
Pagi hari yang sangat panas. Seakan-akan matahari pun mendukung akan suasana hati seorang Afif.
Panas.
Afif berjalan malas menuju kelas, bukan untuk mengikuti pelajaran, tetapi agar ia bisa kembali tidur di sana.
Kalau saja tidurnya tidak terus-menerus di ganggu oleh kakak perempuan nya, hari ini ia akan memilih membolos saja.
"Lo mau kemana?" Pertanyaan mendadak itu membuat Afif menoleh sekilas ke arah samping, membuat seseorang di sampingnya hanya menyengir kuda.
"Ngapain lo?" Nada sinis yang terdengar begitu jelas, membuat seseorang di sampingnya sedikit tersentak.
Seseorang itu diam, langkahnya tetap berjalan di samping Afif, membuat Afif mendengus. "Mau ngapain, Lan?"
Wulan terkesiap, menatap Afif dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Lo kenapa, sih?"
Rasanya Wulan sudah tak tahan jika melihat Afif se-sinis ini. Mereka sudah biasa bertengkar, tetapi tidak melempar tatapan se-sinis dan se-serius ini.
"Gua napa?" Afif bertanya datar, pandangannya lurus tanpa menatap Wulan yang ada di sampingnya. Kakinya terus berjalan, mengabaikan Wulan yang sedikit kewalahan menyamai langkahnya yang panjang.
"Hei," lirihnya mencekal lengan Afif, membuat Afif berhenti tanpa menatapnya. Afif menunggu Wulan untuk berbicara, membiarkan Wulan mencekal lengannya.
"Lo marah?" Suara Wulan mencicit pelan, matanya menatap ujung sepatu hitamnya.
Jika Wulan adalah seseorang yang galak, kali ini berbeda. Wulan malah cenderung merasa bersalah, padahal ia juga tak tahu apa salahnya.
Luluh, itulah yang Afif rasakan. Afif menoleh, tangannya bergerak mengusap rambut panjang milik gadis di sampingnya yang sedang menunduk. Rasanya Afif tak sanggup melihat Wulan seperti itu. Melihat Wulan bersikap garang dan memarahinya, itu lebih baik menurutnya.
Senyum tipis di bibir Afif kini terukir, "kenapa dah?"
Afif bertanya sedikit lembut dari biasanya, membuat Wulan mendongak agar bisa menatap wajahnya.
Oke, sekali ini Afif ingin mengalahkan rasa jengkel yang semalam hadir. Ia menatap Wulan yang juga menatapnya, tangannya masih mengelus rambut Wulan lembut.
"Lo marah, ya?" Afif menggeleng, kemudian menjawab. "Alasan gua bisa marah apa coba?"
Bahkan kini tatapan seorang Afif itu kini berubah menjadi lebih lembut dari biasanya.
Wulan mencebikkan bibirnya, sedikit kesal. Ternyata Afif tidak marah, ya?
Tangan mungilnya ia jauhkan dari lengan Afif, kepalanya bergerak-gerak, sengaja agar tangan Afif yang sedang mengelus rambutnya itu segera menjauh. Dan ... berhasil.
"Dasar, gak jelas lo!" Afif meledek, seraya tertawa, kemudian mencubit pelan pipi Wulan.
Senang sekaligus sebal, Wulan menatap sinis seraya menahan senyuman yang hampir saja mengembang. "Apa lo?!"
"Hachim! Ada yang berduaan, nih!"
Satu kalimat menyebalkan, diawali dengan bersin yang di buat-buat itu membuat Afif dan Wulan menoleh.
Liya dan Aldi ada di sana, membuat Afif dan Wulan mengernyit heran dan bertanya-tanya dalam hati.
Apa mereka berdua berangkat sekolah bersama?
Mengapa mereka sudah berduaan saja padahal masih pagi?
__ADS_1
"Lo juga berduaan, Li!" Wulan menjawab dengan nada sedikit kesal, membuat Liya dan Aldi terkekeh geli.
"Kita ke kantin dulu ya, cewek gua laper!"
Sontak, kalimat Aldi yang baru saja terdengar membuat Afif dan Wulan membelalakkan matanya kaget.
"L-lo berdua ...," Menggantung, karena Liya sudah paham dan mengangguk mengiyakan.
Bahkan Liya sedang tersenyum malu dengan pipinya yang sedikit merona.
"Lo hutang cerita!" Tegasnya seraya menunjuk Liya yang sedang menyengir. Tangannya menggapai lengan Afif, berniat menariknya untuk berlalu.
Tapi gagal.
Afif masih tetap pada posisinya, seraya memberi tatapan ejekan. "Naon?"
Wulan yang tersadar, ia melihat tangannya yang sedang memegang lengan Afif, kemudian menghempaskan kasar.
"Ish!"
Afif terkekeh, melihat kepergian Wulan yang terlihat kesal. Tak lama, Afif melihat Aldi dan Liya yang masih setia di tempatnya.
Afif mendengus, "apa bener Wulan pacarnya anak baru itu, Li?"
Liya mengeryit heran, siapa yang Afif maksud?
"Anak baru? Siapa?"
Lagi-lagi Afif mendengus, wajahnya datar, tidak seperti biasanya.
"Adi mah udah gak bisa di bilang anak baru! Udah dari beberapa bulan lalu dia pindah!"
Afif berdecak pelan, memutar kedua bola matanya malas.
"Sama aja."
"Kenapa? Lo cemburu kalo mereka jadian?" Bukannya menjawab, Liya malah kembali bertanya. Menyipitkan matanya, menatap Afif penuh curiga.
Refleks, Afif membuang pandangan kala Liya berusaha membaca raut wajahnya yang kini sudah kembali kusut.
"Males banget gua cemburuin dia!"
Liya mengangangguk, bibirnya mengukir senyuman tipis kala satu ide jahil muncul di otaknya.
"Mereka baru jadian kemarin malam, Di."
Kalimat Liya barusan berhasil membuat Afif menoleh dengan cepat. Bagaimana bisa seseorang yang tidak suka bisa sepeduli itu?
Liya tertawa dalam hati, merasa puas kala ia melihat Afif begitu peduli dengan sahabatnya.
"Selamat memendam sendiri, Tuan Afif!" Lia meledek, memperlihatkan seringaian yang begitu menyebalkan di mata Afif.
"Kita ke kantin dulu, laper!" Imbuhnya, kemudian mencondongkan dirinya mendekat ke arah Afif, lalu berbisik.
"Selamat ber-jealous ria!" Bisiknya, kemudian tertawa renyah.
Detik selanjutnya, Liya memeluk lengan Aldi yang sedari tadi hanya memperhatikan, kemudian menariknya untuk berjalan menuju kantin.
__ADS_1
Dan di saat itu pula, Afif berfikir.
"Apa iya gua beneran cemburu?"
🦋🦋
Tawa itu terdengar begitu pelan. Suasana kantin yang begitu ramai, membuat suara gadis berpenampilan feminim tersebut tidak bisa mengalahkan keramaian di sana.
Padahal, hari itu masih sangat pagi. Membuat Liya sedikit heran, mengapa kantin ini begitu ramai?
"Tau gak tadi ekspresi Afif gimana?" Liya bertanya, masih dengan tawa pelannya.
Aldi menggeleng, seraya menatap Liya lembut. Bibirnya sedikit terkekeh karena tingkah menggemaskan gadis di depannya ini.
"Afif gak paham banget sama perasaannya!" Tawa yang tadi terpampang, kini mendadak hilang, tergantikan oleh bibir yang sedikit manyun.
Gemas, tangan kanan Aldi terulur guna menarik pelan bibir Liya, membuat si empunya semakin mencebikkan bibirnya kesal.
"Iihh kok gitu sih?" Tanya nya sinis setelah menepis tangan Aldi dari sana. Matanya melirik Aldi dengan lirikan sebal, dan nafasnya memburu.
Bukan karena kesal, tapi karena jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aldi hanya terkekeh, meminum es jeruk yang berada di depannya. Pandangannya pun juga tak lepas dari pacar barunya.
Sungguh, pipi Liya merona sekarang.
"Wulan beneran jadian sama Adi?" Pertanyaan lembut itu keluar dari bibir Aldi, membuat rasa malu tadi perlahan terkikis.
Liya menggeleng, "enggak, lah. Dia itu udah kek kakak kita bertiga!" jawabnya bangga.
Sedetik kemudian, Liya melihat sekitar. Takut-takut jika Afif berada di sana dan mendengarnya.
"Jangan bilang-bilang Afif!" Bisiknya.
Aldi yang diam saja, tetap setia menatap Liya. Seperti sedang memikirkan sesuatu, entah apa itu.
"Iya tau Liya manis, jangan gitu ngeliatnya!" Ucapnya sebal. Liya sedikit jengkel, menatap Aldi dengan tatapan yang kembali kesal.
"Bodo ih, nyebelin!"
Ingin berdiri, namun tangannya di cekal. Alhasil, Liya kembali duduk dengan memasang raut wajah jengkelnya.
Aldi yang terus-menerus menatapnya, membuat pipi Liya semakin merona, malu.
"Love you!"
Semakin malu, semakin terlihat rona di pipinya. Liya membuang pandangannya, tak mau menatap Aldi yang saat ini sangat menyebalkan.
"Liya, i love you!"
Ah, sungguh. Saat ini, Liya sedang berpura-pura tidak mendengarnya. Bahkan, tangan Aldi yang baru saja menggenggam tangannya pun, tidak ia pedulikan.
Yang ia pedulikan adalah detak jantungnya yang hampir saja hilang kendali.
Bagaimana jika Aldi mendengar detak jantungnya?
"Terima kasih, Liya."
__ADS_1