Still You

Still You
Malam itu.


__ADS_3

"Anak baru itu pacar lo?"


Wulan menoleh dengan cepat, membuatnya bisa melihat Afif yang sedang berdiri tak jauh darinya. Raut wajahnya tak ter-tebak, datar.


Mengapa sedatar itu?


Wulan meneguk ludahnya sedikit susah, seperti kepergok berselingkuh saja. Padahal dirinya dan Afif adalah musuh bebuyutan sejak mereka berada di taman kanak-kanak.


Aneh, dari TK mereka selalu bersekolah bersama. Kebetulan 'kah?


"Duduk dulu, Lan!" Yulia menyuruh Wulan duduk, meminta air putih kepada pelayan lalu menyuruhnya minum.


"Ish kayak abis kaget aja gua di kasih minum," gerutunya setelah meminum air putih yang Yulia berikan.


"Bener lo pacaran sama anak baru itu?" Lagi-lagi Afif bertanya, menatap Wulan tajam dan datar.


Wulan diam, menatap Afif yang masih berdiri. Ia bingung harus menjawab bagaimana.


Melihat Wulan yang diam, Afif menggeram pelan. Wajah datarnya berubah menjadi sedikit seram.


Dengan gerakan cepat, Afif berlalu dari sana menuju mejanya. Di sana sudah ada Habil, Miko dan Aldi yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Sorry tadi buat kehebohan."


Adi berujar tak enak, duduk di sebelah Wulan seraya menatap Yulia dan Wulan bersamaan.


"Tadi itu ada apa?" Yulia bertanya, berusaha sabar.


Adi menarik nafas panjang, lalu menjelaskan. "Tadi itu mantan gua."


"Ya intinya dia maksa balik, jadi gua bilang udah ada pacar dan itu Wulan."


Di luar dugaan. Bukannya marah, Yulia malah tertawa, membuat beberapa mata mengarah menatapnya, termasuk Habil.


"Lo gak modal banget! Sewa orang kek, apa kek. Cari pacar beneran kek!" ucapnya setengah meledek. Suaranya ia pelankan setelah sadar jika ia sudah menjadi pusat perhatian.


Adi mendengus, "lo kira gampang cari pacar? Kalo asal nyari mah gampang!"


Terlihat Yulia dan Wulan terkekeh geli seraya menggelengkan kepalanya.


"Eh lo owner nih cafe? Baru tau gua!"


Yulia mengangguk, "lo aja ke sini baru sekali, yakan?"


"Enak aja! Dua kali tau," elak nya.


"Tapi pas cafe nya tutup, jadinya balik deh!" tuturnya kemudian tertawa renyah.


Wulan terkekeh geli, sedangkan Yulia mendengus lalu berucap.


"Yeh dasar, si Bambang emang minta di tampol!"

__ADS_1


🦋🦋


Di meja lain, Habil terus-menerus menatap Yulia yang sedang terkekeh, tertawa atau bahkan mendengus. Ya ... walaupun suaranya tak sampai terdengar dari mejanya, yang penting Habil sudah puas hanya karena ekspresi wajahnya.


"Di liatin mulu, Men? " Miko terkekeh geli, melihat Habil yang sedari tadi melihat ke arah Yulia.


"Tadi gua denger kalo Yulia owner cafe ini dah," ucap Afif berhasil membuat Habil menatapnya dengan mata yang membelalak kaget.


"Serius lo?" Afif mengangguk yakin. Sedetik kemudian, bibir tebal milik Habil terukir senyuman seraya kembali menatap Yulia.


"Udah cakep, jarang ada, pebisnis muda lagi!" ujarnya kemudian terkekeh.


"Iye, cocok sama lu!" Aldi berceletuk, membuat Habil mengalihkan pandangannya ke arah Aldi yang sedang asik dengan cemilan di depannya.


Aldi yang menyadari dirinya sedang di tatap, ia melirik Habil, lalu menelan cemilannya. Terlihat, Aldi sedikit mencondongkan badannya ke arah Habil, menatapnya serius.


"Pertama! Lo gak perlu susah-susah bayarin kencan dan belanjaan dia."


"Kok gitu?"


"Karena dia udah ada pemasukan dari cafe, gak ada yang namanya matre, soalnya lo kere!" Miko menyela, kemudian tertawa.


Habil mendengus, menyenderkan punggungnya di senderan kursi. Matanya melirik meja di mana tadi Yulia ada, tetapi nampak nya Yulia sudah menghilang.


"Di tambah lagi, Yulia pinter, jadi bisa ajarin lo!" Tambah Aldi yang di angguki oleh Miko dan Afif.


"Kalo masalah otak, belajar sama lu ae juga bisa, Al!" Kini Habil melihat Aldi, melipat kedua tangannya di depan dada.


"Yee lo mah keseringan main aplikasi yang ono noh!"


"Tobat lo!"


Afif yang di serbu oleh Miko dan Habil, ia memutar kedua bola matanya malas, kemudian menatap mereka bergantian.


"Gini loh ...," ucap Afif menjeda. "Main gituan juga gak semuanya negatif. Banyak juga yang positif. Qira'ah atau shalawat misal," lanjutnya.


Mendadak menjadi alim, sedetik saja Afif tersenyum bangga.


"Pertanyaan nya, lo di sono shalawat-an atau malah joget-joget ayah muda?" sontak pertanyaan Aldi itu membuat Afif menggaruk tengkuknya.


Afif menyengir, "joget ayah muda, sih."


Sedetik kemudian, Afif mendapatkan lemparan kentang goreng dari Miko yang langsung ia tangkap, lalu memakannya. "Mayan."


"Selamat malam, kak! Cafe kami akan segera tutup, kakak bisa bayar total makanan dan minuman yang kakak pesan di kasir segera, ya!" Ucap salah satu pelayan cafe, membuat Habil, Aldi, Miko dan Afif terkejut, lalu menatapnya.


"Bukannya masih jam sembilan ya, Mbak? Kok tutup?" Afif bertanya, membuat pelayan itu mengangguk.


"Cafe kami memang hanya buka sampai jam sembilan malam, kak!" jawabnya membuat Afif mengangguk.


"Abis ini Afif ke kasir mbak buat bayar," ucap Habil yang membuat Afif melotot tak terima.

__ADS_1


Yang benar saja, ia tidak membawa uang!


Pelayan itu mengangguk seraya tersenyum, kemudian berlalu pergi.


"Wah gila, tadi rame kok sekarang tinggal kita sih, di sini?"


Kalimat Miko barusan sontak membuat ketiga temannya menoleh, lalu mulai mengabsen seluruh meja di sana.


Benar saja, sudah kosong.


Habil menatap Afif, ingin mengerjainya lagi. "Sok-in, bayar!"


"Enak aja! Bayar pake tenaga?" jawabnya ketus, membuat Habil tertawa puas.


Habil merasa seperti sedang mengerjai seorang wanita. Gemas sekali.


Jangan sampai Habil belok, lalu beralih menyukai Afif, Astaga.


Habil berdiri, berjalan santai menuju kasir.


"Jangan tebar pesona lo! Noh, awas kesandung!"


Bahkan sekarang, beberapa pelayan yang sedang membereskan meja yang kosong, kini terkekeh geli melihat kelakuan mereka.


Bagaimana bisa ada empat lelaki yang berteman, tetapi mereka terus-menerus saling mengejek?


Setelah di rasa Habil sudah menjauh, Miko menatap Aldi dan Afif, kemudian sedikit berbisik. "Menurut lo berdua, berapa persen si Habil naksir Yulia?"


"Lapan puluh persen!" celetuk Afif sedikit keras, membuat tangan Miko refleks menjitak kepalanya.


"Jangan keras-keras, etdah!" Miko memperingati, membuat Afif menghela nafas kasar.


Dapet jitakan, jadi tontonan mbak-mbak pelayan pula!


"Kalo menurut lo Al?"


"Gua?"


Miko mengangguk, menunggu jawaban.


"Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen!"


"Buset, sepemikiran!" ucapnya lalu tertawa pelan.


"Bahas ape?"


Deg.


Kalimat yang tiba-tiba terdengar itu membuat Miko, Afif dan Aldi sedikit terkejut. Mereka menatap Habil, kemudian menggeleng kompak.


"Itu ... Ayam tetangga, kemarin ketauan selingkuh!"

__ADS_1


__ADS_2