
Liya mengacak rambutnya frustasi, wajah kusutnya menatap miris layar laptopnya yang sedang menampilkan hasil ketikan ceritanya yang baru dapat setengah.
"Aaaaa mampet!" Rengek nya.
Di atas kasurnya, bungkus cemilan berserakan dimana-mana. Matanya melirik setumpuk bungkus cemilan lagi, kemudian memakannya.
"Ck, ide nya ilang!" monolognya.
Mulutnya mengunyah, matanya menatap layar laptop dan pikirannya entah mengarah ke mana.
Ting!
Satu notifikasi terdengar, sebagai tanda jika ada satu pesan baru saja masuk.
Aldi.
Keluar bentar, aku bawa cemilan.
Refleks Liya membelalakkan matanya, menatap jendelanya sekilas lalu turun dari ranjangnya buru-buru. Bukannya menuju kebawah, Liya malah mendekati cermin, menatap pantulan dirinya yang sedang kacau saat ini.
"Mampus, belum mandi!"
"Duh ... burik banget," hebohnya seraya mencari sisir, lalu menyisir rambutnya. Setelah itu berkaca, merapihkan pakaiannya lalu menarik napas dan membuangnya kasar.
Liya berjalan ke lantai satu, kemudian berjalan keluar untuk membukakan pintu untuk Aldi.
Setelah pintu terbuka, seseorang sedang berdiri di luar pagar, "hehe, lama, ya?" Tanya nya seraya membuka pagar.
Aldi mengangguk, kemudian sedikit mendekatkan wajahnya lalu berbisik. "Sejam!"
"Berlebihan!" Protesnya memukul pelan lengan Aldi, seraya tertawa pelan.
Aldi terkekeh geli, mengacak rambut Liya, kemudian menatapnya. "Udah makan?"
Satu tangannya yang memegang sekantong keresek kini terulur, memberikannya kepada Liya, yang tentu saja di sambut dengan senyuman lebar.
Liya menggeleng,"makasih! Belum!"
Aldi memicingkan matanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Liya, membuat gadis di depannya ini semakin gugup dan menahan napasnya.
"Ini apa?" Tanya nya kemudian, seraya bergerak mengambil sesuatu di dagunya. Aldi menjauhkan wajahnya, mengamati tangannya, kemudian bergerak seakan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
"Bukan makanan, 'kah?" Lanjutnya seraya menatap Liya dan bergerak seakan mengunyah sesuatu.
Liya membelalakkan matanya tak percaya, menggeleng pelan seraya memegang dagunya. Di detik berikutnya, Liya mencubit lengan Aldi, sang kekasih kini tertawa puas.membuat
"Apa?" Aldi bertanya, sedangkan Liya memanyunkan bibirnya kesal.
"Itu tai lalat!"
Lagi-lagi Aldi terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. "Tamu gak di suruh masuk?"
Diam.
Liya melirik Aldi, kedua tangannya menyilang bersedekap. Yang di lirik bukannya meminta maaf, ia malah ikut bersedekap seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Nyebelin," Gumam Liya.
Sedetik kemudian, ia melangkah ke dalam setelah berucap, "masuk!"
Tepat di tengah pintu, Liya berpapasan dengan seorang pria. Hampir menabraknya, membuat pria tersebut refleks mengelus dadanya.
"Astaga, Dek!"
__ADS_1
"Kebiasaan!" Pria itu mendesis, kemudian melanjutkan jalannya menuju garasi motornya.
Dia Zidan. Pria jangkung, bertubuh tegap, berkulit sawo matang itu adalah salah satu kakak laki-laki yang Liya punya.
"Temen Liya? Masuk aja," ucapnya mempersilahkan, kemudian berlalu dengan motornya.
Aldi sempat mematung, menatap punggung Zidan yang semakin menjauhinya.
"Al!"
Aldi terkesiap. Ia mengerjap, kemudian menyengir kuda.
"Itu kakak ku yang nomer dua," celetuknya.
"Jangan kaget kalo tiba-tiba dia ramah, tiba-tiba dia dingin atau kurang ajar," lanjutnya.
Hening.
Aldi mengerutkan keningnya heran, tetapi lebih memilih diam dari pada berkomentar.
"Masuk, Al!"
🦋🦋
Berbeda dengan Aldi dan Liya, saat ini Yulia sedang sibuk mengajari Habil di hari terakhir. Weekend yang biasanya terasa menyenangkan, kini malah berkebalikan.
Menyebalkan.
"Lo pelajarin semua, deh!" Ucap Yulia kesal.
"Nanti kalo ada yang gak lo ngerti, tanya ke gua!" Lanjutnya.
Habil menganggukkan kepalanya, "kalo gak ada yang di mengerti?"
Habil menahan tawa, berusaha memasang ekspresi wajah takut dengan kedua tangan yang di satukan. "Wahh ... takut! Ampun, Ya."
Kemudian tawanya meledak.
Di saat itu juga, seseorang mengucap salam. Yulia berdiri, menjawab salam, kemudian berjalan menuju pintu utama.
"Lah, Adi? Ngapain?" Tanya nya heran setelah ia tahu jika tamunya adalah Adi.
Adi mendengus, "gak boleh gua ke sini?"
"Pulang kalo gitu," ancamnya seraya berbalik, ingin berlalu.
"Pundungan sia." [Ngambek-kan lo.]
Kalau saja Yulia tetap diam, mungkin dirinya akan benar-benar kembali pulang. Adi tersenyum tipis, kemudian berbalik. "Ya udah. Masuk, yuk! Anggap aja rumah sendiri!"
Adi yang tiba-tiba masuk, membuat Yulia menggelengkan kepalanya. Benar-benar, ya!
"Gak ada akhlak bener si Adi!" Umpatnya seraya mengikuti langkah temannya.
"Ada lo ternyata!"
Adi berjalan dengan santai, mendekat ke arah Habil, kemudian duduk di sampingnya, tempat dimana Yulia duduk sebelum Adi datang.
"Ganggu lo, Di!"
Adi terkekeh, "Seriously?"
"Ribut gua usir lo pada!"
__ADS_1
Ancaman yang terdengar serius itu membuat keduanya diam, menatap Yulia yang kini duduk berhadapan dengan keduanya.
"Ekhem ... haus, Ya!"
Yulia mengalihkan pandangannya ke arah Adi yang sedang menatapnya seraya tersenyum aneh. Apa maksudnya? Menyuruh Yulia mengambilkan minuman?
"Meresahkan lo emang!" Gerutunya kemudian berlalu menuju dapur miliknya.
Bukannya sakit hati, Adi malah menyengir kuda. Oke, ini saatnya. Adi mengedarkan pandangannya, mencari sebuah petunjuk tentang Nuri.
Adi pun berharap jika ia tidak menemukan apapun di sini.
"Itu foto keluarga, 'kan?" Tanya Adi yang bisa di dengar oleh Habil.
Habil menoleh, mengikuti arah pandangan Adi yang tertuju pada sebuah foto.
"Keluarga besar sih, kayaknya!"
Jawaban Habil barusan membuat Adi menoleh, sedikit terkejut.
"Nih, haus, 'kan?"
Adi dan Habil menoleh, melihat Yulia yang sudah kembali dari dapurnya, dengan membawa botol air mineral.
"Tega banget, kita di kasih air putih, Bil!" Protes Adi dengan menatap nanar botol air mineral tersebut.
"Biar irit!"
Yulia kembali duduk pada tempatnya, baru kemudian mengambil buku-buku pelajaran yang masih berada di depan Adi duduk saat ini.
"Ya!" Adi memanggil, tetapi hanya di balas dehaman pelan.
"Yulia!" Lagi-lagi Adi memanggil, membuat Yulia sedikit sebal lalu menatapnya.
"Apa?"
Adi menyengir kuda karena melihat ekspresi Yulia yang kembali datar.
"Gua mau lihat-lihat foto keluarga besar lo di sana, boleh, gak?"
Yulia mengikuti arah pandang seorang Adi, sedetik kemudian ia mengangguk. "Sedetik ceban!"
Adi mendengus, "pergitungan lo!"
Habil yang sedari tadi diam, ia hanya menatap Yulia dan tersenyum kala ia memikirkan betapa beruntungnya dirinya jika bisa mendapatkan Yulia.
"Liat aja sepuas lo! Tapi jangan di rusak," peringatnya.
Sesekali Yulia melirik Habil, melihat apa yang pria itu lakukan. Sedangkan Adi, ia sudah berdiri dan berlalu menuju dinding yang terdapat foto bersama keluarga besar Yulia.
Dengan seksama Adi berusaha melihat dengan benar. Mata dan ingatannya harus sinkron kali ini. Satu-persatu ia melihat dengan detail, sampai mata dan kakinya pun mulai terasa pegal.
"Ck," decaknya pelan.
"Keluarga besar lo banyak banget, Ya!" Keluhnya sedikit meninggikan suaranya.
Yulia hanya menoleh sekilas, "gak ada yang nyuruh lo mantengin satu-satu!"
Adi mengabaikannya, melanjutkan pencariannya dan ... ketemu!
Adi menunjuk salah satu foto, di mana seseorang berdiri di samping Yulia dengan tawanya yang lebar.
"Ini siapa lo, Ya?"
__ADS_1