah jalan yang tepat menurutnya. Cari aman, pikirnya.
"Hm," Yulia bergumam. Matanya kembali setia menatap buku yang ia pegang.
"Pahamin tentang 5W+1H nya. Heran, pelajaran bocah TK kok gak bisa," omelnya.
Habil mengerutkan keningnya heran, "TK?"
Yulia mengangguk, masih fokus menatap buku miliknya. Sesekali Habil melirik Yulia yang sedang fokus, senyuman tipis terukir di bibir tebal milik Habil.
Cantik.
'Bukan gak bisa, lebih tepatnya modus, Ya!' Batinnya.
"Apa lo?" Pertanyaan ketus dari Yulia itu membuat Habil tersadar, mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Hah? Enggak, tadi ada belek noh di mata lo!"
Tentu saja Habil berbohong. Refleks, Yulia memalingkan wajahnya, lalu membersihkan area matanya. Wajahnya pun sedikit memerah karena malu.
Yulia yang sadar, ia mendengus, melirik sinis ke arah Habil. "Pahamin tentang ide pokok juga! Itu bakal keluar," titahnya.
Habil mengangguk-anggukan kepalanya, tetapi matanya malah menyapu pandangan dari sudut ke sudut.
"Siapa tuh?"
Pertanyaan Habil membuat Yulia menoleh, mengikuti arah pandang Habil yang ternyata tertuju pada foto-foto di atas nakas.
"Sepupu gua, kalo mau minta kenalin udah telat. Dia udah punya cowok," jawabnya seraya kembali menatap bukunya.
Habil berdecak, "bukan."
"Itu yang lo peluk," lanjutnya.
Yulia mendesis, beralih menatap Habil tajam. "Lo mau belajar atau wawancara gua, sih?" Tanyanya sebal.
"Wawancara itu termasuk dalam pelajaran bahasa Indonesia, 'kan?"
__ADS_1
Dengan percaya dirinya Habil menatap Yulia, seraya melontarkan kalimat tersebut. Yulia melirik sekilas, kemudian membuang napas kasar.
"Itu Mama," celetuknya, membuat Habil mengangkat sebelah alisnya.
"Oh ... Mama mertua?"
Diam.
Yulia mendengus, kemudian lanjut terfokus pada buku di depannya.
"Mama kemana, Ya?" Tanyanya lagi, tetapi di abaikan.
Ting!
Satu notifikasi pesan terdengar. Yulia melirik layar ponselnya yang mendadak nyala, terpampang pesan dari Adi di sana.
Aditya Muhammad.
Gua mau ke rumah lo, kasih alamat!
Yulia menghela nafas, bersiap mengetikkan balasan.
^^^Anda.^^^
^^^Waktu jam bertamu abis ini gua tutup. Lain kali aja, gua capek.^^^
^^^Lagian bukannya lo udah tau rumah gua di mana?^^^
Setelah membalas pesan tersebut, Yulia meletakkan ponselnya asal. Matanya melirik jam dinding, kemudian menatap Habil. "Udah sore, pulang lo!"
Habil melihat jam tangannya, menunjukkan pukul setengah lima sore waktu Indonesia barat. "Masih jam setengah lima, Ya!"
Yulia memutar kedua bola matanya malas, merapikan buku-buku yang sedari tadi berserakan.
"Terus lo mau pulang jam berapa? Lo masih pake seragam, bau!" Ucapnya tanpa menatap Habil yang sedang mengendus bajunya.
Habil menyengir, mengakui jika memang dirinya bau. "Iya, gua pulang."
Di detik berikutnya, Habil ikut merapikan bukunya, dengan sesekali melirik Yulia. Bahkan, sepertinya dia tak akan bosan dengan wanita di dekatnya ini.
Yulia mengangguk, "bagus."
__ADS_1
Setelah beberapa lama, Habil bersiap untuk pulang setelah mengucapkan, "salam buat Mama mertua, Ya!"