
Zidan pratama adalah mahasiswa semester lima di universitas Gajah Mada. Perawakannya yang tinggi, tegap dan berkulit sawo matang itu membuatnya tak jarang menjadi rebutan tiap wanita.
Beberapa di antaranya yang pernah dekat, mengaku tak tahan dengan sikapnya yang aneh dan sering berubah-ubah. Kadang seperti wanita yang manja, kadang seperti homoseksual yang haus akan perhatian, bersikap merengek seperti anak kecil atau bahkan tempramental.
Opsi terakhir lah yang membuat kebanyakan wanita tak berani berlama-lama dekat dengannya.
Zidan Pratama. Mempunyai gangguan disosiatif, atau juga bisa di sebut dissociative identity disorder (DID).
Dissociative identity disorder, adalah gangguan yang sedang di alami oleh Zidan beberapa tahun belakangan. Dalam istilah psikologi, dissociative identity disorder adalah kepribadian lain, sering disebut sebagai kepribadian ganda. Saat Kepribadian ganda mengambil alih kesadaran, penderita akan menjadi pribadi lain dengan nama, usia, jenis kelamin, atau sifat yang berbeda. Bahkan, tidak menutup kemungkinan penderita merasa dirinya adalah seekor hewan.
"Sialan!" Zidan mengumpat, membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya meliriknya heran.
Di sana lah Zidan berada, sedang duduk di kursi taman kampus, sendirian. Niatnya menunggu seseorang ia urungkan ketika satu pesan baru saja masuk dan membuatnya kesal.
081234567890
Aa Zidan, kita ketemu lain kali, ya. Aku sibuk.
Zidan menggeram pelan seraya meremas ponselnya.
"Dia yang ngajak ketemu, dia yang batalin."
Setelah mendengus, Zidan berdiri, berniat untuk pergi. Sampah kaleng yang tidak bersalah pun ia tendang, tak tahu arah.
Zidan berjalan, tak tahu tujuan. Matanya melihat kemana pun ia mau. Beberapa langkah kemudian, kepalanya terasa sakit ketika ia melihat dua orang laki-laki sedang duduk berdampingan, bercengkrama dan tertawa bersama.
Entah mereka sedang apa, tetapi seketika kepingan-kepingan masa lalu nya kembali teringat, membuat kepalanya terasa semakin sakit.
Zidan berhenti, menutup matanya, berjongkok seraya memegang kepalanya, dengan sesekali meremas rambutnya.
"Arrgh!" Umpatnya.
Sedetik kemudian, tangan seseorang memegang pundaknya, membuat tubuh Zidan seketika menegang.
__ADS_1
🦋🦋
Miko dan Afif kini sedang berjalan-jalan santai, menyapu pandangannya kemanapun yang mereka mau. Lebih tepatnya, mereka sedang berjalan-jalan di area universitas Gajah Mada. Berniat melakukan survei terhadap calon universitas yang akan ia tempati hingga menyandang gelar sarjana nantinya.
Miko mengeryit, menepuk bahu Afif yang sedari tadi tak berhenti menatap orang-orang yang terlihat seperti berkencan.
"Apa sih, Ko?"
Miko mendengus, menunjuk suatu objek yang ia lihat dengan dagunya. "Liat, Jing!"
Afif menurut, menoleh. Terdapat satu lelaki yang sedang berjongkok seperti sedang frustasi, tak jauh darinya. Mereka saling bertatapan, sedetik kemudian mereka berucap serentak. "Tolongin!"
Dan di detik berikutnya, mereka berlari menghampirinya, kemudian mencoba menyentuh pundaknya, membuat orang di depannya itu sepertinya menegang.
"Eh-- tenang! Kita cuma mau bantuin," celetuk Miko seraya tersenyum kaku.
Orang itu menoleh. Iya, dia Zidan.
Zidan menoleh, diam sejenak seraya menatap Miko dan Afif bergantian.
Zidan tersenyum kaku, seraya mengangguk. Sedikit gugup, ia menjawab. "I-iya!"
"Berdiri dulu," suruh Miko seraya membantunya berdiri.
Zidan terpaku, menatap Miko tanpa henti, sampai satu senyuman yang terlihat manis kini seperti menghipnotisnya.
Zidan mematung, batinnya berbisik. 'Manis!'
"Gua Miko dan ini temen gua, Afif."
🦋🦋
Zidan berjalan memasuki rumahnya dengan raut senang terpancar di wajahnya. Jam dinding di rumahnya pun kini sudah menunjukkan pukul lima sore, membuat Liya diam memperhatikan ketika melihat kakaknya se-sumringah sekarang.
__ADS_1
Demi apapun, Liya tak pernah melihat kakaknya sebahagia ini, batinnya.
"Ada apa, nih? Tumben?" Liya bertanya, seraya mengikuti Zidan dengan langkah kecilnya.
Yang di tanya malah acuh, melanjutkan langkahnya menuju kamarnya tanpa memperdulikan Liya.
Liya sebal, tangannya kini berancang-ancang ingin melayangkan pukulan di bahu kakaknya, seraya merengek. "Bang Zidan ... ih!"
Yang di pukul berhenti, menatap datar. "Zidan siapa?"
Liya mematung, menatap punggung Zidan tak percaya. Matanya berkedip-kedip, meratapi kebodohannya.
"Bego, itu pasti kepribadian yang lain!' monolognya.
"Duh, bang Zidan pekan depan jangan lupa ya, waktunya psikoterapi!" Lanjutnya berteriak.
"Biar Liya anterin!" Gumamnya terdengar cemas.
Kecemasannya seketika menghilang saat sebuah suara menjawab teriakannya barusan.
Liya menoleh ke sumber suara, "hah?"
"Bukannya masih harus sekolah?" Jawabnya seraya membuka kulkas, membuat mata Liya menyipit.
Mencurigakan.
"Libur sehari kan bisa!" Jawabnya santai.
Terlihat Ryan yang sedang menatap isi kulkas, lalu mengambil beberapa makanan dari sana.
"Oh gitu?"
Liya mengangguk. Sedetik kemudian, ia membelalakkan matanya tak terima, lalu berteriak nyaring. "KAK RYAN, ITU PUNYA LIYA IH!"
__ADS_1
Ryan tertawa, merasa berhasil mengelabuhi adiknya. Ia tetap melangkah dan berlalu setelah membalas teriakan adiknya.
"Makasih, Dek!"